Kemenag Revisi Konten Ajaran Khilafah dan Jihad dalam Pelajaran di Madrasah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

Mencegah berkembangnya ajaran keliru tentang khilafah dan jihad, Kementrian Agama (Kemenag) merombak buku-buku pelajaran madrasah.

Kemenag pun menyebutkan sebanyak 155 buku pelajaran agama Islam yang mengandung ajaran khilafah dan jihad telah diperbaiki. Tahun depan buku-buku itu akan efektif digunakan.

Menangapi hal itu juru bicara Persaudaraan Alumni 212 Haikal Hasan meminta Menteri Agama tidak menghapus materi ajaran tentang khilafah dan jihad dalam pelajaran agama Islam di Madrasah. Alasanya, jihad merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang tidak boleh dihilangkan. Pemerintah cukup memperluas pengetian tentang jihad di dalam pelajaran agam Islam.

Misalnya, dia berkata, jika mahsiswa mendapat Indeks Prestasi Kumulatif sebesar 4.00 merupakan jihad. Bagi pelajar, dia berkata dikatakan jihad jika menjuarai olimpiade, mendapat nilai terbaik, hingga mendapat universitas pilihan.

Sementara untuk khilafah, Haikal menegaskan tidak bisa dihilangkan karena juga bagian dari ajaran agama. Pemerintah cukup memberi penjelasan dengan mengubah narasi atau diksinya menjadi lebih terkini bahwa suatu saat akan terjadi pada akhir zaman.

Senada dengan Haikal, Wakil Ketua Komisi VIII DPR dari Fraksi Golkar Ace Hasan Syadzily mengimbau Menteri Agama tak perlu menghapus konten ajaran tentang khilafah dan jihad.

Ace mengatakan bahwa khilafah termasuk khazanah pemikiran politik yang pernah diterapkan dalam sejarah Islam. Karenanya, pemerintah tak boleh menghapus fakta tentang penerapan khilafah dalam sejarah Islam.Meskipun demikian, Ace menekankan bahwa konsep khilafah tidak tepat dan tidak mungkin diterapkan di Indonesia untuk saat ini. Sebab, dalam pendirian bangsa, para pendahulu menyepakati Indonesia menganut sistem pemerintahan Republik dengan dasar negara Pancasila.

Sementara itu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Said Aqil mengatakan bahwa saat ini pembahsan mengenai khilafah sudah basi dan semua negara Islam menolak khilafah.

Ketua Pengurus Tanfiziah PBNU Robikin Emhas menilai banyak konten yang lebih baik dimasukkan ke dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dibanding materi soal khilafah.

Ia juga mengatakan kisah Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban Islam lebih layak masuk ke buku-buku pelajaran madrasah.Dalam penjelasannya, Menag Fachrul Razi memastikan materi tentang khilafah dan jihad dalam pelajaran agama akan tetapi diajarkan di madrasah. Hanya saja materi itu dibatasi sebagai bagian dari sejarah Islam karena saat ini banyak guru yang ajarannya menyimpang.

Kehawatiran sebagian kalangan tentang pelajaran khilafah dan jihad di madrasah ini cukup beralsan. Jika materi-materi ini disampikan dengan pemahaman yang tidak benar bisa disalah artikan oleh anak didik.

Dari pro kontra yang timbul dari persoalan ini, jelas terlihat pokok masalah yang diperdebatkan adalah pemahaman tentang khilafah dan jihad. Selama tidak dipahami dengan benar persoalan akan terus mengemuka.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan