Biografi Imam Abu Hanifah, Pendiri Mazhab Hanafi

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

imam-abu-hanifah

Imam Abu Hanifah adalah seorang ulama fiqh yang hebat, seorang imam teladan, memiliki kepribadian yang mulia dan merupakan seorang suci tingkat tinggi. Umat Islam mengingatnya sebagai Al-Imam al-A’zam (Imam Besar), gelar yang pantas beliau dapatkan. Beliau lebih besar dari semua imam fiqh terkenal, bijak dan lainnya.

Awal Kehidupan

Nama lengkap Imam Abu Hanifah adalah Numan bin Tsabit bin Zuta, kemudian beliau lebih dikenal sebagai Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah lahir pada tahun 80 H di Kufah.  

Ada perbedaan pendapat mengapa kenapa beliau dikenal sebagai Abu Hanifah. Salah satu narasi menunjukkan bahwa saat beliau menjalani kehidupan yang moderat dan menahan diri untuk tidak bersikap ekstrim, sehingga beliau disebut Abu Hanifah.

Kemudian, beberapa orang berpendapat bahwa di Irak “hanifah” berarti wadah tinta dan karena jasanya dalam bidang fiqh, tempat tinta selalu dikelilingi oleh murid-muridnya, itulah sebabnya beliau dikenal sebagai Abu Hanifah.

Keluarganya termasuk dalam garis keturunan dari Kabul (Afghanistan) yang terkenal dan berpengaruh secara agama, yang terdiri dari pendeta Zoroaster di Kabul.

Setelah penaklukan Kabul, kakek Imam Abu Hanifah, Zuta menetap bersama keluarganya di Kufah atau datang ke sana setelah ditangkap. Ia menerima Islam dan menjalin persahabatan dengan Banu Teem bin Tha’libah.

Dikatakan bahwa Zuta sangat menghormati Hadhrat Alira. Ia pernah membuat minuman yang disebut faluda, yang dikuasai oleh orang-orang Kabul, dan menawarkannya kepada Hadhrat Alira. Dia memiliki seorang putra bernama Tsabit dan meminta Hadhrat Alira untuk mendoakan hidupnya yang sukses dan keturunan yang diberkati.

Imam Abu Hanifahrh tinggi, memiliki wajah lebar dan ramah, kulit putih dan cokelat gandum, jenggot lebat, penampilan menyenangkan dan secara keseluruhan bersih dan suci. Beliau selalu dianggap orang yang menyenangkan dan sabar, penuh kebijaksanaan dan pengetahuan.

Saudagar Pakaian

Kakeknya, Zuta, datang ke Kufah dan memulai bisnis pakaian dan unggul dalam hal itu. Bisnis ini akhirnya diwariskan kepada Imam Abu Hanifarh. Beliau juga memiliki banyak keahlian dalam perdagangan ini karena beliau mengambil bagian di dalamnya bersama ayahnya, Tsabit, sejak usia sangat muda. Kemudian, ketika beban ini diletakkan di pundaknya, beliau tidak hanya mengurus bisnis, mempertimbangkannya sebagai tugasnya, tetapi juga memberinya ketinggian baru.

Jenis pakaian yang terkenal pada saat itu adalah khaz dan ini sangat populer di kalangan pelanggan. Khaz dibuat dengan menggabungkan sutra dan katun. Beliau memasang alat tenun yang bisa membuat kain ini dan mulai berdagang dengan kain ini sebagai kemitraan. Beliau mendirikan agensi di berbagai kota, di mana beliau  mengirim produk dan mendapatkan keuntungan. Karena profesionalismenya, orang lain juga berinvestasi dalam bisnisnya.

Suatu kali, beliau mengirim 170.000 dirham kepada seorang pemuda dan berkata, “Ini diberikan kepadaku oleh ayahmu, yang tidak dapat dia ambil kembali sebelum kematiannya.” Kejadian ini telah tercatat dalam buku sejarah.

Ketika beliau meninggal, beliau memiliki sekitar 50.000 hutang modal dari orang banyak, yang dikembalikan setelah kematiannya. Meski demikian, Imam Abu Hanifah sangat makmur dan tidak pernah mengalami masalah keuangan.

Ilmu Imam Abu Hanifa

Seperti yang telah disebutkan di atas, sejak usia yang sangat muda, beliau telah mengembangkan hubungan dengan profesi keluarga dan tidak dapat memberikan perhatian pada ilmu-ilmu yang lazim pada saat itu.

Suatu ketika, ketika beliau berumur sekitar 15 tahun, saat berjalan-jalan di pasar, beliau berkesempatan untuk bertemu dengan seorang muhaddits (ulama hadits) terkenal Imam Sya’birh. Selama percakapan, Imam Sya’bi mengatakan bahwa anak ini cerdas dan menjanjikan. Setelah mengamati hal ini, ia menasihati Abu Hanifahrh bahwa beliau harus fokus dalam memperoleh ilmu.

Nasehat Imam Sya’bi berdampak pada dirinya dan akibatnya, karena kecenderungan alami, beliau mulai menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan di Kufah.

Awalnya, Imam Abu Hanifah memiliki ketertarikan pada subjek kalam (teologi skolastik Islam), karena itu beliau mengunjungi Basra, ibu kota kalam saat itu. Namun, setelah mempelajari subjek tersebut beberapa lama, beliau menyadari bahwa pertimbangan dan penyerapan dalam subjek dapat membuat seseorang menjadi suka bertengkar dan berdebat.

Setelah mengamatinya sebagai ilmu yang argumennya sama sekali tidak berguna, tidak penting, dan negatif bagi sikap luar seseorang, beliau menghindarinya. Namun, haus akan ilmu yang kini tersulut tak membuatnya duduk diam.

Menekuni Bidang Fikih

Imam Abu Hanifah kemudian memperhatikan ilmu fiqh, karena ilmu ini juga populer saat itu. Khotbah Hadhrat Hamaad bin Abi Sulaiman menarik perhatiannya. Hamaadrh adalah seorang sarjana hadits dan perawi dan merupakan seorang sarjana dan ahli hukum terkenal pada masanya di Kufah. Karena itu, Abu Hanifahrh menjalin keterikatan dengan madrasahnya dan memulai belajar fiqh .

Hubungan siswa dan guru menjadi sumber pengetahuan dan ikatan mereka diperkuat menjadi persahabatan yang penuh kasih.

Hadhrat Hamaadrh adalah murid Imam Ibrahim al-Nakhai dan al-Nakhai, melalui Alqama (ibn Qays), mendapat kehormatan belajar secara tidak langsung dari Hadhrat Abdullah bin Masudra. Ibnu Masudra diutus oleh Khalifah Umarra ke Kufah untuk mengajarkan Islam. Imam Ibrahim al-Nakhai juga mendapatkan manfaat dari Hadhrat Alira.

Dengan cara ini, perolehan ilmu Imam Abu Hanifah dikaitkan dengan ijtihad bergengsi yang mempromosikan madrasah yang menjadi otoritas di bidang tradisi, perawi, nas  dan tafaqquh (memahami makna dan mendapatkan wawasan).

Imam Abu Hanifarh menghabiskan sekitar 18 tahun lamannya dalam menimba ilmu. Selain itu, beliau juga mengawasi hal-hal yang berkaitan dengan bisnisnya. Karena memiliki mitra bisnis yang profesional dan teliti, bisnisnya tetap bertahan dan beliau tidak membiarkan studinya memengaruhi bisnisnya dengan cara apa pun.

Imam Abu Hanifa Sebagai Guru

Setelah menimba ilmu, Imam Abu Hanifahrh mulai mengajar. Pada masa itu, masjid juga berfungsi sebagai sekolah. Oleh karena itu, beliau juga lebih memilih masjid sebagai tempatnya mengajar dan menggunakan bagian dari masjid pusat Kufah untuk mengajar, yang secara bertahap mencapai tingkat yang luar biasa sehingga termasuk di antara sekolah-sekolah terkemuka pada saat itu.

Jadwal mingguannya, dalam hal pembagian tugas, terdiri dari: Hari Sabtu didedikasikan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan rumah dan mengawasi propertinya. Pada hari ini, beliau tidak memperhatikan bisnisnya, beliau juga tidak menyibukkan diri dengan tanggung jawab mengajarnya

Setiap hari Jumat, selain shalat Jumat, beliau akan mengadakan jamuan untuk teman-temannya dan murid-muridnya yang terkemuka dan akan menghabiskan hari itu dengan bertemu dan bercakap-cakap dengan mereka.

Pada hari-hari lain, Imam Abu Hanifah akan menghadiri kewajiban mengajar dan urusan yang berhubungan dengan bisnis. Selama hari-hari kerja ini, belia membagi harinya menjadi tiga bagian: Bagian pertama, setelah shalat, beliau akan melakukan pekerjaan rumah; setelah tengah hari, beliau akan pergi ke pasar dan mengawasi bisnisnya, di mana beliau akan memberikan instruksi kepada para pekerja dan memeriksa untung dan rugi bisnisnya; di sore hari, dia akan makan, istirahat dan mengikuti shalat Ashar di masjid, kemudian mengajar.

Madrasahnya bukan madrasah biasa. Beliau memiliki siswa dengan berbagai bakat; sebagian ahli dalam bidang bahasa, sebagian lainnya ahli hadits, sejarah, tafaqquh, qiyas dan sosiologi. Dengan cara ini, madrasahnya menjadi pusat bagi orang-orang dengan spesialisasi yang berbeda.

Para siswa dibolehkan untuk mengajukan pertanyaan dan ikut serta dalam diskusi. Setiap pernyataan, sekalipun itu pernyataan seorang dosen, akan dicermati. Akhirnya, setelah banyak pertimbangan, ketika masalah diselesaikan, mereka akan dicatat dan keputusan akan dibuat, menutup diskusi. Wacana seperti ini akan berlangsung hingga malam dan satu-satunya waktu istirahat adalah untuk Shalat.

Seorang Dermawan

Di samping pertumbuhan intelektualnya, Imam Abu Hanifah adalah orang suci yang sangat dermawan dan filantropis. Di samping kemakmurannya, beliau juga terbuka dalam memberi di jalan Allah. Beliau banyak menghabiskan uangnya sendiri untuk murid-muridnya dan selalu mengambil alih kesejahteraan mereka sendiri.

Ayah Imam Abu Yusuf adalah seorang buruh yang sangat melarat dan miskin. Ia pernah berkata kepada putranya, “Daripada menghadiri kelas Abu Hanifah, kamu harus bekerja agar kita bisa punya uang untuk mengurus rumah.” Oleh karena itu, atas kegigihan ayahnya, ia menarik diri dari pelajaran dan mulai bekerja sebagai penjahit.

Ketika Imam Abu Hanifarh datang untuk mengetahui hal ini, beliau menghubungi Abu Yusufrh dan menanyakan keadaannya. Imam Abu Hanifah kemudian memberikan uang saku yang wajar untuknya dan sejak saat itu, dan selalu menjaganya.

Untuk siswa lain juga, Imam Abu Hanifah melakukan cara yang sama. Itu adalah keinginannya bagi siswa yang cerdas untuk tidak menyia-nyiakan kecerdasan mereka karena kemiskinan dan tidak menghilangkan kekayaan pengetahuan mereka. Sehingga murid-murid di madrasah Imam Abu Hanifah menempati peringkat yang luar biasa dan menjadi bintang yang bersinar di bidangnya masing-masing.

Dengan cara ini, Allahswt telah menganugerahi Imam Abu Hanifahrh dengan pengetahuan dan kekayaan dan yang terbaik dari dunia religius dan sekuler. Beliau tidak pernah menutup-nutupi pengetahuan dan berbagi kekayaannya.

Seorang rekan bisnis, Hafs, sangat cerdas. Ia bekerja dengan Imam Abu Hanifah selama sekitar 30 tahun. Suatu kali, ia berkata:

“Saya telah menghabiskan waktu dengan banyak ulama, ahli fiqh, hakim, orang saleh dan pedagang, tetapi tidak pernah saya melihat seorang wali yang penuh kualitas seperti Imam Abu Hanifarh. Beliau memiliki semua kualitas dan sifat baik yang dimiliki orang lain.”

Imam Abu Hanifa dan Pemerintahan

Imam Abu Hanifah menyaksikan baik dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Sekitar 52 tahun hidupnya dihabiskan di bawah pemerintahan Umayyah, sementara 18 tahun dihabiskan di bawah Abbasiyah. Beliau menyaksikan periode pengaruh Umayyah sampai akhirnya bubar.

Beliau tidak menyukai metode pemerintahan yang digunakan oleh kedua dinasti tersebut. Beliau berada di luar keinginan apapun seperti itu, meskipun beliau  menginginkan agar seorang yang saleh dari keturunan Nabisaw untuk berkuasa. Terlepas dari keinginan ini, beliau tidak pernah melakukan pemberontakan dan tidak pernah berusaha untuk menggulingkan pemerintah.

Imam Abu Hanifah berpandangan bahwa seseorang harus membantu pemerintah dalam pekerjaan baik mereka. Beliau selalu memberi selamat kepada orang lain dan mencoba menasihati mereka untuk kemajuan mereka.

Beliau akan mengatakan bahwa pemberontakan adalah bentuk kekacauan dan bahwa darah yang tertumpah dalam tindakan ini bahkan lebih buruk daripada kasus kesalahan individu yang berwenang. Oleh karena itu, beliau akan selalu mencegah pemberontakan sebagai cara untuk melihat perbaikan.

Menolak Jabatan

Kekhalifahan Bani Umayyah mencoba untuk mendapatkan dukungannya dan melakukan yang terbaik untuk membuatnya bekerja untuk keuntungan mereka, namun beliau tidak pernah menerima posisi resmi apapun.

Pada masa Abbasiyah, beliau ditekan untuk menerima kedudukan sebagai ahli hukum di bawah pemerintahan mereka, namun beliau tidak pernah menerima permintaan itu. Penguasa meminta kerjasama para ulama saat itu karena massa yang mencontoh ulama akan semakin taat. Namun, bukanlah kebijakan pemerintah bagi ulama semacam itu untuk memainkan peran apa pun dalam pemerintahan karena ini sama dengan bersimpati dengan kesalahan pemerintah, dan ulama tidak akan memberikan kesan seperti itu dan tidak pernah siap untuk mengambil tindakan. peran dalam pemerintahan.

Suatu ketika, Khlaifah Abbasiyah, Abu Jafar Mansur berkata kepada Imam Abu Hanifarh, “Mengapa Anda tidak menerima jabatan di pengadilan?” Beliau menjawab, “Saya tidak menganggap diri saya layak untuk pos ini.” Abu Jafar, agak marah, ia berkata, “Anda bohong! Anda benar-benar cocok untuk peran ini.”

Imam Abu Hanifah menjawab dengan sangat hormat, “Masalah ini telah diselesaikan oleh Amirul Muminin. Jika saya berbohong, seperti yang dikatakan Amirul Muminin, maka pembohong tidak pantas menjadi qazi (hakim).”

Setelah mendengar jawaban cepat ini, Abu Jafar tercengang dan tidak dapat mengatakan apa-apa lagi.

Pada kesempatan lain, Abu Jafar berkata dengan marah, “Anda juga tidak menerima jabatan apa pun di pemerintahan ku, Anda juga tidak menerima hadiah apa pun yang aku kirimkan untuk Anda. Ini menunjukkan bahwa Anda menentang pemerintah ini!”

Imam Abu Hanifarh menjawab: “Bukan itu masalahnya. Saya tidak bisa memikul tanggung jawab pengadilan. Hadiah yang dikirim dari Amirul Muminin tidak dikirim dari uang pribadinya, tetapi dari perbendaharaan, yang saya tidak layak untuk itu karena saya bukan seorang tentara, saya juga bukan keturunan seorang tentara, saya juga tidak membutuhkannya. Hanya orang-orang ini yang berhak mendapatkan uang dari perbendaharaan. Ketika saya tidak layak atas uang ini, lalu bagaimana saya bisa menerima hadiah ini? ”

Atas hal ini, Abu Jafar Mansur menjawab, “Anda dapat mengambil uang ini dan membagikannya kepada orang miskin.” Dia menjawab, “Kekayaan Amirul Muminin jauh lebih besar dari pada yang sederhana ini. Anda jauh lebih memenuhi syarat untuk memastikan siapa yang membutuhkan dan siapa yang kaya. Jadi, distribusi Anda akan jauh lebih cocok. ”

Imam Abu Hanifah mengalami banyak kesulitan, menderita kekejaman dari para khalifah dan pemimpin, menahan cambukan, menghabiskan banyak waktu di penjara, meninggalkan Kufah dan menetap di Makkah, namun beliau tidak pernah menerima jabatan resmi pemerintah, juga tidak menerima hadiah apa pun.

Pada satu contoh, beliau menjelaskan alasan di balik tidak mau menerima jabatan apa pun. Gubernur Kufah di bawah pemerintahan Umayyah, Ibn Hubayra pernah memintanya untuk menerima posisi di peradilan sehingga beliau bisa menjadi otoritas pemerintah. Jika beliau menolak, ia mengatakan bahwa keputusan yang dibuatnya tidak akan dianggap kredibel. Untuk ini, Imam Abu Hanifahrh menjawab:

ھُوَ یُرِیْدُ مِنِّیْ اَنْ یَّکْتُبَ دَمَ رَجُلٍ خَضْرِبُ عُنُقَہُ وَاَخْتِمُ اَنَا عَلیٰ ذَدالاَ ف التَالل

Artinya tujuan Ibn Hubayra adalah untuk menuntut pembunuhan seseorang dan kemudian meminta Imam Abu Hanifah mengesahkannya, namun hal ini tidak akan pernah terjadi.

Tentang kegigihan Abu Jafar Mansur, beliau berkata:

لا یصلح للقضاء الا رجل یکون لہ نفس یحکم بہا علیک و علی ولدک و قوادک و لیست تلک النفس لی

“Seorang hakim harus begitu berani untuk mengambil keputusan terhadap Anda, anak-anak Anda atau kepala pasukan tanpa ragu-ragu, namun saya tidak seperti itu.”

Mendedikasikan Hidupnya untuk Mengajar

Imam Abu Hanifah ingin mendedikasikan waktunya untuk belajar dan menyebarkan ilmu dan amalan. Imam fikih lainnya juga berpendapat bahwa alih-alih menerima posisi resmi pemerintah, mereka harus mencoba untuk mengajarkan pengetahuan dan praktik kepada mereka yang telah menerima jabatan pemerintah sehingga mereka dapat melayani publik dengan cara yang lebih baik.

Karena alasan itulah mereka yang belajar dari para imam fikih tersebut kemudian menerima posisi pejabat tinggi dan melalui pengetahuan dan keadilan mereka, melayani bangsanya dan melalui bimbingan mereka, mencapai ketenaran abadi.

Imam Abu Hanifahrh pernah mengumpulkan murid-muridnya, diantaranya adalah murid-murid ternama yang berjumlah 40 orang. Saat berbicara dengan mereka, beliau berkata, “Saya telah melakukan tarbiyat (pembinaan) dengan cara yang memungkinkan kalian untuk mengemban tanggung jawab dan berisi pemerintah yang kuat. Sekarang kalian dapat berjalan dengan mantap dan teguh pada prinsip-prinsip integritas.”

Dengan cara ini, Allahswt memberkati usahanya dan memenuhi keinginannya. Muridnya mencapai peringkat tinggi dan terbukti layak untuk peringkat itu – sejarah memberikan kesaksian atas pencapaian mereka.

Fikhih Imam Abu Hanifah

Pendekatan Imam Abu Hanifah terhadap fiqh adalah bahwa beliau terutama akan fokus pada Al Quran, mencari petunjuk darinya. Jika kejelasan penuh tidak diberikan oleh Al Quran, beliau kemudian akan memusatkan perhatiannya pada Sunnah Nabisaw yang telah ditetapkan.

Jika tidak ada penjelasan yang jelas dalam sunnah, maka beliau akan menjalankan amalan mayoritas Sahabatra. Jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dari contoh kolektif mereka, maka beliau akan memilih ucapan para Sahabat yang paling mendekati makna dan tafsirnya dengan Al Quran dan Sunnah yang ditetapkan.

Setelah itu, beliau akan mencari sumber-sumber pengetahuan lain, misalnya qiyas , istihsan (membuat keputusan yang berbeda dari yang kasus-kasus serupa telah diputuskan atas dasar preseden) dan urf (adat) dan lainnya dari mana beliau dapat membuat keputusan.

Saat mempelajari dan menyusun hukum fiqih, beliau mengindahkan prinsip-prinsip tersebut di atas dan mendorong murid-muridnya untuk melakukan hal yang sama.

Beliau selalu mengatakan bahwa, beliau telah membuktikan hal-hal dari sumber-sumber yang disebutkan di atas dan bahwa jika ada yang dapat membuktikan dan menafsirkannya dengan cara yang lebih sesuai, maka beliau akan menerima kesimpulan mereka dan tidak akan bersikukuh agar keputusannya diterima.

Jika beliau pernah menolak suatu tradisi atau mengabaikannya, itu mungkin karena tradisi itu tidak cukup otentik dalam pandangannya atau dia mengetahui tradisi yang lebih kuat atau tradisi semacam itu tidak sampai pada pengetahuannya. Tradisi-tradisi disusun lama kemudian dan lambat laun mengalami perubahan.

Selama ini, karena berbagai alasan, kecenderungan untuk memalsukan hadits semakin meningkat dan oleh karena itu, beliau merasa harus ekstra hati-hati saat mengekstrak hadits.

Saat mengerjakan pemahaman fikihnya, Imam Abu Hanifah memperoleh pendekatan baru lainnya, yaitu beliau memikirkan semua kemungkinan pertanyaan sosial pada saat itu dan menjawabnya dalam terang Al Quran, hadits dan prinsip-prinsip deduksi, sehingga menyusunnya sebagai pertanyaan dan jawaban untuk membantu ulama lainnya. Dengan cara ini, melalui bimbingannya dan dengan upaya murid-muridnya, harta karun fiqh tentang pertanyaan dan skenario yang mungkin dikumpulkan.

Cara kompilasi ini tidak disukai oleh ulama dan imam lainnya; pendekatannya ditantang dan dikritik tajam. Pandangan mereka adalah bahwa ketika sebuah insiden dipelajari dan seseorang secara praktis dihadapkan dengan itu, barulah insiden itu harus diselesaikan dan dijawab.

Mengajukan pertanyaan hipotetis atau menyarankan skenario potensial dan kemudian mencari jawabannya, dalam pandangan mereka, merupakan bid’ah dan sarana untuk menyebabkan kerugian.

Bagaimanapun, Imam Abu Hanifarh akan mengatakan bahwa ini semua dilakukan dengan niat yang paling murni, untuk menyebarkan ilmu dan untuk memoles kecerdasan manusia.

Murid-murid Imam Abu Hanifah

Setelah beliau, hampir semua murid-muridnya memanfaatkan metode ini untuk karya-karya luar biasa mereka di bidang fiqih.

Al-Mudawwana Sahnun – sebuah buku fiqih Mazhab Maliki berisi 36.000 solusi untuk berbagai masalah, Al-Mukhtasar al-Kabir li-ibn Abdil Hakam, Ibn Qudamah Al-Mughni dan Al-Muhalla oleh Ibn Hazm adalah contoh sempurna dari ini dan harta karun hukum Islam.

Imam Abu Hanifarh sendiri tidak pernah menulis kitab apapun. Beberapa jurnal yang diatribusikan kepadanya, misalnya Al-Fiqh-ul-Akbar yang berisi doktrin dan Kitab-ul-Alim wal-Muta’allim yang berisi tentang etiket mencari ilmu. Ada sepucuk surat yang beliau tulis untuk seorang ulama terkenal pada saat itu, Utsman al-Laythi yang menjelaskan masalah irja (penundaan suatu fatwa).

Dua muridnya melestarikan pandangan terkait fikihnya. Keduanya terkenal dengan sebutan “Sahibain”. Pertama adalah Imam Yaqub bin Habib al-Ansari yang terkenal dengan sebutan Abu Yusuf. Dan yang kedua adalah Imam Muhammad bin Hasan al-Shaybani.

Imam Abu Yusuf adalah qazi al-quzat (kepala ahli hukum) pada masa Khlalifah Harun al-Rashid, yang merupakan jabatan terhormat di bawah pemerintahan Abbasiyah. Ia adalah orang pertama yang diberi jabatan ini dan terkenal dengan sebutan qazi al-quzat .

Selama masa pemerintahan Abbasiyah, ia menunjuk qazi yang sebagian besar termasuk mazhab Hanafi, karena itu seluruh pemerintahan sangat dipengaruhi oleh kepercayaan Hanafi.

Imam Ibn Hazm al-Andalusi sering mengatakan bahwa dua mazhab fiqh telah mempengaruhi kebijakan pemerintah: Hanafi telah memperoleh kekuasaan selama pemerintahan Abbasiyah dan mazhab Maliki populer di bawah Kekhalifahan Cordoba.

Pada satu titik, ketika Dinasti Ayyubiyah mendominasi Mesir dan Suriah, Sultan Mahmud Sabuktigini (Mahmud dari Ghazni) memerintah Ma Wara al-Nahr (Transoxiana), mazhab Syafi’i memegang posisi yang sama dan dianggap sebagai agama negara.

Imam Abu Yusuf adalah seorang penulis yang produktif. Karyanya, Kitab-ul-Khiraj mendapat banyak pujian. Demikian pula, buku keduanya, Al-Ashar, dan pamflet Ikhtilaf ibn Abi Layla dan Al-Raddu Ala Siyaril-Auza’i juga terkenal.

Murid lain yang layak dari Imam Abu Hanifarh adalah Imam Muhammad bin Hasan al-Shaybani, yang juga menjabat sebagai ahli hukum, tetapi yang sifatnya lebih condong ke menyiapkan literatur. Karena alasan inilah ia dianggap sebagai penyusun terbesar dari pandangan-pandangan Imam Abu Hanifahra.

Ia menjadi murid Imam Abu Hanifah selama sekitar tiga tahun. Pada saat itu, ia masih sangat muda, namun Abu Hanifah tetap memperhatikan pendidikan dan kesejahteraan moral anak kecil ini dan akan mendudukkannya di sampingnya selama pelajaran. Karena itu ia juga terkenal dengan istilah “Tarafain”, yaitu orang yang duduk di samping guru.

Ketika Imam Abu Hanifaharh meninggal pada 150 H, ia menyelesaikan pendidikannya dari Imam Abu Yusuf dan juga belajar selama tiga tahun di bawah Imam Malikrh.

Ada berbagai salinan himpunan hadis Imam Malikrh yang terkenal dengan nama Al-Muwatta. Dua salinan seperti itu populer; yang satu disebut Muwatta Imam Malik yang diriwayatkan oleh Yahya bin Yahya al-Laythi, sedangkan yang lainnya adalah Muwatta Imam Muhammad, sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Hasan al-Shaybani.

Imam Muhammad bin Hasan al-Shaybani menulis banyak buku, kebanyakan didasarkan pada aliran pemikiran Hanafi. Di antara buku-buku tersebut, berikut ini yang terkenal:

Kitab al-Mabsut , Kitab al-Ziyadat , Al-Jamey ‘al-Saghir , Al-Jamey’ al-Kabir , Al-Siyar al-Saghir dan Al-Siyar al-Kabir. Keenam kitab tersebut terkenal dengan nama Zahir al-Riwayat .

Dua bukunya yang lain juga dianggap memiliki kaliber yang sama: satu berjudul Al-Rad ala Ahlil-Medina, sedangkan yang lainnya adalah Kitab al-Atsar. Muwatta Imam Muhammad juga sangat terkenal.

Banyak murid Imam Abu Hanifahrh lainnya yang diposisikan pada pos-pos kunci dan tak kalah di bidang ilmu.

Imam Zufar, Daud Tai, Hasab bin Ziyad dan Abdullah bin al-Mubarak semuanya adalah orang-orang suci pada masanya.

Karena murid-muridnya, pandangan terkait fiqh Imam Abu Hanifahrh banyak beredar. Sebagian besar populasi Muslim yang tinggal di Irak, Suriah, Mesir, Turkistan, Afghanistan, dan Hindustan berasosiasi dengan mazhab Hanafi. Para pengikutnya juga dapat ditemukan di negara-negara Muslim lainnya.

Pemerintahan Ottoman di Turki didasarkan pada mazhab Hanafi dan karenanya, tatanan Hanafi tersebar luas.

Biografi Imam Abu Hanifahrh ini insya Allah akan berlanjut pada bagian kedua. Jazakumulah ahsanal jaza.

Sumber:

  1. Alhakam.org
  2. Tarikh Afkar-e-Islami  oleh Maulana Malik Saif-ur-Rahman

0 Komentar

Tinggalkan Balasan