Ibnu Batutah Menjelajah Dunia Hingga Sampai di Indonesia

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

ibnu-batutah-Menjelajah-Dunia-Hingga-ke-Indonesia

Ibnu Batutah seorang cendikiawan Muslim Maroko yang menjelajah dunia, hingga sampai di Indonesia

Asal Usul

Ibnu Batutah atau Muhammad bin Batutah nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati At-Tanji bin Batutah, lahir di Tajnah, Maroko, 25 Februari 1304 pada Zaman Bani Marin.

Beliau adalah seorang keturunan Berber (suku Lawata), terlahir sebagai putra keluarga Ulama Fikih di Tanjah (Tangier), Maroko, pada 24 Februari 1304 (703 H), manakala Maroko diperintah oleh sultan-sultan dari Bani Marin.

Pada masa mudanya, Ibnu Batutah mendalami ilmu fikih di sebuah madrasah Suni bermazhab Maliki, yakni bentuk pendidikan yang paling banyak terdapat di Afrika Utara kala itu.

Memulai Perjalanan Ibnu Batutah

Pada bulan Juni 1325, saat berusia dua puluh satu tahun, Ibnu Batutah berangkat meninggalkan kampung halamannya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah, yang kala itu lazim memakan waktu enam belas bulan lamannya.

Ibnu Batutah Menuturkan: “Aku berangkat seorang diri, tanpa kawan seperjalanan sebagai pelipur lara, tanpa iring-iringan kafilah yang dapat kuikuti, namun didorong oleh hasrat yang menggebu-gebu di dalam diriku, dan impian yang sudah lama terpendam di dalam sanubariku untuk berziarah ke tempat-tempat suci yang mulia ini. Jadi, kubulatkan tekadku untuk meninggalkan orang-orang terkasih, perempuan maupun laki-laki, dan menelantarkan rumahku laksana burung-burung menelantarkan sarang-sarangnya. Alangkah berat rasanya berpisah dari kedua orang tuaku, yang masih hidup kala itu, dan baik beliau berdua maupun diriku sendiri sungguh-sungguh berduka karena harus berpisah.”

Beliau berangkat ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri kawasan pesisir Afrika Utara. Ia melewati Kota Tlemsan, Kota Bijayah, dan kemudian singgah di Kota Tunis, Aleksandria dan Kairo.

Setelah melewatkan bulan Ramadan di Damaskus, ia berangkat bersama serombongan kafilah, menempuh perjalanan sejauh 1.300 km (810 mil) menuju Madinah. Setelah singgah selama empat hari di Madinah, Ibnu Batutah berangkat menuju Mekah guna menyempurnakan iabadah hajinya.

Baca juga: Ibnu Khaldun: Muslim Terbaik dan Kehebatannya Diakui Dunia

Menjelajah Dunia

Setelah melakasanak haji ia tidak pulang ke Maroko. Akan tetapi, ia pergi menjelajah dunia, mengunjungi negara-negara Islam dan negara-negara lainnya.

Dalam jangka waktu tiga puluh tahun, Ibnu Batutah menjelajahi sebagian besar Dunia Islam dan banyak negeri non-Muslim, termasuk Afrika Utara, Tanduk Afrika, Afrika Barat, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Tiongkok, juga ke Eropa.

Mengunjungi berbagai negeri, kota, dan tempat-tempat terkenal di dunia. Menjumpa raja-raja dan tokoh-tokoh di masa itu.

Meninggalkan rumah pada usia 21, Ibnu Batutah berkeliling dunia Islam dan Timur Jauh pada abad ke 14 M, meliputi 120.000 mil (120.000 km) antara 1325 – 1352 M, mengunjungi sekitar 40 negara dan melintasi tiga benua.

Baca juga: Ibnu Haytham: Sosok Dibalik Kamera.

Sampai di Indonesia

Tercata pada 1345, Ibnu Batutah dalam penjelajahannya singgah di Kesultanan Samudra Pasai di kawasan utara Pulau Sumatra yang kini termasuk dalam wilayah Provinsi Aceh.

Waktu itu penguasa Samudra Pasai adalah seorang Muslim saleh yang bernama Sultan Al-Malikul Zahir Jamaludin.

Pada masa itu, Samudra Pasai adalah pelosok terjauh Darul Islam (wilayah berpemerintahan Islam), karena tidak ada lagi wilayah lain di sebelah timur Samudra Pasai yang diperintah penguasa Muslim. Di Samudra Pasai, Ibnu Batutah tinggal sekitar dua pekan lamanya. Sang Sultan mencukupi perbekalan yang diperlukan untuk berlayar, dan memberangkatkan Ibnu Batutah ke Negeri Tiongkok dengan salah satu jung (kapal) pribadinya.

Baca juga: Ibnu Rusyd: Berjasa Besar bagi Kemajuan Barat

Pulang

Sekembalinya dari Tiongkok pada 1346, Ibnu Batutah pun memulai perjalanan pulang ke Maroko.

Dalam perjalanan pulang itu ia singgah Granada, Adalusia, Spanyol dan Afrika Utara, kemudian ia menjelajahi wilayah Maroko. Ibnu Batutah akhirnya kembali ke Tanjah, kampung halamannya di Maroko.

Namun hanya tinggal untuk sementara waktu. Ia kemudian kembali berkelana melintasi Sahara menuju kerajaan-kerajaan Muslim di seberang gurun raksasa itu.

Dalam perjalanan melintasi padang gurun, turun titah dari Sultan Maroko agar ia kembali ke kampung halamannya.

Setelah pulang ke kampung halaman pada 1354, atas anjuran Sultan Abu Inan Faris, penguasa Maroko dari Bani Marin, Ibnu Batutah meriwayatkan petualangan-petualangannya kepada Ibnu Juzay, seorang alim yang pernah ia jumpai di Granada. Riwayat yang disusun oleh Ibnu Juzay inilah satu-satunya sumber informasi tentang petualangan-petualangan Ibnu Batutah.

Judul lengkap dari naskah yang disusun oleh Ibnu Juzay ini adalah Tuḥfatun Nuẓẓār fī Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār (Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib), namun seringkali hanya disebut Ar-Rihlah (Lawatan). Kisah perjalannya itu menjadi terkenal hingga saat ini.

Kemudian, ia diangkat menjadi kadi (Hakim) di Maroko, dan wafat pada 1368 atau 1369.


Ibnu Batutah by wien smile

0 Komentar

Tinggalkan Balasan