Syekh Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama besar di abad pertengahan yang kontroversial. Beliau merupakan seorang muhaddits, teolog, hakim, ahli fiqih, dan ahli mantik, bahkan seorang filsuf. Sebagian orang meyakini  bahwa beliau sebagai mujaddid abad ke-7 hijriyah.

Masa Awal Kehidupan

Nama lengkap beliau, Taqiyuddin Ahmad ibn `Abd al-Ḥalīm ibn `Abd As-Salām ibn ʿAbd Allāh ibn al-Khidr ibn Muhammad ibn al-Khidr ibn `Ali ibn ʿAbd Allāh ibn Taymiyyah al-Ḥarrānī. Sedang nama kunyah beliau adalah Abul Abbas. Beliau lahir di Harran, Turki, pada hari Minggu 10 Rabiul Awwal 661 H (22 Januari 1263 M).

Saat ini Harran adalah sebuah kota kecil di perbatasan Suriah dan Turki, di provinsi Şanlıurfa, Turki. Letaknya di sebelah utara Mesopotamia dan sebelah Tenggara Turki Modern.

Pada awal periode Islam, Harran terletak di tanah suku Mudar (Diyar Mudar). Sebelum kehancurannya oleh pasukan Mongol, Harran terkenal sejak awal Islam karena adanya madrasah Mazhab Hambali di sana, yang menjadi milik keluarga Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah berasal dari keluarga terpelajar dan terpandang. Kakek beliau, Abu al-Barkat Majduddin dan pamannya, Fakhruddin adalah ulama terkemuka dari madrasah Mazhab Hambali. Demikian juga, ayahanda Ibnu Taimiyah, Shihabuddin Abd al-Halim juga terkenal sebagai ulama Mazhab Hambali.

Nama “Taimiyah” tidak biasa digunakan oleh laki-laki karena nama itu berasal dari anggota keluarga perempuan sebagai lawan anggota laki-laki, yang merupakan kebiasaan normal pada saat itu hingga saat ini. Taimiyah adalah seorang wanita terkemuka, terkenal karena keilmuan dan kesalehannya dan nama “Ibnu Taimiyah” diambil oleh banyak keturunan prianya.

Pada tahun 667 H/1269 M, Ibnu Taimiyah, ketika berusia antara 5 sampai 7 tujuh  tahun bersama dengan ayah dan tiga saudara lelakinya meninggalkan kota Harran yang dihancurkan oleh pasukan Mongol. Keluarga Ibnu Taimiyah kemudian menetap di Damaskus, Suriah, yang pada saat itu diperintah oleh Mamluk Mesir .

Masa Pendidikan Ibnu Taimiyah

Di Damaskus, ayahanda beliau menjabat sebagai kepala madrasah Sukkariyyah, tempat dimana Ibnu Taimiyah juga menerima pendidikan dasarnya.

Ibn Taimiyah tidak hanya belajar ilmu agama, beliau juga mempelajari ilmu-ilmu keduniaan.

Beliau belajar ilmu Fiqh dan Usul al-Fiqh dari ayah beliau sendir. Ibn Taymiyyah mempelajari karya-karya Ahmad ibn Hambal, al-Khallal, Ibn Qudamah dan juga karya-karya kakeknya, Abu al-Barakan Majduddin.

Beliau tidak hanya belajar hukum dan fiqih Mazhab Hambali, tetapi beliau juga mempelajari pemahaman mazhab lainnya.

Jumlah ulama di mana beliau mempelajari Hadits dikatakan berjumlah lebih dari dua ratus orang, empat di antaranya adalah perempuan. Mereka yang terkenal berjumlah empat puluh guru hadits, sebagaimana dicatat oleh Ibnu Taimiyah sendiri dalam bukunya, Arba`un Haditsan.

Ibn Taimiyah mulai mempelajari hadits dari sejak dini. Salah satu gurunya adalah Hakim Agung Mazhab Hambali pertama di Suriah, Syamsuddin Al-Maqdisi yang memegang jabatan di lembaga yang baru dibentuk oleh Baibars sebagai bagian dari reformasi peradilan.  

Al-Maqdisi kemudian memberikan izin kepada Ibnu Taimiyah untuk mengeluarkan Fatawa saat beliau menjadi seorang mufti pada usia 17 tahun.

Ibnu Taimiyah juga mencurahkan perhatiannya untuk mempelajari bahasa dan sastra Arab. Beliau belajar di bawah bimbingan Ali ibn ‘Abd al-Qawi al-Tuft. Sehingga beliau kemudian menguasai kitab tata bahasa Arab terkenal, Al-Kitab, karya Sibawayhi.

Beliau juga belajar matematika, aljabar, kaligrafi , kalam, filsafat, sejarah, dan ilmu tentang sekte-sekte (heresiografi). Pengetahuan yang beliau peroleh dari sejarah dan filsafat, beliau gunakan untuk membantah wacana filosofis yang lazim pada masanya, salah satunya adalah filsafat Aristotelian.

Ibnu Taimiyah juga belajar tentang tasawuf dan menyatakan bahwa beliau telah merefleksikan karya-karya; Sahl al-Tustari, Junayd dari Baghdad, Abu Thalib al-Makki, Abdul Qadir Al-Jaelan, Abu Hafs Umar al-Suhrawardi dan Ibnu Arabi.

Pada tahun 1282 M, saat usia Ibnu Taimiyah sekitar 20 tahun, beliau telah menyelesaikan seluruh pendidikannya.

Ulama Mazhab Hambali

Masjid Umayyah, tempat Ibnu Taimiyya biasa memberi pelajaran.

Setelah ayahnya meninggal pada tahun 1284, beliau pun menggantikan kedudukannya sebagai kepala madrasah Sukkariyyah dan mulai memberikan pelajaran tentang Hadits.

Setahun kemudian beliau mulai memberikan pelajaran, sebagai ketua Mazhab Hambali Zawiya setiap hari Jumat di Masjid Umayyah, seputar tafsir Al-Qur’an.

Pada November 1292, Ibnu Taimiyah melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Empat bulan setelah beliau kemudian, beliau menulis buku pertamanya, Manasik al-Hajj, saat itu beliau berumur dua puluh sembilan. Isi buku itu mengkritik dan mengutuk dugaan bid’ah yang beliau lihat terjadi di Makkah.

Ibnu Taimiyah mewakili aliran pemikiran Hambali selama masa ini. Madrasah Hambali dipandang sebagai madrasah paling tradisional dari empat mazhab (Hanafi, Maliki dan Syafii). Madrasah Hambali “mencurigai disiplin ilmu filsafat Hellenis dan teologi spekulatif.”

Beliau tetap setia sepanjang hidupnya di sekolah ini, yang doktrin-doktrinnya telah ia kuasai, namun ia tetap menyerukan ijtihad dan tidak mengindahkan taqlid.

Hubungan dengan Penguasa

Fatwa Mati untuk Penghina Nabi

Pada tahun 1293 M, saat itu Ibnu Taimiyah berusia 30 tahun, beliau diminta oleh pihak penguasa untuk memberikan fatwa tentang Assaf al-Nasrani, seorang pendeta Kristen yang dituduh menghina Rasulullah saw.

Ibnu Taimiyah pun mengeluarkan fatwanya, bahwa orang itu harus dihukum mati. Masyarakat umum mendukung fatwa dari Ibnu Taimiyah, sementara itu Gubernur Suriah berusaha menyelesaikan situasi dengan meminta Assaf untuk menerima Islam sebagai imbalan atas hidupnya, yang ia setujui.

Resolusi ini tidak dapat diterima oleh Ibnu Taimiyah yang kemudian, bersama dengan para pengikutnya, memprotes di luar istana Gubernur yang menuntut Assaf dihukum mati, dengan alasan bahwa setiap orang – Muslim atau non-Muslim – yang menghina Rasulullah saw harus dibunuh. 

Keengganan untuk berkompromi ini ditambah dengan upayanya untuk memprotes tindakan Gubernur, mengakibatkan beliau dihukum dengan hukuman penjara, yang pertama dari banyak penjara semacam itu yang akan datang. 

Kemungkinan Ibnu Taimiyah menulis karya pertamanya, al-rimārim al-maslūl ʿalā s̲h̲ātim al-Rasūl (Pedang Ditarik terhadap mereka yang menghina Rasul) di dalam penjara.

Bersikap Keras

Ibnu Taimiyah, bersama dengan bantuan murid-muridnya, melanjutkan upaya-upayanya untuk menentang apa, “ia anggap sebagai praktik yang tidak Islami” dan untuk mengimplementasikan apa yang ia lihat sebagai kewajiban religiusnya untuk memerintah yang baik dan melarang yang salah.

Memimpin “kampanye anti-pesta pora di rumah bordil dan kedai minuman”, memukul seorang ateis sebelum dieksekusi di depan umum, menghancurkan apa yang dianggap sebagai batu suci di sebuah masjid, menyerang para astrolog dan mewajibkan “Syaikh Sufi yang menyimpang untuk melakukan tindakan penyesalan di depan umum dan untuk mematuhi Sunnah.”

Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya biasa mengutuk penjual anggur dan mereka akan menyerang toko-toko anggur di Damaskus dengan memecahkan botol anggur dan menuangkannya ke lantai.

Fatwa Jihad

Beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 1296 M, beliau mengambil alih posisi salah satu gurunya (Zayn al-Din Ibn al-Munadjdjaal), mengambil jabatan guru fiqih Mazhab Hambali di madrasah Hambaliyah, salah satu madrasah tertua dari Mazhab Hambali di Damaskus. Hal ini dilihat oleh beberapa orang sebagai puncak karir ilmiahnya.

Tahun dimana beliau memulai jabatannya di madrasah Hambaliyah, adalah masa kekacauan politik. Sultan Mamluk Al-Adil Kitbugha digulingkan oleh wakil sultannya Al-Malik al-Mansur Lajin yang kemudian memerintah dari tahun 1297 hingga 1299.

Sultan memiliki keinginan untuk melakukan ekspedisi terhadap orang-orang Kristen Kerajaan Armenia di Kilikia yang membentuk aliansi dengan Kekaisaran Mongol dan mengambil bagian dari kampanye militer yang mengarah ke penghancuran Baghdad, ibukota Kekhalifahan Abasiyah dan Harran tempat kelahiran Ibnu Taimiyah, untuk tujuan itu ia mendesak Ibnu Taimiyah agar menyeru umat Islam untuk Jihad.

Pertentangan dengan As’ariyah

Pada 1298, Ibnu Taimiyah menulis penjelasan tentang ayat mutashabihat (ayat-ayat Al-Qur’an yang samar/perlu penjelasan) yang disebut Al-‘Aqidat al-Hamawiyat al-Kubra (Akidah orang-orang hebat Hama).

Buku berfungsi sebagai jawaban atas pertanyaan dari kota Hamah, Suriah. Pada saat itu As’ariyah memegang posisi penting dalam komunitas ilmiah Islam di Suriah dan Mesir.

Ibnu Taimiyah dalam bukunya ini sangat tidak setuju dengan pandangan mereka dan penolakan besar-besaran terhadap posisi umum As’ari ini, menyebabkan banyak kontroversi.

Memerangi Syiah

Ibn Taymiyyah sekali lagi berkolaborasi dengan Mamluk pada tahun 1300, ketika beliau bergabung dengan ekspedisi melawan orang – orang Alawit dan Syiah, di wilayah Kasrawan di pegunungan Lebanon.

Ibnu Taimiyah menganggap orang-orang Alawi sebagai lebih bidah dari orang Yahudi dan Kristen, konfrontasi dengan Alawit terjadi karena mereka dituduh berkolaborasi dengan orang-orang Kristen dan Mongol.

Ibnu Taimiyah memiliki keterlibatan aktif lebih lanjut dalam kampanye melawan bangsa Mongol dan sekutu mereka yang diduga sekutu Alawite.

Ibnu Taimiyah mengambil bagian dalam serangan militer kedua pada tahun 1305 melawan orang-orang Alawit dan Ismaili di wilayah Kasrawan di pegunungan Lebanon tempat mereka dikalahkan.

Baca juga: Biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, Seorang Ulama, Wali dan Sufi

Invasi Mongol

Invasi Pertama  Mongol ke Suriah

Invasi pertama terjadi antara Desember 1299 dan April 1300 karena kampanye militer oleh Mamluk terhadap Kerajaan Armenia Kilikia yang bersekutu dengan bangsa Mongol. Tentara Ilkhanate berhasil mencapai Damaskus pada akhir Desember 1299.

Ibnu Taimiyah pergi dengan delegasi cendekiawan Islam untuk berbicara dengan Ghazan Khan, yang merupakan Khan dari Mongol Ilkhanate Iran, untuk memohon pengampunan dan untuk menghentikan serangannya terhadap kaum Muslim.

Dilaporkan bahwa tidak ada ulama yang mengatakan sesuatu kepada Khan kecuali Ibnu Taimiyah.

Pada awal Januari 1300 M, sekutu Mongol, Armenia dan Georgia, telah menyebabkan kerusakan luas di Damaskus dan mereka telah mengambil tahanan Suriah.

Bangsa Mongol secara efektif menduduki Damaskus selama empat bulan pertama tahun 1303.

Sebagian besar militer telah meninggalkan kota, termasuk sebagian besar warga sipil. Namun Ibnu Taimiyah tidak ikut mengungsi dan merupakan salah satu pemimpin perlawanan di Damaskus.

Beliau pergi untuk berbicara langsung dengan orang Mongol Ilkhan Mahmud Ghazan dan wazirnya Rashid al-Din Tabib.

Beliau berusaha membebaskan tahanan Muslim dan non muslim yang ditawan orang-orang Mongol di Suriah, dan setelah diskusi, memastikan pembebasan mereka.

Seorang seniman menggambarkan Ghazan Khan, seorang tokoh sejarah yang ditegur keras oleh Ibnu Taimiyah, terutama karena sikap permusuhannya yang terus-menerus terhadap Mamluk di Mesir .

Invasi Mongol yang Kedua

Invasi kedua berlangsung antara Oktober 1300 dan Januari 1301. Ibnu Taimiyah pada masa itu mulai memberikan khotbah tentang Jihad di masjid Umayyah.

Ibnu Taimiyah juga berbicara dan mendorong Gubernur Damaskus, al-Afram untuk mencapai kemenangan melawan bangsa Mongol. Beliau terlibat dengan al-Afram sekali lagi, ketika beliau dikirim untuk mendapatkan bala bantuan dari Kairo.

Baca juga: Biografi Imam Al-Ghazali, Mujaddid Abad Ke-5

Invasi Mongol yang Ketiga

Tahun 1303 menyaksikan invasi Mongol ketiga ke Suriah oleh Ghazan Khan. Apa yang disebut fatwa Ibnu Taimiyah “paling terkenal” dikeluarkan terhadap bangsa Mongol dalam perang Mamluk .

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa jihad melawan serangan Mongol terhadap kesultanan Malmuk tidak hanya diizinkan, tetapi juga wajib.

Alasannya adalah bahwa orang-orang Mongol tidak bisa, dalam pendapatnya, menjadi Muslim sejati terlepas dari kenyataan bahwa mereka telah memeluk Islam Sunni karena mereka memerintah dengan menggunakan apa yang beliau anggap ‘hukum buatan manusia’ daripada Hukum Islam atau Syariah.

Karena itu, beliau beralasan mereka hidup dalam keadaan jahiliyyah, atau ketidaktahuan pagan pra-Islam. Fatwa tersebut melanggar landasan hukum Islam baru karena “tidak ada ahli hukum yang pernah mengeluarkan otorisasi umum untuk penggunaan kekuatan mematikan terhadap umat Islam dalam pertempuran”, dan untuk memengaruhi kaum Islamis modern dalam penggunaan kekerasan terhadap Muslim yang memproklamirkan diri.

Ibnu Taimiyah meminta umat Islam untuk berjihad sekali lagi dan beliau juga secara pribadi bergabung dengan pertempuran Marj al-Saffar yang akhirnya melawan tentara Mongol. Pertempuran dimulai pada 20 April tahun itu.

Pada hari yang sama, Ibnu Taimiyah menyatakan fatwa yang membebaskan tentara Mamluk dari puasa selama bulan Ramadhan sehingga mereka dapat mempertahankan kekuatan mereka. Dalam dua hari bangsa Mongol dikalahkan dan pertempuran dimenangkan.

Menghadapi Tuduhan Terkait Tulisannya

Ibn Taymiyah dipenjara beberapa kali karena berkonflik dengan ijma para ahli hukum dan para teolog pada zamannya.

Dari kota Wasit, Irak, seorang hakim meminta agar Ibnu Taimiyah menulis sebuah buku tentang aqidah yang diyakininya, yang mana beliau menghadapi masalah, yang disebut Al-Aqidah Al-Waasitiyyah, sebuah karya tentang pandangannya tentang aqidah dari salaf.

Ibnu Taimiyah mengadopsi pandangan bahwa Allah harus digambarkan sebagaimana ia secara harfiah dijelaskan dalam Alquran dan dalam hadits, dan bahwa semua Muslim diharuskan untuk mempercayai ini karena menurutnya itu adalah pandangan yang dipegang oleh komunitas Muslim awal (salaf). Dalam kurun waktu dua tahun (1305-1306) empat sidang dewan agama diadakan untuk menilai kebenaran akidahnya.

Baca juga: Biografi Imam Bukhari, Amirul Muminin Fil Hadits

Persidangan Pertama

Pada tahun 1305, diselenggarakannya sidang pertama, dimana para ulama Mazhab Syafii menuduh Ibnu Taimiyah menyamakan Tuhan dengan ciptaa Nya (antropomorfisme). Saat itu Ibnu Taimiyah berusia 42 tahun. Beliau dilindungi oleh Gubernur Damaskus saat itu, Aqqush al-Afram, selama persidangan.  

Para ulama menyarankan agar beliau menerima bahwa keyakinannya hanyalah keyakinan Mazhab Hambali, dan pengikut mazhab lain tidak wajib mengikutinya. Ibnu Taimiyah menolaknya, beliau tidak kenal kompromi dan menyatakan bahwa semua cendekiawan wajib mematuhi keyakinannya.

Pemeriksaan dan Pemenjaraan

Dua persidangan terpisah diadakan setahun kemudian pada 22 dan 28 Januari 1306. Sidang pertama diadakan di rumah Gubernur Damaskus Aqqush al-Afram, yang telah melindunginya setahun sebelumnya ketika menghadapi ulama Mazhab Syafii. Sidang kedua diadakan enam hari kemudian di mana seorang ulama India, Safi al-Din al-Hindi menemukan bahwa Ibnu Taimiyah tidak bersalah dari semua tuduhan dan menerima bahwa pengakuannya sejalan dengan “Qur’an dan Sunnah”. 

Terlepas dari itu, pada bulan April 1306 hakim Islam kepala negara Mamluk menyatakan Ibnu Taimiyah bersalah dan ia dipenjara. Beliau kemudian dibebaskan empat bulan kemudian pada bulan September.

Keberatan Lebih Lanjut

Setelah pembebasannya di Damaskus, keraguan tentang keyakinannya tampaknya telah diselesaikan tetapi ini tidak terjadi.

Seorang ulama Mazhab Syafii, Ibnu al-Sarsari, bersikeras untuk memulai sidang lagi terhadap Ibnu Taimiyah yang diadakan sekali lagi di rumah Gubernur Damaskus, Al-Afram. Bukunya Al-Aqidah Al-Waasitiyyah masih belum ditemukan bersalah. Di akhir audiensi ini, Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Sarsari dikirim ke Kairo untuk menyelesaikan masalah.

Baca juga: Biografi Imam Ahmad Bin Hambal atau Imam Hambali

Kehidupan di Mesir

Perdebatan yang Berakhir di Penjara

Pada saat kedatangan Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Sarsari di Kairo pada tahun 1306, sebuah pertemuan terbuka diadakan. Sultan Mesir pada saat itu, Al-Nasir Muhammad dan wakilnya menghadiri pertemuan terbuka tersbut.

Pertemuan tersebut tidak berhasil menemukan kesalahan Ibnu Taimiyah. Meskipun pertemuan terbuka, keberatan tentang akidah berlanjut dan beliau dipanggil ke Benteng Kairo untuk Munazara (debat hukum), yang berlangsung pada 8 April 1306.

Selama munazara pandangannya tentang sifat Allah, khususnya apakah suatu arahan dapat dikaitkan dengan Tuhan, diperdebatkan oleh Cendekiawan India, Safi al-Din al-Hindi, di hadapan hakim.

Ibnu Taimiyah tidak berhasil meyakinkan para hakim tentang posisinya dan karenanya atas rekomendasi Al-Hindi, beliau dipenjara karena tuduhan menyamakan Allah dengan mahluk ciptaan-Nya.

Beliau bersama kedua saudaranya dipenjara di Benteng Gunung (Qal’at al-Jabal), di Kairo hingga 25 September 1307. 

Beliau kemudian dibebaskan karena bantuan yang diterimanya dua Amir (penguasa atau penguasa militer); Salar dan Muhanna bin Isa, tetapi beliau tidak diizinkan untuk kembali ke Suriah.

Kemudian, Ibnu Taimiyah kembali dipanggil untuk debat hukum, tetapi kali ini beliau meyakinkan para hakim tentang pandangannya dan beliau dibebaskan.

Pengadilan Soal Syafaat

Ibnu Taimiyah terus menerus menghadapi kesulitan, pandangan dan keyakinannya bertentangan dengan keyakinan orang-orang sezamannya.

Penentangannya yang kuat terhadap apa yang beliau yakini sebagai bid’ah, membuat marah para sufi terkemuka Mesir termasuk Ibnu `Ata’Allah dan Karim al-Din al-Amuli, dan penduduk setempat yang mulai memprotes Ibnu Taimiyah.

Sifat dari pokok perselisihan adalah sikap Ibn Taimiyah tentang tawassul (syafaat). Dalam pandangannya seseorang tidak dapat meminta bantuan orang lain selain Allah kecuali pada hari penghakiman ketika syafaat dalam pandangannya dimungkinkan.

Pada saat itu, orang-orang tidak membatasi syafaat hanya pada hari penghakiman tetapi mereka mengatakan itu diizinkan dalam kasus-kasus lain. Karena itu, Ibnu Taimiyah, yang telah berusia 45 tahun, diperintahkan untuk hadir di hadapan hakim Mazhab Syafii, Badr al-Din pada bulan Maret 1308 dan ditanyai tentang pendiriannya tentang perantaraan syafaat.

Sekali lagi beliau dijebloskan ke dalam penjara di Kairo selama beberapa bulan. Setelah dibebaskan, beliau diizinkan untuk kembali ke Suriah, jika beliau menginginkannya. Namun Ibnu Taimiyah tinggal di Mesir selama 5 tahun berikutnya.

Baca juga: Biografi Imam Syafii, Pendiri Mazhab Syafii

Tahanan Rumah di Aleksandria

Setahun setelah pembebasannya pada tahun 1309 terjadi perubahan kekuasaan,  Baibars al-Jashnakir menjadi seorang Sultan baru di Mesir, yang pemerintahannya ditandai oleh kerusuhan ekonomi dan politik. Cengkeramannya pada kekuasaan berumur pendek dan hanya berlangsung satu tahun.

Selama masa ini, pada bulan Agustus 1309, Ibnu Taimiyah menjadi tahanan rumah selama tujuh bulan di istana sultan yang baru di Alexandria.

Beliau dibebaskan ketika Al-Nasir Muhammad merebut kembali posisi sultan pada 4 Maret 1310. Setelah kembali ke Kairo seminggu kemudian, beliau diterima oleh sultan Al-Nasir.

Sultan kadang-kadang akan berkonsultasi dengan Ibnu Taimiyah mengenai urusan agama dan kebijakan selama sisa tiga tahun tinggal di Kairo.

Selama masa ini beliau menulis bukunya yang terkenal Al-Kitab al-Siyasa al-syar’iyya (Risalah tentang Pemerintahan Hukum Agama), sebuah buku penjelasannya tentang peran agama dalam politik.

Kembali ke Damaskus

Ibn Taymiyyah saat usianya 50, beliau kembali ke Damaskus pada tanggal 28 Februari 1313. Beliau menghabiskan lima belas tahun terakhirnya di Damaskus.

Damaskus pada saat itu berada di bawah kepemimpinan Tankiz. Di sana Ibnu Taimiyah melanjutkan perannya sebagai pengajar fiqih Mazhab Hambali.

Masa Ini adalah ketika beliau mengajar muridnya yang paling terkenal, Ibn Qayyim Al-Jawziyya, yang kemudian menjadi salah satu sarjana terkemuka dalam sejarah Islam.

Tiga tahun setelah kedatangannya di kota itu, Ibnu Taimiyah terlibat dalam upaya mengatasi pengaruh Syiah yang meningkat di kalangan Muslim Sunni.

Sebuah perjanjian telah dibuat pada 1316 antara Amir Mekah dan penguasa Ilkhanate Öljaitü, saudara Ghazan Khan, untuk memungkinkan kebijakan yang menguntungkan terhadap Syiah di Mekkah.

Sekitar waktu yang sama teolog Syiah, Al-Hilli, yang telah memainkan peran penting dalam keputusan penguasa Mongol untuk menjadikan ajaran Syiah sebagai keyakinan resmi negara Persia, menulis buku, Minhaj al-Karamah (Jalan Karomah), yang membahas doktrin Syiah tentang Imamah dan juga berfungsi sebagai sanggahan terhadap doktrin Sunni tentang kekhalifahan.

Ibnu Taimiyah pun kemudian menulis buku yang terkenal, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, sebagai penolakan atas karya Al-Hilli tersebut.

Fatwa tentang perceraian dan pemenjaraan.

Pada 1318, Ibnu Taimiyah menulis sebuah risalah yang akan membatasi kemudahan seorang lelaki Muslim untuk menceraikan istrinya. Fatwa Ibnu Taimiyah tentang perceraian itu tidak diterima oleh mayoritas ulama pada masa itu dan ini berlanjut ke era Utsmaniyah.

Karena pandangannya dan juga dengan tidak mematuhi surat sultan dua tahun sebelumnya melarang beliau mengeluarkan fatwa tentang masalah hukum perceraian, tiga sidang dewan diadakan, dalam beberapa tahun (1318, 1319 dan 1320), untuk menangani masalah ini.

Sidang diawasi oleh Raja Suriah, Tankiz. Hal ini mengakibatkan Ibnu Taimiyah dipenjara pada 26 Agustus 1320 di Benteng Damaskus .

Ibnu Taimiyah dibebaskan sekitar lima bulan dan 8 hari kemudian, pada 9 Februari 1321, atas perintah Sultan Al-Nasir. Beliau diangkat kembali sebagai guru fiqih madrasah Mazhab Hambali.

Baca juga: Biografi Umar Bin Abdul Aziz, Sang Mujaddid Abad Pertama

Risalah tentang Ziarah Kubur

Pada tahun 1310, Ibnu Taimiyah menulis sebuah risalah, Ziyārat al-Qubūr atau menurut sumber lain, Syadd al-rihal. Berisikan boleh tidaknya melakukan perjalanan untuk mengunjungi makam para nabi dan orang suci (Wali).

Dalam risalah itu beliau mengutuk pemujaan orang-orang suci. Beliau menyatakan bahwa, orang yang mengunjungi makam nabi melakukan bid’ah.

Karena masalah itu, pada tanggal 18 Juli 1326, saat Ibnu Taimiyah berusia 63 tahun, beliau ditangkap dan kembali dijebloskan ke dalam penjara Benteng Damaskus. Muridnya, Ibnu Qayyim, juga dipenjara bersamanya di Benteng. Sultan juga melarang beliau mengeluarkan fatwa.

Bahkan ulama Mazhab Hambali sendiri, Aḥmad ibn Umar al-Maqdisī menegaskan Ibnu Taimiyah sebagai kafir atas fatwanya tentang ziarah kubur.

Kehidupan di Penjara

Ibnu Taimiyah menyebut penjara sebagai “berkah ilahi”. Sementara di penjara beliau menghadapi tentangan dari Hakim Agung Mazhab Maliki dan Mazhab Syafi’i Damaskus, Taḳī al-Dīn al-Ik̲h̲nāʾī.

Beliau tetap di penjara selama lebih dari dua tahun dan mengabaikan larangan Sultan, dengan terus memberikan fatwa.

Selama penahanannya, Ibnu Taimiyah menulis tiga buku; Kitāb Maʿārif al-wuṣūl, Rafʿ al-malām, dan Kitab al-Radd ʿala ‘l-Ik̲h̲nāʾī (Tanggapan terhadap al-Ik̲h̲nāʾī). Buku terakhir adalah serangan terhadap Taḳī al-Dīn al-Ik̲h̲nāʾī dan menjelaskan pandangannya tentang para wali.

Akhir Kehidupan

Saat Ibnu Taimiyah di penjara di Benteng Damaskus itu beliau jatuh sakit. Hingga akhirnya beberapa minggu kemudian, tepatnya pada hari Selasa malam Senin tanggal 20 atau 22 Dzulqadah 728 H (26 September 1328 M), beliau wafat pada usia 65 tahun.

Setelah berita duka ini sampai ke publik, setelah pihak berwenang memberi izin, ratusan ribuan orang datang untuk menunjukkan rasa hormat mereka. Mereka berkumpul di Benteng dan berbaris di jalan sampai ke masjid Umayyah.

Beliau dimakamkan di Maqbara Sufiyyah (kuburan para Sufi) Damaskus. Saudaranya Syarafuddin telah dimakamkan lebih dulu sebelum Ibnu Taimiyah.

Baca juga: Biografi Utsman Bin Affan, Seorang Kaya Yang Baik Hati

Murid-murdi Ibnu Taimiyah

Murid-murid Ibnu Taimiyah berasal dari latar belakang dan mazhab yang berbeda-beda. Di antara kemudian ada yang menjadi Cendekiawan Islam yang ulung.

Murid-murid beliau yang paling terkenal adalah Ibnu Qayyim Al-Jawziyya dan Ibnu Katsir. Ibnu Qayyim menulis puisi terkenal “Wahai Penyembah Kristus” yang meneliti dogma Trinitas yang dikemukakan oleh banyak sekte Kristen.

Ibnu Katsir menjadi cendekiawan berpengaruh yang menulis salah satu tafsir Al Qur’an yang paling terkenal, Tafsir Ibnu Katsir. Murid-murid Ibnu Taimiyah yang lain meliputi:

  • Al-Dhahabi
  • Al-Mizzi
  • Ibn Abd al-Hadi
  • Ibn Muflih
  • ʿImad al-Din Aḥmad al-Wasiti
  • Najm al-Din al-Tufi
  • Al Baʿlabakki
  • Al Bazzar
  • Ibn Qadi al-Jabal
  • Ibn Fadlillah al-Amri
  • Muhammad Ibn al-Manj
  • Ibn Abdus-Salam al-Batti
  • Ibn al-Wardi
  • Umar al-Harrani

Karya Tulis Ibnu Taimiyah

Dalam kehidupan awalnya, karyanya sebagian besar didasarkan pada teologi dan penggunaan akal dalam menafsirkan bukti-bukti tulisan suci, dengan karya-karya selanjutnya berfokus pada; bantahan terhadap logika Yunani, mempertanyakan praktik yang lazim saat itu, dan polemik anti-Kristen dan anti-Syiah.

Total karya Ibnu Taimiyah belum semuanya selamat dan karya-karyanya yang masih ada sebanyak tiga puluh lima jilid, tidak lengkap. Buku dan esai yang masih ada yang ditulis oleh ibnu Taimiyah meliputi:

Kompilasi Besar Fatwa (Majmu al-Fatwa al-Kubra) Ini dikumpulkan berabad-abad setelah kematiannya, dan berisi beberapa karya yang disebutkan di bawah ini – Tiga Puluh enam volume.

  • Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah (Jalan Sunnah Nabi) – Empat jilid.
  • a -Aqidah al-Waasitiyyah (Pengakuan Iman kepada Orang-orang Wasi )
  • Al-Jawāb al-Ṣaḥīḥ li-man baddala din al-Masīh (Secara harfiah, “Tanggapan yang Benar bagi mereka yang telah Merusak Agama Almasih) Tanggapan seorang teolog Muslim terhadap Kekristenan) – Tujuh volume.
  • Darʾ taʿāruḍ al-ʿaql wa al-naql (Menghindari Konflik antara Alasan dan Tradisi [agama])
  • al-Aqeedah Al-Hamawiyyah (Pengakuan Iman kepada Orang-orang Hama , Suriah)
  • al-Asma wa’s-Sifaat (Nama dan Sifat Allah) – Dua volume
  • Kitab al Iman (Kitab Tenents of Faith)
  • as-Sarim al-Maslul ‘ala Shatim ar-Rasul. Ditulis sebagai tanggapan atas insiden di mana Ibn Taymiyyah mendengar seorang Kristen menghina Muhammad.
  • Fatawa al-Kubra
  • Fatawa al-Misriyyah
  • ar-Radd ‘ala al-Mantiqiyyin (Sanggahan Para Ahli Logika)
  • Naqd at-Ta’sis (Kritik penggabungan)
  • al-Uboodiyyah (Singling of God in Worship)
  • Iqtida ‘as-Sirat al-Mustaqim’ (Mengikuti Jalan yang Lurus)
  • al-Siyasa al-shar’iyya (Kitab pemerintahan menurut syariah)
  • at-Tawassul wal-Waseela
  • Sharh Futuh al-Ghayb (Komentar tentang Penyingkapan yang Tak Terlihat oleh Abdul-Qadir Al-Jaelani)
  • al-Hisba fi al-Islam (The Hisba in Islam) – Sebuah buku tentang ekonomi

Banyak karya Ibnu Taimiyah dianggap hilang. Keberadaan mereka diketahui melalui berbagai laporan yang ditulis oleh para ulama sepanjang sejarah serta beberapa risalah yang ditulis oleh Ibnu Taimiyah sendiri.

Baca juga: Biografi Ali Bin Abi Thalib, Sang Singa Allah

Pengaruh Ibnu Taimiyah

Karya-karya Ibnu Taimiyah menjadi inspirasi bagi para cendekiawan Muslim dan tokoh sejarah kemudian, yang telah dianggap sebagai pengagum atau pengikutnya. Di dunia kontemporer, beliau dapat dianggap sebagai akar Wahhabisme dan gerakan reformis lainnya di kemudian hari.

Ibnu Taimiyah telah mempengaruhi Rashid Rida, Abul A`la Maududi, Sayyid Qutb, Hassan al-Banna, Abdullah Azzam, dan Osama bin Laden.

Ibnu Taimiyah merupakan salah satu penulis abad pertengahan yang paling berpengaruh dalam Islam kontemporer, di mana interpretasinya yang khusus tentang Al-Qur’an dan Sunnah dan penolakannya terhadap beberapa aspek tradisi Islam klasik diyakini memiliki pengaruh besar pada ideologi ultra-konservatif kontemporer seperti Wahhabisme, Salafisme dan Jihadisme.

Sungguh, aspek-aspek tertentu dari ajarannya memiliki pengaruh besar pada Muhammad ibn Abd al-Wahhab, pendiri gerakan Mazhab Hambali ekstrem yang dipraktikkan di Arab Saudi, dan oleh cendekiawan Wahabi lain yang belakangan, yang ditolak oleh madrasah Hambali ortodoks.

Ibnu Taimiyah dianggap oleh beberapa orang sebagai pemberi pengaruh utama di balik munculnya Salafisme.

Penutup

Selain pemikirannya yang kontroversial bahkan dianggap sesat dalam aqidah, akan tatapi Ibnu Taimiyah mempunyai banyak gagasan-gagasan menarik seperti dalam bidang tasawuf, fikih, atau tentang konsep maslahah yang menjadi salah satu tema dalam kajian Maqasid Syari’ah.

Ibnu Taimiyah merupakan ulama Mazhab Hambali abad pertengahan yang paling berpengaruh dan salah satu yang paling produktif di antara yang lainnya. Beliau juga seorang sarjana terkenal Islam yang pengaruhnya dirasakan tidak hanya selama masa hidupnya tetapi meluas selama berabad-abad hingga saat ini. Para pengikut Ibnu Taimiyah memberinya gelar kehormatan sebagai Syekh ul-Islam.

Di era pra-modern, Ibn Taymiyyah dianggap sebagai tokoh kontroversial dalam Islam Sunni dan memiliki sejumlah kritik selama hidupnya dan pada abad-abad sesudahnya. Ulama Mazhab Syafi’i, Ibnu Hajar al-Haytami menyatakan bahwa,

“Pastikan Anda tidak mendengarkan apa yang ada dalam buku-buku Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim al-Jawziyya dan orang-orang lain yang telah mengambil tingkah mereka sendiri sebagai Tuhan mereka, dan yang telah disesatkan oleh Tuhan, yang hatinya dan telinga telah disegel, dan yang matanya telah tertutup oleh-Nya … Semoga Tuhan meninggalkan orang yang mengikuti mereka, dan memurnikan bumi seperti mereka.”

Terlepas dari sikap kritisnya, salah satu murid langsung terakhir Ibnu Taimiyah, Ibnu Qadi al-Jabal mengatakan bahwa “Ibnu Taimiyah dulu memuji betapa luasnya pengetahuan al-Asy’ari dan akan mengutip karya-karyanya dalam pelajaran umumnya (al-majalis al-a’mma), khususnya al-Iba’na.” Beliau sangat memuji ulama Asy’ari seperti Imam Al-Ghazali.

Ibnu Taimiyah mengakui tarekat Qadiriyyah dan mengaku mewarisi khirqa (mantel spiritual) pendiri tarekat Qadiriyya, Syekh Abdu al-Qadir Al-Jaelani. Di antara referensi positifnya yang eksplisit tentang Sufisme dan tarekat Qadiriyya, Ibnu Taimiyah menyebut Al-Jaenali sebagai “Shaykhuna” (Syekh kami) dan “Sayyidi” (tuanku).

Beliau sangat memuji banyak Syaikh Sufi lainnya juga seperti Abu Yazid al-Bistami dan al-Junayd, dan bersusah payah menyatakan bahwa tasawuf bukanlah bid’ah.

Demikian uraian mengenai Biografi Ibnu Taimiyah, semoga berkenan.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir


0 Komentar

Tinggalkan Balasan