Bisyr bin Baraa, Sahabat Nabi yang Wafat Diracun

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

bisyr bin baraa

Bisyr bin Baraa radiallahu ‘anhu adalah salah satu Sahabat Nabi dari kalangan Anshar, beliau ikut serta dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah dan Khaibar. Beliau wafat karena makan daging kambing yang dihidangkan seorang wanita Yahudi.

Biografi Bisyr bin Baraa bin Ma’rur

Bisyr bin Baraa bin Ma’rur berasal dari kaum Anshar, dari kabilah Khazraj keluarga Banu Ubaid bin Adi. Berdasarkan riwayat lain berasal dari Banu Salamah. Ayah beliau bernama Baraa bin Ma’rur dan ibunda beliau bernama Khulaidah binti Qais.

Bisyr bersama dengan ayahnya baiat pada kesempatan Baiat Aqabah yang kedua. Ayah beliau termasuk diantara 12 Naqib (tokoh-tokoh terkemuka) yang ditetapkan yakni Naqib kabilah Banu Salamah. Sebulan hijrah Nabi saw, Hadhrat Baraa wafat dalam perjalanan. Ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah, Rasulullah saw pergi menuju kuburannya lalu menyolatkan jenazahnya.

Beliau termasuk ahli panah Rasulullah. Paska hijrah dari Mekah ke Madinah, Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Waqid bin Abdillah. Beliau ikut serta pada perang Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah dan Khaibar.

Beliau menikahi Hadhrat Qubaisah binti Shaifi yang darinya terlahir seorang putri yang bernama Aliyah. Hadhrat Qubaisah masuk Islam dan baiat kepada Rasulullah saw.

Baca juga: Abbad bin Bishr: Sahabat Nabi yang Sangat Istiqomah Tahajjud

Dipilih Rasulullah

Abdurrahman bin Abdillah bin Ka’b bin Malik meriwayatkan dari kakeknya “Rasululah bersabda, ‘Wahai Banu Nadhlah! (Dalam riwayat lain tertulis Banu Salimah) Siapa pemimpin kalian?’ Mereka menjawab, ‘Jadd bin Qais.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Karena apa kalian memilihnya sebagai pemimpin?’ Mereka menjawab, ‘Ia paling kaya diantara kami. Namun seiring dengan itu mereka mengatakan, namun kami mendapatinya sebagai orang yang kikir karena itu kami tidak menyukainya.’

Rasulullah saw bersabda, “Penyakit apa yang lebih besar dari kikir? Kikir merupakan penyakit yang sangat berat, karena itulah ia tidak bisa menjadi pemimpin kalian.”

Mereka bertanya, “Wahai Rasul Allah! Lantas siapa pemimpin kami?” Rasulullah saw menjawab, “Bisyr bin Baraa bin Ma’rur adalah pemimpin kalian.”

Rasulullah saw memilih Bisyr sebagai pemimpin Banu Nadhilah karena beliau seorang yang dermawan. Mereka pun menerima Bisyr bin Baraa sebagai pemimpin mereka sesuai pilihan Rasulullah saw.

Baca juga:Usamah bin Zaid: Sahabat yang Sangat Dicintai Nabi

Daging Beracun dari Wanita Yahudi

Diceritakan, pada saat Perang Khaibar ada seorang wanita Yahudi bertanya kepada salah seorang Sahabat, “Daging hewan pada bagian apa yang paling disukai oleh Rasulullah?” Sahabat menjawab, “Daging kaki kambing (kaki kambing bagian depan).”

Wanita itu lalu menyembelih seeokor kambing, kemudian memanggangnya di atas batu. Ternyat tanpa sepengetahuan orang lain, ia mencampurkan racun ke dalam daging kambing itu, khususnya pada bagian kaki yang paling disukai oleh Rasulullah.

Ketika Rasulullah kembali ke kemah pada petang hari setelah shalat maghrib, beliau melihat ada seorang wanita tengah duduk di dekat kemah beliau.

Rasulullah saw bertanya, “Ada keperluan apa anda kemari?” Ia menjawab, “Wahai Abul Qasim! Saya membawa hadiah untuk Tuan.”

Rasul kemudian meminta seorang sahabat untuk mengambil hadiah tersebut. Ketika beliau saw dan para Sahabat bersiap siap untuk makan, dihidangkanlah daging kambing panggang hadiah dari si wanita Yahudi tadi. Rasulullah saw pun kemudian mengambil seculi daging itu dan mengunyahnya.

Melihat Rasulullah saw makan daging itu, Bisyr bin Baraa mengambil dan memakannya. Ketika para Sahabat lainnya bersiap untuk makan daging tersebut, Rasulullah saw melarangnya, beliau bersabda, “Daging kaki kambing ini memberitahuku bahwa daging ini telah dicampur racun.”  

Wanita Yahudi itu berencana membunuh Rasulullah saw, lewat daging paha kambing kesukaan Rasulullah saw yang ia hadiahkan itu, ia telah mencamurkan di dalamnya racun mematikan, ternyata Rasulullah saw selama dari percobaan pembunuhan itu.

Rasulullah saw merasakan ada yang aneh dari rasa daging kambing yang beliau saw cicipi, dan menyadari bahwa itu adalah racun. Beliau pun segera melarang para Sahabat untuk memakananya. Namun  Bisyr terlanjur memakannya.

Bisyr mengatakan kepada Rasulullah saw: “Tuhan yang telah memberikan kemuliaan kepda Anda, wahai Rasulullah, demi Dia saya katakana, saya pun merasakan ada racun dalam suapan tadi. Ingin rasanya saya membuangnya namun saya merasa jika saya melakukannya akan membuat Anda kecewa sehingga Anda akan kehilangan selera makan. Ketika saya melihat tuan menelan makanan ini, saya pun mengikuti tuan menelannya. Ketika saya curiga dengan makanan ini saya berharap seandainya saja tuan tidak menelan makanan ini.’ (Dalailun Nubuwwuah)

Baca juga: Shuhaib bin Sinan: Sahabat Nabi yang Meninggalkan Harta demi Hijrah

Bisyr Wafat karena Makan Daging Beracun

Ketika Hadhrat Bisyr menelan suapannya, belum saja beliau beranjak dari tempat itu warna kulit beliau berubah menjadi seperti kain Tulsan yang dominan warna hitam. Rasa sakit yang ditimbulkan berlangsung sampai setahun yakni tidak dapat membalikkan tubuh tanpa bantuan. Beliau wafat dalam keadaan demikian. Diriwayatkan juga bahwa belum saja beranjak dari tempatnya (setelah makan racun itu), beliau wafat pada saat itu juga karena banyak sekali kadar racunnya.

Ketika Bisyr bin Baraa wafat, ibunda beliau sangat terpukul. Beliau datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasul Allah! Kewafatan Bisyr akan membinasakan Banu Salamah, apakah orang yang sudah meninggal akan saling mengenali satu sama lain? Bisakah salam disampaikan kepada Bisyr?”

Rasulullah saw bersabda, “Ya. Wahai Ummi Bisyr! Demi Dzat yang jiwa saya berada ditanganNya, sebagaimana burung saling mengenal satu sama lain diatas pohon, begitu pula para penghuni surga akan saling mengenal di surga nanti.” (Ath-Thabaqaat al-Kubra)

Dalam riwayat lain dikatakan, jika ada yang wafat dari antara Banu Salamah, maka setelah mendengar ucapan Rasulullah tersebut, ibunda Bisyr datang kepada orang- orang yang akan wafat dari kalangan Banu Salamah, dengan berkata, “Wahai Fulan! Salam untukmu”, maka orang itu menjawab “Untuk engkau juga salam.” Lalu ibunya berkata, “Sampaikan juga salam saya untuk Bisyr.”

Hadhrat Bisyr bin Baraa, Sahabat Nabi yang mulia itu menelan racun yang ada dalam daging kambing itu, meskipun merasakan adanya racun di dalamnya, beliau tetap memakannya karena menghormati Rasulullah saw, beliau tidak mau membuat selera makan Rasulullah saw terganggu. [madj]

Baca juga: Khabbab bin Al-Arat, Sahabat Nabi yang Disiksa karena Keimanannya


0 Komentar

Tinggalkan Balasan