Haram bin Milhan: 1 dari 70 Sahabat Nabi yang Disyahidkan di Bir Maunah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

haram-bin-milhan

Haram ibn Milhan radhiyAllahu ‘anhu adalah Sahabat Nabi yang sangat aktif dan berdedikasi untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada para pemuda dan yang lainnya serta mengkhidmati kaum fakir-miskin dan para Ashabu-Suffah (para sahabat yang menetap di Masjid).

Delegasi Tabligh

Suatu ketika sebuah delegasi dari Bani Amir datang dan memohon kepada Rasulullah saw agar dikirim beberapa orang guna menyampaikan pesan Islam kepada mereka.

Akan tetapi niat mereka buruk dan mereka tidak layak dipercaya. Rasulullah saw bersabda kepada mereka, “Saya khawatir mereka akan menyakiti orang-orang yang saya kirimkan kepada Anda.”

Namun, pemimpin mereka Abu Barra yang masih belum Islam berkata, “Saya yang bertanggungjawab menjamin keamanan mereka. Semuanya akan aman dibawah perlindungan saya.”

Nabi saw pun mengutus 70 orang sahabat pilihan, – diantara mereka terdapat para sahabat yang hafal Al-Qur’an – untuk mengenalkan Islam kepada kepada orang-orang Najd, Arab tengah, jarak perjalanan saat itu bisa berhari-hari dari Madinah.

Hadhrat Haram bin Milhan saudara laki-laki dari Ummu Sulaim adalah salah dari 70 sahabat itu atau bisa jadi beliau ditunjuk sebagai pemimpin delegasi.

Baca juga: Khabbab bin Al-Arat, Sahabat Nabi yang Disiksa karena Keimanannya

Hadhrat Haram bin Milhan Disyahidkan

Ketika rombongan 70 orang sahabat itu sampai di Bir Maunah, pimpinan rombongan, Mundzir bin Amr memerintahkan Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat Nabi saw kepada Amir bin Thufail.

Hadhrat Haram bin Milhan berangkat menuju kampung bani Amir disertai dua orang sahab lainnya.

Ketika Hadhrat Haram bin Milhan sampai di wilayah orang-orang tersebut, beliau merasa curiga karena tampak tindak-tanduk mereka mencurigakan. Dari jarak jauh terlihat niat mereka tidak benar.

Beliau berkata kepada teman-temannya, “Kita harus berhati-hati dan waspada. Sebaiknya kita tidak semuanya mendekat dan menghadap mereka karena jika pada saat bersamaan mereka mengepung kita, mereka akan lebih kuat menimpakan kerugian pada kita. Jadi, Anda semua harus tinggal di sini, saya akan pergi dengan satu orang saja.

Jika mereka memperlakukan kami dengan benar, Anda semua boleh datang kepada mereka. Jika mereka menyakiti kami berdua, Anda semua putuskankanlah sesuai dengan keadaan, baik untuk kembali ke Madinah atau melawan mereka atau tinggal di sini.”

Ketika Haram bin Milhan dan rekannya mendatangi mereka, pemimpin mereka Amir ibn Thufail – sepupu Abu Barra pemuka suku Bani Amir – memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyerang Haram bin Milhan dengan tombak dari belakangnya.

Darah pun mengucur deras dari leher Haram bin Milhan. Beliau menyeka darah dengan tangannya dan berkata, فزتُ ورب الكعبة  “Demi Tuhan yang menguasai Ka’bah, aku telah berhasil. Demi Tuhan yang menguasai Ka’bah, aku telah berhasil.”

Hadhrat Haram bin Milhan pun syahid, beliau gugur ketika sedang menjalankan tugas mulia sebagai delegasi Islam. Tanpa ampun mereka juga membunuh rekan Haram.

Jabbar bin Sulma al Kilabi orang yang telah menombak Hadhrat Haram akhirnya memeluk agama Islam setelah menerima penjelasan tentang kalimat yang diucapkan beliau tersebut, yakni keberuntungan yang dimaksudkan tersebut adalah jannah.

Baca juga: Muadz bin Jabal: Sahabat Nabi yang Menjadi Mubaligh

Peristiwa Bir Maunah

Kemudian Amir mengajak kaumnya, bani Amir, untuk menyerang 70 orang Sahabat yang sedang berkemah di Bir Maunah, tetapi mereka menolak, karena kaum muslimin tersebut telah mendapat jaminan keamanan dari Abu Bara’, yang tak lain adalah paman dari Amir bin Thufail.

Karena tidak berhasil mempengaruhi kaumnya sendiri, ia menemui bani Sulaim Ushayyah, Ri’l dan Dzakwan dengan ajakan yang sama. Mereka menyambut ajakannya. Mereka kemudian mengepung dan membantai tanpa ampun para sahabat penghafal Al-Qur’an tersebut.

Dari 70 anggota rombongan, hanya dua yang selamat. Peristiwa ini terjadi pada 4 Hijriyah setelah perang Uhud.

Ketika mereka diserang dengan tidak adil dan ditipu, mereka berdoa, اللهم بلغ عنا نبينا أنا قد لقيناك فرضينا عنك ورضيت عنا  ‘Ya Allah, terimalah pengorbanan kami ini. Sampaikanlah keadaan kami kepada Nabi kami bahwa kami telah menemui Engkau, sehingga kami ridha atas Engkau dan Engkau ridha atas kami.’

Diriwayatkan mengenai seorang Sahabat ketika tangannya akan dipenggal, ia berkata, ‘Saya ingin berwudhu terlebih dahulu.’ Ketika pada akhirnya kepalanya akan dipenggal, ia mengatakan akan bersujud terlebih dahulu. Ia berdoa, اللهم بلّغ النبيَّ ‘Kabarkanlah kepada Nabi, Ya Allah!’

Mereka tidak memiliki cara dan sarana untuk memberitakan hal itu kepada Rasulullah saw. Malaikat Jibril datang kepada Nabi saw dan mengucapkan salam. Nabi menjawab salamnya. Lalu, Jibril menyampaikan mengenai para sahabat itu dan menceritakan kasus dan kesaksian mereka kepada beliau saw.

Oleh karena itu Rasulullah saw berkata kepada para sahabat, إِنَّ إِخْوَانَكُمْ قَدْ قُتِلُوا “Saudara-saudara kalian telah dibunuh.”

Nabi saw sangat sedih dengan peristiwa ini, sehingga beliau saw berdoa selama 30 hari lamanya supaya Allah Ta’ala sendiri yang menghukum kaum yang zalim tersebut. Nabi menamai kesyahidan ini sebagai kesyahidan yang agung.

Baca juga: Syammas bin Utsman: Sahabat Nabi yang Syahid di Uhud

Hikmah

Terdapat kebahagiaan yang tersembunyi di dalam bencana yang ditanggung oleh orang-orang beriman, jika tidak, bagaimana para Nabi menghabiskan waktu yang lama dalam kesulitan jika mereka tidak menganggapnya penuh kelezatan dan menyenangkan.

Inilah contoh para Sahabat yang telah ditiupkan pada mereka kekuatan penyucian Nabi Muhammad saw sehingga mereka mengatakan pada saat terakhir dari hidupnya, ‘Saya telah menang demi Tuhan Ka’bah!’, yang artinya saya telah menang dengan sampai kepada Tuhan saya.

Mereka melakukan perbuatan-perbuatan baik, menerima ketidakadilan dan mempersembahkan pengorbanan di jalan Allah. Mereka bukan tipe penindas dan kejam terhadap orang lain yang membunuh orang-orang secara tidak adil. Para Sahabat Nabi tidak seperti itu. Mereka menentang kekejaman dan tidak menyebarluaskan ketidakadilan.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan