Syekh Ahmad Sirhindi adalah seorang ulama dan sufi besar India yang berjasa besar menyelamatkan umat Islam, kususnya di anak benua India dari upaya sinkretisme pada masa pemerintahan kaisar Mughal, Akbar. Sehingga atas jasanya itu beliau dianggap sebagai Mujaddid Alf-i Tsani (mujaddid milenium kedua Islam).

Awal Kehidupan

Syekh Ahmad Sirhindi lahir pada 26 Juni 1564 M (971 H) di Sirhind. Saat ini Sirhind-Fatehgarh adalah sebuah kota dan dewan kota di distrik Fatehgarh Sahib di negara bagian Punjab, India.  

Beliau terlahir dari keluarga terhormat dan taat beribadah. Ayahanda beliau, bernama Syekh Abdul Ahad, seorang sufi terkenal di zamannya.

Menurut pengakuan Syekh Ahmad Sirhindi sendiri, silsilahnya sampai kepada Khalifah Umar Bin Khattab radiallahu anhu. Sehingga beliau juga mendapat nama Al-Faruq

Masa Pendidikan

Syekh Ahmad Sirhindi menerima sebagian besar pendidikan dasarnya di rumah. Guru pertamanya adalah ayahanda beliau sendiri, Syekh Abdul Ahad, saudaranya, Muhammad Sadiq dan dari Muhammad Tahir Al-Lahuri.

Beliau mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mempelajari tafsir, hadits, kalam dan filsafat. Dari sejak usia dini beliau telah hafal Al-Qur’an.

Syekh Ahmad Sirhindi kemudian melanjutkan pendidikannya di Sialkot. Pada masa itu kota Sialkot merupakan salah satu pusat pendidikan Islam termasyhur. Salah satu cendikiawan terkenal masa itu, Kamaluddin Kashmiri yang berasal dari Kashmir.

Selama di Sialkot, Syekh Ahmad Sirhindi mempelajari ilmu mantik, filsafat dan kalam. Beliau lebih lanjut mendalami tafsir dan hadits di bawah cendikiawan lain dari Kashmir, Yaqub Sarfi Kashmiri, seorang syekh dari tarekat Hamadaniyah di bawah pimpinan Mir Sayyid Ali.

Syekh Ahmad Sirhindi juga belajar ilmu fiqih dan riwayat hidup Rasulullah saw dari Qazi Bahlol Badakhshani.

Syekh Ahmad Sirhindi juga medalami ajaran dan tradisi Suhrawardi, Qadiri dan Chisti.

Baca juga: Biografi Imam Jalaludin As-Suyuthi, Mujaddid Abad Ke-9 Hijriyah

Penghidmatan dalam Islam

Syekh Ahmad Sirhindi beberapa waktu lamanya beliau bekerja di kota Lahore. Tetapi kemudian sebagian besar hidupnya dihabiskan di Sirhind, di mana beliau mengabdikan hidupnya untuk kepentingan Islam.

Karena kemampuanya yang menonjol, pada umur 17 tahun beliau telah diberi izin untuk mengajar dan memiliki murid.

Pada tahun 1593, saat beliau berusia 36 tahun, beliau pergi ke Delhi untuk bergabung dengan tarekat Naqshbandiyah di bawah bimbingan seorang sufi terkenal, Khawaja Baqi Billah.

Beliau pun kemudian menjadi guru besar tarekat Naqsabandiyah. Kelak kemudian murid-muridnya menyebar ke seluruh kekaisaran Mughal untuk menyampiakan ajaran-ajarannya.

Memurnikan Ajaran Islam

Di masa kehidupan Syekh Ahmad Sirhindi, kondisi kaum Muslimin, khusunya di India sangat kekurangan dalam pengetahuan tentang Islam yang benar sehingga mereka lebih percaya pada karomah atau mukjizat orang-orang suci daripada ajaran Islam itu sendiri.

Sementara itu para ulama dan teolog pada waktu itu tidak lagi merujuk pada Quran dan Hadits dalam dakwah mereka, dan menganggap fiqih sebagai satu-satunya pengetahuan agama.

Di sisi lain Jalaluddin Muhammad Akbar, sebagai Maharaja Mughal berusaha untuk menyatukan kekaisarannya dengan cara membentuk sinkretisme (penyatuan ajaran dua agana), Islam dan Hindu yang dikenal Din-e-Ilahi. Akbar berusaha menggabungkan berbagai bentuk kepercayaan mistis dan praktik keagamaan dari banyak komunitas yang membentuk wilayah kerajaannya yang luas.

Dalam keadaan seperti itu, Syekh Ahmad Sirhindi bangkit untuk membela Islam. Beliau bertekad untuk memurnikan ajaran Islam dan mengembalikan kembali kaum Muslimin kepada ajaran Islam yang sebenaranya.

Beliau menghabiskan hidupnya dengan menyampaikan khotbah menentang kecenderungan Akbar dan penggantinya, Jahangir, menuju panteisme dan Islam Syiah.

Beliau juga berkorespondensi dengan para cendekiawan dan ulama Islam lainnya, menekankan kepada mereka untuk mengikuti ajaran Islam yang sebenarnya.

Baca juga: Biografi Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, Amirul Mu’minin Fil Hadist

Mengkritisi Ajaran Wihdatul Wujud

Syekh Ahmad Sirhindi juga sangat kritis terhadap filosofi Wahdat-ul Wujud, di mana beliau berupaya menggantinya dengan memberikan filosofi Wahdat-ush-Shuhud.

Baginya, tarikat tanpa syariah adalah menyesatkan. Beliau menekankan pentingnya shalat dan puasa. Melalui khotbah, diskusi dan maktubatnya (surat-suratnya) yang ditujukan kepada para bangsawan dan pemimpin pemikiran keagamaan yang penting, beliau juga menyebarkan pesannya di kalangan elit.

Merupakan salah satu kontribusi terbesar Syekh Ahmad Sirhidi adalah melawan tasawuf dan keyakinan tarekat yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Dalam menyanggah posisi kekuatan ekstrem Naqshbandiyah dari wihdat al-wujud (konsep kesatuan eksistensi Tuhan dan manusia), beliau mengembangkan gagasan wihdat ash-shuhud (konsep kesatuan visi).

Menurut doktrin ini, setiap pengalaman persatuan antara Allah dan dunia yang telah beliau ciptakan adalah murni subjektif dan hanya terjadi dalam pikiran orang yang percaya; ia tidak memiliki pasangan objektif di dunia nyata. Posisi sebelumnya, menurut Syekh Ahmad Sirhindi, mengarah pada panteisme, yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Konsep Syekh Ahmad Sirhindi tentang Wihdat-ush-Shuhud  berhasil memperbaharui tatanan tarikat Naqshbandiyah, yang mempertahankan pengaruhnya di antara umat Islam di India dan Asia Tengah selama beberapa abad sesudahnya.

Dihukum Penjara

Karena beliau dan para pengikutnya juga murid-muridnya berada di kamp dan pasukan kekaisaran, beliau segera diperhatikan oleh Nuruddin Muhammad Salim atau dikenal sebagai Jehangir, maharaja Mughal pengganti Akbar.

Jehangir, tidak seperti ayahnya, adalah seorang Muslim yang taat. Tapi ia masih bersikeras agar rakyatnya melakukan sembah sujud kepadanya saat bertemu dengannya.

Syekh Ahmad Sirhindi menolak untuk sujud di hadapannya, akibatnya beliau dipenjara di Benteng Gwalior selama dua tahun, hingga akhirnya maharaja Jehangir menyadari kesalahannya.

Jehangir kemudian tidak hanya membebaskan Syekh Ahmad Sirhind, tetapi juga memanggilnya kembali ke Agra. Jehangir kemudian mencabut semua aturan hukum yang bertentangan dengan ajaran Islam yang diterapkan oleh pendahulunya, Maharaja Akbar.

Baca juga: Biografi Syekhul Islam Ibnu Taimiyah

Akhir Kehidupan

Syekh Ahmad Sirhindi  terus menyampaikan ajaran Islam sampai akhir hayatnya. Beliau mendesak orang-orang untuk mematuhi jalan Islam yang benar dan ditetapkan dengan jelas.

Selain menyampaikan ceramah-ceramah dan mengajar beliau juga menulis banyak buku, termasuk karya-karyanya yang terkenal, Isbat-ul-Nabat dan Risal-i-Nabuwat. Karya terbesarnya pada filsafat Islam adalah Tauheed-i-Shuhudi.

Karya tulisnya yang lain, yaitu Maktubat (Surat), berisikan kompilasi surat-suratnya yang ditulis dalam bahasa Persia kepada teman-temannya di India dan wilayah utara Amu Darya. Melalui surat-surat ini, kontribusi utama Syekh Ahmad Sirhindi bagi pemikiran Islam dapat ditelusuri.

Hingga akhirnya Syekh Ahmad Sirhindi wafat pada tanggal 28 Safar 1034 H (10 Desember 1624 M). Beliau mencapai usia 63 tahun.

Beliau dimakamkan di kota kelahirnya, Sirhind. Saat ini makamnya yang dikenal sebagai Rauza Sharif masuk kedalam wilayah negara bagian Punjab, India.

Penutup

Karena ketokohan dan jasa-jasanya Syekh Muhammad Baqi Billah memberikan nama “Imam Rabbani” kepada Syekh Ahmad Sirhindi, sehingga julukan itu melekat dalam nama beliau.

Kemudian seorang ulama India, Abdul Hakim Sialkoti, memberi julukan kepadanya dengan nama “Mujaddid Alfi Tsani.” Karena beliau adalah seorang mujaddid (pembaru) pada seribu tahun yang kedua dari tahun Hijriyah.

Ada sebagian pihak memasukannya sebagai mujaddid abad ke-10 hijriyah tetapi ada juga pihak yang meyakininya sebagai mujaddid untuk abad ke-11 hijriyah.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir


3 Komentar

Warsono Daryo · 14 Juli 2020 pada 7:24 am

Artikelnya bagus2..bisa jadi referensi bagi yg suka buku2 dan sejarah.

    Muhammad Akram · 14 Juli 2020 pada 11:21 am

    Jazakumullah pak, semoga bermanfaat

    Muhammad Akram · 14 Juli 2020 pada 11:21 am

    Jazakumullah pak, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan