Ibnu Rusyd atau Averroes, seorang filsuf, hakim dan dokter kekhalifahan. Penafsir karya-karya Aristoteles, yang membuatnya dijuluki sebagai The Commentator (Sang Penafsir). Dan di dunia Barat pengaruhnya melahirkan filsafat Averroesme.

Riwayat Hidup

Bewaramulia.com – Ibnu Rusyd, nama lengkapnya Abu Al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd lahir pada tahun 1126 M/520 H di Kordoba, Spanyol.  Berasal dari keluarga ahli hukum dan agama. Ayahnya, Abu al-Qasim Ahmad adalah seorang qadhi (hakim). Kakek beliau Abu al-Walid Muhammad menjabat qadhi al-qudhat (hakim kepala) dan juga merupakan imam Masjid Agung Kordoba.

Dari sejak kanak-kanak beliau tekun dan rajin menimba ilmu. Dan termasuk sosok yang jenius. Beliua telah berguru kepada banyak ilmuwan untuk belajar berbagai macam bidang. Beliau belajar ilmu Hadis, fikih, teologi Islam juga kedokteran.

Guru fikihnya adalah Al-Hafiz Abu Muhammad ibn Rizq dan guru hadisnya adalah Ibnu Basykuwal. Beliau juga belajar fikih dari ayahnya, yang mengajarkannya kitab Muwatta Imam Malik, yang dihafalkan oleh Ibnu Rusyd. Guru kedokterannya adalah Abu Jafar Jarim at-Tajail, yang kemungkinan juga mengajarkannya ilmu filsafat. Ia juga mempelajari karya-karya dari Ibnu Bajjah (juga dikenal dengan nama Avempace).

Menjadi Hakim dan Dokter Kerajaan

Selama hidupnya Ibnu Rusyd pernah memegang berbagai jabatan penting pada masa Kekhalifahan Muwahhidun, yang menguasai sebagian wilayah Spanyol dan Maghrib Pada tahun 1147.

Pada tahun 1169, Ibnu Rusyd diangkat sebagai kadi di Sevilla. Dua tahun kemudian, ia menjadi kadi di Kordoba, kota kelahirannya. Tugasnya sebagai kadi adalah memutuskan kasus pengadilan dan memberikan fatwa atau pendapat hukum sesuai hukum Islam. Pada 1182, beliau juga ditunjuk sebagai dokter istana dan hakim kepala di Kordoba, jabatan bergengsi yang sebelumnya pernah dipegang oleh kakeknya.

Tahun 1184, Khalifah Abu Yusuf wafat dan digantikan oleh Khalifah Yaqub al-Mansur. Kemudian beberapa tahun kemudian hubungannya dengan penguasa tidak harmonis, beliau dituduh sesat dan ahirnya diasingkan ke Lucena. Setelah beberapa tahun di asingkan, pemerintah memanggilnya bertugas kembali.

Baca Juga: Ibnu Haytham: Sosok Dibalik Kamera

Menafsirkan Karya Aristotels

Sesuai dengan permintaan dari Khalifah Abu Yusuf, Ibnu Rusyd menerjemahkan dan menafsirkan karya-karya Aristoteles, proyek itu dimulai tahun 1169.

Ibnu Rusyd berpendapat bahwa dalam agama Islam berfilsafat hukumnya boleh, bahkan bisa jadi wajib untuk kalangan tertentu. Ia juga berpendapat bahwa teks Quran dan Hadis dapat diinterpretasikan secara tersirat atau kiasan jika teks tersebut terlihat bertentangan dengan kesimpulan yang ditemukan melalui akal dan filsafat.

Ibnu Rusyd menulis tafsir atau uraian pada hampir semua karya Aristoteles yang ada pada masa hidupnya. Hanya buku Politika yang tidak beliau jelaskan karena tidak bisa mendapatkan buku tersebut.

Beliau tidak hanya menafsirkan karya-karya Aristoteles, tetapi juga menambahkan dengan hasil pemikiran baru dari Ibnu Rusyd sendiri.

Karya

Selain tafsir-tafsir Aristoteles dan Plato Ibnu Rusyd menulis sedikitnya 67 buku, termasuk 28 buku mengenai filsafat, 20 buku mengenai kedokteran, 8 buku mengenai hukum, 5 buku mengenai teologi, 4 buku mengenai tata bahasa, dan 2 buku mengenai astronomi.

Ibnu Rusyd adalah penulis yang amat produktif dan tulisan-tulisannya mencakup banyak topik, diantara bidang teologi, filsafat, fikih atau hukum, kedokteran, politik, linguistik, astronomi, fisik dan psikologi

Dalam bidang filsafat, salah satunya Fashl al-Maqal. Ibnu Rusyd memaparkan bahwa filsafat—yang merupakan metode mengambil kesimpulan berdasarkan akal dan cara yang cermat—tidak mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. Keduanya hanyalah dua cara untuk memperoleh kebenaran yang sama, dan kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran.

Ketika kesimpulan yang didapat dari filsafat terlihat bertentangan dengan teks kitab suci agama Islam, menurut Ibnu Rusyd teks tersebut harus ditafsirkan ulang atau diartikan secara kiasan sehingga tidak lagi bertentangan.

Dalam bidang teologi karya utamanya adalah kitab Tahafut at-Tahafut (Kerancuan dari Kerancuan) yang merupakan jawaban terhadap kitab terkenal Tahafut al-Falasifah (Kerancuan para Filsuf) karya Al-Ghazali.

Dalam bidang fikih, Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid (Permulaan Seorang Mujtahid dan Akhir Seorang Muqtashid) yang membahas perbedaan mazhab dalam hukum Islam.

Di bidang kedokteran, yang paling terkenal Al-Kulliyah fit-Thibb (Prinsip Umum Kedokteran) atau Colliget dalam bahasa Latin, menjadi salah satu buku teks kedokteran di Eropa selama berabad-abad.

Sayangnya teks asli dari banyak karya Ibnu Rusyd yang berbahasa Arab telah hilang, dan yang masih ada hanyalah terjemahannya dalam bahasa Latin atau Ibrani.

Baca Juga: Karim Abdul-Jabbar: Bintang NBA Muslim

Averroisme

Pengaruh dan jasa Ibnu Rusyd untuk dunia Barat dianggap begitu besar dibanding untuk dunia Islam sendiri.

Pada abad ke-13, Tafsir buku-buku Aristoteles hasil karyanya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan bahasa Latin dan beredar di Eropa. Hal itu memicu para pemikir Eropa untuk kembali mengkaji karya-karya Aristoteles dan pemikir Yunani lainnya, setelah lama diabaikan sejak jatuhnya kekaisaran Romawi.

Karena tafsir-tafsir ini begitu dikenal, penulis-penulis Kristen selanjutnya sering tidak menyebut Ibnu Rusyd dengan namanya tetapi cukup dengan gelar “Sang Penafsir” (Latin: Commentatoris, Inggris: The Commentator).

Pendapat-pendapat Ibnu Rusyd sangat berpengaruh dikalangan Yahudi dan Kristen, sehingga menginspirasi sebuah gerakan filsafat yang disebut Averroisme.

Moshe ben Maimon atau Moses Maimonides adalah salah satu cendekiawan Yahudi yang paling awal menerima karya-karya Ibnu Rusyd dengan antusias. Penulis-penulis Yahudi abad ke-13, seperti Samuel ben Tibbon, Yehuda ben Salomo ha-Kohen dan Shem-Tov ben Falaquera, banyak mengandalkan tulisan-tulisan Ibnu Rusyd sebagai sumber untuk tulisan mereka.

Pengikut ajaran Ibnu Rusyd mencapai puncaknya di kalangan Yahudi pada abad ke-14. Penulis-penulis Yahudi yang menerjemahkan dan banyak dipengaruhi oleh tulisan Ibnu Rusyd di antaranya adalah Kalonymus ben Kalonymus dari Arles, Samuel ben Judah dari Marseilles, Todros Todrosi dari Arles, serta Lewi ben Gerson dari Languedoc.

Paris dan Padova (sekarang di Italia) menjadi pusat intelektual Averroisme Latin, dengan tokoh-tokoh utama seperti Sigerus de Brabantia dan Boetius de Dacia.

Karena hawatir pengaruhnya makin meluas, Gereja Katolik Roma berusaha membendung penyebaran Averroisme. Pada tahun 1270, Uskup Paris Étienne Tempier mengeluarkan larangan terhadap 15 doktrin—kebanyakan merupakan ajaran Aristoteles atau Ibnu Rusyd—yang dianggap bertentangan dengan doktrin Katolik. Pada tahun 1277, sesuai permintaan Paus Yohanes XXI, Tempier mengeluarkan larangan baru, kali ini terhadap 219 tesis dari berbagai sumber, dan sebagian besar merupakan ajaran Aristoteles atau Ibnu Rusyd.

Baca Juga: Hazanah Al-Qur’an: Nabi Musa Membelah Laut

Wafat

Ibnu Rusyd wafat pada tanggal 5 Safdar 595 H atau 11 Desember 1198. Awalnya ia dikuburkan di Maroko, tetapi kemudian jenazahnya dipindahkan ke Kordoba. Pemakamannya di Kordoba dihadiri oleh Ibnu Arabi tokoh sufi terkemuka.

Namanya diabadikan dalam buku The Canterbury Tales (1387) karya Geoffrey Chaucer yang memasukkan Ibnu Rusyd dalam daftar ahli-ahli kedokteran yang diketahui di Eropa pada masa itu.

Ibnu Rusyd juga muncul di lukisan fresko Mazhab Athena karya Raffaello Sanzio. Karya ini dilukis di dinding sebuah ruangan di Istana Kepausan di Vatikan, dan berisi tokoh-tokoh penting dalam filsafat.

Nama Ibnu Rusyd (atau Averroes) juga dipakai untuk genus tanaman Averrhoa. Genus ini dikenali dengan dua tanamannya yang masyhur, yaitu belimbing sayur dan belimbing biasa. Selain itu pula, ada sebuah kawah di bulan bernama Ibn-Rushd dan asteroid 8318 diberi nama Averroes.

Ibnu Rusyd adalah seorang muslim terbaik dimasanya, menghasilkan karya-karya hebat dan bermanfaat bagi dunia Islam bahkan untuk kepenting dunia.

Semoga di masa ini kembali lahir pribadi-pribadi muslim hebat seperti Ibnu Rusyd.   


0 Komentar

Tinggalkan Balasan