Maimunah merupakan wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah saw. Jalinan cinta suci mereka menjadi kenangan abadi yang indah dan tak terlupakan oleh Ummul Muminin (ibu orang-orang beriman) Maimunah hingga akhir hayatnya.

Menyempurnakan Kasyaf

Sesuia dengan isi Perjanjian Hudaibiyah, umat Islam boleh memasuki Mekkah setelah lewat satu tahun dari waktu ditandatanganinya perjanjian itu.

Oleh karena itu, sekitar bulan Dzul Qa’dah tahun ke tujuh Hijrah atau di bulan Februari 629 Masehi, Rasulullah saw bersama dua ribu orang Sahabat bertolak ke Mekkah untuk melaksanakan Umrah. 

Dimana tahun sebelumnya umat Islam gagal melaksanakan tawaf di Ka’bah karena penduduk Mekkah tidak menerimanya. Padahal Rasulullah saw telah menerima kasyaf tentang hal itu.

Ternayat kegagalan memasuki kota Mekkah itu menghasilkan keuntungan besar bagi Umat Islam dengan disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah yang berdampak positif bagi perkembangan Islam.

Kali ini, Rasulullah saw dan kaum Muslimin memasuki kota suci Mekkah untuk tawaf dan sa’i antara bukit Safa dan Marwah. Ternyata inilah penyempurnaan kasyaf yang diterima Rasulullah saw setahun yang lalu itu.

Baca juga: Siratun Nabi: Secawan Susu Cukup untuk Rasulullah saw dan Para Sahabat

Kembali ke Mekkah

Kembali sesudah tujuh tahun berpisah adalah bukan perkara biasa untuk kedua ribu orang itu masuk ke Mekkah. Mereka ingat kembali kepada aniaya yang mereka derita semasa mereka masih tinggal di Mekkah.

Bersamaan dengan itu juga mereka melihat betapa kemurahan Tuhan telah mendatangkan mereka kembali dan tawaf di Ka’bah dengan aman dan damai. Kemarahan mereka setanding dengan kegembiraan mereka.

Sementara itu penduduk Mekkah telah meninggalkan rumah-rumah mereka dan berdiri di atas bukit-bukit, mereka menyaksikan kaum Muslimin beribadah di Baitullah.

Hati orang-orang Muslim itu penuh dengan gelora semangat, kegembiraan, dan kebanggaan. Mereka hendak mengatakan kepada kaum Mekkah bahwa janji-janji Tuhan kepada mereka telah terbukti semuanya.

Baca juga: Rasulullah Lebih Mengutamakan Kemanusiaan

Pernikahan dengan Maimunah

Sesudah mekasanakan Tawaf dan Sa’i, Rasulullah saw dan para Sahabat tinggal di Mekkah tiga hari lamanya.

Pada kesempatan itu, Abbas bin Abdul Mutahlib menyampaikan kepada Rasulullah saw bahwa ia mempunyai ipar yang janda, Maimunah namanya, ia mengusulkan kepada Rasulullah saw supaya beliau menikahinya. Rasulullah saw setuju. Maka dilangsungkanlah pernikahan beliau saw dengan Maemunah.

Pada hari keempat, kaum Mekkah meminta kaum Muslimin meninggalkan Mekkah. Rasulullah saw mematuhinya, beliau saw memerintahkan penarikan diri dan mengajak para Sahabat pulang ke Madinah.

Beliau juga memperhatikan perasaan kaum Mekkah sehingga beliau meninggalkan Maemunah istri baru beliau saw di Mekkah.

Beliau mengatur agar Maimunah berangkat kemudian dengan rombongan pembawa perbekalan dan barang-barang pribadi kaum Muslimin.

Rasulullah saw dan rombongan kaum Muslimin segera meninggalkan kawasan suci Mekkah. Malam itu beliau dan kaum Muslimin beristirahat di luar kota Mekkah di sebuah tempat yang bernama Sarif, sekitar 20 km di luar kota.

Malam itu saat beliau berkemah di Sarif, istri beliau Maimunah datang menyusul. Itulah pertemuan pertama Rasulullah saw dengan Maemunah setelah pernikahan.

Baca juga: Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw

Ummul Muminin Maemunah

Maimunah binti Al-Harits, dilahirkan enam tahun sebelum masa kenabian, nama aslinya Barrah kemudian diganti oleh Rasulullah saw menjadi Maimunah. Ibunya bernama Hindun binti Aus. Beliau saudari kandung Ummul Fadhl (istri Abbas) dan Asma. Beliau juga bibi dari Khalid bin Walid dan Ibnu Abbas.

Beliau baiat, masuk Islam di Makkah sebelum peristiwa Hijrah. Ketika beliau menikah dengan Rasulullah saw usianya sekitar 26 tahun.

Selama menjalani tugasnya sebagai Ummul Muminin, seorang pendamping Rasulullah saw beliau lewati dengan sangat baik. Beliau dikenal dengan kezuhudannya, ketakwaannya, dan sikapnya yang selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Maimunah seorang wanita terhormat, salehahah dan cerdas, sehingga memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Beliau pun menjadi salah satu perawi hadits Rasulullah saw.

Beliau juga memperlakukan istri-istri Rasulullah saw yang lain dengan baik dan penuh hormat. Aisyah pernah berkata. “Demi Allah, Maimunah adalah wanita yang baik kepada kami dan selalu menjaga silaturrahmi di antara kami.”

Baca juga: Maria Qibtiyah, Istri Rasulullah dari Kristen Koptik

Tuduhan Keji terhadap Rasulullah saw

Rasulullah saw telah dituduh macam-macam karena beristrikan beberapa orang. Mereka pikir bahwa beristri lebih dari seorang itu menjadi bukti kecerobohan dan kegemaran beliau akan kesenangan.

Benarkah tudah-tuduhan keji kepada Rasulullah saw serupa itu? Kenyataanya, para istri-istri Rasulullah saw sepenuh hati mencintai dan melayani beliau saw.

Pengabdian dan cinta mereka membuktikan bahwa kehidupan Rasulullah saw sebagai suami itu murni, tidak serakah, dan bernilai rohani.

Demikian nyatanya mengenai hal ini, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat berkata memperlakukan istrinya yang seorang sebaik Rasulullah saw memperlakukan beberapa istri.

Jika kehidupan Rasulullah saw berkeluarga itu didorong oleh mencari kesenangan, maka sudah pasti ini akan menjadikan istri-istri beliau acuh tak acuh, bahkan benci dan dendam kepada beliau. Tetapi kenyataannya sama sekali sebaliknya. Semua istri beliau mengabdi dan pengabdian mereka adalah disebabkan oleh sikap beliau yang tak mementingkan diri sendiri dan bercita-cita luhur.

Sikap Rasulullah saw yang tidak mementingkan diri sendiri itu dibalas oleh mereka dengan pengabdian yang tanpa batas. Hal ini dibuktikan oleh pelbagai peristiwa dalam catatan sejarah. Salah satunya adalah apa yang dialami oleh Maimunah.

Baca juga: Perjanjian Hudaibiyah, Kemenangan Besar Islam

Makam Hadhrat Maimunah by Noval vlog

Kenangan Abadi Cinta Maemunah

Maimunah merupakan wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasululah saw dan yang paling terakhir meninggal dunia di antara istri-istri yang lainnya. Beliau masih hidup lima puluh tahun kemudian sesudah Rasulullah saw wafat. Beliau wafat dalam usia yang lanjut, tetapi tidak dapat melupakan arti pemikahannya dengan Rasulullah saw.

Pada malam sebelum Maimunha wafat dalam usia delapan puluh tahun, ketika segala kegembiraan dan kegemaran jasmaniah telah lama lenyap, saat hanya tinggal hal-hal dan nilai-nilai abadi yang mampu menggerakkan hati, pada saat itu beliau berpesan supaya dimakamkan di Sarif, tempat dulu pertamakali beliau berjumpa dengan Rasulullah saw setelah pernikahan.

Beliau menjumpai Rasulullah saw untuk pertama kalinya di dalam kemah di kesunyian padang pasir. Jika perhubungan suami-istri itu kasar, jika Rasulullah saw lebih menyukai istri yang satu dari pada yang lain karena pesona-pesona jasmani mereka, Maimunah pasti tidak akan mengenang dengan penuh cinta pertemuan pertamanya dengan Rasulullah saw itu.

Jika pernikahannya dengan Rasulullah saw telah dikaitkan dengan kenangan-kenangan yang tidak menyenangkan atau tidak menarik, niscaya Maimunah akan lupa segala sesuatu mengenai pernikahan itu.

Perjumpaan Maimunah dengan Rasulullah saw di sebuah tenda di Sarif, menjadi kenangan abdi, bukti cinta suci nan bahagia antara keduannya.[madj]

Sumber: Riwayat Hidup Rasulullah saw – Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad. Photo by Philippe Donn from Pexels


0 Komentar

Tinggalkan Balasan