Biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, Seorang Ulama, Wali dan Sufi

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

syekh-abdul-qadir-al-jelani

Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani adalah seorang ulama fiqih yang sangat berpengaruh, seorang wali yang dimuliakan, sekaligus juga sebagaia sufi yang diagungkan.

Awal Kehidupan

Mengenai awal kehidupannya disebutkan bahwa, beliau lahir di Mazandaran, Distrik Gilan atau Jilan, Iran pada hari Rabu tanggal 1 atau 2 Ramadan di 470 H/1077 M. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan beliau dilahirkan pada tanggal 29 Sa’ban 470 H (23 Maret 1078 M) di kota Na’if, distrik Gilan-e Gharb, Gilan , Iran.

Banyak sekali penyebutan dan pelafalan nama dari Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. Seperti Abdul Qadir Gaylani, Abdel kader, Abdul Qadir, Abdul Khadir – Jilani, Jeelani, Gailani, Gillani, Gilani, Al Gilani, Keilany, Abdel Qader Gilany. Semuanya merujuk kepada satu orang yaitu, Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani.

Nama “Al-Jaelani” yang populer disematkan kepada Syekh Abdul Qadir merupakan nama distrik atau provinsi yang ada di Iran sebagai tempat beliau berasal.

Beliau lahir dari keluarga yang dikenal taat beragama. Ayah beliau, Abu Shalih merupakan seorang sufi. Sedangkan ibundanya, Fatimah binti Abdullah As-Sauma’i melahirkan Syekh Abdul Qadir pada usia 60 tahun, sehingga kelahiran Al-Jaelani dianggap sebagai “berkah Tuhan”.

Ibnul Imad, salah seorang sejarawan menyebutkan nasab beliau, yaitu Asy-Syekh Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan bin Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailani.

Sedangkan silsilah dari pihak ibundda beliau, bersambung hingga sampai kepada Imam Husain: Syekh Abdul Qodir bin Ummul Khair Fathimah binti Abdullah ‘Atha bin Mahmud bin Kamaluddin Isa bin Abi Jamaluddin bin Abdullah Sami’ Az-Zahid bin Abu Ala’uddin bin Ali Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainal ‘Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam

Syekh Sayyid Abdurrahman Jami mengatakan: “Ia adalah seorang Sultan yang agung, yang dikenal sebagial-Ghauts al-A’zham. Ia mendapat gelar sayyid dari silsilah kedua orang tuanya, Hasani dari sang ayah dan Husaini dari sang ibu”.

Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani menghabiskan masa kecilnya di Jaelan. Beliau juga mendapat pendidikan dasarnya di sana.

Baca juga: Biografi Imam Al-Ghazali, Mujaddid Abad Ke-5

Menuntut Ilmu di Baghdad

Pada tahun 488 H/1905 M, saat berusia 18 tahun Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Baghdad, Irak.

Beliau pergi ke Baghdad untuk tujuan belajar di Madrasah Nizhamiyah, yang waktu itu dipimpin Ahmad Al-Ghazali.

Madrasah Nizhamiyah di Baghdad itu sebelumnya dipimpin oleh Imam Al-Ghazali, namun kemudian beliau mengundurkan diri, dan menyerahkan jabatannya kepada abang beliau, yaitu Ahmad Al-Ghazali.

Sayangnya Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani tidak diterima di madrasah besar yang sangat populer dimasa itu.

Meskipun beliau tidak diterima di Madrasah Nizhamiyah, beliau tidak patah semangat.

Beliau kemudian belajar kepada beberapa ulama di Baghdad seperti Ibnu Aqil, Abul Khatthat, Abul Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Mukharrimi. Beliau belajar hadits kepada Abu Muhammad Ja’far al-Sarraj.

Dalam perjalanan hidupnya untuk mencari ilmu, beliau juga berguru kepada Abu Ghalib al-Baqillani, Ahmad bin Mudzaffar dan Abu Qasim bin Bayan.

Sedangkan untuk Instruktur sufinya, Syekh Abdul Qadir Al-Jelani mendapat bimbingan dari Abu’l-Khair Hammad ibn Muslim al-Dabbas.

Beliau belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh sehinga beliau dapat menguasai hingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani meninggalkan Baghdad. Kemudian, selama 25 tahun lamanya beliau mengembara di padang pasir Irak.  

Baca juga: Biografi Imam Bukhari, Amirul Muminin Fil Hadits

Menjadi Guru yang Termasyhur

Setelah itu beliau kembali ke Baghdad, dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk untuk menyampaikan dakwah dan mendidik umat Islam.

Salah satu guru beliau, Abu Sa’ad Al-Mukharrimi yang membangun madrasah di daerah Babul Azaj menyerahkan pengelolaan madrasah itu sepenuhnya kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani.

Dengan kepandaian dan keahliannya serta kesalehannya dalam memimpin madrasah, sehingga beliau pun disukai oleh murid-muridnya.

Karena ceramah-ceramahnya, beliau pun menjadi termayshur. Banyak orang yang bersimpati kepada beliau dan menjadi muridnya, sehingga madrasahnya pun kebanjiran murid.

Murid-muridnya kemudian banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti al Hafidz Abdul Ghani yang menyusun kitab Umdatul Ahkam Fi Kalami Khairil Anam dan Syeikh Qudamah, penyusun kitab fiqih terkenal al Mughni.

Sejak 521 H sampai wafatnya pada tahun 561 H beliau memimpin madrasah. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M).

Juga dipimpin anak kedua Syeikh Abdul Qadir, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Baghdad pada tahun 656 H/1258 M.

Baca juga: Biografi Imam Ahmad Bin Hambal atau Imam Hambali

Karya Tulis Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani

Imam Ibnu Rajab juga berkata, “Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani Rahimahullah memiliki pemahaman yang bagus dalam masalah tauhid, sifat-sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu ma’rifat yang sesuai dengan sunnah.”

Karya karyanya:

  • Tafsir Al Jilani
  • al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,
  • Futuhul Ghaib.
  • Al-Fath ar-Rabbani
  • Jala’ al-Khawathir
  • Sirr al-Asrar
  • Asror Al Asror
  • Malfuzhat
  • Khamsata “Asyara Maktuban
  • Ar Rasael
  • Ad Diwaan
  • Sholawat wal Aurod
  • Yawaqitul Hikam
  • Jalaa al khotir
  • Amrul muhkam
  • Usul as Sabaa

Murid-muridnya mengumpulkan segala yang berkaitan dengan nasihat dari majelis-majelis yang beliau adakan yang dikenal dengan Mukhtasar Ulumuddin.

Baca juga: Biografi Imam Syafii, Pendiri Mazhab Syafii

Pendapat Para Ulama tentang Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani

Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. al-Muqri’ Abul Hasan asy-Syathnufi al-Mishri (nama lengkapnya adalah Ali bin Yusuf bin Jarir al Lakhmi asy Syathnufi) yang mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam tiga jilid kitab.

Judul asli Kiab itu cukup panjang, yaitu Bahjatu Al-Asraar wa Ma’dinu Al-Anwar fi Ba’di Manaqib Al-Quthb Ar-Rabbani Abdul Qadir jailani.

Syeikh Ibnu Qudamah ketika ditanya tentang Syeikh Abdul Qadir menjawab, “Kami sempat berjumpa dengan dia di akhir masa kehidupannya. Ia menempatkan kami di sekolahnya. Ia sangat perhatian terhadap kami. Kadang dia mengutus putra dia yang bernama Yahya untuk menyalakan lampu buat kami. Ia senantiasa menjadi imam dalam salat fardhu.”

Al-Sam’ani berkata, “Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani adalah penduduk kota Jailan. Ia seorang Imam bermadzhab Hambali. Menjadi guru besar madzhab ini pada masa hidup dia.”

Imam Adz Dzahabi menyebutkan biografi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Siyar A’lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syeikh sebagai berikut, “Lebih dari lima ratus orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”

Imam Adz Dzahabi menukilkan perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani yang aneh-aneh sehingga memberikan kesan seakan-akan dia mengetahui hal-hal yang ghaib.

Kemudian mengakhiri perkataan, “Intinya Syeikh Abdul Qadir memiliki kedudukan yang agung, tetapi terdapat kritikan-kritikan terhadap sebagian perkataannya dan Allah ta’ala menjanjikan (ampunan atas kesalahan-kesalahan orang beriman). Namun sebagian perkataannya merupakan kedustaan atas namanya.”

Imam Adz Dzahabi juga berkata, ” Tidak ada seorangpun para kibar masyayikh yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi”.

Dalam mengomentari kitab kontroversial di atas, Ibnu Rajab Al-Hambali menegaskan: “Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan yang dia dengar”, demikian kata Imam Ibnu Rajab. “Aku telah melihat sebagian kitab ini, tetapi hatiku tidak tentram untuk berpegang dengannya, sehingga aku tidak meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Karena kitab ini banyak berisi riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal. Juga terdapat perkara-perkara yang jauh dari agama dan akal, kesesatan-kesesatan, dakwaan-dakwaan dan perkataan yang batil tidak berbatas, seperti kisah Syeikh Abdul Qadir menghidupkan ayam yang telah mati, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani rahimahullah.”

Kemudian didapatkan pula bahwa al Kamal Ja’far al Adfwi (nama lengkapnya Ja’far bin Tsa’lab bin Ja’far bin Ali bin Muthahhar bin Naufal al Adfawi), seorang ulama bermadzhab Syafi’i. Ia dilahirkan pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 685 H dan wafat tahun 748 H di Kairo. Biografi dia dimuat oleh al Hafidz di dalam kitab Ad Durarul Kaminah, biografi nomor 1452. al Kamal menyebutkan bahwa asy-Syathnufi sendiri tertuduh berdusta atas kisah-kisah yang diriwayatkannya dalam kitab ini.

Baca juga: Biografi Umar Bin Abdul Aziz, Sang Mujaddid Abad Pertama

Keistimewaan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani

Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani adalah seorang besar yang diagungkan pada masanya. Beliau adalah seorang ulama ahli fiqih Mazhab Hambali. Beliau juga seorang teolog terkemuka.

Beliau merupakan wali yang sangat dihormati yang menyandang gelar sulthanul auliya (raja para Wali). Juga mendapat gelar sebagai Al-Ghauts Al-A’zham Syekh Abdul Qodir Al-Jilani Amoli.

Beliau dikenal sebagai tokoh sufi besar, ahli tasawuf yang dianggap sebagai pendiri dari Tariqat Qadiriyya. Sebuah jamaah tariqat yang diambil dari namanya sendiri.

Tarikat ini didirikan oleh beliau dan berpusat di Baghdad yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia hingga sampai di Indonesia.

Karena pengaruh dan jasa-jasanya yang besar terhadap Islam di masanya, sehingga Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani diyakini sebagai salah satu Mujaddid pada abad ke-6 hijriyah.

Baca juga: Biografi Utsman Bin Affan, Seorang Kaya Yang Baik Hati

Akhir Kehidupan Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani

Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani wafat pada hari Sabtu malam, setelah magrib, pada tanggal 11 Rabiul Akhir 561 H/1166 M. Ada juga yang berpendapat beliau wafat pada hari Senin, 11 Rabi ‘al- Thani 561 H/21 Februari 1166, di daerah Babul Azaj, Baghdad. Mencapai usia 91 tahun.

Beliau dimakamkan di sebuah bangunan khusus di madrasahnya di Babul-Sheikh, Rusafa di tepi timur sungai Tigris, Baghda, Irak.

Selama masa pemerintahan Shah Ismail I Safawi, bangunan tempat makam beliau dihancurkan. Namun, pada 1535, masa pemerintahan Turki Utsmani, Suleiman membangun kembali makam Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, yang masih berdiri hingga saat ini.

Ulang tahun dan kematian perayaan ulang tahun Di anak benua India , urs-nya , atau peringatan mati, disebut Giyarwee Shareef , atau Hari Terhormat.

Demikianlah biografi tentang seorang tokoh yang mulia, Seykh Abdul Qadir Al-Jaelani. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir


2 Komentar

Sonny Majid · 16 Juli 2020 pada 7:52 pm

Izin share ya…

    Muhammad Akram · 16 Juli 2020 pada 7:35 pm

    Dengan senang hati, silahkan Mas…

Tinggalkan Balasan