Hafsah Binti Umar, Sang Penjaga Al Quran

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

hafsah-binti-umar-bewaramulia-pexels

Ummul Mu’minin Hafsah radiallahu anha adalah istri Rasulullahsaw, putri dari Umar bin Khattabra, seperti ayahandanya, beliau memiliki rasa ingin tahu yang besar dan cerdas. Beliau mendapat kehormatan dipercaya untuk menyimpan mushaf Al-Qur’an.

Kehidupan Awal Hafsah

Ayahanda Hafsah, Hadhrat Umar bin Khattabra sebagaimana kita ketahui, beliau adalah salah satu sahabat dekat Rasulullahsaw yang kemudian menjadi Khalifah Kedua setalah Hadhrat Abu Bakarra.

Sementara itu, ibunda beliau adalah Zainab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un, pemipin kaum Muslimin yang hijrah pertama kali ke Habsyah.

Sayyidah Hafsahrha dilahirkan beberapa hari setelah putri bungsu Rasulullahsaw, Fathimah Az-Zahra lahir. Tahun itu merupakan tahun yang bersejarah, dimana Rasullullahsaw menempatkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya semula setelah Ka’bah dibangun kembali yang roboh akibat banjir.

Di dalam Thabaqat, Ibnu Saad berkata, “Muhammad bin Umar berkata bahwa Muhammad bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, Umar mengatakan, ‘Hafshah dilahirkan pada saat orang Quraisy membangun Ka’bah, lima tahun sebelum Nabisaw diutus menjadi Rasul.”

Beliau dibesarkan dalam sebuah keluarga yang terkenal karena pembelajaran dan pendidikannya. Seperti ayahnya, beliau memiliki rasa ingin tahu, cerdas, dan wanita pemberani yang sesuai dengan namanya, “Hafsah” yang artinya Singa betina muda.

Kelebihan lain yang dimiliki Hafshah adalah kepandaiannya dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan.

Setelah Hadhrat Umarra menerima Islam, beliau segera mengajak sanak keluarganya untuk beriman. Seluruh anggota keluarga menerima ajakan Umar, termasuk Hafshah yang ketika itu baru berusia sepuluh tahun.

Baca juga: Ummul Mu’minin Saudah bint Zam’ah, Pendamping Rasulullah Yang Paling Banyak Bersedekah

Khunais Bin Hudhafah Suami Pertama Hafsah

Hadhrat Khunais bin Hudhafah As Sahamira atau Abu Hudhafah adalah saudara dari Abdullah bin Hudhafah. Beliau  termasuk sahabat awalin, yang baiat sebelum Rasulullahsaw memasuki Darul Arqam.

Beliau ikut bersama romongan kedua yang hijrah ke Habasyah atau Abesinia. Kemudian ketika mendengar kabar Hadhrat Umarra masuk Islam, para muhajirin yang berada di Habasyah pun kembali ke Makkah.

Di antara mereka yang kembali itu adalah Khunaisra. Setibanya di Makkah, beliau mengunjungi Umar bin Khaththab, dan di sana beliau melihat Hafshah. Beliau pun kemudian melamarnya.

Akhirnya, Khunais dan Hafsah menikah, mereka membina rumah tangga yang harmonis, diliputi oleh keimanan dan ketakwaan.

Ketika perintah hijrah ke Yatsrib (Madinah) turun, Khunais dan Hafsah pun segera berangkat.

Semasa di Madinah, Khunais bin Hudhzafah dengan penuh semangat bersama kaum muslimin lainnya kemudian ikut serta dalam Perang Badar. Dalam peperangan tersebut umat Islam yang jumlahnya sedikit itu berhasil mengalahkan musuh.

Akan tetapi dalam pertempuran tersebut, terdapat sahabat yang mengalami luka-luka. Salah satunya adalah Khunais bin Khuzafahra.

Hadhrat Hafshahrha dengan setia merawat suaminya yang sakit, namun sakitnya bertambah parah sehingga akhirnya beliau wafat. Ketika itu usia Hafshahrha diperkirakan antara 18 – 20 tahun, namun beliaurha tetap sabar atas cobaan yang menimpanya.

Rasulullahsaw mengimami shalat jenazah Hadhrat Khunais bin Khuzafahra dan memakamkan beliau di Jannatul Baqi di sebelah makam Hadhrat Utsman Bin Maz’unra.

Baca juga: Ummul Mu’minin Aisyah Binti Abu Bakar, Paling Disayangi Rasulullah

Menikah Dengan Rasulullah

Mengetahui putrinya yang masih berusia muda menjada, Hadhrat Umarra menjadi sangat sedih. Sehingga dalam hatinya terbetik niat untuk menikahkan Hafshah dengan seorang yang saleh agar hatinya kembali tenang.

Karenanya Hadhrat Umarra kemudian menemui Hadhrat Utsman Bin Affanra, beliau mengatakan “Saat ini putri saya menjanda, jika Anda berkenan silahkan nikahi dia.”

Namun Hadhrat Utsman menyampaikan penolakannya. Setelah itu Hadhrat Umar pergi kepada Hadhrat Abu Bakar, namun beliau memilih untuk diam, tidak menjawabnya tawaran Hadhrat Umar untuk menikahi Hafsah.

Atas hal itu Hadhrat Umar diliputi kesedihan, kemudian beliaumenjumpai Baginda Nabisaw dan menceritakan segala sesuatunya kepada beliausaw.

Rasulullahsaw bersabda, “Umar, tidak perlu khawatir, jika Tuhan merestui, Hafsah akan mendapatkan suami yang lebih baik dari Utsman dan Abu Bakr begitu juga Utsman akan mendapatkan istri yang lebih baik dari Hafsah.”

Rasul bersabda demikian karena Rasulullahsaw telah berniat untuk menikahi Hafsah dan menjodohkan putri beliau Ummi Kultsum dengan Hadhrat Utsman dan dalam hal ini Hadhrat Abu Bakar dan Hadhrat Utsman telah mengetahui rencana Rasulullahsaw itu. Karena itulah Abu Bakr dan Utsman menolak tawaran Umar.

Beberapa waktu setelah itu Rasulullahsaw menikahkan putrinya Ummi Kultsum dengan Hadhrat Utsman.

Setelah itu beliausaw sendiri menyampaikan pesan lamaran kepada Hadhrat Umarra untuk menikahi Hafsah. Apalagi yang diharapkan oleh Hadhrat Umar lebih dari itu! Beliau menerima lamaran tersebut dengan penuh suka cita.

Pernikahan Rasulullahsaw dengan Hafsahrha dilangsungkan pada bulan Sya’ban tahun 3 Hijriyah.

Dalam hal ini untuk lebih mempererat jalinan dan untuk mengobati kedukaan Hafsah atas kewafatan Khunais bin Hudhafah, Rasulullahsaw memandang perlu untuk menikahi Hadhrat Hafsahrha.

Keistimewaan Hafsah

Keistimewaan Hadhrat Hafsahrha adalah beliau putri Hadhrat Umar yang dianggap Sahabat paling utama setelah Hadhrat Abu Bakr di kalangan para sahabat dan beliau juga merupakan orang-orang yang dekat dengan Rasul.

Beliau rajin menjalankan puasa dan shalat tahajjud. Malaikat Jibril membuktikan sifat-sifatnya di hadapan suaminya: “Dia sering berpuasa dan sering berdoa di malam hari; dia akan menjadi istrimu di surga.” (Mustadrak al-Hakim )

Berbeda dengan kaum wanita umumnya pada masa itu, Hadhrat Hafsahrha mampu membaca dan menulis sejak usia dini. Kemudian karena ketekuan dan kecerdasannya beliau berhasil menghafal Alquran.

Pengetahuannya tentang masalah agama sangat kuat. Setidaknya 60 hadits telah dikutip olehnya. Sebagian besarnya terkait dengan haji, salat, puasa dan nikah.

Seperti ayahandanya, beliau pada dasarnya ingin tahu dan tidak mau menghindar dari mengajukan pertanyaan untuk memuaskan dahaga akan pengetahuannya.

Harus dipahami bahwa beliau sama sekali tidak bermaksud mempertanyakan otoritas Nabisaw sebagai bentuk pembangkangan, melainkan perasaan pengamatannya yang tajam yang sering memaksanya untuk bertanya dan memahami seluk-beluk perintah Al-Quran lebih dalam.

Baca juga: Ummul Mu’minin Ummu Salamah, Teladan Dalam Cinta Dan Kesetiaan

Penjaga Al Quran

Selama masa hidupnya, Nabisaw biasa mempercayakan catatan-catatan Al-Quran kepada Ummul Mu’minin Hafsahrha, hal itu merupakan satu keistimewaan dan kehormatan bagi beliaurha, pasti Rasulullahsaw memiliki pertimbangan khsus mempercayakannya kepada beliaurha.

Kemudian pada masa Khalifah Abu Bakarra sejumlah besar sahabat yang telah menghafal Al-Quran syahid dalam Pertempuran Yamama. Kalifah Abu Bakarra memerintahkan Zaid bin Tsabitra untuk menyusun Al-Qur’an menjadi satu bentuk buku (mushaf).

Hadhrat Hafsahrha juga berperan besar dalam penyusunan mushaf itu. Kemudian Hadhrat Abu Bakar mempercayakan kepada Sayyidah Hafsah untuk menyimpan mushaf Al-Quran itu hingga beliau wafat.

Kemudian ketika Hadhrat Utsman menjadi khalifah, beliau bermaksud untuk mengumpulkan mushaf Al-Quran, maka beliau menggunakan mushaf yang dipegang oleh Sayyidah Hafsahrha sebagai rujukan. Setelah selesai, mushaf itu dikembalikan kepada Hafsahrha.

Banyak salinan dibuat dari salinan versinya di era Khalifah Utsmanra dan kemudian disebarkan ke seluruh dunia hingga saat ini.

Akhir Kehidupan Sayyidah Hafsah

Ummul Mu’minin Hafsahrha wafat pada bulan Syaban tahun 45 Hijriyah. Doa pemakamannya dipimpin oleh gubernur Madinah, Marwan bin Al Hakam.

Banyak sahabat Nabisaw yang mengambil bagian dalam pemakamannya, termasuk Hadhrat Abu Hurairahra. Beliau kemudian dimakamkan di Jannat-ul-Baqi bersamaUmmahatul Mu’mini – para ibu kaum beriman lainnya.

Sumber:

  • Sirat Khatamaun Nabiyyin – Mirza Basyir Ahmad MA
  • Hazrat Hafsa bint Umar ibn al-Khattab-Awais Rabbani, Alhakam.org

Baca juga: Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid, Yang Paling Mulia Diantara Para Pendamping Nabi


0 Komentar

Tinggalkan Balasan