“Pukullah laut dengan tongkatmu,” (QS. Asy-Syu’ara: 64) perintah Allah swt kepada Nabi Musa as. Beliau as pun segera memukulkan tongkatnya ke permukaan air laut, seiring dengan itu terjadi suatu keajaiban, tiba-tiba air laut pun menjadi surut.

Nabi Musa as dan kaumnya bergegas menyebrangi laut yang airnya surut itu, hingga mereka sampai di sebrang pantai dengan selamat.

Melihat kaum Bani Israil yang nampak sudah dekat, namun masih bisa melarikan diri dengan menyebrangi laut, Firaun dan pasukannya dengan segela perlengapan perangnya yang berat itu pun terus mengejar mereka.

Apa yang terjadi? Setibanya Nabi Musa as dan kaumnya di sebrang pantai dengan selamat, air laut pun kembali datang, sehingga Firaun dan pasukannya binasa dan gagal menangkap Nabi Musa as dan membawa kembali Bani Israil ke Mesir.

Baca juga: Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as dan Tongkatnya

Nasib Firaun

Apa yang terjadi dengan Firaun dan tentaranya? Tidak ada yang menyaksikannya. Apakah ia selamat atau mati karena tenggelam di laut? Tidak ada bukti yang pasti mengenai hal itu.

Kitab Injil hanya menyebutkan bahwa Firaun dan pasukannya tenggelam, dan tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.

‘Berbaliklah segala air itu lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun yang telah menyusul orang Israel itu ke laut, seorang pun tidak ada yang tinggal dari mereka. Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut. . .’ (Keluaran 2: 23)

Sementara itu melalui Al-Qur’an kita mendapatkan keterangan yang jelas tentang peristiwa itu. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Firaun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga ketika ia hampir tenggelam, ia berkata, “Aku percaya, sesungguhnya Dia tiada Tuhan selain yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri,” (QS. Yunus : 91)

Sepertinya Firaun menyadari kesalahannya, ia bertobat, akan tetapi apakah tobanya itu diterima? Allah swt berfirman:

“Apa, baru  sekarang !? Padahal engkau telah membangkang sebelum ini, dan telah termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 92)

Allah swt Maha Pemberi Ampun, Maha Pengashi dan Maha Penyayang, Pintu TobatNya terbuka bagi siapa saja yang ingin meraihnya. Dan Allah memutuskan tentang nasib Firaun, FirmanNya:

“Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan hanya dalam jasadmu, menjadi suatu Tanda bagi orang-orang sesudah engkau. Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia sangat lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (QS. Yunus: 93)

Saat Al-Quran diwahyukan, makam raja-raja Mesir terkubur jauh di bawah padang pasir. Manusia zaman itu, apalagi bangsa Arab, sedikit sekali yang mengenal ilmu pengawetan mummi. Tidak ada kitab atau pun riwayat yang pernah menyinggung penyelamatan jasad Firaun, apalagi menceritakan tentang cara pengawetannya.

Setelah lebih dari 3000 tahun berlalu, apa yang dijanjikan Allah dalam Al-Qur’an itu benar adanya, jasad Firaun itu telah ditemukan dan sekarang tersimpan dalam keadaan terpelihara di museum di Kairo.

Baca juga: Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as Membelah Lautan

Peneltian  Maurice Bucaille

Terdapat banyak penelitian yang terus dilakukan untuk mengungkap keberadaan raja-raja Firaun dan kehidupan mereka di masa lalu. Salah satunya yang dilakukan oleh Maurice Bucaille.

Maurice Bucaille (Moris Bijal) lahir di Pont-L’Eveque, Prancis, 19 Juli 1920. Ia seorang dokter ahli bedah dan ilmuan terkemuka. Ia pernah menjadi dokter keluarga Raja Faisal dari Arab Saudi, dan keluarga Presiden Mesir.

Oleh karena itu ia mendapat izin untuk meneliti mumi para Firaun. Dari hasil penelitian itu didapati bahwa diperkirakan Ramses II yang meninggal pada Juli atau Agustus 1213 SM pada usia 96 tahun.  Kemudian digantikan oleh Merneptah, anak ketigabelas dari 162 anak Ramses II. Merneptah memerintah Mesir selama hampir sepuluh tahun, dari 1213 SM hingga kematiannya pada 2 Mei 1203 SM.

Diketahui jasad Merneptah mengandung garam, hal itu membuktikan bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk dijadikan mumi. Sehingga dr. Bucaille menyimpulkan, Merneftah lah firaun yang tenggelam ketika mengejar Nabi Musa as.

Baca juga: Siratun Nabi: Secawan Susu Cukup untuk Rasulullah saw dan Para Sahabat

Mati Tenggelam atau Selamat?

Apakah Rameses II atau Merneptah yang mengejar Nabi Musa as? Sampai sekarang masih tetap menjadi ajang perdebatan, yang jelas salah satu dari mummi-mummi yang diambil dari Lembah Raja-raja adalah firaun yang berhadapan dengan Nabi Musa as.

Satu-satunya konklusi yang bisa ditarik dibanding pandangan keseluruhan sejarah dunia adalah kebenaran dari pernyataan Al-Quran yang mengemukakan: “Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya dalam jasadmu.” Itulah pernyataan Al-Quran yang sekarang ini telah menjadi pernyataan sejarah dunia.

Mirza Tahir Ahmad dalam bukunya Revelation, Rationality, Knowledge and Truth berpendapat:

“Firman Tuhan dalam hal ini bisa berarti bahwa sudah tertutup kemungkinan menyelamatkan jiwa Firaun, dan karena itu yang diselamatkan hanyalah jasadnya saja. Kemungkinan lain firman tersebut mengandung makna kalau saat untuk menerima pertobatan Firaun dianggap sudah berakhir sehingga batinnya tidak memperoleh pelepasan. Dalam hal demikian maka nyawanya akan selamat tetapi yang bersangkutan akan hidup sebagai zombie (mayat hidup) tanpa jiwa.”

“Menurut pemahaman kami, makna yang kedua inilah yang dimaksudkan oleh Al-Quran. Guna mendukung pandangan kami tersebut, kembali kami kemukakan cara episode ini diutarakan. Yang paling menarik adalah kalimat: ‘Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya dalam jasadmu.’”

Salah satu alasanya yaitu berdasar pembuktian arkeologi dari kondisi mummi, ternyata Rameses II diketahui mati di usia lanjut sekitar sembilanpuluh tahun dimana tigapuluh tahun terakhir ia hanya terbaring lemah sebagai kakek pikun yang diperkirakan menderita penyakit arteriosklerosis akut. Keadaan demikian bisa jadi merupakan akibat langsung dari hampir tenggelamnya yang bersangkutan yang berakibat pada kekurangan pasokan oksigen ke otaknya untuk suatu jangka waktu cukup panjang.

Baca juga: Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw

Hikmah

Firaun mana yang bernasib buruk, bapaknya kah atau anaknya? Apakah ia memang mati tenggelam dan hanya jasadnya yang diselamatkan, atau apakah ia berhasil diselamatkan dari keadaan hampir mati tenggelam? Perdebatan itu dan nama-nama mereka tidak penting dan bukan tujuan dari nubuatan Al-Qur’an ini.

Dan mukjizat Al-Quran dalam hal ini tidak lantas menjadi kabur. Jasad dari Firaun nyatanya memang kemudian diawetkan dan diungkap, dimana semua telah menjadi kenyataan sebagaimana dinubuatkan Al-Quran.

Dan yang lebih penting lagi, tujuan utamanya adalah menjadikannya sebagai bahan pelajaran bagi keturunan manusia selanjutnya agar mereka tidak terjerumus kedalam kesalahan yang sama, yang pernah dilakukan oleh Firaun.

Karena kekejamannya, kesombongannya, dan perlawanannya kepada seorang utusan Allah, ia menjadi binasa.

Segala puji bagi Allah, Tuhan Maha Tahu.

Baca juga: Rasulullah Mengizinkan Nasrani Kebaktian di Mesjid


0 Komentar

Tinggalkan Balasan