Biografi Imam Abu Dawud, Pengarang Kitab Hadits As Sunnan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

imam-abu-dawud

Imam Abu Dawud adalah salah seorang perawi hadits terkemuka, karya terbesarnya As Sunan atau Sunan Abu Dawud, termasuk kutubus sittah (enam kitab hadits), yang  termasyhur dan tetap digunkan hingga saat ini.

Awal Kehidupan

Nama lengkap Imam Abu Dawud adalah Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani. Beliau lahir pada tahun 202 H di kota Sajistan, saat itu termasuk Basyrah, Irak.

Keluarganya memiliki perhatian yang sangat besar dalam hadits-hadits Rasulullahsaw, dan ini sangat mempengaruhi perkembangan keilmuan beliau di masa depannya.

Ayahanda beliau bernama Al Asy’ats bin Ishaq adalah seorang perawi hadits yang meriwayatkan hadits dari Hamad bin Zaid, dan demikian juga saudaranya Muhammad bin Al Asy`ats termasuk seorang yang menekuni hadits.

Beliau berasal dari keluarga terpelaja, secara khsus dalam bidang hadits, sehingga Imam Abu Dawud memilik ketertarikan yang kuat terhadap hadits.

Dari sejak dini Imam Abu Dawud tekun belajar menuntut ilmu. Beliau telah mempelajari hadits. Selain itu juga beliau belajar Al Quran dan bahasa Arab.

Perjalanan Menuntu Ilmu

Imam Abu Hanifah dari sejak usia 18 tahun telah pergi meninggalkan kampung halamnya untuk menuntut ilmu dari para ulama terkenal di bergaia kota. Bersama dengan saudar beliau sendiri, yaitu Muhammad bin Al Asy’ats.  

Beliau telah pergi ke Khurasan, Baghlan, Harron, Roi dan Naisabur. Kemudian untuk mengumpulkan hadits, beliau pergi ke Hijaz, Irak, Khurasan, Mesir, Suriah, Nishapur, Marv, dan tempat-tempat lain, menjadikannya salah seorang ulama yang paling luas perjalanannya.

Karena itulah beliau kemudian menjadi seorang imam hadits yang terkenal, memiliki banyak murid dan melahirkan karya-karya hebat.

Pada tahun 221 H, beliau pergi ke Baghdad, Irak. Selanjutnya beliau menetap di Bashrah, sesuai dengan permintaan Amir Abu Ahmad Al Muwaffaq untuk tinggal dan menetap di Bashrah.

Beliau lahir sebagai seorang ulama pakar hadits, juga dalam masalah fiqh dan ushul serta dikenal karena kesalehan dan kedekatannya dengan Allahswt.

Baca juga: Biografi Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, Amirul Mu’minin Fil Hadist

Guru-guru Imam Abu Dawud

Imam Abu Dawud telah mengunjungi berbagai kota untuk menimba ilmu agama dari para ulama terkenal dimasanya. Karnanya guru-guru beliau sangat banyak, mencapai ratusan banyaknya. Diantara yang terkenal adalah:

Imam Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Ibrahim bin Rahuyah, Ali bin Al Madiny, Yahya bin Main, Abu Bakr ibnu Abi Syaibah, Muhammad bin Yahya Adz Dzuhiy, Abu Taubah Rabi’ bin Nafi’ Al Halaby, Abdullah bin Maslamah Al Qa’naby, Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb, Ahmad bin Shaleh Al Mishry, Hayuwah bin Syuraih, Abu Mu’awiyah Muhammad bin Hazim Adh Dharir, Abu Rabi’ Sulaiman bin Daud Az Zahrany dan Qutaibah bin Sa’di bin Jamil Al Baghlany.

Karya Imam Abu Dawud

Imam Abu Dawud telah melahirkan karya-karya tulis berkualitas, baik dalam bidang hadits, fiqh, ushul dan tauhid.

Diantara karya-karya yang terkenal yaitu: Kitab as-Sunan, Kitab al-Marasil, Kitab al-Qadar, An-Nasikh Wal Mansukh, Fada’ilul A’mal, Kitab az-Zuhud, Dalailun Nubuwah, Ibtida’ul Wahyu, Ahbarul Khawarij

Baca juga: Biografi Syekhul Islam Ibnu Taimiyah

Sunan Abu Dawud

Tentus saja kitabnya yang paling terkenal adalah Kitab as-Sunnan atau Sunan Abu Dawud. Kitab ini memuat 4800 hadits, ada juga yang menyebutkan berjumlah 5.274 hadits.

Sunan Abu Dawud ini hanya memuat hadits marfu’ (hadits atau riwayat dari Nabi). Tidak ada riwayat mauquf  (riwayat dari perkataan maupun perbuatan sahabat) atau riwayat maqtu’ (riwayat dari perkataan maupun perbuatan tabi’in).

Kitab sunan, adalah kiab hadits yang disusun berdasarkan bab fikih, mulai dari thaharah, shalat, zakat, dan seterusnya. Hanya berisi hadits yang marfu’ yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Abu Daud menyusun kitabnya di Baghdad. Minat utamanya adalah syariat, jadi kumpulan hadits-nya berfokus murni pada hadits tentang syariat.

Setiap hadits dalam kumpulannya diperiksa kesesuaiannya dengan Al Quran, begitu pula sanadnya. Beliau pernah memperlihatkan kitab tersebut kepada Imam Ahmad untuk meminta saran perbaikan.

Kitab Sunan Abu Dawud diakui oleh mayoritas dunia Muslim sebagai salah satu kitab hadits yang paling autentik. Namun, berdasarkan penelitian terdapat beberapa hadits yang kemudian dianggap lemah.

Banyak ulama yang meriwayatkan hadits dari beliau, di antaranya Imam Turmudzi dan Imam Nasa’i.

Mengomentara tentang Sunan Abu Dawud, Ibnul A’rabi berkata, “barangsiapa yang sudah menguasai Al Quran dan kitab Sunan Abu Dawud, maka dia tidak membutuhkan kitab-kitab lain lagi. Imam Al-Ghazali juga mengatakan bahwa kitab Sunan Abu Dawud sudah cukup bagi seorang mujtahid untuk menjadi landasan hukum.”

Baca juga: Biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, Seorang Ulama, Wali dan Sufi

Murid-murid Imam Abu Dawud

Karena kehabatanya, utamanya dalam bidang hadits, banyak orang-orang yang kemudian menimba ilmu kepada beliau.

Murid-murid Imam Abu Dawud diantaranya adalam, Imam Turmudzi, Imam Nasa’i, Abu Ubaid Al Ajury, Abu Thoyib Ahmad bin Ibrohim Al Baghdady (Perawi sunan Abi Daud), Abu Amr Ahmad bin Ali Al Bashry (perawi kitab sunan), Abu Bakr Ahmad bin Muhammad Al Khollal Al Faqih, Isma`il bin Muhammad Ash Shofar, Zakariya bin Yahya As Saajy, Abu Bakr Ibnu Abid Dunya, Ahmad bin Sulaiman An Najjar, termasuk putra beliau Abu Bakr bin Abi Daud. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pendapat Para Ulama

Imam Abu Dawud dikenal sebagai ulama yang sangat tekun dalam beribadah, sangat menjaga kesucian diri, shaleh dan wara’ yang patut diteladani.

Beliau dikenal sebagai ulama yang melewati hidupnya dengan penuh kesederhanaan. Dalam hal berpakaian misalnya, beliau mengenakan pakaian yang salah satu lengan bajunya lebar dan satunya lagi sempit. Bila ada yang bertanya, beliau menjawab: “Lengan yang lebar ini untuk membawa kitab, sedang yang satunya tidak diperlukan. Kalau dia lebar, berarti pemborosan.”

Al-Hafiz Musa bin Harun berkata: “Abu Dawud diciptakan di dunia untuk Hadits, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama dari dia.”

Sahal bin Abdullah at-Tastari, seorang sufi yang alim mengunjungi Abu Dawud dan berkata: “Saya adalah Sahal, datang untuk mengunjungimu.” Abu Dawud menyambutnya dengan hormat dan mempersilakan duduk. Lalu Sahal berkata: “Abu Dawud, saya ada keperluan.” Dia bertanya: “Keperluan apa?” Sahal menjawab: “Nanti saya katakan, asalkan engkau berjanji memenuhi permintaanku.”

Ketika Imam Abu Dawud menyusun Kitab Sunan, Ibrahim al-Harbi, seorang Ulama hadits, berkata: “Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi dilunakkan untuk Nabi Dawud.” Ungkapan itu adalah perumpama-an bagi keistimewaan seorang ahli hadits. Dia telah mempermudah yang rumit dan mendekatkan yang jauh, serta memudahkan yang sukar.

Seorang Ulama hadits dan fiqih terkemuka yang bermazhab Hanbali, Abu Bakar al-Khallal, berkata: “Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as as-Sijistani adalah Imam terkemuka pada jamannya, penggali beberapa bidang ilmu sekaligus mengetahui tempatnya, dan tak seorang pun di masanya dapat me-nandinginya.

Baca juga: Biografi Imam Al-Ghazali, Mujaddid Abad Ke-5

Akhir Hayat

Setelah mengabdikan hidupnya untuk melayani umat, mengajarkan hadits-hadits Rasulullahsaw menyebarkan dan mengajarkannya kepada orang banyak, akhirnya Imam Abu Dawud pun tutup usia.

Imam Abu Dawud wafat pada tanggal 16 Syawal 275 H, di Bashrah, Irak. Beliau mencapai usia 73 tahun. Shalat jenazahnya diimami oleh Abbas bin Abdul Wahid Al Haasyimy.

Sepanjang sejarah telah muncul para ulama hadits yang berusaha menggali makna yang terdapat dalam hadits-hadits, sehingga dengan upaya yang sangat berharga itu mereka telah membuka jalan bagi generasi selanjutnya guna memahami Sunnah dengan baik dan benar.

Mereka telah berhasil menghimpun hadits-hadits sehingga memudahkan bagi generasi berikutnya untuk menggali hazanah-hazanah yang terkandung di dalamnya. Dan masih banyak lagi manfaat dan faedah lainnya dari hasil kerja mereka. Semoga Allahswt meuliakan dan meninggikan derajat beliau-beliau, aamiin.

Baca juga: Biografi Imam Bukhari, Amirul Muminin Fil Hadits


0 Komentar

Tinggalkan Balasan