Jafar Bin Abi Thalib, 1 Dari 3 Panglima Islam Syahid Di Mutah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

jafar-bin-abi-thalib

Jafar bin Abi Thalib radiallahu anhu adalah salah satu sahabat Rasulullahsaw yang baiat dimasa awal, beliau syahid pada peristiwa Perang Mutah, sebagai panglima pasukan Islam pengganti yang kedua setelah Zaid bin Haritsahra.   

Memeluk Islam

Di masa awal pendakwaan Rasulullahsaw, Ali bin Abi Thalibra termasuk sosok sahabat yang mendapatkan keberuntungan menerima Islam.

Setelah Ali bin Abi Thalibra, maka kakak beliau yang bernama Jafar bin Abi Thalibra juga menyatakan baiat kepada Rasululullahsaw.

Saat pertama kali Rasulullahsaw memulai sholat berjamaah, setelah mulai diperintahkan kewajiban sholat maka beliausaw menganugerahkan sebutan Dzul Janaahain atau Tayyar.

Sebutan itu mengisyaratkan pada peran mereka berdua di masa yang akan datang bahwa “Allah Ta’ala telah menganugerahkan dua sayap kepada beliausaw yang dengan pertolongannya beliau mampu terbang hingga ke surga.”

Hijrah ke Abessinia

Umat muslim pada masa awal tengah berada dibawah cengkeraman penganiayaan dari kaum Quraish Makkah. Jafar bin Abi Thalibra yang pada masa itu pun merasakan kezaliman mereka.

Sehingga ketika Rasulullahsaw menyerukan hijrah ke Abessinia, maka Jafarra pun ikut bersama rombongan kaum Muslimin hijrah ke negeri kristen itu yang rajanya terkenal adil dan bijaksana, yaitu Rajanya Negus.

Akan tetapi kaum Quraish tidak tinggal diam, mereka berusaha untuk mengejar mereka hingga ke Abessinia. Mereka mengirim dua orang petinggi mereka disertai dengan banyak bekal dan hadiah-hadiah bagi sang raja.

Orang-orang Quraish menginginkan agar raja Negus mengembalikan kembali kaum Muslimin ke Makkah, bagaimanapun caranya.

Oleh karena itu Raja yang memang terkenal dengan keadilannya tersebut akhirnya pada satu kesempatan memanggil pihak umat muslim yang teraniaya supaya pembicaraan yang akan di dapat berimbang dari kedua belah pihak. Pihak umat muslim sebagai yang teraniaya saat itu berada di bawah pimpinan Jafar bin Abi Thalibra.

Bagaimana gambaran yang terjadi di singgasana kerajaan negus pada kurun waktu sekitar 1200 tahun silam. Raja dikelilingi oleh para menteri, penasihat, maupun pendeta kerajaan.

Pertama tama Raja bertanya kepada kaum muslim bahwa apakah yang menyebabkan mereka terpaksa meninggalkan agama leluhur dan juga tanah kelahiran mereka?

Maka pada kesempatan itu Jafar bin Abi Thalib sebagai perwakilan umat Islam menyemapaikan jawabannya, beliau menjawab pertanyaan itu dengan penuh keberanian dan keyakinan. Jafar bin Abi Thalibra mengatakan:

“Wahai Paduka, kami dulu sungguh telah terjerembab di dalam kejahilan yang teramat sangat dengan menyembah berhala-berhala. Dan kami dahulu telah bergelimang dalam pekerjaan yang memalukan dan untaian-untaian kalimat yang tidak senonoh. Dan kami dahulu terbiasa memakan daging binatang yang telah mati. Intinya, tidak ada kelebihan insani yang mampu kami banggakan.

“Kemudian Allah Ta’ala yang sedemikian rupa menurunkan karunianya pada seluruh alam, berkenan menurunkan utusannya yakni Yang Mulia Rasulullahsaw bagi kami. Kemuliaan berserta kewibawaan nenek moyang kami terpancar dari diri beliau, kemudian kejujuran dalam bertutur kata, kebersihan dan kejernihan yang tergambar dari kalbu beliau, dan keteguhan memegang amanah yang beliau miliki, telah kami yakini dengan sesungguh sungguhnya.”

“Allah Ta’ala sungguh tengah menzahirkan kehendaknya atas kami, dan Allah Ta’ala dengan perantaraannya hanya memberikan satu ajarannya kepada kami yakni sembahlah Allah yang Esa. Dan jangan mengadakan sembahan lain selain wujudNya dalam segala macam sifat-Nya. Dan janganlah kalian menyembah berhala-berhala.

Jadikanlah berkata jujur menjadi syiar dalam tindak tanduk kalian. Janganlah kalian berkhianat dalam amanat yang telah dibebankan pada kalian. Perlakukanlah segala umat manusia dengan penuh kasih sayang, jadikanlah diri kalian sebagai wujud yang memenuhi hak-hak tetangga kalian, jadilah kalian wujud yang menghormati dan menghargai para wanita, janganlah kalian memakan harta kekayaan anak yatim, jadikanlah kalian wujud yang menjalani kehidupan sementara ini dengan segenap kesucian dan perasaan takut akan wujud Tuhan, teruslah sibuk dalam mengingat wujud-Nya seolah kalian pun sampai lupa waktu kalian untuk makan dan minum, jadilah diri kalian menjadi penolong hamba Allah yang fakir miskin dengan membelanjakan harta di jalan Allah untuk kebaikan mereka.”

“Wahai Paduka, hanya atas dasar kami mengimani ajaran inilah maka kami terpaksa menanggung segala penderitaan dan meninggalkan tanah kelahiran kami serta terpaksa hidup dalam kemiskinan. Hal ini karena kami tidak mendapatkan keamanan di tanah kelahiran kami. Dan kami yakin atas keadilan dan kasih sayang engkau bahwa engkau tidak akan memperlakukan kami yang penuh keterbatasan ini dengan aniaya.”

Jafar bin Abi Talibra telah menyampaikan penjelasannya dengan begitu menarik dan mendalam, sehingga memberikan pengaruh yang besar kepada Raja Negus. Bahkan setelah mendengar penjelasan beliau, Raja pun semaking ingin tahu akan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullahsaw.

Kemudian atas keinginan dari Raja Negus, Jafar bin Abi Thalibra menilawatkan awal Surah Maryam dengan suara yang sangat merdu dan nada yang memikat hati sehingga Raja yang memang telah condong terhadap Tuhan tersebut pun meneteskan air mata dan menangis hingga membasahi jenggotnya yang lebat.

Setelah itu Raja Negus mengatakan,” Demi Tuhan, ajaran yang dibawa oleh Nabi Musaas dan yang dibawa oleh orang ini (Rasulullahsaw) sungguh berasal dari satu mata air yang sama yakni Allah yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu”.

Akhirnya Raja pun memberi keputusannya kepada para utusan dari kaum Quraish Makkah bahwa,” Demi Tuhan, aku tidak akan menyerahkan orang-orang ini kepada kalian.”

Kemudian pada hari selanjutnya mereka yakni pembesar quraish bertemu kembali dengan Raja dan berusaha meyakinkan sang raja bahwa umat muslim dalam keyakinannya menyatakan bahwa Nabi Isaas hanyalah insan biasa dan nauzubillah mereka menghinakan wujudnya. Kemudian sang Raja itu pun memanggil umat muslim itu untuk yang kedua kalinya dan menanyakan bahwa apakah keyakinan engkau berkenaan dengan Isa?

Kemudian Jafar bin Abi Thalibra menjelaskan firman Allah Ta’ala yang turun pada Rasulullahsaw yaitu surah An Nisa ayat 172 yang bunyinya:

Sesungguhnya Al-Masih, Isa Ibnu Maryam hanya seorang rasul Allah dan suatu khabar suka dari-Nya yang diturunkan kepada Maryam,

Ketia semua hadirin mendengar jawaban sahabat tersebut maka hadirin pun menjadi riuh dan Sang Raja menyampaikan bahwa, “Kedudukan Isa dalam keyakinan mereka sungguh sedikitpun tidak ada kaitannya dengan apa yang kalian tuduhkan”. Dan Raja tersebut menambahkan, “Kini semua umat muslim telah diberikan kebebasan yang sepenuhnya di atas tanah Abessinia ini.”

Kemudian pada periode yang tidak lama setelah peristiwa itu, Rasulullahsaw mengirimkan surat beliau kepada Raja Negus dari Abessinia ini dimana selanjutnya Sang Raja tersebut menyatakan keislamannya kepada beliausaw.

Inilah peristiwa pengabulan Islam oleh seorang Raja dimana Jafar bin Abi Thalibra memegang peranan yang besar dan sungguh luar biasa di dalamnya.

Baca juga: Abu Ubaidah Bin Jarrah Pemimpin Sariyyah Andalan Rasulullah

Hijrah ke Madinah

Setelah Rasulullahsaw hijrah ke Madinah dan umat muslim mendapatkan keamanan dan kemerdekaan, maka Jafar bin Abi Thalibra pun mendapatkan karunia untuk mengikuti Rasulullahsaw hijrah ke Madinah.

Pada tahun 6 setelah hijrah, Ja’far bin Abi Thalibra tiba di Madinah bersama dengan kafilah beliau yang berasal dari Abessinia dalam jumlah yang cukup besar. Peristiwa ini bertepatan setelah terjadinya kemenangan umat muslim di perang khaibar.

Rasulullahsaw sendirilah yang menerima kedatangan kafilah beliau ini yang telah datang setelah hijrah mereka 14 tahun silam ke Abessinia dan kini kembali lagi bersama umat muhajir lainnya di Madinah.

Rasulullahsaw dengan penuh kasih sayang langsung memeluk mereka dan mencium kening mereka serta bersabda: “Aku hari ini sedemikian rupa merasakan kegembiraan hingga aku tidak dapat mengatakan apakah kegembiraan menang di perang khaibar itu lebih menggembirakan ataukah kembalinya Jafar dan para sahabat lainnya yang lebih menggembirakan.”

Ali bin Abi Thalibra menjelaskan bahwa sejak peristiwa itu Jafar bin Abi Thalibhra termasuk dalam sahabat-sahabat yang sering menjadi anggota dewan pertimbangan Rasulullahsaw.

Panglima di Perang Mutah

Belum genap satu tahun sejak peristiwa kembalinya Jafar bin Abi Thalibra dari Abessinia, terjadilah peristiwa perang Mutah. Pada saat itu Rasulullahsaw mengirimkan utusan kepada kerajaan Romawi yang dibalas dengan pensyahidan oleh orang suruhan Raja Ghassan penguasa kota basra saat itu yang merupakan daerah kekuasaan Romawi.

Dan hal ini merupakah pernyataan perang dari mereka kepada umat Islam saat itu. Kemudian Rasulullahsaw dalam menjawab perlakuan mereka tersebut, menyiapkan suatu pasukan dalam jumlah besar yakni tiga ribu pasukan yang terdiri dari para sahabat yang memiliki pengaruh dan kekuatan.

Meskipun demikian Rasulullahsaw mengangkat budak beliau yang telah dimerdekakan yakni Zaid bin Haritsahra sebagai pimpinan pertama pasukan Islam. Selain itu, beliausaw mengangkat Jafar bin Abi Thalibra sebagai naib pertama pimpinan pasukan itu dan Abdullah bin Rawahahra sebagai pimpinan kedua laskar muslim.

Di dalam hadits bukhari diriwayatkan bahwa “Lashkar perang muta pun telah berangkat. Muta berada di lokasi yang berjarak sepuluh manzil yakni seribu kilometer dari Madinah. Dan di Muta telah berkumpul sebanyak seratus ribu laskar Romawi yang menahan dengan penuh perlawanan.

Dan setelah peristiwa pensyahidan ketiga pemimpin laskar perang yang telah ditunjuk Nabisaw, pada akhirnya Khalid Bin Walidra mengangkat bendera pimpinan pasukan Islam dan memenangkan peperangan atas musuh.

Pada hari itu pulalah Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu menyampaikan segala yang terjadi nun jauh disana kepada Rasulullahsaw meskipun beliau sedang duduk di Madinah”. (HR. Bukhari, Kitabul Magazi)

Baca juga: Abu Ubaidah Bin Jarrah Membunuh Ayahnya Sendiri Yang Kafir

Kisah Keberanian dan Pensyahidan

Rasulullahsaw memanggil seluruh penduduk Madinah dan menyerukan perkara gaib yang baru saja beliausaw dapatkan yakni:

Wahai semuanya, saya mendapatkan suatu kabar yang menyedihkan. Para pejuang muslim yang pergi untuk berperang di muta, mereka sungguh telah berperang menghadapi musuh dengan gagah berani.

Yang paling pertama amir lasykar kita Zaid bin Haritsahra telah syahid, setelah beliau gugur maka panji dipegang oleh Jafar bin Aabi Thalibra dan beliau pun sungguh telah berperang dengan gagah berani dan aku pun telah melihatnya dengan kedua mataku bahwa ia berperang menyerahkan jiwa raganya.

Kemudian setelah itu amir kalian yang ketiga yakni Abdullah bin Rawahahra pun disyahidkan. Rasulullahsaw pun saat itu mendoakan magfirat kepada segenap Amir laskar di peperangan muta.

Kemudian Rasulullahsaw menjelaskan kepada hadirin berkenaan dengan akhir nasib yang baik yang akan mereka semua raih kelak yakni:

Aku pun telah diperlihatkan bahwa Jafar, Zaid dan Abdullah yakni ketiganya mereka berada di bagunan yang bertatahkan permata dan ketiga mereka memiliki bagiannya masing-masing dimana mereka duduk diatas singgasana mereka. (Musnad Ahmad jilid 5 halaman 229)

Baca juga: Abu Ubaidah Bin Jarrah Membunuh Ayahnya Sendiri Yang Kafir

Perlakuan Istimewa Rasulullah kepada Keluarga Syuhada

Peristiwa syahidnya Jafar bin Abi Thalibra dijelaskan sendiri oleh istri beliaura, Asma binti Umaisrha:

“Pada hari Allah Ta’ala mengkabarkan secara langsung kepada Rasulullahsaw berkenaan dengan pensyahidan Jafar, Rasulullahsaw memberitahukan para sahabat beliau dan beliau sendiri datang ke rumah Jafar bin Abi Thalibra. Setibanya dirumah beliau, Rasulullahsaw memanggil anak-anak Jafar dan memeluk serta menciumnya dengan penuh kasih sayang hingga air mata Rasulullahsaw pun mengalir.

Kemudian Asma binti Umaisrha bertanya, “Wahai Rasulullah, kami sungguh telah mengorbankan diri kami demi engkau, mengapa engkau sampai menangis? Apakah ada kabar tentang Jafar dan para sahabat?. Seketika itu pun Asma menangis dengan sekeras kerasnya.

Rasulullahsaw pun menyaksikan peristiwa ini langsung beranjak dari rumahnya dan akan datang pada keesokan harinya. Keesokan harinya Huzur datang kembali ke rumah dan berusaha untuk menghibur keluarga jafar di rumah dan menyemangati mereka untuk tetap tabah.

Rasulullahsaw bersabda: “baru saja aku berjumpa dengan Jafar dalam kasyaf ditemani oleh dua malaikat yakni Jibril dan Mikail. Kemudian Jafar menjelaskan apa yang terjadi pada hari tersebut. ‘Saat saya berusaha dengan sekuat tenaga menghadapi musuh, ada sekitar tujuh puluh tiga bekas luka pedang, tombak, atau panah di bagian tubuh depan saya. Saya berusaha memegang panji perang dengan tangan saya. Akan tetapi tatkala tangan kiri saya terputus maka saya berusaha dengan tangan kanan saya akan tetapi ia pun terputus. Kini ganti yang dianugerahkan Tuhan kepada saya adalah dua buah sayap dan saya terbang ditemani oleh para malaikat.’” (Abu Daud kitabul jihad)

Rasulullahsaw bersabda: “Kini jangan sampai ada lagi yang menangis dan menyesali kepergian Jafar bin Abi Talib, sepupuku tercinta”. (Musnad Ahmad, jilid 6 )

Akan tetapi akibat setelah perang Mutah adalah tidak hanya Rasulullahsaw bahkan setiap penduduk Madinah merasakan kesedihan yang mendalam. Ummul Muminin Aisyahra menjelaskan bahwa tatkala datang kabar tentang kabar para sahabat yang berjuang di perang Muta maka beliausaw pun segera sibuk dalam kegiatan taziah dan dari rona wajah suci beliausaw terlihat jelas kesedihan dan kehilangan yang mendalam. (Bukhari kitabul Magazi bab Gazwah muta)

Sahabat yang juga penyair dekat Rasulullahsaw yakni Hasan bin Tsabitra menggambarkan gejolak yang dihadapi para sahabat pada saat itu dengan:

wa kunna nara fi ja’farin min muhammadinwa faa an wa amran soro ma haitsu yumaru

Kini kami sungguh telah menyaksikan bukti sedemikian tingginya kesetiaan Jafar bin Abi Thalib kepada Rasulullahsaw dimana perintah apa yang beliau terima, maka itulah yang telah beliau jalani.

Rasulullahsaw menghibur para keluarga syuhada bahwa Allah Ta’ala sungguh telah sangat rida dan senang dengan pensyahidan yang keluarga kalian jalani.

Kemudian Rasulullahsaw datang kembali pada hari yang ketiga untuk bertakziyah pada keluarga Jafarra. Kemudian beliau bertemu dengan putra Jafarra dan segera memegang tangan beliau dengan penuh kasih sayang dan memanjatkan doa ke hadirat Allah Ta’ala bahwa: “Wahai Allah jadilah Engkau wujud yang selalu melindungi dan menolong keluarga Jafar ini.”

Kemudian untuk memberikan ketenangan kepada istri janda syahid tersebut, Raswulullahsaw bersabda kepadanya: “Janganlah engkau memikirkan makanan apakah yang harus diberikan kepada anakmu, karena aku bertanggung jawab atasnya di dunia ini dan di akhirat kelak aku akan menjadi temannya.”

Kehidupan Jafar bin Abi Thalibra banyak beliau lalui di hijrah Abessinia. Kehidupan beliau secara rinci tidak banya terdapat dalam periwayatan. Akan tetapi sabda Rasulullahsaw berkenaan dengan wujud beliau sebagai bayangan atau tamsil dari wujudnya cukuplah memberikan penjelasan tentang bagaimana akhlak dan kelebihan beliau.

Kemudian Abu Hurairahra pun sempat selama satu tahun bersua dengan Jafarra dan beliau menjelaskan bahwa tidak ada orang yang lebih miskin yang lebih baik dari Jafarra karena beliau lah yang meskipun tidak memiliki apa pun akan tetapi mengajak kita ke rumahnya dan memberikan kami jamuan ala kadarnya.

Rasulullahsaw melihat usaha beliau untuk membantu orang miskin maka beliau mendapat julukan dari Rasulullahsaw yaitu “Abul Masakin” ayah orang-orang miskin. Ini menandakan bagaimana perlakuan Jafar bin Abi Thalibra kepada orang-orang miskin, beliau memperlakukan mereka seperti anak-anak beliau sendiri.

Sumber:

Sirat Hadhrat Jafar Bin Abi Thalib oleh Maulana Hafiz Muzaffar

Baca juga: Bilal Bin Rabah, Sahabat Nabi Yang Banyak Disiksa Karena Keimanannya


0 Komentar

Tinggalkan Balasan