Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir, ini merupakan tulisan yang ringkas dan amat sederhana tentang seorang manusia yang paling mulia yang pernah dilahirkan ke dunia.

Tidak mungkin tulisan yang singkat ini dapat mengungkap kehidupan Rasulullah salallahu alaihi wa sallam (saw) yang demikian luas dan berpengaruh bagi kehidupan umat manusai sepanjang masa. Oleh karena itu saya mohon ampun dan mohon perlindungan dari Allah Ta’ala atas segala kelemahan dan kekurangan saya.

Masa Kelahiran

Nabi Muhammad lahir di Mekkah, pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 570 M. Bertepatan dengan peristiwa penyerangan Kab’ah yang dilakukan oleh Abrahah bersama pasukan gajahnya, sehingga masa itu dikenal sebagai Tahun Gajah. Ada juga ahli sejarah yang menyebutkan beliau lahir tanggal 9 Rabiul Awal.

Beliau berasal dari Bani Hasyim, suku Quraisy yang mewarisi silsilah terhormat di Mekkah. Ayah beliau, Abdullah meninggal enam bulan sebelum kelahirannya.

Beliau diasuh dan disusui oleh Halimah binti Abi Dhuayb di kampung Bani Saad dekat Taif selama dua tahun. Setelah itu, beliau dikembalikan untuk diasuh kepada budak Ummu Aiman. Cara seperti itu merupakan tradisi orang Arab dimasa itu.

Pada usia Nabi Muhammad enam tahun, ibunda beliau, Aminah wafat dalam perjalanan dari Medinah ke Mekkah, dan harus dikebumikan di perjalanan. Beliau kemudian dibawa ke Mekkah oleh seorang pelayan, lalu menyerahkannya kepada kakeknya Abdul Muthalib.

Ketika beliau berumur delapan tahun, kakek pun meninggal. Maka paman beliau, Abu Thalib menjadi pemeliharanya sebagai amanat terakhir kakeknya.

Masa Dewasa

Nabi Muhammad dua-tiga kali mendapat kesempatan mengadakan perjalanan keluar Arabia. Di antaranya, beliau pada usia dua belas tahun ikut serta dengan Abu Thalib, pergi ke Siria. Kemungkinan, perjalanan ini hanya sejauh kota-kota sebelah Tenggara Siria (Suriah), sebab dalam catatan sejarah perjalanan itu tidak disebut nama-nama tempat seperti kota Yerusalem.

Mulai saat itu sampai tumbuh dewasa beliau tetap tinggal di Mekkah. Dari masa kanak-kanak beliau biasa bertafakkur dan berkhalwat. Dalam pertengkaran dan permusuhan antar orang-orang lain beliau tak pernah ikut campur, kecuali dengan tujuan mendamaikan mereka.

Diriwayatkan bahwa suku-suku Mekkah dan sekitarnya, karena jemu mengalami pertumpahan darah yang berlarut-larut, mengambil keputusan untuk mendirikan suatu perkumpulan dengan tujuan memberikan pertolongan dan perlindungan kepada korban perlakuan aniaya dan tidak adil. Ketika beliau mendengar adanya usaha itu, segera beliau dengan gembira menggabungkan diri.

Menikah Dengan Khadijah

Ketika Nabi Muhammad berusia kira-kira 25 tahun, kejujuran dan peri kemanusiaannya telah termashur di seluruh kota. Penduduk Mekkah sering berbeda pendapat, tetapi mengenai Muhammad mereka sepakat menjuluki beliau sebagai Al Amin (yang terpercaya). Dengan rasa kagum orang akan menunjuk dan berkata itulah orangnya yang benar-benar dapat dipercaya.

Nama baik itu sampai kepada telinga Khadijah, seorang janda kaya yang kemudian menghubungi paman beliau, Abu Thalib, untuk menyuruh kemenakannya memimpin kafilah dagang ke Siria.

Perjalanan dagang itu mendapat sukses besar dan membawa keuntungan yang di luar dugaan. Khadijah, yakin bahwa sukses kafilah itu tidak hanya disebabkan oleh keadaan pasar di Siria, tetapi juga karena pemimpinnya, Muhammad.

Khadijah yang telah berusia 40 tahun dan telah dua kali menjadi janda, ia mengirim sahabat karibnya untuk menyelidiki apa Muhammad bersedia mengawininya.  Beliau pun menyetujui tawaran itu. Perjanjian telah diterima oleh semua pihak dan pernikahan diselenggarakan dengan resmi.

Seorang pemuda miskin yang telah yatim sejak kanak-kanak, telah menjadi kaya. Tetapi cara menggunakan kekayaannya merupakan suatu contoh dan pelajaran bagi seluruh umat manusia.

Setelah menikah, Siti Khadijah merasa bahwa beliau kaya dan sang suami miskin. Perbedaan harta milik antara suami-istri tidak akan membawa kebahagiaan. Oleh karena itu, ia mengambil keputusan menyerahkan harta-benda dan semua budaknya kepada suaminya.

Segera setelah beliau menerima budak-budak Khadijah, mereka dimerdekakan. Dan bagian terbesar dari harta-benda yang diterima beliau dari Khadijah dibagi-bagikan kepada kaum fakir miskin.

Baca juga: Haji Wada Dan Pesan Terakhir Rasulullah

Menjadi Utusan Allah

Muhammad dari sejak mudan suka menyendiri, beliau biasa bertafakur dan berdoa di gua Hira di puncak sebua bukit, dikenali sebagai Jabal An Nur, sekitar 6 km sebelah timur kota Mekkah.

Kebiasaan itu terus berlanjut hingga beliau menikah. Khadijah biasa menyediakan perbekalan untuk beberapa hari di gua Hira.

Saat beliau berusia 40 tahun, dalam gua itu beliau melihat kasyaf (penglihatan ghaib). Beliau melihat suatu wujud yang memerintahkan kepada beliau membaca. Beliau menjawab, tidak mengetahui apa yang harus dibaca dan bagaimana harus membacanya. Wujud itu memaksa dan akhirnya beliau terpaksa membaca ayat-ayat berikut:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” —QS. Al-‘Alaq: 1-5

Ayat-ayat ini mengandung arti yang sangat hebat, memerintahkan Rasulullah saw bangkit dan siap sedia mengumumkan nama Tuhan Yang Maha Esa.

Ketika Rasulullah saw menerima wahyu ini, beliau sangat takut dan gelisah atas kewajiban yang Tuhan telah memutuskan untuk meletakkannya pada pundak beliau. Orang lain dalam keadaan beliau pada saat itu akan diliputi oleh kebanggaan dan besar kepala. Ia akan merasa dirinya telah menjadi orang besar. Tidak demikian Rasulullah saw. Beliau dapat mencapai hal-hal yang luhur, tetapi dalam keberhasilannya tidak menjadi sombong.

Sesudah mendapatkan pengalaman yang maha hebat itu, beliau pulang ke rumah dalam keadaan sangat gelisah. Atas pertanyaan Khadijah, beliau mengisahkan seluruh pengalaman beliau: “Seorang lemah seperti aku ini, betapa aku dapat melaksanakan tugas yang hendak diletakkan Tuhan di atas pundakku.” Khadijah segera menjawab:

“Demi Allah, Dia tidak menurunkan firman-Nya supaya engkau gagal dan terbukti tidak layak, kemudian meninggalkan engkau. Betapa mungkin Tuhan berbuat demikian, sedang engkau baik dan ramah terhadap sanak-saudara, menolong si miskin dan terlantar dan meringankan beban mereka? Engkau menghidupkan kembali nilai-nilai baik yang telah lenyap dari negeri kita. Engkau perlakukan tamu-tamu dengan hormat dan membantu orang-orang yang berada dalam kesusahan. Dapatkah engkau dimasukkan oleh Tuhan ke dalam suatu cobaan?” (HR. Bukhari).

Khadijah membawa Rasulullah saw kepada kemenakannya, bernama Waraqa bin Naufal, seorang beragama Kristen. Ketika Waraqa mendengar cerita itu ia berkata: “Malaikat yang turun kepada Musa, aku yakin, telah turun pula kepada engkau.” (HR. Bukhari).

Menjadi Nabi Dan Rasul

Peristiwa agung itu terjadi kira-kira tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 611 M, sebagai tonggak dasar diutusnya beliau sebagai nabi dan rasul Allah. Sehingga kemudian beliau dikenal sebagaia Nabi Muhammad atau Rasulullah salallahu alaihi wa sallam (saw).

Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah untuk menjadi nabi bagi seluruh umat manusia, sedangkan nabi dan rasul sebelumnya hanya diutus untuk umatnya masing-masing, seperti halnya Nabi Musa yang hanya diutus untuk Bani Israil saja.

Beliau saw nabi pembawa syariat terakhir yang diutus oleh Allah Ta’ala, setelah beliau saw tidak akan datang lagi nabi yang membawa syariat baru atau ajaran baru.

Syariat yang beliau bawa yaitu syariat Islam, dengan kitab sucinya Al-Qur’an yang berlaku hingga akhir masa.

Baca juga: Rasulullah Tabligh Ke Taif Dengan Penuh Keberanian Dan Keagungan

Tabligh Islam di Mekkah

Selama tiga tahun pertama sejak pengangkatannya sebagai rasul, Muhammad hanya menyebarkan Islam secara terbatas di kalangan teman-teman dekat dan kerabatnya, hal ini untuk mencegah timbulnya reaksi akut dan masif dari kalangan bangsa Arab saat itu yang sudah sangat terasimilasi budayanya dengan tindakan-tindakan amoral, yang dalam konteks ini bertentangan dengan apa yang akan dibawa dan ditawarkan oleh Muhammad.

Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad pada masa-masa awal adalah para anggota keluarganya serta golongan masyarakat awam yang dekat dengannya di kehidupan sehari-hari, antara lain Khadijah, Ali, Zaid bin Haritsah dan Bilal.

Namun pada awal tahun 613, Muhammad mengumumkan secara terbuka agama Islam. Setelah sekian lama banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Amr bin Nufail yang kemudian masuk ke agama yang dibawa Muhammad. Kesemua pemeluk Islam pertama itu disebut dengan As-Sabiqun al-Awwalun atau Yang pertama-tama.

Muhammad mulai melakukan penyebaran Islam secara terbuka kepada masyarakat Mekkah, respons yang ia terima sangat keras dan masif. Ini disebabkan karena ajaran Islam yang dibawa olehnya bertentangan dengan apa yang sudah menjadi budaya dan pola pikir masyarakat Mekkah saat itu.

Pemimpin Mekkah Abu Jahal menyatakan bahwa Muhammad adalah orang gila yang akan merusak tatanan hidup orang Mekkah. Akibat penolakan keras yang datang dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah dan kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin Quraisy yang menentangnya, Muhammad dan banyak pemeluk Islam awal disiksa, dianiaya, dihina, disingkirkan, dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat Mekkah.

Walau mendapat perlakuan tersebut, ia tetap mendapatkan pengikut dalam jumlah besar.

Penyiksaan yang dialami hampir seluruh pemeluk Islam selama periode ini mendorong lahirnya gagasan untuk berhijrah (pindah) ke Habsyah (sekarang Ethiopia). Negus atau raja Habsyah, seorang Kristen yang adil, memperbolehkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di Mekkah.

Muhammad bersama pengikut awal mendapati berbagai bentuk perlawanan dan penyiksaan dari beberapa suku Mekkah. Seiring penganiayaan yang terus berlanjut, Muhammad membenarkan beberapa pengikutnya hijrah ke Habsyah.

Karena mendapat penolakan dari penduduk Mekkah, Rasulullah saw kemudian menyampaikan tabligh Islam di Taif, penjelasan lengkapnya dapat dibaca di sini.

Rasulullah saw berharap mereka menerimanya. Namun amat disayangkan, seperti halnya kaum Mekkah, mereka juga menolaknya.

Hal itu membuat beliau saw bersedih dan kecewa namun beliau tetap bersabar. Beliau kembali ke Mekkah dan mengajak kaumnya untuk beriman.

Baca juga: Ekspedisi Tabuk, Kegagalan Kaum Munafik Dan Keberhasilan Islam

Hijrah Ke Madinah

Sesuai dengan petunjuk dari Allah Ta’ala, Rasulullah saw memerintahkan umat Islam untuk hijrah ke Madinah. Sedianya ini bukan hijrah yang pertama, sebelumnya sekelompok umat Islam pernah hijrah ke Habsyi.

Kali ini, seluruh umat Islam, baik laki-laki, kaum wanita, orang tuan, anak-anak, mereka semuanya meninggalkan kampung halaman mereka, meninggalkan rumah dan harta benda mereka, demi mengutamakan agama dan keimanan mereka.

Keluarga demi keluarga mulai menghilang. Kadang-kadang seluruh lorong menjadi kosong dalam jangka waktu satu malam saja. Pada pagi hari kaum Mekkah mendapatkan pintu-pintu terkunci dan mengetahui bahwa penghuninya telah hijrah ke Medinah. Pengaruh Islam yang bertambah besar itu menjadikan mereka tercengang keheranan.

Akhirnya, tidak ada seorang Muslim pun tinggal di Mekkah kecuali beberapa budak yang telah bai’at, Rasulullah saw, Abu Bakar dan Ali. Kaum Mekkah mengetahui bahwa mangsa mereka ini pun akan lolos juga. Para pemimpin berkumpul dan mengambil keputusan harus membunuh Rasulullah saw.

Tampak ada suatu rencana istimewa Tuhan, tanggal yang mereka tetapkan untuk membinasakan beliau saw adalah tanggal yang ditetapkan oleh Tuhan untuk beliau lolos. Ketika kaum Mekkah berkumpul dihadapan rumah Rasulullah saw dengan maksud membunuh beliau, Rasulullah saw menyelinap keluar di kegelapan malam.

Mereka maju dengan sangat hati-hati dan ketika Rasulullah saw berlalu, mereka menyangka beliau orang lain. Dan ketika mereka masuk ke dalam rumah, ternyata yang terdapat di kamar Rasulullah saw adalah Ali ra.

Rasulullah saw bersama sahabat Abu Bakar ra meninggalkan Mekkah serta mencari perlindungan di gua Tsaur, kira-kira tiga atau empat mil dan Mekkah, terletak di atas sebuah bukit.

Ketika kaum Mekkah mengetahui tentang lolosnya Rasulullah s.a.w., mereka berkumpul dan mengirim satu pasukan untuk mengejar para pelarian itu. Dipimpin oleh seorang pencari jejak, mereka tiba di Tsaur. Sambil berdiri di muka lubang itu, tempat Rasulullah s.a.w. dan Abu Bakar menyembunyikan diri, pencari jejak itu berkata bahwa Muhammad ada di dalam gua atau telah naik ke langit. Abu Bakar mendengar ucapan itu dan hatinya ciut. “Musuh hampir dapat menangkap kita”, bisiknya. “Jangan takut, Tuhan beserta kita”, jawab Rasulullah saw “Saya tak takut akan diriku sendiri tetapi takut akan keselamatan engkau. Sebab, jika aku mati, aku hanya seorang manusia biasa; tetapi jika engkau mati, itu berarti matinya agama dan semangat” (Zurqani).

“Walaupun demikian, jangan takut”, Rasulullah saw meyakinkan. “Kita bukan berdua dalam gua ini. Ada wujud yang ketiga: Tuhan” (HR. Bukhari).

Akhirnya dengan pertolongan Allah Ta’ala, Rasulullah saw dan Abu Bakar selamat sampai di Madinah. Peristiwa itu terjadi pada tahun 622 M.

Perjuangan Rasulullah Selama Di Madinah

Sesampainya Rasulullah saw di Madinah, penduduknya menerima beliau saw dengan penuh suka cita, mereka dengan suka rela menerima kebenaran Islam. Namun diantara mereka terdapat orang-orang munafik, ada segolongan yang menggabungkan diri, tetapi di dalam hati mereka itu bukan-Muslim.

Anggota-anggota golongan itu menjalankan segi peranan yang gelap dan jahat dalam sejarah berikutnya. Beberapa dari antara mereka menjadi orang Muslim yang mukhlis. Orang-orang yang lainnya tetap tidak bersungguh-sungguh dan terus-menerus berbuat curang terhadap Islam dan kaum Muslimin. Beberapa lainnya sama sekali tidak mau menggabungkan diri. Tetapi, mereka tidak dapat bertahan terhadap pengaruh Agama Baru yang kian berkembang itu. Maka itu mereka pindah dari Medinah ke Mekkah. Medinah menjadi kota Muslim.

Sementara itu kaum kufar Mekkah juga tidak membiarkan Rasulullah saw dan umat Islam hidup tenang, mereka berusaha untuk menyerang Madinah sehingga terjadi beberapa peperangan yang menetukan antara kaum kufar Makkah dengan umat Islam di Madinah. Diantaranya Perang Badr, Uhud dan Khandak.

Rasulullah saw dan para Sahabat beliau banyak mengalami kesushaan dan penderitaan dalam menghadapi ujian-ujian berat dalam membela dan berjuang di jalan Allah Ta’ala hingga banyak dari anatar mereka yang syahid.

Namun pada akhirnya kebenaran dapat mengalahkan kebatilan. Rasulullah saw dan umat Islam meraih keunggulan.

Tahun ke-8 H atau 629 M, , Rasulullah saw beserta 10.000 pasukan Islam berangkat ke Mekkah. Makkah dikuasai oleh Islam tanpa pertumpahan darah, kemenangan Islam yang gemilang itu dikenal sebagai Fatah Makkah. Tentang peristiwa Fatah Mekkah dapat dibaca di sini.

Akhirnya Rasulullah saw berhasil menjalankan misinya, sebagian besar Arabiya telah menerima Islam. Dan pada akhirnya nanti Islam dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.

Baca juga: Perang Hunain, Bukti Kebenaran Dan Keagungan Rasulullah

Data Keluaraga

Rasulullah saw tercatat menikahi berapa orang wanita lagi hingga jumlah seluruhnya sekitar 12 orang, sembilan di antaranya masih hidup sepeninggal beliau saw. Mereka wanit-wanita terhormat dan mulia, dikenal sebagai Umahatul Mu’mini (para ibu kaum beriman), yaitu:

  1. Khadijah binti Khuwailid
  2. Saudah binti Zam’ah
  3. Aisyah binti Abu Bakar
  4. Hafshah binti Umar
  5. Zainab binti Khuzaimah
  6. Ummu Salamah
  7. Juwairiyah Binti Al Harits
  8. Zainab binti Jahsy
  9. Ummu Habibah
  10. Maymunah binti Harits
  11. Shafiyah binti Huyay
  12. Mariyah Al-Qibthiyah

Sedangkan nama-nama putra-putri beliau adalah

  1. Qasim
  2. Zaynab
  3. Abdullah
  4. Ruqayyah
  5. Ummu Kultsum
  6. Fatimah
  7. Ibrahim

Putra-putra beliau saw wafat sejak dari bayi.

Ciri-ciri Fisik

Dalam berbagai keterangan disebutkan bahwa Rasulullah saw berperawakan sedang, berkulit putih kemerahan, berjanggut tipis, dan digambarkan memiliki fisik yang sehat dan kuat oleh orang di sekitarnya.

Kemudian disebutkan bahwa beliau memiliki mata yang hitam, berjanggut sedang, serta memiliki hidung bengkok yang sesuai dengan ciri antropologis bangsa Semit pada umumnya.

Rasulullah saw Wafat

Pada bulan Juni 632 M, beberapa bulan setelah kembali ke Madinah usai menjalani Haji Wada, Rasulullah saw jatuh sakit. Beliau sakit saat berada di rumah Maimunah rah namun kemudian meminta pindah ke rumah Aisyah rah.

Setelah sebelumnya mengalami demam dan beberapa kali pingsan, dia meminta kepada Abu Bakar untuk menggantikannya mengimami jamaah. Beliau akhirnya menghembuskan nafas yang terkahir dalam pangkuan Aisyah rah dan jenazahnya dikebumikan di kamar Aisyah rah.

Kewafata beliau saw menyebabkan duka yang besar bagi kaum Muslimin. Banyak yang mengungkapkan kesedihan yang menimpa kaum Muslimin pada waktu wafat Rasulullah saw, tetapi ungkapan yang diungkap Hassan, ahli syair di masa permulaan Islam, dalam bait-bait syairnya adalah paling mengena lagi mendalam kesannya, dan sampai hari ini tetap merupakan ungkapan yang terindah lagi abadi.

Ia mengatakan, “Engkau adalah biji mataku. Sekarang, setelah engkau mati, mataku telah menjadi buta. Sekarang aku tak memperdulikan lagi siapa yang mati. Sebab, hanya tibanya kematian engkau juga yang kukhawatiri. “

Bait ini menyambung rasa tiap-tiap orang Muslim. Berbulanbulan lamanya di lorong-lorong Medinah, pria, wanita, maupun anakanak, menyenandungkan syair Hassan bin Tsabit ini sambil mengayunkan langkah mereka.

Baca juga:

Nabi Muhammad by
mtaOnline1


0 Komentar

Tinggalkan Balasan