Fakta Menarik! Ternyata Orang Afghanistan Keturunan Yahudi

Afghanistan adalah sebuah negara di Asia Tengah, kadang-kadang dianggap bagian dari Asia Selatan atau Timur Tengah karena memiliki hubungan budaya, etnolinguistik, dan geografis dengan sebagian besar tetangganya.

Afganistan berbatasan dengan Iran di sebelah barat, Pakistan di selatan dan timur, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan di utara, dan Republik Rakyat Cina di ujung timur. Afganistan juga berbatasan dengan Kashmir.

Semua riset oleh para sejarahwan orientalis menunjukkan kalau bangsa Afghan menganggap diri mereka keturunan Yahudi. Para sejarahwan masa kini juga berpandangan sama.

Baca juga:

Biografi Sayyid Ahmad Barelwi, Pembaharu Islam di India

Flavius Josephus yang menulis buku sejarah umat Yahudi dari zaman purba, pada tahun 93 M, menulis dalam buku kesebelas tentang umat Yahudi yang bebas dari tawanan bersama nabi Ezra, menyatakan kalau mereka itu menetap di sebelah timur sungai Euphrat dimana jumlah mereka amat banyak sekali. Yang dimaksud di luar Euphrat adalah daerah-daerah Persia dan negeri-negeri di timurnya.

Santo Jerome yang hidup di abad kelima saat menulis tentang nabi Hosea, menyatakan dalam catatan pinggirnya bahwa umat Yahudi sejak saat itu berada di bawah kendali raja Parthia yaitu Paras.

Pada jilid pertama dari buku itu dikemukakan kalau Count Juan Steram menyatakan bahwa raja Nebuchadnezar setelah penghancuran bait suci di Yerusalem telah membuang suku-suku bangsa itu ke daerah Bamiyan dekat Ghaur di Afghanistan.

Artikel ini bisa di simak videonya di Channel Jeja Mulia

Fakta Menarik! Ternyata Orang Afghanistan Keturunan Yahudi / Jejak Mulia

Sir John Malcolm juga berpendapat sama dalam bukunya History of Persia, Menurut riwayat turun temurun di dalam masyarakatnya, bangsa Afghan pun bisa diidentifikasikan dengan Sepuluh Suku Bangsa yang hilang.

Mereka menyatakan bahwa Nebukadnezar membuang mereka ke pegunungan Ghor, dari mana mereka tetap memelihara hubungan dengan umat Yahudi di Arabia. Kemudian mereka menjadi Muslim (Malcolm, History of Persia, London, 1815).

Bangsa Afghan masih menyebut diri mereka Beni Israel dan ciri tubuh mereka memang seperti bangsa Yahudi. Pengakuan mereka sebagai turunan Israel diakui oleh banyak ahli.

G. Moor yang menulis Lost Tribes (London, 1886) juga mengidentifikasikan bangsa Afghan sebagai Sepuluh Suku Bangsa yang hilang tersebut.

Sir Henry Yule, KCSI, mengatakan: “Sejarahwan bangsa Afghan menyebut bangsa mereka sebagai Bani Israel dan mengaku dari garis keturunan Raja Saul (yang mereka sebut dalam istilah Arabnya sebagai Talut) melalui putranya Yeremiah yang selanjutnya mempunyai anak bernama Afghanna. Sejumlah besar dari keluarga besar Afghanna itu ditawan dan dibuang oleh Raja Nebukadnezar sampai ke pegunungan Ghor dan Feroza di timur utara dari Hirat.”

James B. Frazer dalam bukunya Historical and Descriptive Accounts of Persia and Afghanistan, halaman 298 (New York, 1843) menulis: “Menurut penuturan riwayat mereka (Afghan) sendiri, mereka meyakini dirinya sebagai keturunan Yahudi.”

Baca juga:

7 Masjid Indah Yang Ada Di Jepang

Dr. Alfred Edersheim menulis: “Investigasi modern menunjuk kelompok Nestorian, dan kemudian juga dengan bukti-bukti yang meyakinkan, bangsa Afghan sebagai turunan dari suku-suku bangsa Israel yang hilang.” (Alfred E. Edersheim, The Life and Times of Jesus the Messiah , hal. 15)

Dr. Joseph Wolff yang mengembara lama sekali dalam pencarian sepuluh suku bangsa Israel yang hilang, menyatakan bahwa jika bangsa Afghan adalah keturunan Yakub maka mereka itu berasal dari suku Yahuda dan Ben Yamin.

Dalam penampilannya bangsa Afghan dalam segala hal mirip sekali dengan umat Yahudi. Mereka juga mempunyai adat dimana adik laki-laki yang lebih muda mengawini janda kakaknya.

Dalam Encyclopaedia of Geography dari James Bryce F.G.S., London 1856, di halaman 11 dikatakan bahwa bangsa Afghanistan bisa merunut garis keturunan mereka sampai kepada Saul raja Israel dan menyebut diri mereka Bani Israel.

Bamiyan, Afghanistan

Baca juga:

7 Objek Wisata Paling Bersejarah Di Madinah

Alexander Burns juga mengemukakan kalau bangsa Afghan mengaku sebagai umat Yahudi yang katanya ditawan oleh raja Babul dan ditempatkan di daerah Ghaur di barat laut Kabul dimana sampai tahun 622 M mereka masih menjalankan ritual agama Yahudi, tetapi kemudian Khalid bin Abdullah (maksudnya Walid) menikah dengan putri kepala suku dan membawa mereka memeluk agama Islam.

L.P. Ferrier seorang pengelana Prancis dalam bukunya History of the Afghans, menyebutkan bahwa mayoritas sejarahwan timur sependapat bahwa bangsa Afghan adalah keturunan dari sepuluh suku bangsa Israel yang hilang sebagaimana pendapat bangsa itu sendiri.

L. P. Ferrier yang berkunjung ke Herat menyatakan kalau di daerah tersebut ditemui banyak orang Yahudi yang bebas melaksanakan ritual agama mereka.

Col. Sir Thomas H. Holdich yang menulis mengenai Afghanistan untuk Encyclopaedia Britannica, edisi 11, menyatakan: “Wanita-wanita mereka memiliki ciri kecantikan Yahudi. Begitu juga dengan kaum prianya.” (Encyclopaedia Britannica, edisi 11, Afghanistan.)

Baca juga:

Fatah Mekkah, Masa Pengampunan Rasulullah saw

Kemudian, Buku karangan Khwaja Nikmatullah dari Herat berjudul Makhzan-i-Afghan tahun 1018 H atau 1612 M di masa pemerintahan raja Jahangir, yang diterjemahkan oleh Prof. Bernhard Doran dari Kharqui University, London 1836, memberikan pernyataan sebagai berikut: Di bab 1 dikemukakan sejarah Yakub Israel sebagai nenek moyang awal bangsa Afghan.

Di bab 11 terdapat sejarah raja Talut yang menjadi garis awal keturunan bangsa Afghan. Di halaman 22 dan 23 dinyatakan Talut berputra dua orang yaitu Barkhiya dan Armiyah. Barkhiya berputra Asaf dan Afghan, dimana Afghan berputra 24 orang.

Di halaman 65 diungkapkan raja Nebuchadnezar menduduki seluruh Sham (Syria) dan membuang suku-suku bangsa Israel ke daerah Ghaur, Ghazni, Kabul, Kandahar dan Koh Firoz dimana keturunan Afghan dan Asaf kemudian bermukim.

Di halaman 37 dan 38 disampaikan kutipan dari Majma-ul-Ansab dan Tarikh Buzidah karangan Masaufi, bahwa di masa Rasulullah saw, Khalid bin Walid telah mengajak bangsa Afghan yang berada di Ghaur untuk memeluk Islam.

Kepala suku Afghan bernama Qais yang adalah keturunan ke 37 dari raja Talut telah datang menghadap Rasulullah saw. Beliau saw memberikan gelar ‘Pathan’ kepada kepala suku itu yang berarti kemudi kapal. Kemudian kepala suku itu kembali ke negerinya dan mulai menyiarkan Islam.

Hingga kini bangsa Afganistan atau Afgan meyakini bahwa mereka berasala dari Bani Israel.

Baca juga:

Shafiyah Binti Huyay Istri Nabi Dari Kaum Yahudi

(Visited 28 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan