Juwairiyah Binti Harits Tekun Beribadah Dan Mematuhi Perintah Rasulullah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

juwairiyah-binti-harits

Ummul Mu’minin Juwairiyah binti Harits adalah istri Rasulullahsaw yang anggun dan terhormat, beliau tekun dalam beribadah dan patuh pada perinta Rasulullahsaw.

Asal Usul Juwairiyah binti Al-Harits

Nama lengkap beliau, Juwairiyah binti al-Harits al-Mushthaliqiyyah al-Khuza’iyyah, diperkirakan lahir pada tahun 15 sebelum Hijrah/608 Masehi.

Beliau berasala dari kalangan bangsawan dan terhormat, putri dari kepala suku terkenal Banu Mustaliq, Al-Hartis bin Abi Dharar.

Al-Harits bin Abi Dharar, keluarga dan kaumnya kemudian menerima kebenaran Islam. Termasuk Juwairiyah. Nama aslinya adalah Barra kemudian setelah menikah dengan Rasulullahsaw namanya diganti oleh beliasaw menjadi Juwairiyah.

Permusuhan Bani Mustaliq

Dua bulan setelah Rasulullahsaw kembali dari Ekspedisi Dhu Qarad, beliausaw mendapat informasi bahwa Bani Mustaliq dan suku-suku lainnya bersiap untuk menyerang Madinah.

Mengetahui kepastian akan berita tersebut beliausaw dan pasukan Islam segera berangkat untuk menghadapi Bani Mustaliq dan sekutunya.

Mengetahui kedatangan pasukan Islam yang tiba-tiba, suku-suku yang bersekutu dengan Bani Mustalik panik dan lari kocar-kacir, menyisakan kaum Bani Mustalik yang tetap bertahan dengan rencannya menyerang kaum Muslimin.

Tipu muslihat dan hasutan kaum Quraisy telah membutakkan Banu Mustaliq sedemikian dalam sehingga mereka menolak untuk meletakkan senjata dan bersiap untuk melawan pasukan Islam.

Akhirnya pertempuran pun terjadi antara pasukan Islam dan kaum Bani Mustaliq di sebuah sumur yang disebut Al-Muraysi, dekat laut, tidak jauh dari Makkah. Pertempuran itu kemudian dimenangkan oleh pasukan Islam.

Maka  dua ratus keluarga Bani Mustaliq ditangkap sebagai tawanan. Dua ratus unta, lima ribu domba, kambing, serta sejumlah besar barang rumah tangga yang ditangkap sebagai barang rampasan. Barang-barang rumah tangga dijual dalam pelelangan kepada penawar tertinggi.

Baca juga: Ummul Masakin – Ibu Orang-orang Miskin Zainab Binti Khuzaimah

Juwairiyah Binti Harits Menjadi Tawanan

Salah satu yang menjadi tawanan adalah Juwairiyah binti Al-harits, putri dari kepala suku Bani Mustaliq, Al-Harits bin Dharar.

Juwairiyah binti Harits menjadi tawanan Sabit bin Qais Asy-Syammasra. Sementara itu suami beliau, Mustafa atau Musafi bin Safwan tewas dalam pertempuran itu.

Merupakan hukum kebiasaan dimasa itu, seseorang atau satu kaum yang kalah berperang maka orang atau kaum itu akan menjadi milik pihak yang menang, ia akan menjadi budak dan diperjual belikan, apapun statusnya sebelum itu.

Juwayiriyah seorang putri kepala suku yang terhormat, kini harus menerima kenyataan bahwa beliau menjadi tawanan dan statusnya sebagai bangsawan telah lenyap, kini beliau hanya seorang budak.

Dinikhai Rasulullah

Statusnya yang kini menjadi budak belian membuat Juwairiyah menderita. Apa yang harus beliau lakukan untuk menyelamatkan diri akibat keselahan ayah dan kaumnya sendiri yang memusuhi Rasulullahsaw dan umat Islam akibat termakan hasutan dari kaum Quraiys Makkah.

Mengetahui bahwa Rasulullahsaw seorang pemimpin yang murah hati dan bijaksana, Juwairiyah pun mendatangi Rasulullahsaw untuk mengadukan perihal keadaanya dan memohon pembebasannya.

Beliau menyampaikan bahwa beliau adalah putri seorang kepala suku dan biasa memerintah dan karena keadaannya yang tidak menguntungkan dia mendapati dirinya dalam ketidakberdayaan ini.

Juwairiyah berkata: “Ya Rasulullah, saya adalah putri dari kepala suku Haris bin Abi Darrar. Anda sangat menyadari kemalangan yang menimpa saya. Saya telah membuat kesepakatan dengan tuan saya. Permintaan saya adalah Anda membantu saya dengan pembayaran sejumlah ini.”

Nabisaw tergerak oleh permohonannya dan menyadari bahwa menikah dengannya akan berarti penghapusan permusuhan yang dipendam sukunya terhadap Islam.

Jadi beliausaw bertanya, “Apakah Anda cenderung ke arah yang lebih baik?” Juwairiyah bertanya, “Apa itu, Rasulullah?” Rasulullahsaw menjawab, “Aku akan membayar harga kebebasan Anda atas nama Anda dan aku akan menikahi Anda.” Juwairiyah menjawab, “Saya bersedia.”

Sangat tersentuh oleh peningkatan statusnya yang tak terduga ini, dia berseru bahwa dia akan dengan senang hati menerimanya.

Pernikahan Rasulullahsaw dengan Juwairiyah binti Al-Harits dilaksanakan sekitar tahun 8 H/627 M. Rasulullahsaw berusia 58 tahun dan Juwairiyahrha berusia 20 tahun.

Baca juga: Hafsah Binti Umar, Sang Penjaga Al Quran

Menerima Kebenaran Islam

Setelah mengetahui Juwairiyahrha telah terikat dalam ikatan pernikahan dengan Nabisaw maka kaum Muslimin pun membebaskan semua tawanan mereka.

Bani Mustaliq sekarang telah menjadi kerabat Nabisaw dan para sahabat menganggap tidak bijaksana untuk mejadikan kerabat Ummul Mu’minin sebagai tahanan.

Hadhrat Aisyahrha meriwayatkan bahwa, “Kami tidak melihat ada wanita yang lebih besar dari Juwairiyahrha yang membawa berkah bagi bangsanya. Seratus keluarga Banu Mustaliq dibebaskan karena dia. (Sunan Abi Daud , Hadits 3931)

Mengetahui kebaikan dan kebenaran Islam, kaum Bani Mustalik pun kemudian beriman, mereka masuk Islam atas kesadaran mereka sendiri.

Dalam riwayat lain, Hartis mendekati Nabisaw dan memohon agar membebaskan putrinya. Nabisaw menjawab bahwa beliau bebas untuk pergi, namun jika beliau ingin tetap tinggal, maka beliau dipersilahkan untuk tinggal.

Hadhrat Juwairiyahrha begitu dipengaruhi oleh watak suci Nabisaw sehingga beliau memilih untuk tetap tinggal. Beliau kemudian dibebaskan dan menikah dengan Nabisaw. (Al-Isabah fi Tamizis-Sahabah , Oleh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Vol. 8, hal.74 )

Mimpi Juwairiyah Binti Harits yang Menjadi Kenyataan

Belakangan, Ummul Mu’mini Juwairiyahrha mengenang bahwa sebelum perang, beliau melihat mimpi bahwa bulan yang sedang dalam perjalanan dari Madinah jatuh ke pangkuannya. Dia menceritakan:

“Saya tidak ingin memberi tahu siapa pun tentang mimpi ini. Ketika saya ditangkap, saya berharap mimpi ini terpenuhi. Kemudian, Nabisaw memberi saya kebebasan dan menikahi saya. Saya berusia 20 tahun saat itu. ” ( Azwaj-e-Mutahharat wa Sahabiyat Encyclopedia , hal 206-207)

Sebelum Islam, namanya Barrah. “Barrah” berarti takwa dan Nabi saw tidak suka jika seseorang bertanya apakah Barrah ada di rumah dan dia harus menjawab bahwa Barrah tidak ada di rumah. Makanya, dia mengganti namanya menjadi Juwairiyah. (Sahih Muslim , Hadits 2140)

Baca juga: Ummul Mu’minin Saudah bint Zam’ah, Pendamping Rasulullah Yang Paling Banyak Bersedekah

Keistimewaan Juwairiyah

Setelah menikah, Ummul Mu’mini Juwairiyahrha menjadi salah satu pendamping Rasulullahsaw yang sangat saleh dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beribadah.

Hadhrat Aisyahrha menggambarkannya sebagai seseorang yang memiliki pesona dan keindahan dan dia membuat semua orang yang melihatnya terpesona. (Sunan Abi Daud, Hadits 3931)

Beliau sering berpuasa dan sangat yakin pada ajaran Islam. Beliau banyak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdoa. Sebagaimana diriwayatkan oleh Hadharat Abdullah bin Abbasra.

Pada suatu peristiwa Rasulullahsaw keluar dari rumah Juwairiyahrha pada pagi hari usai salat subuh dan beliaurha tetap duduk di tempat salatnya. Tak lama kemudian Rasulullahsaw kembali setelah terbit fajar (pada waktu dhuha), sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempat salatnya.

Setelah itu, Rasulullah menyapanya: “Ya Juwairiyah, kamu masih belum beranjak dari tempat salatmu? Juwairiyahrha menjawab; “Ya, Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah.”

Kemudian Rasulullahsaw bersabda: “Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata -sebanyak tiga kali- yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَ مِدَادَ كَلِمَات

Subhaanallahi Wabihamdihi ‘Adada Khalqihi wa Ridha Nafsihi wa Zinata ‘Arsyihi wa Midada Kalimatihi

“Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridlaan-Nya, menurut arasy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya” 

Kepatuhannya patut dicontoh. Diceritakan bahwa suatu kali, pada hari Jumat, Nabisaw mengunjunginya dan Juwairiyahrha sedang berpuasa. Beliausaw bertanya padanya, “Apakah kemarin kamu berpuasa?” beliau menjawab, “Tidak.” Rasulullahsaw bertanya lagi, “Apakah kamu berniat untuk berpuasa besok?” beliau menjawab, “Tidak.” Rasulullahsaw berkata, “Kalau begitu berbukalah.” Juwairiyahrha segera menurut dan membatalkan puasanya. (Sahih al-Bukhari , Hadits 1986)

Baca juga: Ummul Mu’minin Aisyah Binti Abu Bakar, Paling Disayangi Rasulullah

Akhir Kehidupan

Mummul Mu’mini Juwairiyah Binti Al-Haritsrha hidup hingga masa kekhalifahan Muawiyah dan Marwan bin Hakam sebagai gubernur Madinah.

Beliau wafat di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal 53 H/676M, mencapai usia 65 tahun. Beliau disalatkan oleh Marwan bin Hakam dan dimakamkan di Jannatul Baqi bersama istri-istri Nabisaw lainnya.

Baca juga: Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid, Yang Paling Mulia Diantara Para Pendamping Nabi


0 Komentar

Tinggalkan Balasan