Utsman Bin Affan radiallahu anhu (ra) seorang Sahabat, menantu dan sekaligus sebagai khalifah yang ke-tiga setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (saw). Karena kemurahan dan kebaikan hatinya beliau dikenal sebagai Al-Gani.

Latar Belakang Utsman Bin Affan

Sayyidina Utsman Bin Affan ra lahir di Taif sekitar tahun 579 M. Beliau ra lahir tujuh tahun setelah Rasulullah saw dan 42 tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Ayahanda beliau, Affan Bin Abi Al-‘As dari suku Bani Umayyah dan ibunda beliau Arwa Binti Kuraiz Bin Rabiah, dari suku Bani Abdus Syams.

Ayahanda beliau, meninggal di usia muda saat bepergian ke luar negeri, meninggalkan Sayyidina Utsman dengan harta warisan besar. Sementara itu ibunda beliau masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah, kemudian wafat dimasa Sayyidina Utsman ra menjadi khalifah.

Sebagaimana ayahandanya, Sayyidina Utsman ra menjadi pedagang yang terampil, perniagaanya berkembang maju, membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di Mekkah.

Terlahir dari keluarga saudagar yang sejahtera, Sayyidina Utsman ra dikenal sebagai pribadi yang lembut dan murah hati. Beliau ra juga dikenal sebagai seorang terpelajar, dimana beliau ra salah satu dari 22 orang Mekkah yang pandai baca tulis.

Termasuk Yang Pertama Beriman

Sekitar tahun 611, sekembalinya Sayyidina Utsman Bin Affan ra dari perjalanan bisnis ke Suriah, beliau ra  untuk pertama kalinya mengetahui tentang pendakwaan Rasulullah saw.

Sayyidina Utsman ra berusia sekitar 34 tahun saat bibi beliau ra memberitahukan tentang Rasulullah saw dan pesan Islam yang sedang beliau saw ajarkan.

Kemudian Sayyidina Utsman ra menceritakan hal ini kepada teman baiknya, Hadhrat Abu Bakar ra yang kemudian lebih dulu beriman. Hadhrat Abu Bakar ra kemudian mengajak Sayyidina Utsman ra untuk beriman juga.

Hadhrat Abu Bakar ra selanjutnya membawa Sayyidina Utsman ra ke hadapan Rasulullah saw.

Rasulullah saw pun berbicara kepada Sayyidina Utsman ra dan mengatakan kepadanya bahwa beliau saw adalah Nabi Allah dan diutus untuk seluruh umat manusia.

Tanpa ragu Sayyidina Utsman ra kemudian menerima Islam dan melakukan bai’at di tangan Rasulullah saw sendiri. Dengan demikian Sayyidina Utsman Bin Affan ra termasuk As-Sabiqun al-Awwalun yaitu golongan yang pertama-tama masuk Islam.

Baca juga: Perang Khaibar: Penaklukan Kaum Yahudi yang Selalu Membahayakan Islam

Hijrah Ke Habsyah

Setelah menerima Islam, Sayyidina Utsman ra mendapat karunia besar sebagai menantu Rasulullah saw, dengan menikahi Ruqayyah radiallahu anha, putri Rasulullah saw.

Kabar tentang masuk Islamnya Sayyidina Utsman ra membuat kaum kerabat beliau ra terkejut dan murka. Bani Umayah sangat menentang ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. Oleh karena itu Sayyidina Utsman ra pun menerima penganiayaan dan kesukaran-kesukaran sama seperti yang dialami umat Islam lainnya saat itu.

Karena penganiayaan terhadap kaum Muslimin yang masih sedikit itu terus meningkat, maka Rasulullah saw menyerukan kepada mereka untuk hijrah ke Habbasyiah atau Habsyah atau Abyssinia (sekarang Etiopia).

Sekitar bulan April 615, Sayyidina Utsman ra dan istri beliau, Ruqayyah rah bersama dengan sepuluh pria Muslim dan tiga wanita lainnya, memenuhi seruan Rasulullah saw, mereka hijrah ke Habbasyiah. Sejumlah Muslim bergabung dengan mereka kemudian.

Di Habbasyiah, Sayyidina Utsman ra melanjutkan kegiatan dagangnya sehingga terus berkembang maju.

Setelah empat tahun di Habbasyiah, mereka mendengar desas-desus bahwa orang-orang Quraisy telah menerima Islam. Mereka pun kemudian memutuskan untuk kembali ke Mekkah, hanya untuk mengetahui bahwa rumor itu salah. Namun demikian, Sayyidina Utsman ra dan Ruqayyah rah memutuskan untuk kembali menetap di Mekkah.

Hijrah Ke Madinah

Pada tahun 622, sesuai dengan petunjuk dari Allah Ta’ala, Rasulullah saw menyerukan umat Islam seluruhnya untuk hijrah ke Madinah.

Hadhrat Utsman Bin Affan ra dan istri beliau, Ruqayyah rah, termasuk gelombang ketiga yang hijrah ke Madinah.

Setelah sampai di Madinah, Sayyidina Utsman ra tinggal bersama Hadhrat Abu Talha ra sebelum pindah ke rumah yang beliau ra beli beberapa waktu kemudian.

Sayyidina Utsman ra adalah salah satu pedagang terkaya di Mekkah. Beliau menolak bantuan keuangan dari saudara-saudara Ansar. Beliau hanya minta ditunjukkan letak pasar di Madinah. Sehingga beliau ra dapat kembali berniaga.

Sebagian besar Muslim Madinah adalah petani dengan sedikit minat dalam perdagangan, dan orang Yahudi telah melakukan sebagian besar perdagangan di kota.

Sayyidina Utsman ra Dengan kerja keras dan kejujuran, perniagaannya berkembang pesat, membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di Madinah.

Baca juga: Perjanjian Hudaibiyah, Kemenangan Besar Islam

Pengorbanan Dalam Islam

Setelah beriman Hadhrat Utsman Bin Affan ra mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepentingan Islam. Beliau ra seorang saudagar kaya raya yang menggunakan kekayaannya untuk mendukung Islam. Pengabdiannya kepada Islam senantiasa diingat hingga hari ini.

Diantara kebaikan-kebaikannya yaitu, ketika kaum Muslim hijrah ke Madinah, kesulitan pertama yang mereka hadapi adalah kelangkaan air.

Hanya ada satu sumur di Madinah yang dimiliki oleh seorang Yahudi yang menjual air kepada penduduk miskin Madinah dengan harga tinggi. Sayyidina Utsman ra kemudian membeli sumur itu, dan beliau ra bebaskan semua penduduk Madinah untuk mendapatkan manfaat darinya sesuka hati.

Pada saat Ekspedisi Tabuk, Hadhrat Utsman menyediakan 300 ekor unta dan menyumbang uang sebesar 1.000 dinar untuk bekal perang.

Karena banyaknya pengorbanan beliau ra, sehingga pada satu kesempatan, Rasulullah saw berkata bahwa Sayyidina Utsman ra telah melayani Islam sedemikian rupa sehingga sekarang beliau dapat memiliki apa pun yang beliau inginkan, dan bahwa Tuhan tidak akan menanyainya. Ini menunjukkan bahwa beliau ra memiliki begitu banyak sifat baik sehingga tidak mungkin tindakannya bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca juga: Perang Khandak, Ujian Berat Bagi Kaum Muslimin hingga Meraih Kemenangan

Kasih Sayang Rasulullah saw

Rasulullah saw memiliki kecintaan dan perhatian yang istimewa terhadapap Hadhrat Utsman bin Affan ra sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin.

Beliau ra digelari dengan sebutan Dzun Nura’ini (yang memilili dua cahaya) dikarenakan menikahi dua puteri Rasulullah saw yaitu Hadhrat Ruqayyah rah dan Hadhrat Ummu Kultsum rah.

Kehilangan orang yang dicintai merupakan salah satu hal tersulit yang harus dihadapi. Jenis rasa sakit yang memiliki efek abadi pada seseorang.

Ketika Ruqayya rah wafat, sulit bagi Sayyidina Utsman karena beliau ra tidak lagi menjadi menantu Rasulullah saw.

Cinta yang dimiliki oleh Nabi Suci untuknya dapat dilihat pada banyak kesempatan sepanjang hidupnya. Ketika Hadhrat Ruqayyah ra wafat, Rasulullah saw memberikan putri kedua beliau saw Ummu Kultsum rah untuk dinikahi Sayyidina Utsman ra.

Begitu besar kecintaan Rasulullah kepada Sayyidina Utsman ra, sehingga ketika putri kedua Nabi saw meninggal, beliau saw bersabda, “Jika aku memiliki anak perempuan lain, aku akan menikahkannya juga dengan Utsman.” (Usdul-Ghabah Fi Marafatis-Sahaba , vol. 3, p. 481)

Rasulullah saw sangat menghormati Sayyidina Utsman ra. Pada satu kesempatan, beliau saw sedang berbaring, tiba-tiba Sayyidina Utsman ra masuk menghadap beliau saw. Nabi saw langsung duduk dan mulai merapihkan pakaian beliau saw.

Setelah Sayyidina Utsman pergi, Ummul Muminin Aisyah rah kemudian bertanya kepada Nabi saw tentang hal itu, beliau saw menjawab, “Apakah aku tidak boleh menunjukkan kerendahan hati kepada orang yang bahkan para malaikat pun menunjukkan kerendahan hati.” (Sahih Al-Bukhari) 

Baca juga: Perang Uhud, Bukti Ketabahan dan Keberanian Pasukan Islam

Keluarga

Selama hidupnya Sayyidina Utsman ra menikah dengan delapan orang wanita. Dari pernikahannya beliau ra dikaruniai sembilan putra dan enam putri. Berikut ini para istri dan putra- putri beliau:

1. Ruqayyah binti Rasulullah saw. Darinya Utsman memiliki anak bernama Abdullah yang meninggal pada usia 6 tahun.

2. Ummu Kultsum binti Rasulullah saw. Darinya Utsman tidak memperoleh keturunan. Ummu Kultsum wafat pada 9 H.

3. Fakhitah binti Ghazwan. Darinya Utsman memperoleh anak bernama Abdullah yang juga wafat saat masih kecil.

4. Ummu Amr binti Jundub, yang memberinya beberapa anak, yaitu Amr, Khalid, Abban, Umar, dan Maryam.

5. Fathimah binti Al-Walid Al-Makhzumiyyah, yang memberinya tiga orang anak, yaitu Sa’id, Al-Walid, dan Ummu Sa’id.

6. Ummu Al-Banin binti Uyaynah bin Hishn Al-Fazariyyah, yang memberinya anak bernama Abdul Malik, namun ia meninggal dunia di usia dini.

7. Ramalah binti Syaibah bin Rabiah, yang memberinya anak bernama Aisyah, Ummu Iban, dan Ummu Amr.

8. Nailah binti Al-Farafashah, yang melahirkan Maryam.

Menjadi Khalifah

Setelah Hadhrat Umar Bin Khattab ra wafat, maka Hadhrat Utsman Bin Affan ra terpilih untuk menggantikannya sebagai Khalifah Rayidin yang ke-3. Saat itu usia beliau ra sekitar 64 atau 65 tahun.

Sayyidina Utsman ra menjadi khalifah dari 6 November 644 – 17 Juni 656 (11 tahun, 222 hari), sehingga beliau ra tercatat sebagai Khulafaur Rasyidin dengan masa jabatan terlama.

Selama Sayyidina Utsman ra menjadi khalifah, Islam telah mengalami banyak kemajuan dan perluasan sehingga menyebar ke seluruh dunia hingga ke Cina.

Salah satu pencapaian utama adalah Alquran yang kita lihat hari ini yang disusun selama Khilafat Utsman ra dan di bawah pengawasan beliau ra langsung. Hingga saat ini, seluruh Umat Islam hingga saat ini menikamti keberhasilan beliau ra itu.

Beliau ra adalah khalifah yang kali pertama melakukan perluasan Masjid al-Haram Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan ibadah haji.

Beliau ra mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan beberapa daerah kecil yang berada disekitar perbatasan seperti Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat.

Pada masa beliau ra, kekhalifahannya mencapai Khorasan Raya (kawasan Asia Tengah) di batas timur. Di masanya, masyarakat Muslim dan non-Muslim menjadi lebih makmur dalam masalah ekonomi dan menikmati kebebasan yang lebih besar di bidang politik.

Baca juga: Perang Badar, Kemenangan yang Gemilang

Meraih Kesyahidan

Pada tahun 656 sekelompok pemberontak mengepung kediaman Sayyidina Utsman. Beliau ra menanggung semua kesengsaraan itu dengan kesabaran dan kesetiaan yang besar terhadap tujuan Islam.

Sayyidina Utsman ra tidak mau menjadi penyebab perang saudara menolak bantuan militer dari sanak saudaranya atau pihak lain.

Akhirnya pada tanggal 12 atau 18 Dzulhijjah 35 H atau 17 Juni 656, dalam usia 80 tahun lebih. Para pemberontak dengan kejamnya membunuh beliau ra. Kemudian beliau dimakamkan di Jannatul Baqi, Madinah.

Kesyahidan Hadhrat Utsman ra menyisakan kesedihan dan penyesalan yang mendalam di kalangan umat Islam. Beliau ra dibunuh secara brutal oleh orang munafik.

Sayyidina Utsman ra dikenal sebagai pribadi yang dapat dipercaya, baik dan murah hati. Bahkan sebelum masuk Islam beliau ra dikenal karena kejujuran dan integritasnya. Hadhrat Utsman ra adalah seorang pria dengan hati yang lembut dan baik. Sehingga beliau ra dikenal sebagai Al-Ghani yaitu orang yang murah hati.

Demikianlah biografi Utsman Bin Affan ra, yang disajikan secara singkat dan sebenarnya masih banyak sekali hal yang menarik dari beliau ra, semoga bermanfaat. 

Sumber: alhakam.org

Baca juga:

Utsman Bin Affan by Inspira Studio


0 Komentar

Tinggalkan Balasan