Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

biografi-nabi-muhammad-bewaramulia

Pada bulan Ramadhan 8 H atau Desember 629 M Rasulullah saw bersama sepuluh ribu pasukan bergerak menuju Mekkah. Peristiwa itu kemdian dikenal sebagai Fatah Mekkah atau Pembebasan Mekkah.

Rasulullah saw mengumumkan: “Setiap orang yang tinggal di dalam rumah akan aman. Siapa saja berlindung dalam rumah Abu Sufyan akan aman. Siapa masuk ke dalam Masjidil Haram akan aman. Mereka yang meletakkan senjatanya akan aman. Mereka yang tinggal di rumah Hakim bin Hizam akan aman.”

Bilal Saat Fatah Mekkah

Kemudian Abu Ruwaiha dipanggil dan kepadanya diserahkan panji Islam. Abu Ruwaiha telah mengikat persaudaraan dengan Bilal. Beliau memerintahkan kepada Bilal untuk berjalan di muka Abu Ruwaiha dan mengumumkan kepada semua yang berkepentingan bahwa keamanan terjamin di bawah panji yang dipegang oleh Abu Ruwaiha. Rasulullah saw bersabda, “Siapa berdiri di bawah panji itu akan aman.”

Satu kebijakan yang sarat dengan makna. Ketika kaum Muslimin dianiaya di Mekkah, Bilal, salah seorang dari bulan-bulanan mereka, dihela di sepanjang jalan dengan tali diikatkan pada kakinya.

Mekkah tidak memberi keamanan kepadanya melainkan hanya derita jasmani, kenistaan, dan kehinaan.

Pasti alangkah besarnya dendam Bilal pada hari pembebasan itu, sesuai dengan rasa keadilan jika ia menuntut balas, tetapi hal itu tidak terjadi.

Sebagai pengganti pelampiasan rasa dendam itu, Rasulullah saw menyerahkan kepada Bilal panji Islam dan menugasi Bilal untuk menawarkan keamanan kepada semua yang dahulu menganiayanya, di bawah panji yang dipegang oleh saudaranya.

Ada keindahan dan daya pesona di dalam cara pembalasan ini. Kita dapat membayangkan Bilal berjalan di hadapan sahabatnya dan menyerukan tawaran keamanan kepada musuh-musuhnya.

Nafsu pembalasan dendamnya tidak mungkin dapat bertahan lama. Rasa itu akan buyar ketika ia melangkah sambil mengajak damai kepada kaum Mekkah di bawah panji yang dipegang tinggi oleh sahabatnya.

Ketika penduduk Mekkah mendengar syarat-syarat itu mereka berlarian untuk berlindung di tempat-tempat yang disebut dalam pengumuman Rasulullah saw.

Pengampunan Rasulullah

Rasulullah saw berbicara kepada orang-orang Mekkah, “Kalian telah menyaksikan betapa benar janji Tuhan itu telah terbukti. Sekarang, katakanlah, hukuman apa yang kalian harapkan atas kekejaman dan kekejian yang telah kalian lakukan terhadap mereka yang bersalah karena mengajak kalian beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa?”

Dijawab oleh kaum Mekkah, “Kami mengharapkan anda akan memperlakukan kami seperti Nabi Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya yang bersalah.”

Sangat kebetulan, kaum Mekkah memakai kata-kata pembelaan mereka, kata-kata yang dipakai Tuhan dalam Surah Yusuf yang diwahyukan sepuluh tahun sebelum penaklukan Mekkah.

Dalam Surah itu Rasulullah saw dianjurkan untuk memperlakukan penganiaya-penganiaya dari Mekkah itu seperti Nabi Yusuf as memperlakukan saudara-saudaranya.

Dengan meminta perlakuan yang diterapkan oleh Nabi Yusuf as terhadap saudara-saudaranya, kaum Mekkah mengakui bahwa Rasulullah saw adalah tokoh persamaannya.

Beliau seperti Nabi Yusuf as, dan seperti Nabi Yusuf as telah diberi kemenangan atas saudara-saudaranya, Rasulullah saw juga telah dikaruniai kemenangan atas kaum Mekkah.

Mendengar permohonan kaum Mekkah itu, Rasulullah saw segera mengucapkan, “Demi Allah, hari ini kamu tidak akan mendapat hukuman dan celaan” (Hisyam). Mereka semua dimaafkan oleh Rasulullah saw.

Dari pengumuman itu dikecualikan sebelas orang laki-laki dan empat perempuan. Kejahatan yang telah mereka lakukan terlalu besar. Dosa mereka bukan lantaran kekafiran mereka atau keikut-sertaan mereka dalam peperangan melawan Islam; dosa-dosa mereka ialah lantaran mereka telah melakukan kejahatan di luar batas peri kemanusiaan yang tak dapat dibiarkan begitu saja. Tetapi, sebenarnya, hanya empat orang yang menjalani hukuman mati.

Pengampunan Tak Terbatas

Orang yang diampuni oleh Rasulullah saw pada saat Fatah Mekkah adalah Ikrima, anak Abu Jahal. Istrinya seorang Muslim dalam hati (belum berikrar terang-terangan). Ia mohon kepada Rasulullah saw agar mengampuni suaminya.

Rasulullah saw berkenan memberi ampunan. Pada saat itu Ikrima tengah berusaha melarikan diri ke Abessinia. Istrinya mengejar dia dan dilihatnya bahwa dia hampir naik kapal.

Ia memarahi suaminya, “Engkau mau melarikan diri dari orang yang begitu baik hati dan halus seperti Rasulullah saw?” Ikrima ternganga keheranan dan bertanya, kalau istrinya benar menyangka Rasulullah saw akan mengampuninya.

Istrinya meyakinkan bahwa orang seperti dia pun akan diampuni oleh Rasulullah saw. Sesungguhnya, ia telah mendapatkan janji dari Rasulullah saw.

Ikrima melepaskan niat melarikan diri ke Abessinia dan kembali ke Mekkah lalu menjumpai Rasulullah saw. “Aku mendapat kabar dari istriku bahwa Anda telah memberi ampunan bahkan kepada orang seperti diriku,” katanya.

“Apa yang dikatakan oleh istrimu benar. Aku sungguh-sungguh telah mengampunimu,” sabda Rasulullah saw.

Ikrima menyimpulkan bahwa orang yang sanggup memaafkan musuh-musuhnya yang paling besar tidak mungkin palsu. Oleh karena itu, seketika itu juga ia menyatakan bai’at, “Asyhadu allailaha illallahu wahdahu Ia syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadar-Rasulullah.” Seraya mengucapkan Kalimah Syahadat, karena rasa malu, ia menundukkan kepalanya.

Rasulullah saw menghiburnya. “Ikrima,” sabda beliau, aku bukan saja telah memberi maaf kepadamu, tetapi sebagai bukti penghargaanku kepadamu, aku telah mengambil keputusan untuk menanyakan kepadamu, apa kiranya yang dapat kuberikan kepadamu.”

Ikrima menjawab, “Tidak ada yang lebih baik dapat kuminta kecuali doa anda kepada Tuhan untuk memberikan ampunan kepadaku mengenai segala perbuatan berlebihan dan kekejaman yang telah kuperbuat terhadap Anda.”

Mendengar permohonan itu, Rasulullah saw segera mendoa, “Ya Tuhan, ampunilah kiranya sikap tak bersahabat Ikrima yang sudah-sudah terhadapku. Ampunilah kiranya ucapan-ucapan kotor yang pernah terlontar dari mulutnya.”

Kemudian Rasulullah saw bangkit dan mengenakan jubah beliau kepada Ikrima dan bersabda, “Siapa pun yang datang kepadaku dan beriman kepada Tuhan, ia bersamaku. Rumahku adalah rumahnya dan rumahku.”

Di antara orang-orang yang diperintahkan mendapat hukuman mati, sebagai pengecualian atas pengampunan umum itu, terdapat seorang Mekkah yang bertanggung-jawab atas pembunuhan Zainab, puteri Rasulullah. Orang itu Habbar namanya; ia pernah memutuskan tali-tali pelana unta Zainab, yang karenanya Zainab jatuh.

Oleh karena beliau sedang mengandung, beliau keguguran dan meninggal dunia tak lama kemudian. Itulah salah satu dari pelanggaran terhadap peri kemanusiaan yang telah dilakukan, dan untuk itu ia patut dihukum mati.

Orang itu datang menghadap kepada Rasulullah saw dan berkata, “Ya, Rasulullah, aku melarikan diri dan pergi ke Iran. Tetapi timbullah pikiran dalam diriku bahwa Tuhan telah membersihkan kita dari kepercayaan musyrik kita dan menyelamatkan kita dari kematian rohani.

Dari pada pergi kepada orang-orang lain untuk mencari perlindungan kepada mereka, bukankah lebih baik menghadap Rasulullah sendiri, mengakui dan menyesali segala kesalahan dan dosadosaku dan kemudian mohon ampunan?”

Rasulullah saw terharu dan bersabda, “Habbar, jika Tuhan telah menanamkan dalam hatimu kecintaan kepada Islam, bagaimana mungkin aku menolak memberi ampunan kepadamu? Aku maafkan segala sesuatu yang telah kau perbuat sebelum ini.”

Kita tidak dapat melukiskan dengan terinci ihwal kekejaman-kekejaman yang telah diperbuat orang-orang ini terhadap Islam dan kaum Muslimin. Tetapi, alangkah mudahnya Rasulullah saw mengampuni mereka.

Jiwa pengampunan ini telah mengubah musuh-musuh yang hatinya paling keras sekalipun menjadi orang-orang mencinta dan mengimani Rasulullah saw.

Orang-orang yang jahil, keras dan biadab itu telah ditaklukan oleh Rasulullah saw bukan dengan kekerasan dan hukuman melainkan dengan cinta, kasih sayang dan pengampunan. Sehingga mereka pun berubah menjadi orang-orang yang beriman.

Sumber referensi: Riwayat Hidup Rasulullah, Basyiruddin Mahmud Ahmad


0 Komentar

Tinggalkan Balasan