Biografi Imam Bukhari, Amirul Muminin Fil Hadits

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

imam-bukhari

Imam Bukhari telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk menghapal dan mengumpulkan hadits. Karyanya, Sahih Bukari, kitab kumpulan hadits yang terbaik dan paling banyak digunakan hingga saat ini. Sehingga beliau dijuluki sebagai Amirul Mu’minin fil Hadits (pemipin orang-orang beriman dalam hadits).

Riwayat Hidup

Nama lengkapnya Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari, panggilannya Abu Abdillah, kemudian dikenal sebagai Imam Bukhari. Beliau lahir di Bukhara, pada hari Jumat 13 Syawal 194 H atau 21 Juli 810.

Bukhara merupakan kota yang terletak di sebelah tengah Uzbekistan. Berabad-abad lamanya berada di bawah kekuasaan Persia. Kota ini mengalami masa kejayaannya pada abad ke-9 M sampai abad ke-13 M sebagai pusat peradaban Islam dan perdagangan di Asia Tengah, selain Samarkand.

Pada tahun 1220 M, tentara Mongol, di bawah pimpinan Jenghis Khan menaklukkan Bukhara dan membakar kota tersebut, sehingga Bukhara tidak pernah bangkit lagi sebagai pusat peradaban dan perdagangan.

Imam Bukhari berasal dari Persia, dimana kakek buyut beliau, al-Mughirah, menetap di Bukhara setelah menerima Islam di tangan gubernur Bukhara. Sedangkan ayah Al-Mughirah, Bardizbah, beragama Majus  atau Zoroaster, agama bangsa Persia.

Ayahanda Imam Bukhari, Ismail bin Ibrahim adalah seorang ulama hadits bermadzhab Maliki dan murid dari Imam Malik. Ayahandanya itu wafat ketika Imam Bukhari masih kecil.

Sewaktu kecil Imam Bukhari sakit mata, sehingga beliau mengalami kebutaan namun dengan karunia Allah Ta’ala beliau sembuh dari sakitnya itu sehingga penglihatannya kembali.

Menimba Ilmu

Imam Bukahri dari sejak anak-anak, sudah terlihat bakat dan kecerdasannya. Beliau memiliki daya ingat yang luar biasa kuat. Hanya dengan sekali mendengar saja beliau sanggup menghapal sebuah hadits lengkap dengan rangkaian sanadnya.

Imam Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, seorang ulama ahli hadits yang termasyhur saa itu di Bukhara.

Pada usia 10 tahun, Imam Bukhari telah banyak menghafal hadits. Bahkan dalam usia 11 tahun, beliau mampu mengoreksi gurunya karena keliru menyebutkan sanad sebuah hadits.

Saat berusia 16 tahun Imam Bukhari bersama ibunda dan saudaranya, Ahmad melaksanakan ibadah haji ke Mekkah. Setelah itu beliau tidak kembali ke kampung halamannya, melainkan beliau menetap di Makkah dan Madinah. Di sana beliau menimba ilmu dari para ulama Hijaz.

Usia 16 tahun beliau mampu menghafal karya-karya imam Ibn al Mubarak dan Imam Waki’.

Usia 18 tahun, beliau telah menyusun fatwa para sahabat, tabiin dan pendapat- pendapat mereka. Beliau juga menyusun kitab tarikhnya di samping makam Rasulullah saw di tengah malam hari.

Beliau berbicara dengan para ulama dan bertukar informasi tentang hadits. Dikatakan bahwa dia mendengar dari lebih dari 1.000 orang, dan mempelajari lebih dari 600.000 tradisi.

Bersama gurunya Syekh Ishaq, menghimpun hadis-hadis shahih dalam satu kitab setelah menyaring dari satu juta hadis yang diriwayatkan 80.000 perawi menjadi 7275 hadis.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Mengumpulkan Hadits

Setelah berguru kepada para ulama di Makkah dan Madinah, Imam Bukhari kemudian mengembara ke berbagai kota pusat pengetahuan Islam lainnya, seperti ke Bashrah, Mesir, Kufah dan Baghdad, Syam, Balkh, Marwa, Naisabur dan Ray.

Enam belas tahun lamanya beliau mendatangi para perawi hadits di berbagai kota. Menempuh perjalanan yang jauh dan penuh kesukaran, bahkan hingga berkali-kali mengunjungi kota yang sama.

Imam Bukhari mengatakan “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali; ke Basrah empat kali, menetap di Hijaz selama enam tahun, dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Imam Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits beliau berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh.

Beliau mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits, penuh kesungguhan dan sangat hati-hati. Sehingga beliau benar-benar mendapatkan kepastian tentang kesahihan hadits-hadits tersebut.

Hasilnya, Imam Bukhari dapat mengumpulkan 600 ribu hadits. 300 ribu diantaranya beliau hafal, termasuk matan dan para perawinya sekaligus. 

Tidak semua hadits yang beliau hafal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan sangat ketat. Apakah sanad (riwayat) dari hadis tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat) hadits itu tepercaya dan tsiqqah (kuat).

Di antara guru-gurunya dalam memperoleh hadis adalah Imam Ahmad bin Hambal, Ali ibn Al Madini, Yahya bin Ma’in, Muhammad ibn Yusuf Al Faryabi, Maki ibn Ibrahim Al Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al Baykandi dan ibnu Rahawaih.

Sementara yang menjadi murid-murid beliau yang terkenal, seperti, Imam Muslim, Imam Tirmizi, Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan masih banyak yang lainnya lagi.

Imam Muslim pernah mendatangi Imam Bukhari dan berkata ”Biarkan aku mencium kedua kakimu wahai gurunya para guru, tuannya para ulama hadits, dokternya hadits dalam menghilangkan illat di dalamnya.”

Baca juga: Biografi Umar Bin Abdul Aziz, Sang Mujaddid Abad Pertama

Sahih Bukhari

Setelah mengembara ke berbagai kota, berguru dan mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah saw, Imam Bukhari akhirnya kembali ke Bukhara.

Di kampung halamannya itulah beliau menyusun karya monumentalnya, al-Jami ‘as-Sahih atau terkenal sebagai Sahih Bukhari. Kitab Sahihnya ini beliau rampungkan penyusunanya dan diterbitkan pada abad ke-9, sekitar tahun 232 H atau 846 M.

Dalam menyusun kitabnya itu Imam Bukhari menggunakan kriteria yang sangat ketat dalam menyeleksi hadits. Beliau menghabiskan waktu 16 tahun untuk menyusun koleksi ini dan menghasilkan 2.602 hadis dalam kitabnya (9.802 dengan perulangan).

Imam Bukhari hanya memasukan hadits-hadits yang sahih saja kedalam kitabnya itu. Diceritakan bahwa, setiap Imam Bukhari akan menulis sebuah hadits, beliau terlebih dahulu mandi dan shalat dua rakaat terlebih dahulu.

Imam Bukhari hanya memilih hadits yang status perawinya (Rijal al-Hadis) tidak dikomentari jelek oleh para pakar hadis. Utamanya dalam hadis yang berkaitan dengan akidah atau dasar Islam. Kalaupun ada, tetapi komentar itu tidak berpengaruh.

Kemudian, beliau menekankan perihal Ittishal as-Sanad (ketersambungan sanad) dimana seorang murid mendengar langsung dari gurunya atau paling tidak bertemu walaupun hanya sekali. Beliau tidak mencantumkan hadits mu’an’an (hadits yang di dalamnya ada perawi tidak dikenal). Kecuali jika berasal dari seorang perawi yang terbukti secara kuat telah mendengar dari gurunya.

Sahih Bukhari menjadi kitab yang paling dipercaya setelah Al-Qur’an dan menempati urutan pertama dari Kutubu Sittah (6 kitab hadits yang palaing sahih).

Baca juga: Biografi Imam Ahmad Bin Hambal atau Imam Hambali

Karya Imam Bukhari

Selain Al-Jami’ ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari,

Al-Adab al-Mufrad

Adh-Dhu’afa ash-Shaghir

At-Tarikh ash-Shaghir

At-Tarikh al-Ausath[3]

At-Tarikh al-Kabir

At-Tafsir al-Kabir

Al-Musnad al-Kabir

Kazaya Shahabah wa Tabi’in

Kitab al-Ilal

Raf’ul Yadain fi ash-Shalah

Birr al-Walidain

Kitab ad-Du’afa

Asami ash-Shahabah

Al-Hibah

Khalq Af’al al-Ibad[4]

Al-Kuno

Al-Qira’ah Khalf al-Imam

Baca juga: Biografi Imam Syafii, Pendiri Mazhab Syafii

Wafat

Imam Bukhari digambarkan memiliki postur tubuh yang sedang, tidak tinggi tetapi juga tidak pendek. Perawakannya kurus, kulitnya agak kecoklatan.

Pembawaanya dikenal ramah dan bermurah hati, senantiasa menolong dan bersedekah.

Ada tiga hal sifat terpuji yang dikatakan oleh Husain bin Muhammad al Samarqandi tentang imam al Bukhari: 1. Beliau itu sedikit bicaranya. 2. Tidak tamak. 3.Tidak sibuk dengan urusan manusia, karena beliau disibukkan dengan ilmu. Bahkan setiap bulannya beliau mendapat 500 dirham, namun diinfakkan semuanya.

Kebesaran akan keilmuan beliau diakui dan dikagumi sampai ke seantero dunia Islam hingga saat ini.

Kemana pun beliau pergi, selalu mendapatkan sambutan dan perhatian, majlis pertemuannya selalu dipenuhi oleh orang-orang. Seperti di Naisabur, tempat asal Imam Muslim, kedatangan beliau pada tahun 250 H disambut meriah, juga oleh guru Imam Bukhari Sendiri Muhammad bin Yahya Az-Zihli.

Dalam kitab Shahih Muslim, Imam Muslim menulis. “Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, saya tidak melihat kepala daerah, para ulama dan warga kota memberikan sambutan luar biasa seperti yang mereka berikan kepada Imam Bukhari”.

Tak lama kemudian, atas permintaan warga Samarkand, Imam Bukhari akhirnya menetap di Samarkand. Tiba di Khartank, sebuah desa kecil sebelum Samarkand, beliau singgah untuk mengunjungi beberapa familinya.

Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari, dan akhirnya beliau wafat. Beliau menghembuskan nafas yang terakhir pada hari Jumat malam sabtu, malam Idul Fitri 1 Shawwal 256 H atau 1 September 870 M. Diperkirakan usia beliau mencapai 60 tahun (62 tahun dalam hitungan hijriah).

Kompleks pemakaman Imam al-Bukhari terletak di Desa Hartank, 25 kilometer dari Samarkand. Pada tahun 1998 makamnya dipugar setelah dibiarkan terbengkalai selama berabad-abad.

Demikianlah biografi singkat tentang Imam Bukhari, sosok yang sangat berjasa utamanya dalam bidang hadits. (madj)

Imam Bukhari by Inspira Studio

0 Komentar

Tinggalkan Balasan