Biografi Imam Al-Ghazali, Mujaddid Abad Ke-5

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

biografi-imam-al-ghazali

Imam Al-Ghazali seorang ulama besar, ahli fiqih, kalam sekaligus sufi. Beliau dinilai berjasa besar dalam menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam, sehingga beliau dikenal sebagai Hujjatul Islam dan diyakini sebagai mujaddid (pembaharu) abad kelima Hijriyah.

Awal Kehidupan

Namanya Muhammad, lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i, kemudian dunia mengenalnya sebagai Imam Al-Ghazali. Beliau lahir di Ghazalah di pinggiran kota Thus, Khurasan, Persia (Iran) pada tahun 450 H atau 1058 M.

Bagi kalangan terdekatnya beliau biasa dipanggil sebagai Abu Hamid karena salah seorang putranya bernama Hamid. Beliau juga sebagai Al-Ghazali Ath-Thusi merujuk kepad kota kelahirnnya, Thus.

Sementara itu di dunia Barat mengenal beliau sebagai Al-Ghazel. Sedangkan nama Asy-Syafii merujuk kepada mazhab yang diikutinya, Mazhab Syafii.

Imam Al-Ghazali terlahir dari keluarga sederhana yang taat beribadah. Ayahnya, namanya juga sama seperti beliau, Muhammad, bekerja sebagai penenun kain dari bulu domba.

Meskipun begitu ayah beliau memiliki cita-cita mulia, ia ingin anak-anaknya kelak menjadi ulama. Ayahnya itu wafat ketika Imam Al-Ghazali masih berusia 6 tahun.

Masa Menuntut Ilmu

Mula-mula, Imam Ghazali dan kakak beliau, Ahmad Al-Ghazali mendapat pendidikan dasar berupa pelajaran Bahasa Arab dan Parsi.

Dilanjutkan dengan mempelajari ilmu ushuluddin, mantiq, usul fiqih, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab.

Imam Al-Ghazali dan kakak beliau, kemudian belajar ilmu nahwu, ilmu hisab, fiqih dan tasawuf kepada seorang ulama termasyhur di kampung halamannya, Ahmad ibn Muhammad Ar-Radzakani. Karena ketekunan dan kecerdasannya, Imam Al-Ghazali juga berhasil mengahafalkan Al-Quran.

Kemudian pada tahun 465 H, sebagaimana dinasehatkan oleh Radzakani, Imam Al-Ghazali dan kakak beliau untuk pertamakalinya meninggalkan kampung halaman mereka untuk pergi menuntut ilmu.

Maka mereka berdua berguru Abu Nasr al-Ismail di Jurjan. Sehingga kakak beliau, Ahmad Al-Ghazali, menjadi seorang ulama sufi dan menetap di Jurjan. Sedangkan Imam Al-Ghazali melanjutkan pengembaraannya untuk menuntut ilmu ke berbagai tempat.

Pada tahun 473 H, Imam Al-Ghazali melanjutkan studinya ke Madrasah Nizhamiyah di kota Naisabur (Nisyafur) dan berguru kepada Imamul Haramain Al-Juwaini.

Imam Ghazali mempelajari berbagai disiplin ilmu, seperti fiqh Mazhab Syafii, kalam, Filsafat dan Manthiq.

Selain belajar kepada Al-Juwaini yang disebut-sebut sebagai guru Imam Al-Ghazali yang paling berpengaruh bagi otoritas keilmuannya, beliau juga telah belajar ilmu tasawuf dari Abu ‘Ali al-Fadl al-Farmadzi dan Abu Bakr Yusuf an-Nassaj at-Tusi.

Karena ketekunan dan kecerdasannya, Imam Ghazali seorang anak kampung yang tadinya tidak dikelan menjelma menjai seorang alim termasyhur yang menguasai berbagai disiplin ilmu.

Baca juga: Biografi Imam Bukhari, Amirul Muminin Fil Hadits

Memimpin Madrasah Nizamiyah

Pada tahun 484, saat usia beliau 34 tahun, Imam al-Ghazali diangkat oleh Nizhamul Mulk untuk mengepalai Madrasah Nizhamiyah (universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Bagdhad, Irak. Beliau juga kemudian dilantik sebagai Naib Kanselor di sana.

Jabatan-jabatan yang dipegangnya itu merupakan posisi yang sangat bergengsi dimasa itu. Karena itu beliau meraih ketenaran dan kehormatan juga kemewahan.

Selama di Baghdad, banyak ulama ternama dari berbagai negeri bertandang kepadanya, baik untuk berdiskusi maupun untuk berdebat, hingga akhirnya beliau diakui sebagai otoritas ilmu yang tak tertandingi.

Keutamaannya adalah bahwa beliau menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu bahasa (Arab), ilmu fiqh dan ushul fiqh, ilmu kalam, ilmu tasawuf. Ia juga menguasai berbagai mazhab pemikiran, baik dari kalangan Sunni maupun Syi’ah.

Baca juga: Biografi Imam Ahmad Bin Hambal atau Imam Hambali

Titik Balik Kehidupan Imam Al-Ghazali

Setelah empat tahun memimpin dan mengajar di Madrasah Nizhamiyyah, menerima kemewahan, ketenaran dan kemuliaan, akan tetapi semua itu tidak memuaskannya sehingga Imam Ghazali memutuskan untuk meninggalkannya.

Pada bulan Dzul Qa’dah tahun 488 H, secara mengejutkan Imam Al-Ghazali meletakkan jabatannya sebagai kepala Madrasah Nizhamiyyah dan meminta kakaknya untuk menggantinya dalam jabatan tersebut.

Sepertinya beliau tertarik dengan tasawuf, beliau telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti Al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami.

Dalam kitab Al-Munqidz Minad Dlalal, Imam Al-Ghazali diantaranya mengatakan: “Telah menjadi nyatalah kepadaku bahwa aku tidak akan mencapai kebahagiaan akhirat, melainkan dengan bertaqwa, dan juga mengekang kehendak nafsu. Dan yang utama sekali ialah memotong tali ikatan hati kepada dunia, dengan meninggalkan negeri yang penuh tipu daya ini, dan kembali ke negeri yang kekal abadi. Dan mengharap kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati. Dan ini tidak akan tercapai, melainkan dengan membuangkan dahulu segala kemegahan dan kekayaan, serta menjauhkan diri dari segala kesibukan dan tuntutan dunia.”

Katanya lagi: “Kemudian aku memeriksa keadaan diriku, maka aku dapati rupa-rupanya aku telah terperangkap di dalam jaringan perangkap pada setiap arah. Dan apabila aku periksa pekerjaanku dalam memberi kuliah dan ceramah, rupa-rupanya aku telah berkecimpung di dalam ilmu-ilmu yang tidak penting, dan tidak bermanfaat di jalan akhirat.”

Kemudian beliau mengatakan: “Syahwat dunia telah mengurungku, dan memaksaku tetap kekal di situ, sedangkan suara keimanan telah menyeru kepadaku, “Pergilah! Tiadalah umurmu melainkan tinggal sedikit saja, sedangkan di hadapanmu adalah perjalanan yang jauh. Tiadalah engkau kumpulkan segala ilmu dan amal melainkan semuanya adalah riya’ dan palsu belaka. Jika sekarang engkau masih belum bersiap sedia untuk akhirat, bilakah masanya engkau akan bersiap sedia?”

Imam Al-Ghazali kemudian meninggalkan kota Baghdad. Beliau pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah dan ziyarah ke makam Rasulullah saw di Madinah.

Setelah melaksanakan ibadah haji, beliau melakukan perjalanan jauh yang berat dan dengan perbekalan seadanya hingga beliau sampai di Yerusalem.

Sepuluh tahun lamanya Imam Al-Ghazali mengembara, meninggalkan segala kemewahan hidup dan menjadi musafir demi mencari ilmu dan kepuasan batin.

Dalam pengembaraannya itulah, beliau menulis magnum opusnya, kitab Ihya Ulumuddin, sehingga beliau mendapat julukan sebagai Hujjatul Islam, karena penguasaannya terhadap segala hujjah atau argumen  kebenaran Islam.

Setelah dua tahun menetap di Yerusalem, Imam Al-Ghazali kemudian aktif sebagai tenaga pengajar di Madrasah Nizhamiyyah kota Nisabur, untuk mengajarkan tasawuf sebagai penyempurna pengusaannya di bidang fiqh dan kalam.

Baca juga: Biografi Imam Syafii, Pendiri Mazhab Syafii

Ihya Ulumuddin

Sepanjang hidupnya Imam Al-Ghazali dikabarkan telah menulis lebih dari 200 kitab. Diantaranya yang paling terkenal adalah Ihya Ulumuddin atau Al-Ihya.

Kitab ini membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nafs), perihal penyakit hati, pengobatannya, dan mendidik hati.

Kitab Ihya Ulumuddin memiliki tema utama tentang kaidah dan prinsip dalam penyucian jiwa yakni menyeru kepada kebersihan jiwa dalam beragama, sifat takwa, konsep zuhud, rasa cinta yang hakiki, merawat hati serta jiwa dan sentiasa menanamkan sifat ikhlas di dalam beragama.

Kandungan lain dari kitab ini berkenaan tentang wajibnya menuntut ilmu, keutamaan ilmu, bahaya tanpa ilmu, persoalan-persoalan dasar dalam ibadah seperti penjagaan thaharah dan salat.

Adab-adab terhadap al-Qur’an, dzikir dan doa, penerapan adab akhlak seorang muslim di dalam pelbagai aspek kehidupan, hakikat persaudaraan (ukhuwah), obat hati, ketenangan jiwa, bimbingan memperbaiki akhlak, bagaimana mengendalikan syahwat, bahaya lisan, mencegah sifat dengki dan emosi, zuhud, mendidik rasa bersyukur dan sabar, menjauhi sifat sombong.

Ajakkan sentiasa bertaubat, pentingnya kedudukan tauhid, pentingnya niat dan kejujuran, konsep mendekatkan diri kepada Allah, tafakur, mengingati mati dan rahmat Allah, dan mencintai Rasulullah saw.

Kiab Ihya Ulumuddin begitu sangat terkenal sehingga menarik para ahli untuk menelitinya, banyak kitab-kitab yang ditulis berdasarkan kitab Al-Ihya baik berupa komentar maupun takhrij (hadits), diantaranya:

Al-Hafizh Ibnu Hajar telah mengarang sebuah kitab yang berjudul: ‘Al-Istidrak ala takhrijul Ihya”

Al-Hafizh Al-‘Iraaqi telah mengarang tiga buah kitab untuk mentakhrij (hadits-hadits yang ada) dalam Kitab Al Ihya: Ikhbarul ahya bi akhbaril ahya secara panjang lebar Alkasyful mu’min an takhrij Ihya Ulumuddin, yang sedang Al Mughni an Hamlil Asfar fil Asfar fi takhrij ma fil Ihya minal akhbar dan yang ini adalah ringkasannya, ketiga Kitab di atas telah disebutkan oleh Ibnu Fahd dalam kitab Lahzhul Al-Haazh.

Imam Ibnul Jauzi yang meneliti Ihya Ulumuddin, kemudian hasil pengerjaannya tersebut diberi nama Minhajul Qashidin wa Mufidush Shadiqin.

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi yang menulisa kitab Mukhtasar Minhajul Qashidin, ringkasan dari Kitab Minhajul Qashidin karya Imam Ibnu Jauzi yang sangat tebal, sehingga mungkin tidak setiap kalangan mau dan mampu memanfaatkannya dengan baik.

Baca juga: Biografi Umar Bin Abdul Aziz, Sang Mujaddid Abad Pertama

Karya Imam Al-Ghazali

Selain Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali telah menulis lebih dari 200 kitab, namun sebagiannya tidak dapat ditemukan lagi. Yang masih tersisa hingga saat ini tinggal sekitar 70 buah, diantaranya:

1. Maqashidul Falasifah.

2. Tahafutul Falasifah

3. Faishalut Tafriqah bainal Islam waz Zanadiqah

4. Iljamul-‘Awam ‘an ‘ilmil Kalam

5. Mi’yarul ‘Ulum

6. Fatihatul ‘Ulum

7. Mihakkun Nazhar fil Mantiq

8. Al-Iqtisad fil-‘Itiqad

9. Al-Qistashul Mustaqim

10. Al-Adab fid-Din

11. Mukasyafatul Qulub

12. Ar-Risalatul Qudsiyyah

13. Al-Mustashfa min ‘Ilmil ‘Ushul

14. Al-Munqidz Minad Dlalal

15. Ar-Risalatul Laduniyyah

16. Bidayatul Hidayah

17. Minhajul ‘Abidin

18. Mizanul ‘Amal

19. Kimiya’us-Sa’adah

20. Misykatul Anwar

Baca juga: Biografi Utsman Bin Affan, Seorang Kaya Yang Baik Hati

Keutamaan Imam Ghazali

Dari sejak kana-kanak Imam Al-Ghazali telah dididik dengan akhlak yang mulia. Sehingga beliau menjauhi sifat riya, sombong, takabur dan sifat-sifat tercela lainnya.

Beliau sangat tekun dan khusyu dalam beribadat, wara’, zuhud dan tidak gemar kepada kemewahan dan kemegahan.

Imam Al-Ghazali dianugerahi kecerdasan dan daya ingat yang kuat. Beliau tekun dan gigih dalam menimba ilmu, sehingga beliau mampu menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan.

Beliau terkenal sebagai ahli filsafat Islam di dunia Barat melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi.

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikih, pakar dalam ilmu kalam, ahli tasawuf jua ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia.

Beliau sangat terampil dalam membela kepentingan Islam, juga berhasil mengembalikan kembali kerohainaan Islam pada masanya, sehingga beliau digelari Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut.

Imam Al-Ghazali dihormati dan dimulyakan, diakui dan dihargai karya-karyanya, baik oleh kalangan Islam maupun dunia barat.

Banyak dari para ulama yang memuji kehebatan dan keutamaan Imam Ghazali, diantaranta:

Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Asakir berkata: “Abu Hamid Al-Ghazali adalah seorang mujaddid abad ke lima hijriyah.”

Imam Ibnu Al-Jauzi berkata: “Al-Ghazali telah banyak menulis buku dalam bidang ushul fiqih dan fiqih. Sulit mencari padanannya dalam hal kualitasnya, runutnya sistematika dan validitas sumber-sumbernya”.

Imam As-Subki dalam Kitabnya Thobaqat as-Syafi’iyah al-Kubro mengutip perkataan As’ad Al-Mihani: “Hanya seorang yang sempurna akalnya (atau yang mendekati sempurna) yang mampu memahami keluasan ilmu dan keutamaan Imam Al-Ghazali. Muhammad bin Yahya, salah seorang murid senior Sang Imam memuji kehebatan gurunya itu dengan berkata, “Al-Ghazali adalah Syafi’i kedua.”

Al-Imam Al-Hafidz Abdul Ghafir Al-Farisi berkata: “Abu Hamid Al-Ghazali adalah Hujjatul Islam dan kaum muslimin. Seorang pemimpin agama. Belum ada yang menyamainya dalam hal kefasihan, pemahaman, pemikiran, kecerdasan, dan akhlak perangai.”

Imam Nawai mengatakan: “Abu Hamid Al-Ghazali adalah seorang imam yang faqih, ahli kalam yang cerdas, dan seorang penulis yang shufi.”

Baca juga: Biografi Ali Bin Abi Thalib, Sang Singa Allah

Mujaddid Abad Ke-5 Hijriyah

Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir tahun 505 H atau 19 Desember 1111 M di Thus. Diperkirakan usia beliau mencapai 55 tahun. Beliau dikebumikan di tempat kelahirannya.

Karya-karyanya sangat diakui oleh orang-orang sezamannya sehingga Imam Al-Ghazali dianugerahi gelar kehormatan Hujjat al-Islami.

Imam Al-Ghazali telah berhasil menghidupkan kembali tradisi spiritual umat Islam yang hampir mati dan mengembalikan kembali ilmu-ilmu spiritual yang diajarkan oleh generasi pertama Islam yang telah dilupakan.

Sehingga umat Islam meyakininya sebagai seorang Mujaddid pada abad ke-5 hijriyah, seorang pembaru agama yang menurut hadits, akan muncul sekali setiap abad untuk memulihkan iman umat.

Demikianlah biografi Imam Ghazali, seorang mujaddid pada abad ke-5 hijriyah. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan meneladani kemulyaan dan keutamannya.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Imam Al-Ghazali by YaleUniversity

0 Komentar

Tinggalkan Balasan