Hikmah dan Manfaat Shalat Sunnah Dan Nafal

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

hikmah-dan-manfaat-shalat-sunah-dan-nafal

Shalat sunnah dan nafal (nawafil) adalah sebagai tambahan dan menyempurnakan shalat fardhu. Terkadang dalam melaksanakan shalat fardhu terdapat kesalahan atau kekurangan. Maka untuk menutupi itu adalah dengan shalat sunnah dan nafal. Shalat-shalat nafal juga merupakan sarana qurub Ilahi (medekatkan diri kepada Allahswt).

Shalat Sunnah

Selain shalat fardhu dan wajib, shalat yang biasa dikerjakan Rasulullahsaw dan dalam hadits-hadits pun ada disebutkan, disebut dengan shalat sunnah. Yakni, shalat ini dikerjakan oleh pengikut Rasulullahsaw berdasarkan sunah dan cara Rasulullahsaw.

Mengerjakan shalat ini mendatangkan pahala yang sangat besar dan yang meninggalkan sunat pantas dicela. Meskipun demikian, jika tidak bisa mengerjakan shalat sunat dalam waktunya karena suatu hal maka tidak harus di qadha.

Dua raka’at shalat sunnat Subuh dikerjakan sebelum shalat fardhu. Dua raka’at ini selalu dikerjakan Rasulullahsaw dan beliau menekankan untuk mengerjakannya. Oleh  karena itu  barang siapa yang ikut dalam shalat berjamaah atau karena suatu hal tidak bisa mengerjakan shalat ini sebelum  fardhu Subuh, maka kerjakanlah setelah shalat fardhu atau setelah matahari terbit dan sebelum tengah hari.

Sebelum shalat fardhu Zuhur ada 4 raka’at shalat sunnah dan setelah shalat fardhu Zuhur ada 2 raka’at shalat sunnah. Setelah shalat Maghrib ada 2 raka’at shalat sunnah dan setelah Isya 2 raka’at shalat sunnah.

Shalat Nafal

Mengerjakan shalat nafal yakni:

  1. 8 raka’at tahajud
  2. 4 raka’at sebelum Ashar
  3. 2 raka’at setelah 2 raka’at shalat sunat Zuhur
  4. 2 raka’at setelah shalat sunat Maghrib,
  5. 2 raka’at setelah azan Maghrib dan sebelum shalat fardhu Maghrib, juga ada riwayatnya.

Selain itu, sesuai dengan kesempatan terdapat riwayat tentang mengerjakan  6 raka’at nafal tambahan setelah 2 raka’at shalat sunat Maghrib dan 2 raka’at nafal. Enam raka’at shalat itu disebut dengan shalat awwabin.

Begitu juga, terdapat riwayat tentang mengerjakan 2 raka’at nafal setelah shalat sunat Isya dan 2 raka’at nafal setelah witir.  2 raka’at shalat isyraq yakni ketika pagi menyingsing. 2 sampai 8 raka’at duha yakni ketika sinar mentari benar-benar terang dan sebelum tengah hari. Sesuai kesempatan, mengerjakan  2 raka’at nafal tahyatul wudhu yakni setelah wudhu.

Kemudian, 2 raka’at nafal tahyatul mesjid yakni ketika masuk  ke dalam mesjid.  2 raka’at nafal shalat istikharah yakni permohonan kebaikan yang dikerjakan sebagai do’a untuk keberkatan bagi suatu urusan. 2 raka’at nafal sebagai do’a untuk pemenuhan kebutuhan yakni shalat hajat.

Kambah lagi, tahyatusy syukur, yakni sujud syukur yang dikerjakan segera ketika memperoleh kebahagiaan (yang tanpa diduga-duga). 2 raka’at nafal tobat. 2 raka’at nafal setelah kembali dari perjalanan. Selain itu, disunahkan shalat 2 raka’at ketika gerhana matahari  dan gerhana bulan. 

Begitu juga 2 raka’at nafal untuk menjauhkan kemarau panjang yang disebut dengan shalat istisqa. Berkenaan dengan shalat tasbih juga ada riwayatnya.

Selain itu, ketika ada kesempatan hati ingin mengerjakan shalat nafal juga mendatangkan pahala.

Pada dasarnya  shalat sunnah dan nafal hendaknya dikerjakan di rumah. Dalam setiap raka’at shalat sunnah dan nafal harus membaca Al Fatihah dan setelah itu juga harus membaca beberapa bagian surah dalam Al Quran.  Dan apabila tertinggal karena lupa maka harus mengerjakan sujud sahwi.

Witir juga bisa dikerjakan setelah Isya. Tapi jika (yakin bisa) bangun untuk shalat tahajud dan sudah terbiasa maka hendaknya witir dikerjakan setelah shalat tahajud. Dengan begitu ketika tahajud shalat akan  menjadi 3+8 yakni 11 raka’at dan jika setelah witir juga mengerjakan 2 raka’at nafal maka semuanya berjumlah 13 raka’at.

Baca juga: Wajib Diketahui, Dasar-dasar Kewajiban Medirikan Shalat

Pentingnya Mengerjakan Shalat Sunnah dan Nafal

Mereka beranggapan bahwa dengan mengerjakan Shalat-Shalat yang fardu, kewajiban mereka sudah selesai. Padahal Rasulullahsaw bersabda — tapi pada hakikatnya bukan beliau sendiri yang bersabda, melainkan Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut:

Yakni, Allah Ta’ala berfirman, “Dengan nafal-nafal hamba-hamba-Ku demikian rupa menjadi dekatnya kepada-Ku sehingga Aku menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, Aku menjadi mata yang dengannya ia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya ia memegang, dan Aku menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan.”(Bukhari, Kitab ar-Riqaaq, Bab at-Tawadhu)

Dari situ kita dapat mengerti bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan betapa tingginya derajat shalat-shalat nafal itu. Bagi orang-orang yang mengerjakannya telah ditetapkan kedudukan yang tinggi. Dengan mengerjakan shalat-shalat nafal itu Allah Ta’ala seakan-akan mencapai manusia sedemikian rupa hingga sifat-sifat Tuhan meresap ke dalam dirinya. Jadi, Salat-Salat nafal itu bukanlah sesuatu yang sepele.

Itulah sebabnya Allah Ta’ala, yang mengetahui kelemahan-kelemahan hamba-hamba-Nya dan sangat kasih-sayang terhadap mereka, Dia telah menetapkan sebagian ibadah sebagai fardhu (wajib) dan sebagian lagi sebagai nafal.

Adapun yang sebagian ditetapkan sebagai fardhu adalah karena bila seseorang menunaikannya maka ia akan dipersalahkan. Ternyata, di dalam hadits tercantum bahwa seseorang menghadap kepada Rasulullahsaw dan datang-datang ia bertanya mengenai Islam.

Beliau bersabda: Bahwa, dalam sehari-semalam ada lima shalat. Kemudian ia (sahabat itu) bertanya: Apakah selain itu ada yang lainnya lagi? Maka Rasulullahsaw bersabda: Tidak, kecuali kalau atas kemauan engkau sendiri (nafal). Rasulullahsaw bersabda: Berpuasa dalam bulan Ramadhan. Lalu ia bertanya: Apakah selain itu ada yang lainnya bagi saya? Rasulullahsaw bersabda: Tidak, kecuali kalau atas kemauan sendiri (nafal).

Kemudian beliau bersabda: Di dalam Islam zakat juga adalah wajib. Ia bertanya: apakah tidak ada yang lainnya bagi saya? Beliau bersabda: Tidak, kecuali atas kemauan sendiri (nafal). Mendengar ini ia sambil pergi Ia berkata: Demi Allah, saya tidak akan menambahkan atas itu dan tidak akan menguranginya. Kemudian Rasulullahsaw bersabda: Orang itu sudah berhasil jika ia perkataannya benar. (Shahih Bukhari, Kitab al-Iman, Bab az-Zakaat minal Islam)

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Wudhu yang Benar

Hikmah dan Manfaat Shalat Sunnah dan Nafal

Barangsiapa yang mengerjakan faraidh (ibadah-ibadah wajib) dengan sesempurna-sempurnanya ia berhasil. Akan tetapi, orang yang bersikap hati-hati dan berpandangan tidak melakukan hanya sampai sebatas itu melainkan akan melangkah juga ke dalam ibadah-ibadah nafal.

Sehingga, apabila di dalam mengerjakan ibadah-ibadah wajib ada suatu kekurangan maka ia dengan melakukan ibadah-ibadah nafal mudah-mudahan akan menjadi sempurna dan tertutupi kekurangannya.

Dalam sehari-semalam terdapat shalat wajib lima waktu. Ada seseorang yang justru melakukan shalat-shalat itu akan tetapi tidak mengerjakan shalat-shalat nafal. Adalah mungkin salah satu shalat yang telah dikerjakannya, disebabkan oleh suatu unsur kesalahan, siapa tahu tidak diterima oleh Allahswt, sehingga pada hari kiamat ia akan mendapat siksaan.

Shalat sunnah dan nafal menyempurnakan shalat fardhu. Terkadang dalam melaksanakan shalat fardhu terdapat kesalahan atau kekurangan. Maka untuk menutupi itu adalah dengan shalat sunnah dan nafal. Shalat-shalat nafal juga merupakan sarana qurub Ilahi.

Dengan shalat-shalat fardhu iman akan menjadi tegak sedangkan shalat-shalat nafal sebagai penguatnya. Rasulullahsaw bersabda bahwa melalui shalat-shalat nafal manusia menjadi kekasih dan orang yang dekat dengan Allah Ta’ala.

Baca juga: Panduan Dan Tata Cara Mandi Wajib

Kelemahan-kelemahan dalam Shalat Fardu

Ternyata di dalam hadits tercantum bahwa sekali peristiwa Rasulullahsaw berkenan datang ke mesjid, lalu ada seseorang datang dan melakukan shalat. Kemudian beliausaw bersabda kepadanya, “Kerjakan lagi!” Ia mengerjakan shalat lagi. Beliausaw bersabda, “Kerjakan lagi!” Untuk ketiga kalinya Rasulullahsaw bersabda supaya orang itu mengerjakan shalat lagi, ia pun berkata,

“Ya, Rasulullah, demi Allah, lebih dari itu saya tidak dapat melakukan shalat. Katakanlah kepada saya bagaimana seharusnya saya mengerjakannya.”

Rasulullahsaw bersabda, “Engkau mengerjakan shalat dengan cepat. Oleh karena itu tidak dikabul. Kerjakanlah dengan perlahan-lahan.” (Shahih al-Bukhari, Kitab Shifat ash- Shalaat, Bab Wujuub al-Qiraa-ah lil Imam wal Mamum)

Kadang-kadang cacat-cacat itu sedemikian rupa yang karenanya shalat tidak dikabul. Akan tetapi barangsiapa yang mengerjakan shalat wajib dan juga mengerjakan shalat nafal, seandainya pun shalatnya tidak ada yang dikabul maka shalat nafalnya akan dapat memberikan jasa kepadanya dan menutupi kekurangannya.

Baca juga: Panduan Cara Mengetahui Waktu shalat

Bersikap Cerdas dan Bijaksana

Permisalannya adalah seperti berikut. Seseorang berangkat untuk mengikuti suatu ujian yang syarat lulusnya adalah perolehan angka hanya lima puluh. Dan ia berangkat dan menyelesaikan soal hanya sekedar mencapai angka ke lima puluh dan ia merasa yakin bahwa ia akan lulus. Sudah pasti ia keliru.

Sebab, adalah mungkin kalau terdapat di antara soal-soal yang dibuatnya itu salah dan ia tidak dapat meraih angka penuh lima puluh dan ia pasti tidak lulus. Oleh karena itu, siswa-siswa yang cerdik dan pandai tidak akan berbuat hal seperti itu melainkan akan menyelesaikan bukan saja soal-soal yang dapat ia selesaikan tetapi juga akan menyelesaikan seluruh soal sehingga mudah-mudahan semua angka digabungkan akan dapat lulus.

Kemudian kalau seseorang bepergian dan memperkirakan biaya yang akan diperlukannya sekian banyak lalu ia membekali dirinya hanya sebanyak yang diperkirakannya. Kadangkala bisa terjadi bahwa perkiraannya meleset dan ia terpaksa harus menemui kesulitan besar. Oleh karena itu, orang yang cerdik dan pandai akan berangkat dengan berbekal lebih dari yang diperkirakan agar pada saat ia harus membelanjakan uang untuk pengeluaran yang tidak terduga ia tidak menemui kesulitan besar.

Maka shala-shalat sunnah dan nafal adalah tak ubahnya seperti pengeluaran yang tidak terduga tapi sangat penting. Karenanya hendaklah kita memberi perhatian istimewa terhadap menjalankan shalat-shalat sunnah dan nafal.

Sumber: Zikir Ilahi oleh Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad

Baca juga: Mengapa Ketika Shalat Harus Menghadap Kabah?


0 Komentar

Tinggalkan Balasan