Ekspedisi Tabuk merupakan ekspedisi terakhir yang dikuti dan dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. Beliau saw beserta 30.000 pasukan Islam bergerak menuju perbatasan Siria melewati medan yang berat sejauh kurang lebih 760 kilometer.

Tipu Muslihat Abu Amir

Abu Amir Madani tergolong dalam suku Khazraj. Lewat pergaulan lama dengan kaum Yahudi dan Kristen, ia mendapat kebiasaan bertafakkur dan berzikir. Karena kebiasaan itu ia dikenal sebagai Rahib Abu Amir, tetapi, ia bukan Kristen.

Ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah, Abu Amir melarikan diri dari ke Makkah. Pada akhirnya, ketika Makkah dikuasai Islam, ia kembali dan menetap di Quba, sebuah kampung dekat Madinah.

Namanya dan cara kebiasaan berpakaiannya diubahnya, karena ia telah lama meninggalkan daerah itu, orang-orang Madinah tidak mengenalnya lagi. Hanya orang-orang munafik yang mengenalnya, karena ada hubungan rahasia dengannya.

Ia dan kaum munafik bersekongkol, ia berangkat ke Siria untuk membakar hati penguasa-penguasa Kristen dan orang-orang Kristen Arabia agar menyerang Madinah.

Sementara itu mitra-mitranya, orang-orang munafik, menyebarkan kabar bohong bahwa Madinah akan diserang oleh orang-orang Siria.

Abu Amir mengharapkan bahwa kaum Muslimin dan orang-orang Kristen Siria akan berperang, sehingga Rasulullah saw dan umat Islam akan binasa. Kaum munafik tahu benar bahwa desas-desus itu ulah mereka sendiri. Mereka menghendaki kaum Muslimin berperang dengan Siria dan mendapat kekalahan.

Baca juga: Perang Hunain, Bukti Kebenaran Dan Keagungan Rasulullah

Semangat Pengorbanan Kaum Muslimin

Desas-desus itu menjadi begitu santer sehingga Rasulullah saw memandang perlu untuk memimpin sendiri suatu pasukan Muslimin untuk menghadapi Siria.

Rasulullah saw mengumumkan keinginan beliau memimpin sendiri gerakan militer itu, sehingga semangat kaum Muslimin pun meluap-luap.

Mereka tampil ke muka, menawarkan diri berkorban untuk kepentingan agama. Kaum Muslimin memiliki perlengkapan yang buruk untuk menghadapi peperangan yang berukuran begitu besar. Baitul Mal telah kosong. Hanya orang-orang Muslim kaya yang mempunyai sarana-sarana untuk membiayai keperluan perang.

Orang-orang Muslim secara perseorangan berlomba-lomba dalam semangat pengorbanan untuk kepentingan agama.

Diriwayatkan bahwa, ketika gerakan militer itu sedang bergerak dan Rasulullah saw mengimbau untuk pengumpulan dana, Utsman menyerahkan sebagian besar kekayaannya. Sumbangannya berjumlah kira-kira seribu dinar emas.

Orang-orang Muslim lainnya pun menyerahkan sumbangannya menurut kemampuan masing-masing.

Sementara itu orang-orang Muslim yang miskin pun diberi binatang tunggangan, pedang, dan tombak. 

Baca juga: 7 Tempat Bersejarah Yang Istimewa Di Makkah

Ekspedisi Tabuk

Masa itu masa paceklik. Arabia ada di dalam cengkeraman wabah. Panen tahun sebelumnya buruk sehingga gandum dan buah-buahan tersedia hanya sedikit. Panen yang akan datang belum tiba waktunya.

Waktu itu akhir September atau permulaan Oktober tahun 630 M atau 9 H, tatkala Rasulullah saw beserta 30.000 pasukan Islam bertolak dalam rangka misi itu, yang kemudian dikenal sebagai ekspedisi Tabuk.

Tabuk adalah sebuah tempat yang terletak di tengah-tengah antara Damaskus dengan Madinah.

Ketika lasykar itu bergerak menuju Tabuk, kaum Muslimin belum lupa akan penderitaan mereka di Mu’ta, maka tiap-tiap orang Muslim sarat dengan kegelisahan dan kekhawatiran akan keselamatan Rasulullah saw.

Kesedihan Karena Tak Dapat Ikut Serta Berjuang

Pada waktu itu di Madinah ada serombongan Muslimin yang telah datang berhijrah dari Yaman. Mereka sangat miskin. Beberapa di antara mereka menghadap Rasulullah saw dan menawarkan diri berkorban untuk gerakan militer itu.

Mereka berkata, “Ya, Rasulullah, bawalah kami menyertai anda. Kami tidak menghendaki apa-apa selain sarana untuk berangkat.”

Al-Qur’an mengisyaratkan kepada orang-orang Muslim ini dan penawaran diri mereka dengan kata-kata sebagai berikut:

Dan, tidak pula ada celaan terhadap orang-orang yang ketika mereka datang kepada engkau supaya engkau menyediakan kendaraan bagi mereka, engkau berkata, “Aku tidak memperoleh sesuatu yang dapat mengangkut kamu;” mereka kembali dengan mata mereka berlinang oleh air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa-apa yang dapat mereka belanjakan (9:92).

Maksudnya, mereka tidak dapat disalahkan karena mereka tidak memiliki sarana-sarana sehingga tidak dapat ikut ke medan perang, tetapi mereka mengajukan permohonan kepada Rasulullah saw untuk memperlengkapi mereka dengan sarana angkutan ke medan perang.

Rasulullah saw tak mampu memberikan sarana angkutan, maka mereka sangat menyesal atas kemiskinan mereka, dan tak mampu menyumbangkan diri untuk berperang antara kaum Muslimin dan bangsa Siria.

Abu Musa adalah pemimpin mereka. Ketika ditanyakan apa yang mereka minta, ia berkata, “Kami tidak minta unta-unta atau kuda-kuda. Kami hanya mengatakan tidak punya sepatu dan tidak dapat menempuh perjalanan jauh itu dengan kaki tak beralas. Jika kami punya sepatu, kami dapat ikut serta dengan berjalan kaki dan ikut berperang, berdampingan dengan saudara-saudara Muslim lainnya.”

Baca juga: [Sahabat Nabi] Muhammad bin Maslamah Mematahkan Pedang Pemberian Rasulullah

Kaum Wanita Ikut Berperan

Wanita-wanita Madinah juga memainkan peranan mereka. Mereka sibuk mendorong suami dan anak-anak laki-laki mereka untuk ikut dalam ekspedisi Tabuk ini.

Seorang Sahabat, yang saat itu kebetulan pergi ke luar Madinah, datang kembali ketika Rasulullah saw telah berangkat bersama lasykar.

Sahabat itu masuk ke rumahnya dan mengharapkan sang istri akan menyambutnya dengan cinta dan keharuan selayak seorang wanita yang berjumpa dengan suaminya sesudah mereka berpisah sekian lama.

Ia mendapati istrinya tengah duduk di halaman rumah dan ia melangkah hendak memeluk dan menciumnya. Tetapi istrinya mengangkat tangan dan mendorongnya ke belakang.

Sang suami yang terperangah memandang istrinya dan berkata, “Inikah perlakuan terhadap seseorang yang baru pulang sesudah lama berpisah?” “Tidak malukah engkau?” jawab istrinya. “Rasulullah saw harus berangkat dalam suatu gerakan militer yang berbahaya, dan engkau ini mau bercumbu dengan istri? Kewajiban engkau yang pertama ialah berangkat ke medan perang. Sesudah itu, kita lihat urusan lainnya nanti.”

Diriwayatkan bahwa Sahabat itu segera meninggalkan rumahnya, memasang pelana kudanya dan berangkat menyusul Rasulullah saw. Pada jarak perjalanan tiga hari ia dapat menyusul lasykar Islam.

Beratnya Medan Menuju Tabuk

Perjalanan dalam ekspedisi Tabuk ini begitu berat, Rasulullah saw dan pasukan Islam menempuh perjalanan sejauh 760 kilometer yang memakan waktu hingga 20 hari. Melintasi gurun pasir yang panas menyengat dan tandus.

Perlengkapan mereka sangat terbatas, bekal makanan yang dibawa dan kendaraan yang ada digunaka sangat sedikit, tidak sebanding dengan jumlah pasukan yang banyak.

Satu ekor unta digunakan bergantian untuk belasan orang. Karena sedikitnya makanan yang dibawa, mereka makan apa saja yang dapat mereka makan yang ditemukan di perjalanan.

Bahkan mereka terpaksa menyembelih onta, untuk dimakan dagingya dan meminum air yang terdapat dalam kantong air onta tersebut.

Baca juga: Perang Mu’tah: 3.000 Pasukan Islam Menghadapi 200.000 Pasukan Romawi

Kecermatan Rasulullah saw

Orang-orang kafir dan orang-orang munafik barangkali menyangka bahwa Rasulullah saw yang bertindak lantaran desas-desus yang mereka hembuskan dan siarkan itu, akan menyerbu tentara Suriah tanpa pertimbangan terlebih dahulu.

Ketika Rasulullah saw telah sampai di dekat Siria, beliau berhenti di Tabuk dan mengirim orang-orang ke pelbagai jurusan untuk melihat keadaan. Orang-orang itu kembali dan melaporkan bahwa di mana pun tak terdapat pemusatan kekuatan tentara Suriah.

Rasulullah saw dan pasukan Islam tinggal di Tabuk selama kurang lebih 10 hari lamanya. Karena terbukti tidak ada gerakan apa pun dari musuh, beliau saw mengambil keputusan untuk kembali ke Madinah.

Selama tinggal di Tabuk itu beliau menandatangani persetujuan-persetujuan dengan beberapa suku di perbatasan. Tidak ada perang dan tidak ada pertempuran. Perjalanan itu meminta waktu Rasulullah saw dua setengah bulan lamanya.

Kegagalan Kaum Munafik

Ketika kaum munafik Medinah mengetahui bahwa rencana mereka untuk mengobarkan peperangan antara kaum Muslimin dan bangsa Siria itu gagal, dan bahwa Rasulullah saw ada dalam perjalanan pulang dari Tabuk dalam keadaan sehat wal afiat, mereka merasa takut bahwa tipu muslihat mereka akan terbongkar.

Mereka takut akan hukuman yang sekarang patut diterima mereka. Tetapi mereka tidak menghentikan rencana jahat mereka. Mereka mempersiapkan suatu pasukan dan menempatkannya di kedua sisi jalan sempit, tak berapa jauh dari Medinah. Jalan itu begitu sempit sehingga hanya dapat dilalui satu runtunan.

Ketika Rasulullah saw dan lasykar Muslim mendekati tempat itu, beliau mendapat petunjuk dengan perantaraan wahyu, bahwa musuh sedang menghadang dikanan kiri jalan sempit itu.

Rasulullah saw memerintahkan para Sahabat untuk mengadakan penyelidikan. Ketika mereka tiba di tempat itu mereka lihat orang-orang tengah bersembunyi dengan maksud yang jelas untuk menyerang. Tetapi orang-orang itu melarikan diri, segera setelah mereka dipergoki rombongan penyelidik itu. Rasulullah saw memutuskan untuk tidak mengejar mereka.

Baca juga: Perang Khaibar: Penaklukan Kaum Yahudi yang Selalu Membahayakan Islam

Membongkar Tipu Daya Kaum Munafikin

Ketika Rasulullah saw tiba di Medinah, orang-orang munafik yang telah sengaja menghindarkan diri dari ikut serta ke medan pertempuran mulai membuat-buat dalih yang lemah lagi dicari-cari. Tetapi Rasulullah saw menerima dalih-dalih itu.

Waktunya telah tiba untuk membongkar kebohonhan mereka. Rasulullah mendapat perintah Ilahi untuk meruntuhkan masjid di Quba yang telah didirikan kaum munafikin untuk mengadakan pertemuan rahasia mereka.

Kaum munafikin terpaksa bersembahyang bersama-sama dengan orang-orang Muslim lainnya. Tidak ada hukuman lain yang dikenakan kepada mereka.

Kembalinya dari ekspedisi Tabuk, Rasulullah saw mendapat kabar bahwa orang-orang Ta’if pun telah bai’at dan masuk Islam. Dalam waktu yang singkat Arabia berada di bawah kibaran bendera Islam.

Baca juga: Perang Uhud, Bukti Ketabahan dan Keberanian Pasukan Islam

Sumber: Riwayat Hidup Rasuluillah saw – Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad


0 Komentar

Tinggalkan Balasan