Biografi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Al-Masih Yang Dijanjikan

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

mirza-ghulam-ahmad

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah sosok yang mendakwakan dirinya sebagai Mujaddid di abad ke-14 hijriyah, sebagai Imam Mahdi dan juga sebagai Al-Masih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman ini.

Latar Belakang

Jumat, 13 Februari 1835 M atau 14 Syawal 1250 H, lahirlah seorang anak laki-laki di Qadian, India. Anak itu kemudian diberi nama Mirza Ghulam Ahmad oleh kedua orang tuanya, Mirza Ghulam Murtaza dan Ciraagh Bibi. Sebenarnya ia lahir kembar,  namun adik perempuannya itu meninggal beberapa hari kemudian setelah dilahirkan.

Qadian dimana Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan terletak di distrik Gurdaspur, India, kira-kira 57 km sebelah timur kota Lahore dan 24 km dari kota Amritsar di propinsi Punjab. Kampung terpencil itu kemudian menjadi sangat terkenal dan berubah menjadi kota hingga saat ini.

Mengenai asal-usul Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, putra beliau, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad dalam bukunya Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad, menerangkan:

“Hadhrat Ahmad adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap disana. Tetapi pada abad kesepuluh Hijriah atau abad keenambelas masehi, seorang keturunan Haji Barlas, bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias dengan mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km jauhnya dari sungai tersebut.”

Mirza Hadi Beg kemudian oleh pemerintah pusat Delhi diangkat sebagai qadhi (hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai qadhi itulah maka tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. lambat laun kata Islampur hilang, tinggal Qadhi, kemudian berubah menjadi Qadian hingga saat ini.

Masa Menimba Ilmu

Meskipun di tengah kondisi masyarakat yang kurang memperhatikan masalah pendidikan, namun ayah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anak-anaknya.

Masa itu merupakan kebiasaan bagi keluarga-keluarga terpandang untuk mendatangkan guru-guru privat bagi pendidikan anak-anak mereka, sementara sekolah-sekolah formal hampir tidak ada.

Pendidikan dasar itu beliau peroleh dari beberapa guru yang mengajarkan Al-Quran dan kitab-kitab bahasa Farsi, juga saraf nahu (tatabahasa Arab). Selain itu, sebagai ahli pengobatan Mirza Ghulam Murtaza menurunkan keahliannya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Hadhrat Mirza Basyruddin Mahmud Ahmad mengatakan, “Pelajaran semacam ini pada zaman itu terpandang cukup tinggi, namun bila dibandingkan dengan kewajiban yang akan beliau emban, hal itu tidak berarti sedikit pun.”

Dari sejak kecil beliau hidup dalam keluarga yang memang memiliki perhatian kepada keduniawian, ayah beliau sendiri berjuang keras dalam kehidupannya untuk mengembalikan kembali kejayaan keluargaanya, sementara itu Hadhrat Mirza Gulam Ahmad sendiri ternyata lebih condong kepada masalah keagamaan.

Dimasa dewasanya, atas keinginan dan perintah dari ayah beliau, Hadhrat Ahmad bekerja menjadi pegawai negeri di kota Sialkot. Tetapi sebenarnya sebagian besar waktu beliau digunakan untuk menimba ilmu secara mandiri.

Hampir 4 tahun lamanya Hadhrat Ahmad bekerja di Sialkot dengan memaksakan diri. Namun akhirnya setelah mendapat izin dari ayahandanya, beliau berhenti bekerja dan kembali ke Qadian.

Pernah juga beliau diminta untuk menjadi kepala pendidikan di Kesultanan Kapurtala, tetapi itu pun beliau tolak dan lebih suka tinggal di rumah saja.

Mujahidah

Kembalinya Hadhrat Ahmad ke Qadian setelah berhenti bekerja memberikan banyak kesempatan untuk melakukan aktifitas yang selama ini disenanginya, yaitu memperdalam pengetahuan dan berdiskusi tentang agama.

Walupun beliau masih muda karena taqwa dan kesalehannya, orang-orang yang lebih tua usianya, baik dari golongan Islam maupun Hindu sama-sama menghormati beliau. Pada waktu itu beliau jarang bepergian, justru suka menyendiri dan menyepi dan tempat favoritnya adalah masjid.

Tetapi kemudian perlahan namun pasti, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mulai memperkenalkan dirinya kehalayak ramai. Penyebabnya adalah, dorongan kuat dari dirinya untuk mebela Islam dari serangan agama-agama lain yang gencar meyebarkan misi-misi mereka.

Tahun 1814-1815 ditetapkan oleh pihak Kristen sebagai The Great Century of World Evangelization (Abad Agung Penginjilan Dunia), dan India adalah salah satu sasaran gerakan penginjilan atau kristenisasi, sehingga jutaan orang di sana masuk kedalam agama Kristen. Para pendeta Kristen begitu berani dan giat penyebaran misi mereka terlebih setelah penguasaan penuh India oleh Inggris.

Begitu juga dengan agama Hindu, khusunya sekte Arya Samaj yang mencita-citakan menjadikan India sebagai bumi Hindustan. Sementara itu umat Islam sendiri, di India khususnya, mengalami kemunduran, baik dalam bidang politik, sosial, agama, moral, dan bidang kehidupan lainnya. Di masa kegelapan itulah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad bangkit untuk membela Islam.

Beliau memulai kehidupan terbuka beliau dengan menyelenggarakan dialog-dialog dan perdebatan-perdebatan dalam skala kecil yang secara bertahap berkembang dalam lingkup yang lebih luas. Ketenaran beliau sebagai pembela kepentingan Islam yang sangat tangkas dan hebat menyebar jauh dan luas.

Dan pada masa itulah beliau melakukan mujahidah,yakni beliau berpuasa 6 bulan lamanya. Seringkali makanan yang disediakan untuk beliau telah beliau bagikan kepada fakir miskin.

Sering juga beliau tidak diberi makan, karena itu Hadhrat Mirza Ghulam  Ahmad mencukupkan hanya dengan sedikit air, dan esok harinya berpuasa terus tanpa makan sahur.

Baca juga: Biografi Sayyid Ahmad Barelwi, Pembaharu Islam di India

Membela Islam

Kemudian Hadhrat Ahmad mengirimkan tulisan-tulisanya ke berbagai surat kabar dilanjutkan dengan menulis buku-buku yang bertujuan untuk membela Islam dari para penentang seperti kaum Yahudi, Kristen, Magi, Arya, Brahma, Penyembahan berhala, Ateis, Naturalis, dan orang-orang yang tidak beragama.

Karena karangan-karangan inilah nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad populer di masyarakat umum, meskipun beliau sendiri jarang keluar rumah. Malah para tamu sering beliau terima di dalam masjid.

Barahiyn Ahmadiyah adalah karya pertama dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Ternyata buku ini mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat muslim India waktu itu.

Buku yang terdiri dari lima jilid ini berisikan tentang semua kebenaran berdasarkan prinsip-prinsip pengetahuan agama, tiga ratus bukti kuat, sempurna, dan meyakinkan tentang kebenaran Islam; jawaban atas berbagai prasangka, tuduhan, penolakan,  dan pandangan miring dari para penentang Islam khususnya dari kalangan neo-Hindu (Arya Samaj dan Brahma Samaj), dan Kristen.

Bagian pertama buku ini dicetak tahun 1880, bagian kedua tahun 1881, bagian ketiga tahun 1880 dan bagian keempat tahun 1884. Setelah tersiarnya buku ini, lawan mau pun kawan memuji serta yakin akan kecakapan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Tidak seorang pun musuh-musuh Islam dapat menyanggah buku itu. Orang-orang Islam sangat bergembira hati dan mulai menganggap beliau sebagai mujaddid (pembaharu), padahal waktu itu beliau belum mendakwakan apa-apa. Para alim ulama pun mengaku kepandaian beliau.

Dengan terbitnya Barahiyn Ahmadiyah orang-orang dari berbagai tempat mulai simpati kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Qadian yang terpencil mulai sering dikunjungi para tamu dari tempat-tempat jauh.

Para cendekiawan seperti Maulana Al-Haj Hakim Nuruddin, seorang ilmuan dan tabib Maharaja Jammu, sangat tertarik pada Barahiyn Ahmadiyah.

“Menurut hemat saya, buku Brahiyn Ahmadiyah pada saat dan kondisi seperti ini merupakan suatu hal yang unik. Belum pernah ada ditulis buku seperti itu dalam sejarah Islam,” kata Maulvi Muhammad Hussain, seorang ulama Wahabi terkenal dimasa itu.

Setelah menulis Brahiyn Ahmadiyah puluhan karya tulis lainnya beliau lahirkan. Kira-kira mencapai 80 buah banyaknya tidak termasuk makalah-makalah, surat-surat, dan juga berbagai bahan ceramah dan pidatonya.

Bukan hanya karya-karya tulisnya saja yang telah membuat beliau dikenal luas di seluruh anak benua India. Tetapi nilai-nilai keruhaniannya  juga memainkan peran vital dalam memberikan ketenaran dan kehormatan yang sangat luas bagi beliau.

Masyarakat India pada masa itu mengenal beliau sebagai seorang ulama besar yang membela kepentingan Islam, seorang ilmuan, tabib termashur, dan seorang yang sangat dermauan.

Baca juga: Biografi Syah Waliullah Dehlawi, Mujaddid Abad Ke-12 Hijriyah

Baiat Pertama

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah menjadi seorang tokoh yang sangat termasyhur di India karena pembelaan-pembelaanya terhadap Islam, terlebih dengan tersiarnya Barahiyn Ahmadiyah, semakin bertambah banyak orang yang simpati kepada beliau.

Para cendekiawan sangat tertarik kepada Barahiyn Ahmadiyah dan makin lama semakin mengambil tempat di hati umat, bahkan banyak yang mengajukan permintaan supaya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengambil baiat. Tetapi permintaan itu senantiasa beliau  tolak, dengan menjawab bahwa segala urusan beliau berada di tangan Allah.

Akhirnya pada tanggal 12 Januari 1889, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menerbitkan sebuah selebaran yang berjudul Takmil Tabligh (Pelengkapan Amanat) yang berisikan sepuluh syarat baiat.

Sesuai dengan petunjuk Ilahi baiat itupun dilaksanakan. Baiat yang pertama diselenggarakan di kota Ludhiana pada tanggal 20 Rajab 1306 atau 23 Maret 1889 di rumah seorang mukhlis bernama Mia Ahmad Jaan.

Orang yang baiat pertama kali adalah Hadhrat Al-Haj Hakim Nuruddin. Pada hari itu kurang lebih 40 orang telah baiat. Setelah itu berangsur-angsur semakin banyak yang baiat.

Adapun syarat-syarat baiat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
  2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
  3. Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah s.a.w dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
  4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
  5. Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah ataupun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
  6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Al-Qur’an Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
  7. Meninggalkan takabur, sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan-santun.
  8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, hatanya, anak-ananknya, dan dari segala yang dicintainya.
  9. Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
  10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.

Baca juga: Biografi Syekh Ahmad Sirhindi, Sang Mujaddid Alfi Tsani

Pendakwaan Hadhrat Ahmad

Dua tahun kemudia setelah baiat pertama diselenggarakan, yaitu tepatnya pada tahun 1891 terjadilah suatu perubahan yang amat besar. Pujian berganti dengan caci maki, dukungan berubah menjadi rongrongan, hormat berubah menjadi benci, kawan berubah menjadi lawan.

Penyebab dari semua itu adalah apa yang Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad kemukakan. Beliau mengumumkan bahwa Nabi Isaas yang ditunggu-tunggu kedatangannya kedua kali itu telah wafat dan tidak akan datang lagi ke dunia ini. Kedatangan Nabi Isaas kedua, adalah orang lain yang akan datang dengan sifat dan cara seperti Nabi Isaas, yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sendirilah orangnya.

Pengumuman itu tersiar secepat kilat, dan di seluruh India timbul perlawanan serta kehebohan yang sangat hebat terhadap pendakwaannya tersebut. Para alim ulama yang dahulu simpatik dan memuji, kini serentak berdiri menentang beliau.

Seperti Maulvi Muhammad Hussein Batalwi yang sangat menghormati dan memuji Hadhrat Mirza GhulamAhmad, kini berubah seratus delapan puluh derajat, ia menggunakan segala kekuatannya untuk menentang beliau.

Maulvi Muhammad Hussein mengatakan: “Saya yang dahulu telah memajukan orang ini, maka saya lah sekarang yang akan menjatuhkannya. Yakni, dahulu karena pertolongan dan pujian dari saya lah orang ini mendapat kehormatan, dan sekarang saya akan menentangnya dengan gigih, sampai orang ini akan dibenci dan dihina orang-orang.”

Kedatangan nabi Isa untuk yang kedua kalinya – suatu kepercayaan yang umum terdapat di kalangan umat Islam dan Kristen – telah diberitahukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad akan terjadi secara ruhani dan bukan secara harfiah. Dan Allah telah mengangkat beliau untuk memenuhi nubuatan atau ramalan tentang kedatangan nabi Isa akhir zaman itu.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah membuktikan melalui Al-Quran, Hadits, dan Bible,  bahwa Tuhan tidak meninggalkan Yesus dan telah menyelamatkan beliau dari kematian hina di tiang salib.

Hal ini dapat dipelajari berdasarkan fakta-fakta yang berkaitan dengan masa-masa sebelum penyaliban, juga fakta-fakta pada penyaliban itu sendiri dan sesudahnya seperti yang dikatakan oleh Perjanjian Baru itu sendiri.

Beliau adalah Al-Mahdi dan Al Masih Mau’ud (Almasih Yang Dijanjikan). Akan tetapi, pemberian mandat ini ternyata telah mengorbankan seluruh kemasyhuran dan ketenaran yang telah beliau peroleh.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, pembaharu bagi zaman ini, telah ditolak dan ditinggalkan tidak hanya oleh para pengikut agama-agama lain tetapi lebih dahsyat lagi ditolak olem umat Islam India sendiri, umat yang untuk merekalah beliau telah melakukan pembelaan dengan sangat tangkas dan gigih.

Baca juga: Biografi Imam Jalaludin As-Suyuthi, Mujaddid Abad Ke-9 Hijriyah

Debat Terbuka

Kehidupan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dipenuhi dengan berbagai macam kesibukan, terlebih setelah pendakwaanya itu. Ribuan surat beliau terima berisikan pertanyaan juga caci-maki, bebagai hujatan juga dialamatkan kepada beliau melalui media cetak.

Tidak terbilang banyaknya ceramah-ceramah yang berisikan caci-maki terhadap beliau, namun Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menghadapi semua itu dengan tetap sabar dan tabah.

Satu kesibukan lain yang menguras waktu dan tenaga beliau yaitu meladeni tantangan debat dari berbagai pihak. Berbagai macam perdebatan telah dilakukan oleh beliau, yang dihadiri oleh ribuan orang di berbagai kota di Hindustan, tidak hanya menghadapi pihak dari Islam tetapi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad juga menghadapi pihak Kristen dan Hindu.

Musuh-musuh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad berupaya segala macam cara untuk mengalahkannya di aren perdebatan-perdebatan, namun nampaknya mereka tidak pernah sekalipun meraih keberhasilan.

Akhirnya mereka pun cendrung untuk menghidari berhadapan langsung dengan beliau, tetapi di belakang mereka terus berupaya melemparkan berbagai macam tuduhan-tuduhan kepada beliau.

Baca juga: Biografi Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, Amirul Mu’minin Fil Hadist

Gerhana Bulan Dan Matahari

Setelah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan dirinya sebagai Imam Mahdi di tahun 1891, tidak henti-hentinya berbagai macam kritikan dan penetangan yang dialamatkan kepada beliau. Salah satunya mengatakan, mengapa gerhana bulan dan matahari sebagai tanda kebenaran datangnya Imam Mahdi tidak juga muncul?

Kritikan itu didasarkan atas hadits Rasulullahsaw yang menyebutkan, Imam Mahdi akan “turun” dengan ditandai munculnya gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan. Nubuatan itu tercantum di dalam Sunan Daaru Qutni.

Muhammad bin Alira meriwayatkan bahwasanya ada dua tanda bagi Mahdi kami. Tanda ini semenjak langit dan bumi tercipta hingga sekarang belum pernah nampak. Pertama ialah, bulan purnama (qamar) akan gerhana di dalam bulan Ramadhan pada malam pertama, dan yang kedua ialah, matahari akan gerhana pada hari pertengahan bulan Ramadhan itu juga. Kedua tanda itu tidak pernah terjadi semenjak Allah menciptakan langit dan bumi.

Pada dasarnya gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan adalah hal yang biasa terjadi. Jika kalender Hijriah yang dipakai, maka gerhana bulan bisa terjadi pada salah satu tanggal dari tanggal-tanggal 13, 14, atau 15. Sedangkan gerhana matahari bisa terjadi pada salah satu dari tanggal-tanggal 27, 28, atau 29.

Yang menjadi istimewa adalah sebagai tanda telah datangnya Imam Mahdi, akan terjadi gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan dengan tanggal-tanggalnya yang telah ditetapkan dalam hadits di atas.

Gerhana bulan akan terjadi di malam pertama, tanggal 13 bukan tanggal 1, terbukti dari hadits di atas yang digunakan adalah kata qamar  (bulan) bukan hilal (bulan sabit). Bulan pada tanggal pertama, kedua, dan ketiga dalam bahasa Arab dikatakan hilal. Dari tanggal keempat sampai akhir barulah disebut qamar. Sedangkan  gerhana matahari akan terjadi pada pertengahannya, tanggal 28.

Dalam salah satu doanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengatakan: “Yaa Allah! Apakah aku ini bukan dari Engkau? Saat ini kutuk-laknat serta tuduhan kafir telah banyak sekali. Bukakanlah dengan kebenaran antara kami dengan kaum kami ini, sesungguhnya Engkau adalah Khairul Faatihiyin. Yaa Allah!, turunkanlah pertolongan Engkau untukku dari langit. Dan datanglah untuk menolong hamba-Mu di saat-saat musibah ini. Aku sudah seperti orang-orang yang lemah dan hina. Dan kaum ini telah menistakan daku serta telah mencercaku. Jadi, tolonglah aku sebagiman Engkau telah menolong Rasulullasaw pada hari Badar…” (Ruhani Khazain vol. VIII; Nurul Haq vol.I)

Empat tahun setelah pendakwan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, tepatnya tahun 1311 H atau 1894 M terjadilah gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan pada tanggal-tanggal sebagaiman yang telah ditetapkan dalam nubuatan itu.

Tepatnya, gerhana bulan terjadi pada Kamis malam (7:00-9:30 waktu Calcutta), tanggal 13 Ramadhan 1311 H (21 Maret 1894), dan gerhana matahari terjadi pada Jumaat pagi (9:00-11:00, waktu Calcutta), tanggal 28 di bulan Ramadhan yang sama (6 April 1894).  Ini tercata dan dilaporkan dalam Civil and Military Gazette Lahore, Pioneer Allahabad, dan media-media lainnya di India.

Baca juga: Biografi Syekhul Islam Ibnu Taimiyah

Mubahalah

Mubahalah merupakan “adu kekuatan doa” yang sifatnya memohon arbitrase atau penengahan dan keputusan Tuhan, setelah segala cara pemecahan melalui argumentasi gagal, supaya Tuhan member keputusan antara mereka sesuai dengan hikmah-Nya yang abadi, membantu yang benar dan membinaskan yang jahat. Hal ini sesuai dengan apa yang tercantum di dalam Al Quran surah Ali-Imran: 61-63:

Maka, barangsiapa berbantah dengan engkau tentang dia setelah datang kepada engkau Ilmu, maka katakanlah, ‘Marilah kita masing-masing memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu dan perempuan-perempuan kami, dan perempuan-perempuan kamu dan diri kami sendiri dan diri kamu sendiri; dan kita berdoa meminta laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya inilah dia kisah yang benar.

Setelah beliau berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melakukan pembelaan kepada Islam, menjelaskan tentang kedudukan dan pendakwaan beliau namun sayang orang-orang yang memusuhi beliau malah bertambah keras dalam penetangan dan permusuhan mereka, sesuai dengan petunjuk Ilahi maka ahirnya beliau pun mengajak ber-mubahalah kepada para penentang, baik dari Islam, Kristen, maupun Hindu. Terutama kepada para penetang sengit yang beliau cantumkan daftar namanya di dalam buku beliau, Anjame Atham.

Tidak ada satupun dari pihak penentang yang selalu mendustakan dan mengkafirkan itu mau menerima tantangan mubahalah dari  Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, mereka hanya bisa mencaci maki dan mencari helah, mereka tidak berani memenuhi prosedur mubahalah.

Baru, jauh hari setelah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad wafat banyak pihak penentang yang terus berusaha mengaburkan bukti-bukti nyata yang beliau bawa dengan menyerang forum mubahalah beliau.

Baca juga: Biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, Seorang Ulama, Wali dan Sufi

Dr. Jhon Alexander Dowie

Tantangan mubahalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad juag disampaikan kepada Dr. Jhon Alexander Dowie seorang tokoh Kristen di Amerika Serikat, pada tahun 1901 ia mengaku sebagai Elia (Elijah).

Dengan pengakuan itu ia meraih ketenaran besar. Ia mendirikan kota Zion dan mengumumkan Isa Almasih kedua akan turun di kota itu.

Orang ini amat membenci Islam dan senantiasa melontarkan kata-kata lancang terhadap Islam. Pada tahun 1902 ia menyiarkan suatu peryataan, jika orang-orang Islam tidak menerima agama Kristen mereka seluruhnya akan binasa.

Pengakuannya itu sampailah kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, segera beliau membuat selebaran untuk menentangnya. Di dalam selebaran itu selain menerangkan keutamaan Islam, beliau mengemukakan bahwa untuk memperlihatkan kebenaran agama Kristen apa gunanya membinasakan jutaan manusia.

Surat selebaran itu disiarkan pada bulan September 1902 dan diterbitkan dalam jumlah banyak di Eropa dan Amerika sehingga semenjak bulan Desember 1902 hingga akhir tahun 1903 di dalam berbagai suratkabar Amerika dan Eropa dimuat ulasan-ulasan mengenai selebaran itu.

Allah lamban dalam memberi hukuman namun apabila Dia berkehendak menghukum, Dia member hukuman yang keras, ungkapan itu nampaknya sangat mengena kepada nasib malang yang menimpa Alexander Dowie.

Pertama ia sakit lumpuh setelah sembuh dua bulan kemudian ia sakit lagi, hal itu memaksanya untuk menyerahkan tugasnya kepada kepada pembantu-pembantunya. Hal itu menimbulkan kebimbangan dikalangan para pengikutnya, bukankah ia bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit dengan doa-doanya.

Kemudian, ternyata setelah ruangan-ruangan rahasianya digeledah didapati botol-botol minuman keras, padahal ia melarang para pengikutnya untuk minum-minuman keras.

Ia juga ternyata banyak menggelapkan uang organisasinya untuk poya-poya dan member hadiah kepada gadis-gadis di kota Zionnya itu. Ia pun segera ditinggalkan oleh ratusan ribu pengikutnya dan menjadi miskin.

Alexander Dowie karena menanggung penderitaan yang hebat menyebabkan ia menjadi gila dan akhirnya meninggal. Jika dilihat dari usianya, ia jauh lebih muda daripada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Peristiwa itu kemudian diberitakan luas oleh media-media cetak di Amerika Serkita.  

Beliau memaklumkan bahwa dirinya ditugaskan Allahswt untuk mengundang semua ulama yang mengkafirkan dirinya, baik karena perbedaan pandangan atau ketidakmampuan mereka memahami pengakuannya, untuk melakukan tarung doa agar jelas siapa yang benar dan siapa yang salah.

Baca juga: Biografi Imam Al-Ghazali, Mujaddid Abad Ke-5

Hubungan Dengan Pemerintah Inggris

Pada satu masa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dituduh akan memberontak kepada pemerintah kolonial Inggris, tapi ternyata hal itu tidak terbukti. Pada kesempatan lain  beliau dituduh mencari muka pemerintah Inggris bahkan menjadi antek Inggris, tuduhan itu bertolak belakang dengan kenyataan.

Beberapa ulama melaporkan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad kepada pemerintah sebagai orang yang akan memberontak. Hal ini juga didukung oleh para misionaris Kristen yang tidak sanggup menghadapi serangan beliau terhadap mereka.

Fitnah ini dilontarkan atas apa yang terjadi di Sudan, seorang yang mengaku Mahdi memberontak kepada pemerintah kolonial Inggris walapun kemudian mereka dapat ditumpas. Begitu juga Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad akan memberontak karena beliau juga mengaku sebagia Imam Mahdi.

Ditambah lagi, beberapa tahun sebelum pengakuan beliau sebagai Masih Maud dan Imam Mahdi, terjadi pemberontakan di India pada tahun 1857. Pemerintah memperkirakan bahwa pemberontakan itu adalah hasil rekayasa umat Muslim yang ingin meraih kembali kejayaan masa lalu.

Karena masalah-masalah di atas maka Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad merasa perlu menjelaskan perihal Jihad di banyak buku beliau. Beliau menganggap adalah salah melawan pemerintah yang tidak mencampuri kehidupan keagamaan rakyat serta selalu menjaga hukum dan ketertiban demi keamanan rakyatnya.

Secara tegas dan terbuka beliau memuji dan berterimakasih kepada kebaikan pemerintah, hal ini beliau sampaikan berulang-ulang. Hal ini secara tidak bertanggung jawab dimanfaatkan oleh para penetang untuk menduh beliau sebagai penjilat pemerintah.  

Kerajaan Inggris menaklukan Punjab dari tahun 1846 hingga tahun 1849. Ketika itu Hadhrat Ahmad masih berusia antara 12 dan 14 tahun. Setelah Punjab ditaklukan oleh Inggris, maka keamanan berdiri tegak di sana. Pembangunan infrastruktur diperbaiki dan usaha peningkatan untuk berbagai kemajuan mulai dirintis.

Mengenai hal memuji dan berterimakasih kepada Inggris karena terjaminnya kebebasan beragama di benua India, rasa syukur seperti itu bukan hanya dilakukan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad saja, melainkan para ulama Islam besar lainnya juga menyatakan terima kasihnya atas hal itu.

Diantaranya adalah, Maulwi Ali Muhammad Shahib Lucknow, Maulwi Abdul Haq, Maulwi Fazillah Shahib, Maulwi Muhammad Naim Shahib dan Maulwi Qutbudin Shahib Delhi. Beliau-beliau semua itu bukan pendukung atau pengikut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Pada tanggal 23 Nopember 1870, Muhammadan Litery Society of Calcuta telah mengadakan suatu pertemuan yang di dalam pertemuan tersebut, Karamatullah Sahib telah berpidato mengenai: “Sikap apa yang harus diambil oleh kaum muslimin India terhadap Kerajaan Inggris?” Dalam pidato itu ditegaskan. “Sikap yang harus diambil oleh kaum Muslimin India yaitu bahwa mereka tidak boleh melakukan jihad dengan senjata terhadap Inggris.”

Pada tahun 1871, Amir Ali Shahib menulis “Risalah Jihad”, dimana beliau menerangkan bahwa: “Menurut undang-undang, kaum Syi’ah tidak boleh melakukan jihad dengan kekuatan senjata untuk melawan Ratu Inggris, karena jihad bersenjata itu harus dilakukan di bawah seorang Amir atau seorang Imam.”

Demikian pendirian dan pandangan ‘Alim Ulama Islam India ketika itu terhadap kerajaan Inggris, baik ulama dari golongan Ahli Sunah Wal Jamaah ataupun dari golongan Syi’ah.

Semuanya mempunyai pandangan yang sama terhadap kerajaan Inggri, berterimakasih atas kedatangannya, yang dalam menjalankan pemerintahannya, memberi kebebasan beragama, yang karenannya mereka berpendapat bahwa terhadap kerajaan semacam itu tidak diperbolehkan mengadakan jihad dengan kekerasan.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengagumi pemerintahan Inggris karena telah memberikan kemerdekaan beragama, kedamaian, ketertiban hukum dan mendoakan agar Ratu Inggris mau menerima Islam supaya bisa memperoleh rahmat Tuhan. Beliau menyurati Ratu tersebut menjelaskan mengenai keindahan agama Islam dan Al-Qur’an.

Karya Tulis

Karya-karya tulis Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad bisa dibagi ke dalam tiga macam kategori, yaitu: buku-buku, majalah-majalah, selebaran-selebaran, surat-surat yang ditulis untuk anggota keluarganya, para sahabat, dan orang lain; khutbah-khutbah atau pidato-pidato yang dibuat, baik untuk acara pormal maupun non-formal.

Haji Hakim Nuruddin berkata: “Aku mendapati diriku terheran-heran dengan karya-karya Hadharta Sahib (Mirza Ghulam Ahmad). Walaupun kesehatan beliau buruk beliau telah diberikan banyak tugas. Beliau selalu sibuk dalam karya-karya penulisan syair, karangan dan ilmiah sementara juga sedang melaksanakan tugas-tugas penting lainnya.”

Sugguh menakjubkan, bagaimana beliau seorang diri, tanpa banyak dukungan tenaga bantuan. Buku-buku, selebaran-selebaran dan risalah yang telah beliau tulis, mencapai jumlah sekitar seratus sepuluh buah.

Berikut beberapa buku karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad:

  • Brahin-e-Ahmadiyya (Barahin Ahmadiyah),
  • Purani Tahrirain (Tulisan-Tulisan Lama),
  • Surma Chashme Arya (Cela Bagi Kaum Arya),
  • Shahna-e-Haq (Batalion Kebenaran),
  • Sabz Ishtihar (Selebaran Hijau),
  • Fath-e-Islam (Kemenangan Islam),
  • Tauzih-e-Maram (Penjelasan Tujuan),
  • Izala Auham (Hilangnya Kecurigaan),
  • Mubahisa Ludhiana (Debat Ludhiana),
  • Mubahisa Delhi (Debat Delhi),
  • Aasmani Faisla (Keputusan Samawi),
  • Nishan-e-Aasmani Shahadatul Mulhimin (Tanda-Tanda Samawi, Kesaksian Para Penerima Ilham),
  • Aainai Kamalat-i-Islam (Cermin Keunggulan Islam),
  • Barakatud Du’a (Berkat-Berkat Doa),
  • Hujjatul Islam (Bukti Meyakinkan tentang Islam),
  • Sach-Chai Ka Izhar (Pernyataan Kebenaran),
  • Jang-e-Muqaddas (Peperangan Suci),
  • Syahadatul Quran (Kesaksian Al Quran),
  • Tohfa Baghdad (Hadiah untuk Baghdad),
  • Karamatus Sadiqeen (Mukjizat Kebenaran),
  • Hamamat al Bushra (Merpati pembawa Kabar Gembira),
  • Nur al-Haqq (Cahaya Kebenaran),
  • Itmam al-Hujja (Memberikan bukti yang komprehensif dan meyakinkan),
  • Sirr al Khilafah (Rahasia Khilafat),
  • Anwarul Islam (Cahaya Islam),
  • Minan ar Rahman (Karunia Tuhan yang Maha Pengasih),
  • Zia ul Haq (Cahaya Kebenaran),
  • Nur Al-Qu’ran (Cahaya Al-Qur’an),

Perjalanan Terakhir

Pada tahun 1908 Hadhrat Ahmad disertai keluarga dan sahabat-sahabat terdekatnya mengadakan lawatan ke kota Lahore, nampaknya inilah perjalanan beliau yang terakhir.

Hadhrat Ahmad sering terserang penyakit diare, dan kali ini setelah tiba di Lahore penyakit ini menyerang dengan lebih hebat lagi. Meski pun dalam keadaan sakit Hadhrat Ahmad tetap saja sibuk dalam segala kegiatannya. Orang-orang tidak henti-hentinya datang menjumpai beliau, sehingga beliau tidak dapat waktu yang cukup untuk istirahat.

Dalam keadaan sakit itu pun beliau merencanakan sebuah pidato untuk perdamaian antara Hindu dan Muslim. Yang diberi judul Peygham-e-Suluh (Himbauan ke Arah Perdamaian). Tentu saja pekerjaan ini semakin melemahkan fisiknya.

Benar-benar tidak ada hari yang terbuang sia-sia, pada hari itu Hadhrat Ahmad menyelesaikan naskah pidato itu untuk dicetak, dan malam harinya, penyakit beliau semakin parah dan sangat melemahkan tubuhnya. Istri beliau, Hadhrat Nusrat Jahan terkejut melihat keadaan beliau yang sudah benar-benar lemah, Hadhrat Ahmad mengatakan, “Sekarang saat kewafatan ku sudah tiba.”

Beliau memerintahkan agar memanggil Hadhrat Maulvi Nuruddin (sahabat terdekat dan tabib yang ahli), Hadhrat Mirza Mahmud Ahmad (putra Hadhrat Ahmad), dan Mir Nasir Nawab (mertua beliau).

Akhirnya, 26 Mei 1908, pukul 10:30 pagi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tunai sudah segala tugas dan tanggung jawabnya. Beliau curahkan seluruh hidupnya untuk membela agama dan melayani orang lain.

Ketika baiat pertama diselengarakan hanya 40 orang saja yang baiat,  Duapuluh tahun kemudian ketika beliau wafat pada usia 75 tahun, pengikutnya telah mencapai 300.000 orang. Ini hanya permulaan, ujar beliau kepada para pengikutnya. Setelah beliau akan datang suatu ‘manifestasi akbar.’

Kabar tentang wafatanya Hadhrat Ahmad dengan cepat tersebar. Para Ahmadi di tempat-tempat lain pun diberitahukan dengan telegram pada petang hari itu dan esok harinya, surat-surat kabar diseluruh India memuat berita tentang kewafatan beliau.

Dengan kereta api sore, pada hari itu juga, jenazah Hadhrat Ahmad disertai rombongan besar Jemaat Ahmadiyah, diberangkatkan ke Qadian. Setelah turun di stasiun kota Batala, jenazah beliau diusung sampai ke Qadian.

Duka yang mendalam jelas meliputi seluruh Ahmadi atas perginya Imam tercinta mereka, sementara itu dalam kemalangan yang begitu hebat serombongan orang bersorak soray atas wafatnya Hadhrat Ahmad, mereka mengira mungkin inilah waktunya bagi kehancuraan Jemaat Ahmadiyah.

Tahun 1905, tiga tahun sebelum kewafatnya Hadhrat Ahmad menulis sebuah buku yang berjudul Al-Wasiat. Di dalamnya beliau memberitahukan bahwa saat kewafatan beliau telah dekat, dan menasihatkan agar para pengikut beliau tetap tenteram serta berbesar hati.

Hal penting lain yang beliau sampaikan dalam Al-Wasiat adalah tentang masa depan Jemaatnya, “Dia akan memberi kemajuan kepada Jemaat ini, sebagian di tangganku dan sebagian lagi kemudian sesudah aku.” Beliau menambahkan, “… Allah akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hadhrat Abu Bakarra mengurus umat Islam sesudah kewafatan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw.”

Satu hal yang dipikirkan oleh para pengikutnya setelah kewafatan beliau adalah seorang penerus yang akan menlanjutnkan misi Hadhrat Ahmad, ternayat semua orang menyepakati Hadhrat Al Haj Hakim Nruddin sebagai imam mereka, pengganti Hadhrat Ahmad.

Dengan terpilihnya Hadhrat Haji Hakim Nuruddin sebagai Khalifatul Masih Pertama seorang sahabat setia dan utama dari Hadhrat Ahmad, maka dimulailah babak baru dari Jemaat Ahmadiyah yang kemudian estapet kepemimpinan itu terus berlanjut hingga saat ini.

Kemudian sebagai Khalifatul Masih pertama Hadhrat Al Haj Hakim Nuruddin  memimpin shalat jenazah Hadhrat Ahmad, selepas Dzuhur jenazah Hadhrat Ahmad dikebumikan.

Penyebab Kewafatannya

Wafatnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad di kota Lahore dan bukan di Qadian kemudian hari ternyat memberikan makna yang sangat penting. Ada satu tuduhan yang dilontarkan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, bahwa beliau mati disebabkan oleh penyakit kolera.

Dengan wafatnya beliau di Lahore telah menjawab tuduhan itu, dimana pemerintah melarang keras memindahkan jenazah yang mati karena kolera dari satu tempat ke tempat lainnya. Tentu jika beliau wafat karena kolera jasadnya tidak akan bisa dipindahkan dari Lahore ke Qadian.

Enam puluh enam tahun kemudian, tepatnya tahun 1974 di hadapan Majelis Nasional Pakistan, Hadhrat Mirza Nasir Ahmad (Khalifatul Masih III) ketika diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai Ahmadiyah. Beliau memberikan bukti sertifikat kematian Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, para ulama menjadi sangat terkejut, mereka sebelumnya mengatakan kepada Majlis Nasional Pakistan bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad wafat karena kolera. 

Sosok Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad

Dari segi fisik Hadhrat Ahmad digambarkan sebagai seorang yang berperawakan sedang, tidak gemuk dan tidak pula kurus. Berbahu cukup lebar dengan dada yang lebar pula. Beliau bertubuh bagus, kulit kuning langsat dengan wajah yang bercahaya. Rambutnya indah dan lurus mengkilap dengan janggut yang lebat dan bagus. Mata beliau berwarna coklat kehitam-hitaman. Dahinya lurus dan kening yang lebar lagi tinggi.

Tidak ditemukan laporan atau kesaksian yang menyebutkan pernah ada catat atau noda dari kehidupan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari sejak kanak-kanak hingga dewasanya baik dari orang-orang Islam, Hindu, dan Sikh sekalipun.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah sosok pribadi yang unggul dan istimewa, dari sejak masa kanak-kanak ketertarikan beliau terhadap agama sangat menonjol. Dalam percakapannya sering beliau mengatakan kepada seorang anak perempuan yang seumur dengan beliau, “Doakanlah, supaya Allah memberi taufik kepada saya untuk shalat.” Perkataan ini menggambarkan betapa perasaan suci bergelora dalam sanubarinya ketika masih kanak-kanak.

Hidupnya sederhana, bebas formalitas dari adat kebiasaan. Beliau biasa berpakaian sangat sederhana. Suka memakai kurtah, semacam kemeja tapi longgar, atau memakai kemeja kurung dengan celana model piyama, atau memakai waistcoat dan jas panjang, di kepala suka memakai sorban.

Sepatu yang biasa beliau pakai ialah sepatu model buatan setempat, kaki kiri sama dengan kanan dan sebaliknya. Bila berjalan keluar beliau selalu membawa tongkat. Makanannya juga amat sederhana, makan sedikit dan perlahan-lahan.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dikenal sebagai seorang yang cerdas dan saleh. Dari sejak masa belia beliau memeiliki ketertarikan yang luar biasa kepada agama, beliau banyak menghabiskan waktu di masjid.

Beliau biasa kerja keras, siang dan malam untuk melaksanakan pekerjaannya, hal itu dapat dilihat dari 80 buah buku yang dihasilkannya.

Cobaan apa saja dan kesulitan atau bencana tidak menggoyahkan beliau. Beliau hadapi dengan penuh sikap sabar, tabah, berani, dan jiwa besar.

Beliau sangat ramah terhadap kawan dan lawan serta kasih sayang yang diperlihatkan kepada mereka sikap berkepentingan dan simpati. Beliau peramah dan pencinta anak-isteri yang berbudi. Memelihara anak-isteri melalui sikap bijaksana.

Beliau peramah dan pemurah kepada tamu, gemar dan senang menerima serta mengabdi (melayani) kepada tamu serta menghormatinya.

Kemurahan dan kedermawanan beliau tidak terbatas pada pengikutnya sendiri saja melainkan kepada semua orang, baik itu yang muslim maupun yang beragama lain.

Seluruh hidup Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dipersembahkan untuk kepentingan agama. Sepanjang hayat, siang dan malam, beliau lewati dalam membela dan mengkhidmati Islam.

Beliau menaruh kecintaan dan perhatian yang luar biasa terhadap Rasulullahsaw, hal itu tergambar jelas dalam karya-karya beliau baik berupa buku maupun syair-sayair beliau dan juga ceramah-ceramhanya. Juga dalam percakapan-percakan beliua, senantiasa merujuk kepada Rasulullahsaw.  

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad juga sangat mencinati Al Quran, Beliau mengatakan: “Kemenangan yang diperoleh di ujung sebilah pedang tidak ada artinya sama sekali karena akan menghilang kembali dengan menurunya kekuasaan sipemegang pedang. Kemenangan hakiki hanya akan diperoleh melalui pembeberan wawasan dan kebenaran abadi. Kemenangan seperti inilah yang sedang diperjuangkan Islam. Nubuatan tersebut berkaitan dengan masa sekarang. Sekaranglah waktunya bagi Al Quran untuk membuka semua pengertian-pengertian yang selama ini tersembunyi.”

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dimusuhi oleh para ulama, dibenci oleh para pendeta Kirsten, dan tidak disukai oleh para pandit Hindu. Mereka pernah bekerjasama untuk mencelakakan beliau. Namun beliau tetap sabar dan tidak pernah membalas keaniayaan-keaniayaan yang mereka timpakan atas diri beliau. Beliau telah menampakan kelembutan dan sifat pemaaf yang tiada bandingannya.

Demikianlah biografi singkat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang mendakwakan dirinya sebagai Mujaddid di abad ke-14 hijriyah, sebagai Imam Mahdi dan juga sebagai Al-Masih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman ini yang dikutip dari berbagai sumber.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan