Meski masa kekhalifahannya sangat singkat, Umar bin Abdul Aziz merupakan salah satu khalifah berhasil mensejahterakan Umat, berlaku adil dan bijaksan. Beliau paling dikenal dalam sejarah Islam, disebut sebagai Khulafaur Rasyidin Kelima atau Umar II, juga sebagai mujaddid di abad yang pertama.

Silislah Umar Bin Abdul Aziz

Umar Bin Abdul Aziz lahir di Madinah pada 26 Safar 63 H atau 2 November 682 M. Ayahanda beliau, Abdul Aziz, putra Khalifah Marwan Bin al-Hakam yang merupakan sepupu Khalifah Utsman Bin Affan radiallhu anhu (ra). Ibudanya, Laila, cucu Khalifah Umar Bin Khattab ra.

Mengenai silsilah Umar Bin Abdul Aziz terdapat satu kisah yang terkenal, yang bermula dari Khalifah Umar Bin Khattab.

Pada suatu malam, Khalifah Umar Bin Khattab ra. Saat sedang beronda malam, Umar bin Khattab mendengar percakapan antara seorang gadis dan ibunya dari keluarga pedagang susu.

Sang gadis menolak mencampur susu dengan air sebagaimana yang diperintahkan ibunya lantaran terdapat larangan dari khalifah mengenai hal tersebut dan mengatakan bahwa Allah melihat perbuatan mereka meski Umar Bin Khattab sendiri tidak mengetahui.

Kagum akan kejujurannya, Khalifah Umar ra memerintahkan salah seorang putranya, Ashim, untuk menikahi gadis tersebut. Dari pernikahan ini, lahirlah Laila, ibunda Umar bin Abdul Aziz.

Baca juga: Perang Hunain, Bukti Kebenaran Dan Keagungan Rasulullah

Kekhalifahan Bani Umayyah

Kekhalifahan Bani Umayyah dimulai oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 41 H/661 M di Damaskus dan berlangsung hingga pada tahun 132 H/ 750 M.

Muawiyah bin Abu Sufyan awalnya sebagai Gubernur Syam pada masa Khalifah Ustman bin Affan ra. Ia menjadi khalifah setelah Husein ra putra Sayyidina Ali Bin Thalib ra dikalahkannya dalam pertempuran di Karbala.

Sejak saat itu kekahlifahan dikuasai Bani Umayyah secara turun temurun dari kalangan mereka. Jika seorang khalifah wafat maka putranya atau kerabatnya dianggkat untuk menggantikannya. Karenanya sering terjadi perselisihan dan perebuat kekuasaan.

Seperti, khalifah Marwan Bin Al-Hakam, menetapkan putranya Abdul-Malik, sebagai Gubernur Palestina dan sebagai putra mahkota, sedangkan putra Marwan yang lain, Abdul Aziz (ayah dari Umar Bin Abdul Aziz), ditetapkan sebagai Gubernur Mesir wakil putra mahkota.

Setelah Marwan wafat, Abdul Malik menjadi khalifah, sedangkan kedudukan Abdul Aziz naik menjadi putra mahkota sekaligus gubernur Mesir.

Karena itu, Umar Bin Abdul Aziz menghabiskan sebagian masa kecilnya di wilayah kekuasaan ayahnya di Mesir, utamanya di kota Helwan.

Meski begitu, beliau menerima pendidikan di Madinah dan menghabiskan masa mudanya di sana, beliau menjalin hubungan erat dengan orang-orang saleh dan perawi hadits.

Di penghujung usia, Abdul Malik ingin agar takhta kelak diwariskan kepada putranya, Al-Walid, dan bukan kepada Abdul Aziz. Abdul Aziz menolak menyerahkan kedudukannya sebagai putra mahkota.

Perselisihan dapat dihindari lantaran Abdul Aziz wafat lebih dulu dari Abdul Malik. Abdul Malik kemudian menobatkan Al-Walid sebagai putra mahkota.

Selain itu, Abdul Malik memanggil Umar Bin Abdul Aziz ke Damaskus dan menikahkannya dengan putrinya sendiri, Fatimah.

Baca juga: 7 Objek Wisata Paling Bersejarah Di Madinah

Menjadi Gubernur Madinah

Pada tahun 705 M, Al-Walid Bin Abdul Malik menjadi khalifah menggantikan ayahnya yang wafat.

Secara silsilah, Al-Walid dan Umar Bin Abdul Aziz adalah sepupu. Melalui pernikahan, mereka berdua adalah saudara ipar. Umar menikah dengan Fatimah, saudari Al-Walid, dan Al-Walid merupakan suami Ummul Banin, saudari Umar Bin Abdul Aziz.

Al-Walid kemudian mengangkat Umar Bin Abdul Aziz sebagai gubernur Madinah. Gubernur Madinah sebelumnya, Hisyam bin Ismail al-Makhzumi, dikenal sangat keras dalam memerintah.

Umar Bin Abdul Aziz mulai menjabat pada bulan Februari atau Maret tahun 706 dan wilayah kewenangannya kemudian diperluas ke Mekkah dan Tha’if.

Selama Umar menjadi gubernur Madinah, keadaan menjadi tenang dan tentram. Beliau memerintah dengan adil dan bijaksana. Sehingga beliau termasyhur karena kebaikan-kebaikannya.

Pada masa Khalifah Al-Walid dan Umar sebagai gubernurnya, untuk pertamakalinya mesjid Nabawi diperluas.

Baca juga: 7 Tempat Paling Bersejarah Di Yerusalem

Menjadi Penasehat Khalifah

Setelah Al-Walid wafat, Sulaiman bin Abdul Malik yang merupakan adik kandungnya diangkat sebagai khalifah dan memimpin kekhalifahan dari Yerusalem.

Sulaiman sangat memberikan penghormatan kepada Umar Bin Abdul Aziz. Bersama seorang ulama tabi’in Raja’ bin Haiwah, Umar menjadi penasihat utama Sulaiman.

Pada awalnya, Sulaiman menunjuk salah seorang putranya, Ayyub, menjadi putra mahkota, tetapi Ayyub meninggal lebih dulu pada awal 717 M.

Sulaiman yang saat itu sakit keras kemudian berencana menunjuk putranya yang lain, Dawud, sebagai putra mahkota, tetapi Raja’ Bin Haiwah tidak sepakat dengan alasan bahwa Dawud sedang berperang di Konstantinopel dan tidak ada kejelasan mengenai kembalinya.

Raja’ mengusulkan agar mengangkat Umar Bin Abdul Aziz sebagai pewaris sebab Umar dikenal sebagai salah satu tokoh yang bijaksana, cakap, dan saleh pada masa itu. Sulaiman menyepakati usulan tersebut.

Menjadi Khalifah

Pada September 717 H atau 99 H, Sulaiman wafat dan Umar Bin Abdul Aziz kemudian ditetapkan sebagai penggantinya. Umar Bin Abdul Aziz dibai’at sebagai khalifah pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at.

Usianya saat itu memasuki 37 tahun. Dia menjadi khalifah kedelapan Bani Umayyah. Ternyata setelah menjadi khalifah, gaya hidup beliau menjadi sangat sederhana. Konon katanya, gajinya selama menjadi khalifah hanya 2 dirham perhari atau 60 dirham perbulan.

Umar bin Abdul Aziz hanya memerintah sekitar dua tahun lima bulan. Kendati singkat, selama pemerintahannya, umat Islam merasakan ketenangan dan kedamaian. Sebab, sang khalifah telah memberi contoh dan teladan yang luar biasa bagi umat.

Baca juga: 7 Tempat Bersejarah Yang Istimewa Di Makkah

Keberhasilan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, Islam terus mengalami perluasan dan pengembangan. Di sepanjang perbatasan timur laut kekhalifahan, di Transoxiana, Islam sudah memiliki kedudukan mapan di beberapa kota.

Pada masa kekuasaannya, pasukan Muslim yang berpusat di Al-Andalus menaklukkan kota Narbonne di kawasan Franka selatan.

Pada masanya jug tercipta keamanan dan ketertiban, pada tahun 717, Khalifah Umar mengirim pasukan ke Azerbaijan selatan di bawah kepemimpinan Ibnu Hatim Bin Nu’man al-Bahili untuk menumpas sekelompok bangsa Turki yang melakukan perusakan di kawasan tersebut.

Pada tahun 718, beliau mengerahkan berturut-turut pasukan Iraq dan Syria untuk menekan pemberontakan Khawarij di Iraq.

Pembaharuan yang dia lakukan termasuk memperketat larangan minum-minuman keras, melarang ketelanjangan publik, menghapus pemandian umum campur laki-laki dan perempuan, dan pemberian dispensasi zakat yang adil.

Beliau memerintahkan pengerjaan berbagai bangunan umum di Persia, Khorasan, dan Afrika Utara, seperti pembangunan kanal, jalan, karavanserai, dan klinik kesehatan.

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz juga melanjutkan program kesejahteraan dari beberapa khalifah Umayyah terakhir dan memperluasnya, termasuk program-program untuk anak yatim dan orang miskin.

Baca juga: Rasulullah Tabligh Ke Taif Dengan Penuh Keberanian Dan Keagungan

Memberi Keadilan Dan Kesejateraan

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz memberi tunjangan kepada para guru dan mendorong pendidikan. Melalui teladan pribadinya, dia menanamkan kesalehan, ketabahan, etika bisnis, dan kejujuran moral di masyarakat.

Melarang pejabat negara untuk berbisnis. Mendesak semua pejabat untuk mendengarkan keluhan orang-orang dan pada setiap kesempatan.

Jika ada yang melihat petugas yang memperlakukan masyarakat tidak sebagaimana mestinya, dia harus melaporkannya dan sang pelapor akan diberikan hadiah.

Tanah penggembalaan dan cagar alam yang diperuntukkan bagi keluarga para pejabat tinggi dibagikan secara merata pada orang miskin dan tujuan budidaya.

Tanah Fadak yang dikuasai Bani Umayyah sejak masa Khalifah Marwan Bin al-Hakam juga dikembalikan kepada Bani Hasyim.

Tanah Fadak adalah tanah milik Nabi Muhammad saw di kawasan Khaibar yang berdasar perintah Nabi saw, hasil dari pengelolaannya diberikan kepada kalangan Bani Hasyim yang membutuhkan.

Di masa khalifah Umayyah sebelumnya, Muslim Arab memiliki hak istimewa terkait keuangan daripada Muslim non-Arab. Mualaf dari kalangan non-Arab tetap diwajibkan membayar pajak jizyah seperti saat mereka belum masuk Islam.

Khalifah Umar kemudian menghapuskan kebijakan ini dan membebaskan semua Muslim dari pembayaran jizyah, tanpa memandang asal-usul mereka.

Baca juga: Ekspedisi Tabuk, Kegagalan Kaum Munafik Dan Keberhasilan Islam

Menyampaikan Tabligh Islam

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz merupakan seorang ulama dan dia sendiri dikelilingi ulama-ulama besar seperti Muhammad Bin Ka’ab dan Maiumun Bin Mihran.

Beliau dipuji lantaran memerintahkan pengumpulan resmi hadits yang pertama kali lantaran adanya kekhawatiran akan hilangnya sebagian hadits. Mereka yang diperintahkan ‘Umar melaksanakan perintah tersebut antara lain Abu Bakar Bin Muhammad Bin Hazm dan Ibnu Syihab az-Zuhri.

Sebagai khalifah, Umar Bin Abdul Aziz melaksanakan kewajiban dakwah dan tabligh Islam ke seluruh dunia.

Beliau mengirim utusan ke Tiongkok dan Tibet dan mengajak pemimpin mereka memeluk Islam. Beliau juga menyampaikan tabligh kepada raja-raja di India untuk memeluk Islam.

Di masa Umar Bin Abdul Aziz inilah Islam berakar kuat dan diterima sebagian besar masyarakat Persia dan Mesir, sehingga jumlah Muslim non-Arab semakin besar.

Wafat

Dalam perjalanannya pulang dari Damaskus ke Aleppo, atau saat berada di Khanasir, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz jatuh sakit.

Akhirnya beliau wafat antara tanggal 5 sampai 10 Februari 720 atau 20 Rajab 101 H, di Dayr Sim’an di Aleppo barat laut. Pada usia 37 atau 39 tahun.

Umar Bin Abdul Aziz menjadi khalifah dalam waktu yang singkat, hanya sekitar 2 tahun,135 hari saja, yaitu dari 22 September 717 – 5 Februari 720.

Kendati singkat, selama pemerintahannya, umat Islam merasakan ketenangan dan kedamaian. Sebab, sang khalifah telah memberi contoh dan teladan yang luar biasa bagi umat.

Baca juga: 7 Tempat Paling Bersejarah Peninggalan Islam Di Istanbul

Ciri-Ciri Fisik

Digambarkan bahaw, Umar bin Abdul Aziz berkulit cokelat, berwajah lembut dan tampan, berperawakan ramping, berjanggut rapi, bermata cekung, dan di keningnya terdapat bekas luka akibat sepakan kaki kuda.

Ada pula yang mengatakan, beliau berkulit putih, berwajah lembut dan tampan, berperawakan ramping dan berjenggot rapi.

Data Keluarga

Umar Bin Abdul Aziz, pertama menikah dengan sepupunya sendiri, Fatimah Binti Abdul Malik. Kemudina dengan Lamis Binti Ali, Ummu Utsman bin Syu’aib, dan Ummu Walad.

Adapun putra-putra beliau yaitu: Abdul Malik, Abdul Aziz, Abdullah, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, Bakar, Al-Walid, Musa, Ashim, Yazid, Zaban, dan Abdullah. Sedangkan putri beliau yaitu: Aminah, Ummu Ammar dan Ummu Abdillah.

Keistimewaan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz dipandang sebagai seorang pemimpin teladan, menjadikannya kerap disejajarkan dengan empat Khalifah Rasyidah. Beliau dikenal juga sebagaia Khalifah Umar II.

Umar bin Abdul Aziz merupakan salah satu khalifah yang paling dikenal dalam sejarah Islam. Beliau dipandang sebagai sosok yang adil dan dijuluki sebagai khulafaur rasyidin kelima.

Jauh berbeda dengan beberapa khalifah lain dari Bani Umayyah yang dianggap berlaku tidak adil dan zalim, sehingga mereka lebih dipandang sebagai raja-raja dan bukan khalifah sejati seperti Umar Bin Abdul Aziz.

Mujaddi Islam Yang Pertama

Selain dari, beliau juga diyakini sebagai mujaddi atau pembaharu di abad pertama Islam.

Apa itu mujadid? Mujaddid secara bahasa artinya adalah orang yang membawa pembaruan atau seorang pembaru. Sehingga mujaddid bisa dipahami sebagai orang yang memperbaiki kerusakan yang ada pada urusan atau praktik agama Islam yang dilakukan oleh Umat.

Mujaddid tidak membawa syariat atau agama baru, tetapi hanyalah membawa metode-metode baru dan memperbaiki metode yang menyimpang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits serta memperbaiki kerusakan-kerusakan yang sudah terjadi dimasanya.

Mujaddid memiliki tugas untuk memperbaiki, membangkitkan dan membersihkan Islam yang dinodai unsur Bid’ah, Kurafat, dan sebagainya.

Mujaddid muncul pada tiap awal abad dalam kalender Hijriah. Mujaddid bisa saja seorang Ulama, Khalifah, Cendikiawan, tetapi yang pasti, mereka adalah orang yang berpengaruh besar dalam menegakkan agama Islam di zamannya.

Janji mengenai adanya mujaddi dalam setiap abad ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan menurunkan bagi umat ini (Islam) setiap permulaan 100 tahun seseorang yang akan memperbaharui agama mereka.” (HR. Abu Daud no.4278, Hakim di dalam Mustadrak dan al-Baihaqi di dalam al-Ma’rifah).

Seorang ulama sunni Mughal, Syah Waliullah Dehlawi pada abad ke-18 menyatakan, “Seorang mujaddid muncul di tiap akhir abad. Mujaddid pada abad pertama (hijriah) adalah imam ahlus-sunnah, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Mujaddid abad kedua adalah imam ahlus-sunnah, Muhammad Idris Syafi’i (Imam Asy-Syafi’i). Mujaddid abad ketiga adalah imam ahlus-sunnah, Abu Hasan Asy’ari (Imam Asy’ari). Mujaddin abad keempat adalah Abu ‘Abdullah Hakim Naisaburi.” (Izalat al-Khafa, hlm. 77 bagian 7).

Demikianlah biografi Umar Bin Abdul Aziz yang disajika secara singkat, semoga bermanfaat.

Baca juga:

Umar Bin Abdul Aziz by Inspira Studio

0 Komentar

Tinggalkan Balasan