Haritsah bin an-Nu’man radiallahu ‘anhu seorang Sahabat Nabi yang sangat dermawan, beliau menyerahkan rumahnya untuk ditempati Rasulullah saw dan juga untuk keluarga beliau saw.

Biografi Haritsah bin An-Nu’man

Haritsah bin an-Nu’man. Beliau mendapat julukan (laqab) Abu Abdillah. Beliau adalah sahabat Anshar yang berasal dari Kabilah Khazraj, ranting Banu Najjar.

Ayahanda beliau al-Nu’man bin Nafi dan ibunda beliau bernama Ja’dah binti Ubaid bin Tsa’labah.

Putra-putri beliau bernama Abdullah, Abdur Rahman, Saudah, Umrah dan Ummu Hisyam. Ibu anak-anak tersebut adalah Ummu Khalid dari klan Malik bin Najjar. Putra-putri lainnya diantaranya Ummi Kultsum yang mana ibunya berasal dari keturunan Banu Abdillah Bin Ghatfaan dan Amatullah yang ibundanya dari Banu Jundu.

Baca juga

Penghidmatan dalam Islam

Haritsah bin an-Nu’man tergolong sahabat besar Rasulullah saw. Beliau ikut serta pada Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah saw.

Aisyah radiallahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah saw sangat menghormati beliau. Dalam riwayat lain, Aisyah rah berkata, “Haritsah senantiasa memperlakukan orang tuanya dengan perlakuan terbaik.”

Rasulullah saw pun bersabda, “Kalian pun harus melakukan kebaikan seperti itu.” (al-Birru wash shilah – al-Jauzi).  Maksudnya berbuat baik terhadap kedua orang tua.

Haritsah Bin Nu’man pada masa akhir kehidupannya tidak dapat melihat. Karena pandangan beliau rusak, sehingga beliau mengikatkan tali dari tempat beliau shalat ke pintu dan juga selalu menyimpan keranjang berisi kurma di dekatnya. Ketika ada orang yang memerlukan datang kepada beliau atau pengemis, beliau memegang tali tersebut untuk mengarahkan beliau sampai ke pintu lalu memberikan kurma itu kepada mereka.

Keluarga beliau mengatakan, “Biarkan kami yang akan melakukan pengkhidmatan ini dari pihak anda, karena pandangan anda sudah tidak baik, kenapa bersusah payah seperti itu?”

Namun beliau menjawab, “Saya mendengar Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Membantu orang miskin akan menyelamatkan kita dari kematian yang buruk.’” (Kanzul ‘Ummal, nomor 16077)

Disebut Namanya oleh Malaikat Jibril

Terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan yang dialami oleh Haritsah bin an-Nu’man yang diceritakan oleh Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas meriwayatkan Haritsah Bin Nu’man berkata, “Saya lewat di dekat Rasulullah saw dan saat itu Jibril tengah berada bersama Rasulullah saw.” (Musnad Ahmad ibn Hanbal)

Lalu Jibril bertanya,  “Kenapa orang itu tidak mengucapkan salam?” Rasulullah saw bertanya kepada Haritsah setelah itu. Rasulullah saw bertanya, “Ketika kamu lewat tadi, kenapa tidak mengucapkan salam?”

Haritsah menjawab, “Saat itu saya melihat ada seseorang yang tengah bersama dengan Rasulullah saw. Anda tengah berbicara kepada orang itu dengan suara pelan. Saya merasa tidak pantas untuk memotong pembicaraan Rasulullah saw saat itu dengan mengucapkan salam.”

Rasulullah saw bertanya lagi, “Apakah kamu kenal orang yang tengah duduk bersama saya itu?” Haritsah menjawab, “Tidak.”

Rasulullah saw bersabda, “Orang itu adalah Jibril alaihssalaam. Jibril mengatakan bahwa jika Anda (Haritsah) mengucapkan salam, akan ia jawab salamnya.”

Setelah itu Jibril berkata, “Orang ini (Haritsah) termasuk diantara 80 sahabat yang terus bertahan bersama dengan Anda (Rasulullah saw) pada perang Hunain. Allah Ta’ala yang bertanggung jawab atas rezekinya dan rezeki keturunannya di surga.”

Rasulullah saw telah menceritakan itu semua kepada Haritsah. (Kanzul Ummal – al-Muttaqi al-Hindi)

Baca juga:

Menghadiahkan Rumah untuk Rasulullah dan Keluarga Beliau saw

Haritsah bin an-Nu’man memiliki beberapa rumah, tanah dan juga harta kekayaan lainnya.

Beliau selalu mempersembahkan rumah-rumahnya kepada Rasulullah saw. Kapan saja Rasulullah saw membutuhkan rumahnya maka beliau segera menyerahkan kepada Rasulullah saw.

Rumah-rumah Haritsah jaraknya tidak jauh dari rumah Rasulullah.

Ketika Ali menikahi puteri kesayangan Rasulullah saw, Fatimah, beliau saw bersabda kepada Ali, “Carilah rumah terpisah untuk kalian.” Karena mereka telah berkeluarga, maka untuk membina rumah tangga yang baik mereka harus tinggal di rumah mereka sendiri.

Oleh karena itu Ali dan Fatimah pun tinggal di rumah mereka sendiri yang jaraknya agak jauh dari rumah Rasulullah saw.

Pada suatu ketika Rasulullah saw berkunjung ke rumah mereka, Rasulullah saw bersabda kepada Fatimah, “Aku ingin kalian tinggal di dekat rumahku.”

Fatimah pun memohon kepada Rasulullah saw, “Berbicaralah kepada Haritsah Bin Nu’man supaya berkenan pindah rumah dan memberikan rumahnya kepada kami.”

Rasulullah saw bersabda, “Haritsah telah pindah rumah untuk kita dan memberikan rumahnya yang dekat kepadaku. Sekarang aku merasa malu untuk memintanya lagi pindah rumah.”

Ternyata keinginan dari Fatimah itu akhirnya diketahui juga oleh Haritsah, beliau pun kemudian menghadap Rasulullah saw

Haritsah mengatakan, “Wahai Rasulullah! Saya mendapatkan kabar tuan menghendaki Fatimah untuk tinggal dekat dengan rumah tuan. Ini adalah rumah saya, yang jaraknya paling dekat dengan rumah tuan diantara rumah-rumah milik Banu Najjar. Sedangkan saya dan harta saya semata mata demi untuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Wahai Rasulullah! Apapun harta yang tuan kehendaki dari saya silahkan ambil. Jika ada harta yang Anda ambil dari saya, itu lebih saya sukai daripada harta yang ada pada saya.”

Atas hal itu Rasulullah saw bersabda, صدقت بارك الله عليك “Benar apa yang engkau katakan. Semoga Allah Ta’ala menurunkan keberkatan-Nya padamu.” Lalu Rasulullah saw memanggil Fatimah untuk menempati rumah Haritsah. (Ath-Thabaqaat)

Haritsah bin an-Nu’man Sahabat Nabi yang mukhlis dan dermawan tersebut mengosongkan rumahnya, kemudian menyerahkan rumah itu kepada Rasulullah saw untuk kemudian ditempati oleh Ali bin Abi Thalib dan Fatimah.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan