Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as Membelah Lautan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

nabi-musa

Kaum Bani Israil telah dianiaya oleh Firaun dengan sangat kejinya, berabad-abad lamanya mereka diperbudak raja yang zalim itu. Mereka tidak mampu keluar dari penderitaan itu, sampai akhirnya Allah swt menurunkan Nabi Musa as sebagai penolong mereka.

Atas perintah Ilahi, Nabi Musa as memimpin kaum Bani Israil meninggalkan Mesir menuju tanah yang dijanjikan, Kanaan. Merupakan tanah yang pernah didiami oleh Nabi Ibrahim as sekitar 2000 tahun sebelum masehi yang kemudian dilanjutka oleh keturnanya. Di sana mereka akan aman setelah berabad-abad lamanya diperbudak oleh Firaun.

Mereka berangkat dengan diam-diam di malam hari. Mereka mengindari Firaun dan tentaranya yang aniaya itu.

Kesokan harinya, mengetahui Nabi Musa as dan kaum Bani Israil telah pergi meninggalkan Mesir, Firaun pun murka, segolongan orang yang sedikit dan lemah itu mencoreng kebesarannya,  ia segera mengumpulkan tentaranya dan mengejar para pelarian itu.

Sementara itu, kaum Bani Israil, ketika mereka mengetahui dikejar oleh Firaun dan tentaranya yang terus mendekat, sedangkan di hadapan mereka lautan, sudah tidak ada lagi jalan untuk lari, mereka sangat ketakutan akan tertangkap, padahal sudah dijanjikan keberhasilan oleh Allah swt namun keimanan mereka sangat lemah.

Mereka mengatakan, “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap.” Nabi Musa berkata, “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhan-ku bersertaku. Dia akan menunjukkan kepadaku jalan kemenangan.” (Asy-Syu’ara’ 26: 62-63)

Disaat genting seperti itu, Allah swt menurunkan wahyu-Nya, Dia memberi perintah kepada Nabi Musa as, “Pukullah laut dengan tongkatmu,” Maka tersibaklah laut, dan setiap bagiannya seperti gunung besar. (Asy-Syu’ara 26: 64)

Sesuai dengan perintah Allah swt, Nabi Musa as pun segera memukulkan tongkatnya ke permukaan air laut, seiring dengan itu terjadi suatu keajaiban, tiba-tiba air laut pun menjadi surut.

Nabi Musa as dan kaumnya bergegas menyebrangi laut yang airnya surut itu, hingga mereka sampai di sebrang pantai.

Melihat kaum Bani Israil yang nampak sudah dekat itu, namun masih bisa melarikan diri dengan menyebrangi laut, Firaun dan pasukannya dengan segela perlengapan perangnya yang berat itu pun terus mengejar mereka.

Apa yang terjadi? Setibanya Nabi Musa as dan kaumnya di sebrang pantai dengan selamat, air laut pun kembali datang memenuhi laut yang airnya surut itu, sehingga Firaun dan pasukannya yang masih ada di tengah laut tidak bisa menyelamatkan diri. Firaun dengan segala kesombongannya itu tenggelam ke dasar laut. Ia binasa karena menolak dan melawan utusan Allah swt.

Baca juga: Siratun Nabi: Secawan Susu Cukup untuk Rasulullah saw dan Para Sahabat

Peristiwa Surutnya Air Laut

Kisah selamatnya Nabi Musa as beserta umatnya dan tenggelamnya Firaun bersama pasukannya itu tertera dalam Al-Qur’an dan juga Bible.

Kemudian “terbelahnya laut” melalu perantaraan dipukulkannya tongka Nabi Musa as merupakan mukjizat dari Allah swt yang juga disebutkan dalam Al-Qur’an.

Mengenai peristiwa itu Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menjelaskan bahwa pemukulan air laut dengan tongkat Nabi Musa dengan “terbelahnya laut”, tidak mempunyai hubungan sebab dan akibat. Hal itu hanya tanda atau isyarat Tuhan kepada Nabi Musa bahwa waktu itu pasang lagi surut dan oleh karenanya orang-orang Bani Israil harus bergegas menyeberang.

Tuhan telah mengatur demikian, sehingga ketika Nabi Musa sampai ke pantai, saat surutnya laut hampir mulai, sehingga serentak beliau memukul air laut dengan tongkatnya, mematuhi perintah Ilahi, air laut mulai surut dan dasar tohor telah tersedia bagi orang-orang Bani Israil.

Pemukulan air laut dengan tongkat oleh Nabi Musa dan surutnya laut terjadi pada waktu yang sama. Hal itu merupakan mukjizat, sebab hanya Tuhan Sendiri Yang mengetahui kapan laut akan surut dan Dia telah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul ait laut itu, pada saat mulai surut. .” (The English Commentary of the Holy Quran).

Baca juga: 7 Tokoh Muslim Pelopor Penerjemah Al-Quran Bahasa Inggris

Tempa Menyebrang

Peristiwa tempat “terbelahnya laut” hingga Nabi Musa as dan kaum Bani Israil bisa menyebranginya itu terjadi di laut Merah dari Mesir ke Kanaan. Akan tetapi di mana lokasi tepatnya hal itu terjadi tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti.

Ada yang berpendapat peristiwa itu terjadi di daerah Goshen yang disebut Lembah at-Tamtsilat atau Wadi Tumilat. Yang lain berpendapat, beliau pergi lebih ke utara lagi dan mengelilingi Zoan menyeberang ke Kanaan dekat Laut Tengah.

Tetapi, apa yang mungkin sekali ialah bahwa, dari Tal Abi Sulaiman, Ibukota Firaun di zaman Nabi Musa, orang-orang Bani Israil mula-mula pergi ke timur-laut menuju Teluk Timsah, tetapi kiranya tertahan oleh jaringan jurang-jurang, mereka berbelok ke selatan dan menyeberangi Laut Merah, dekat kota Suez; di tempat itu lebar laut hanya kurang lebih 2 sampai 3 mil. Dan menuju ke Qadas.

Hembusan angin menohorkan pantai dan ketika pasukan Mesir mengejar pelarian-pelarian itu roda kereta-kereta perang terbenam ke dalam lumpur dan air laut itu begulung kembali membenam mereka ketika angin balik.

Baca juga: Hazanah Al-Quran: Nabi Musa as dan Nasib Firaun

Waktu Keluarnya

Tidak ada catatan atau bukti-bukti yang jelas yang dapat memastikan kapan peristiwa keluarnya Nabi Musa as dan kaum Bani Israil dari Mesir menuju Kanaan.

Teori yang mendapat tempat pada kalangan luas dan mendapat banyak dukungan dari catatan-catatan sejarah, penyelidikan-penyelidikan ilmu purbakala, dan tradisi turun-temu run bangsa Ibrani ialah, bahwa “Keluaran” itu, terjadi pada dinasti kesembilan belas (1328 – 1202 SM), di masa kerajaan Mereptah II atau Meneptah II (1234 0 1214 SM) dan sampai kini, nampaknya merupakan teori yang paling mungkin.

Nampaknya peristiwa Keluaran terjadi kira-kira pada tahun 1230 SM. Menurut pandangan ini, Firaun si penindas ialah Rameses II, dan penggantinya Mrenptah II, ialah Firaun Keluaran. (Peake’s Commentary on The Bible hlm. 119, 955, 956).

Yang jelas, Nabi Musa as telah berhasil meyelamatkan Bani Israil menyeberangi laut. Hal itu dapat terjadi karena adanya pertolongan dari Allah swt. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi kenyataan karena kehendak dari Allah semata.

Baca juga: Hazanah Al-Qur’an: Kisah Nabi Musa as dan Tongkatnya


0 Komentar

Tinggalkan Balasan