Firaun telah berbuat kejam dan aniaya kepada kaum Bani Israil dan Nabi Musa. Ia menimpakan kepada mereka penganiayaan yang pedih, memaksa mereka kerja berat lagi hina. Bahkan, supaya mereka selamanya tunduk di bawah kekuasaannya, Firaun membinasakan kaum pria dan membiarkan hidup wanita-wanita mereka.

Ketika kekejaman itu telah mencapai puncaknya dan telah melewati batas, maka Allah subhanahuwataala (swt), sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak mungkin keliru itu, memutuskan untuk mengakhiri penindasan itu dan menghukum pelakunya, untuk itu Dia mengutus Nabi Musa alihissalam (as).

Firaun bukan nama seorang raja tertentu. Raja-raja lembah Nil dan Iskandaria disebut juga firaun. Nabi Musa as diperkirakan lahir di masa pemerintahan Rameses II (yang memelihara beliau as) dan ketika menjadi nabi dalam pemerintahan puteranya, Merenptah atau Menepta.

Nabi Musa as hidup kira-kira 500 tahun sesudah Nabi Ibrahim as dan kira-kira 1400 tahun sebelum Nabi Isa as. Beliau itu nabi pembawa syariat, nabi-nabi Bani Israil lainnya sesudah beliau, hanya merupakan pengikut syariat beliau as.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Tongkat Nabi Musa

Allah swt berfirman: “Pergilah kamu berdua, kepada Firaun, sebab sesungguhnya ia telah melampui batas.” Sesuai dengan perintah Allah, Nabi Musa as dan Nabi Harun menemui Firaun, meminta agar raja zalim itu membebaskan kaum Bani Israil dari penindasan dan perbudakan.

Nabi Musa as berkata: “Kami berdua adalah rasul dari Tuhan engkau; maka perkenankanlah pergi beserta kami Bani Israil, dan janganlah menyiksa mereka, Sesungguhnya kami telah membawa kepada engkau Tanda dari Tuhan engkau. Dan selamat atas orang yang mengikuti petunjuk.” (Taha, 20: 43-62)

Terjadi perdebatan antara Nabi Musa as dengan Firaun. Ia menolak permintaan beliau as, bahkan ia memfitnah Nabi Musa as, bahwa beliau bertujuan mengusir penduduk Mesir dari negeri mereka padahal bukan itu tujuan Nabi Musa, beliau as hanya ingin membawa pergi kaumnya sendiri.

Nabi Musa berkata: “Sebenarnya aku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang hak. Sesungguhnya, aku datang kepadamu dengan Tanda-kebenaran yang nyata dari Tuhan-mu; maka, biarkanlah Bani Israil pergi  bersamaku.”

Atas permohonan Nabi Musa as itu Firaun menjawab, “Jika benar engkau datang dengan suatu Tanda, maka kemukakanlah itu, jika engkau sungguh termasuk orang-orang yang benar.” Maka Nabi Musa pun melemparkan tongkatnya; seketika tongkat itu menjadi seekor ular yang nyata. Kemudian Nabi Musa memperlihatkan tangannya, tangan  itu nampak  putih bercahaya.

Atas kejadian itu Firaun dan mereka yang hadir menjadi terheran-heran dan takut, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka berupaya menghasut orang-orang Mesir supaya melawan Nabi Musa as, kata mereka, “Sesungguhnya orang ini tukang sihir yang pintar; Ia bermaksud mengeluarkan kamu dari negerimu, maka bagaimana pendapatmu?” Nabi Musa as tidak berkeinginan semaca itu. Tugas beliau hanyalah membawa kaumnya sendiri keluar dari Mesir.

Untuk melawan Nabi Musa as, Firaun mendatangkan beberapa tukang sihir. Mereka diiming-imingi oleh Firaun, jika mereka berhasil mengalahkan Nabi Musa as mereka akan diberi imbalan bahkan akan diber kedudukan.

Saat pertemuan itu telah tiba, susana diliputi oleh ketegangan, kedua belah pihak berhadap-hadapan, siap untuk bertarung dalam pertandingan yang menentukan. Dengan tidak sabar mereka berteriak, “Hai Musa! apakah engkau yang akan pertama melempar atau kami yang harus menjadi pelempar?“ Dengan tenang Nabi Musa as menjawab, “Lemparkanlah olehmu.” Nabi-nabi Allah tidak pernah mulai membuka serangan lebih dahulu. Mereka menanti serangan dari pihak musuh, mereka lebih suka menjadi pihak yang membela diri lalu menghadap kepada Tuhan memohon pertolongan-Nya.

Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyihir mata orang-orang dan membuat mereka itu takut, mereka menampilkan sihir yang hebat. Dan saat itu juga Tuhan mewahyukan kepada Nabi Musa, “Lemparkanlah tongkat engkau!“ Maka tiba-tiba tongkat itu menelan apa-apa yang disihir mereka. Maka tegaklah hak dan batallah apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Araf, 7: 105-119)

Baca juga: Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as Membelah Lautan

Hikmah

Mukjizat yang diperlihatkan oleh para nabi tidak bertentangan dengan hukum alam dan ilmu pengetahuan. Sekalipun hal itu tak dapat diterangkan atau dipahami secara rasional. Pengetahuan kita tentang hukum alam bagaimana pun luasnya masih sangat terbatas. 

Mukjizat-mukjizat itu dimaksudkan untuk memenuhi suatu tujuan besar yang erat bertalian dengan akhlak dan kerohanian, yaitu, untuk menimbulkan keyakinan dan perasaan tawadhu serta takut kepada Tuhan dalam hati mereka yang menyaksikannya.

Jika tongkat itu benar-benar telah berubah menjadi ular, seluruh  pertunjukkan itu tentu nampaknya seperti kelihaian tukang sulap belaka, dan bukan mukjizat dari seorang nabi. Al-Qur’an tidak menunjang pendapat bahwa tongkat itu benar-benar telah berubah menjadi ular asli dan hidup. Sedikit pun tidak nampak terjadinya hal semacam itu. Tongkat itu hanya nampak seperti ular yang bergerak-gerak amat lincahnya.

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menjelaskan: “Mukjizat itu merupakan kasyaf, pemandangan gaib, saat Tuhan menguasai secara istimewa penglihatan penonton-penonton supaya membuat mereka melihat tongkat itu dalam bentuk ular, ataupun tongkat itu sendiri ditampakkan seperti ular.” (The English Commentary of the Holy Quran).

Pemandangan gaib ini disaksikan oleh Firaun serta pemuka-pemukanya dan oleh tukang-tukang sihir. Tongkat itu tetap tongkat juga adanya, tetapi hanya nampak seperti ular.

Beliau, Hadhrat Mirza Basyiruddin juga menjelaskan: “Hal itu merupakan gejala keroanian yang umum, dalam kasyaf, bila manusia menembus hijab-hijab raga wadagnya dan untuk sementara waktu berpindah ke alam rohani, ia dapat melihat hal-hal yang terjadi di luar batas pengetahuannya dan sama sekali tidak nampak oleh mata jasmaninya. Mukjizat-mukjizat berubahnya tongkat menjadi ular merupakan suatu pengalaman rohani semacam itu.”

Suatu gejala kerohanian semacam itu terjadi di masa Rasulullah, ketik bulan seakan-akan terbelah, tidak hanya dilihat oleh Rasulullah melainkan juga oleh beberapa sahabat dan musuh-musuh beliau. Malaikat Jibril yang acap kali terlihat oleh Rasulullah dalam kasyaf-kasyaf beliau, pada suatu ketika juga terlihat oleh para sahabat yang tengah duduk-duduk bersama beliau. Demikian pula, para malaikat terlihat bahkan oleh beberapa orang kafir pada Perang Badar.

Mukjizat Nabi Musa mengandung makna yang istimewa. Tuhan memerintahkan Nabi Musa agar melemparkan tongkatnya, nampaklah tongkat itu seperti ular. Kemudian atas perintah Tuhan, beliau mengambilnya, maka ular itu hanya berupa sepotong kayu belaka.

Mengenai hal ini Hadhrat Mirza basyiruddin menjelaskan: “Ular itu dalam kasyaf dan mimpi melambangkan musuh, sedangkan tongkat mengiaskan jamaah. Dengan demikian jika beliau melemparkan umatnya jauh dari beliau, mereka benar-benar akan bersifat ular. Tetapi, jika beliau mengambil mereka dibawah asuhan sendiri, mereka akan menjadi umat yang kuat lagi baik, terdiri atas orang-orang mukhlis lagi bertakwa kepada Tuhan.”

Sementara itu, Al-Qur’an telah mempergunakan tiga kata yang berlainan untuk menggambarkan perubahan tongkat Musa as menjadi ular, yaitu, hayyah dalam 20:21, jann  dalam 27:11 dan 28:32 dan tsu’ban  dalam 7: 108 dan 26:33.

Kata hayyah mempunyai makna umum dan dipergunakan untuk segala macam ular. Kata jann dipakai untuk ular kecil. Kata tsuban  berarti ular gemuk lagi panjang.

Jann dipergunakan karena menilik kecepatan gerak ular itu dan tsu’ban  menilik besarnya. Apabila yang dimaksudkan hanya berubahnya tongkat menjadi ular saja, maka yang dipergunakannya ialah kata hayyah. Ketika tongkat itu berubah menjadi ular di hadapan Musa as saja, maka dipergunakan kata jann (ular kecil), tetapi, bila mukjizat berubahnya tingkat itu menjadi ular diperlihatkan kepada Firaun, tukang-tukang sihir dan khlayak umum, maka kata tsu’ban yang dipergunakan.

Penggunaan ketiga kata yang berlainan pada tiga tempat yang berbeda-beda dalam Al-Q’uran pasti mempunyai arti tersendiri dan jelas dimaksudkan untuk tujuan tertentu.

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menjelaskan bahwa Kata hayyah berarti, suatu kaum yang sudah mati (asha/tongkat berarti masyarakat), begitulah keadaan orang-orang Bani Israil pada masa itu, akan menerima kehidupan baru lagi penuh semangat dengan perantaraan Musa as (inilah mafhum akar kata hayyah), dan kata jann (seekor ular kecil ) berarti bahwa dari satu masyarakat kecil lagi terbelakang mereka akan mencapai kemajuan pesat dan akan menjadi tsu’ban (ular panjang lagi gemuk) bagi Firaun dan rakyatnya; yakni, kaum Bani Israil akan menjadi sarana dan alat unutk kehancuran mreka.

Semua nubuwatan yang terkandung dalam kasyaf itu telah terbukti nyata, Firaun dan bangsanya yang zalim dan aniaya itu menjadi binasa, sementara itu kaum Bani Israil mendapat keselamatan dan kemudian meraih kemajuan.

Meskipun Nabi Musa telah membuktikan kebenarannya, sayangnya tidak banyak dari kaumnya yang beriman kepada beliau kecuali beberapa pemuda saja, mereka takut kepada Firaun yang kejam itu.

Begitulah kebenaran, selalu mendapat tantangan dan tidak disukai, namun pada akhirnya kebenaran akan menang dan meraih kejayaan.

Baca juga: Hazanah Al-Quran: Nabi Musa as dan Nasib Firaun


1 Komentar

Fakhruddin Ar Razi: Ulama dan Cendikiawan Hebat di Masanya - · 29 Februari 2020 pada 8:27 am

[…] Baca Juga: Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as dan Tongkatnya […]

Tinggalkan Balasan