Biografi Ali Bin Abi Thalib ini merupakan uraian singkat tentang Ali Bin Abi Thalib radiallahu anhu, seorang Sahabat Nabi saw yang memilik peranan penting dalam perkembangan Islam dimasa awal dan memiliki pengaruh kuat bagi jutaan orang hingga saat ini.

Masa Kelahiran

Ali Bin Abi Thalib ra lahir di Mekkah sekitar 13 Rajab 23 tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah atau 599 Masehi. Sepuluh tahun sebelum Rasulullah saw diutus sebagai nabi.

Ayahadanya, Abdul Manaf adalah paman Rasulullah saw, yang dikenal sebagai Abu Thalib, pemimpin Bani Hasyim, klan suku Quraish. 

Ketika Sayyidina Ali ra lahir, Rasulullah saw sendiri menjadi pelindungnya, karena keadaan ekonomi ayahnya sangat lemah. Karena itu, sejak awal Sayyidina Ali ra bersama dengan Rasulullah saw.

Rasulullah saw berusia delapan tahun ketika kakek beliau saw, Abdul Mutalib wafat. Abu Thalib, meskipun miskin, dengan penuh tanggung jawab menerima Rasulullah saw dan merawatnya sebagai putranya sendiri.

Ibunda Sayyidina Ali, Fatimah binti Asad, merawat Rasulullah saw seperti putranya sendiri. Fatimah masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah. Ketika dia wafat, Rasulullah saw bersabda bahwa setelah Abu Thalib, beliau saw sangat berterima kasih kepada Fatimah binti Asad.

Termasuk Yang Pertama Beriman

Suatu ketika, Ali Bin Abi Thalib ra menemukan Rasulullah saw dan istri beliau, Khadijah radiallahu anha sedang shalat. Ia bertanya tentang apa yang Rasulullah saw lakukan. Beliau saw memberitahunya tentang Islam dan bahwa beliau saw adalah Utusan Allah, dan mengajak Sayyidina Ali ra untuk masuk Islam.

Sayyidina Ali mengenal Rasulullah saw dan sangat menghormati beliau saw, dia tahu bahwa apa yang beliau saw katakan kepadanya adalah kebenaran. Karena itu, ia pun menerima Islam. Sehingga Ali termasuk orang yang pertama beriman, saat itu usianya sekitar sepuluh tahun.

Abu Thalib untuk pertama kalinya melihat anak dan misanannya mengerjakan shalat bersama. “Anakku, apa yang sedang kau lakukan?”, tanyanya heran. Ia menjawab: “Wahai ayah, aku telah memeluk agama Islam dan mengerjakan shalat bersama misananku”. “janganlah kau berpisah darinya, karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan”, sang ayah menimpali.

Ibnu Abbas berkata: “Orang pertama yang melaksanakan shalat bersama Rasulullah saw adalah Ali.”

Keberanian Sayyidina Ali

Pada tahun keempat Nabuwat, ketika Rasulullah saw diperintahkan untuk menyampaikan tabligh Islam kepada kerabat beliau saw, beliau saw meminta Sayyidina Ali ra untuk menyiapkan makan untuk mereka.

Setelah makan, Rasulullah saw mengumumkan kepada kerabatnya bahwa beliau saw adalah utusan Allah, beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang akan berdiri di sisiku dan membantuku?”

Atas hal ini, tidak ada yang berani mengatakan apa pun, tetapi Sayyidina Ali ra , yang pada waktu itu masih muda, berdiri dan dengan sepenuh hati menyatakan, “Wahai Nabi Allah, meskipun aku hanya seorang anak muda, tapi tetap saja aku hadir untuk berdiri di samping Anda.” (Tafsir Tibri , Sura Al-Shura). Dari kejadian ini, kita bisa melihat keberanian Sayyidina Ali ra.

Kemudian, saat Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk hijrah ke Madinah, beliau saw segera berangkat bersama Hadhrat Abu Bakar ra.

Malam itu Rasulullah saw memerintahkan kepada Ali Bina Abi Thalib ra untuk tetap tinggal di Mekkah, beliau saw meminta Sayyidina Ali ra untuk tidur di tempat tidur beliau saw dan menutupi dirinya dengan selimut beliau saw.

Malam itu Malaikat Jibril membawa berita kepada Rasulullah saw tentang orang-orang kafir Mekah yang bersekongkol untuk membunuh beliau saw.

Orang-orang kafir Quraisy mengepung rumah Rasulullah saw. Namun, atas karunia Allah, telah beliau saw telah pergi. Ketika orang-orang memasuki rumah untuk membunuh beliau saw, kemudian mereka menyibakkan selimut dan mengetahui kenyataan bahwa bukan Rasulullah saw, melainkan Sayyidina Ali ra yang  ada dibaliknya. Sayyidina Ali ra siap mengorbankan dirinya untuk Rasulullah saw.

Rasulullah saw juga memerintahkan agar Ali Bin Abi Thalib ra mengembalikan semua barang milik orang-orang Mekkah karena Nabi saw dipercayakan dengan barang-barang berharga dari beberapa orang Mekkah.

Setelah Rasulullah saw hijrah, Sayyidina Ali ra baru dapat hijrah tiga hari setelah itu bersama ibunya, Fathimah binti Asad, Fathimah Az-Zahra, Fahimah binti Zubair dan Muslimin lainnya yang belum sempat berhijrah karena ia harus mengembalikan amanat-amanat Rasulallah saw kepada para pemiliknya.

Keberanian Sayyidina Ali ra tidak ada duanya, beliau dijuluki sebagai Asadullah (Singa Tuhan). Beliau mengalami tingkat kesulitan yang tak tertahankan, baik ketika menjadi Khalifah dan waktu sebelum itu, tetapi ia tetap teguh dan tabah dalam membangun kembali perdamaian dalam umat Islam. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk menghidmati Islam.

Berjuang Membela Islam

Hadhrat Ali Bin Abi Thalib ra adalah seorang pejuang yang berani dan terampil. Ia berpartisipasi dalam hampir semua pertempuran bersama dengan Rasulullah saw, diantaranya Perang Badar, Khandak dan Khaibar. Kecuali Perang Tabuk, ia tidak ikut serta karena mewakili Rasulullah saw untuk menjaga kota Madinah.

Saat ikut Perang Badar, Sayyidina Ali ra masih sangat muda sekitar 25 tahun. Kemudian, pada Perang Khaibar, ketika kaum Yahudi bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh dan sulit ditembus, Rasulullah saw bersabda:

“Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.

Maka, keesokan harinya Rasulullah saw memerintahkan Ali bin Abi Thalib ra memimpin pneyerbuan ke Benteng Khaibar, sehingga akhirnya bisa ditembus dan kaum Yahudi pun bisa dikalahkan.

Keluarga

Hadhrat Ali Bin Abi Thalib ra menikah dengan Fatimah az-Zahra rah, putri bungsu Rasulullah saw dan Khadijah rah. Setelah Fatimah wafat, ia menikah dengan beberapa wanita.

Fatimah Az-Zahra (615–632).

  1. Hasan (624–670). Menjadi khalifah selama enam atau tujuh bulan pada tahun 661.
  2. Husain (625–680). Menikah dengan Syahrbanu, putri Yazdegerd III, Kaisar Sasaniyah terakhir. Terbunuh dalam Pertempuran Karbala.
  3. Zainab (626–681). Menikah dengan sepupunya, ‘Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib.
  4. Zainab As-Sughra (Zainab Kecil), juga dikenal dengan Ummu Kultsum. Menikah dengan Umar bin Khattab.

Khaulah binti Ja’far dari Bani Hanifah.

  1. Muhammad bin al-Hanafiyah

Umamah. Ibunya adalah Zainab, putri tertua Nabi Muhammad dan Khadijah binti Khuwailid RA. Ayahnya adalah Abu Al-‘Ash bin Ar-Rabi’ dari Bani Abdu Syams.

  1. Hilal. Juga dikenal dengan Muhammad Al-Aswat.

Fatimah binti Hizam. Juga dikenal dengan Ummul-Banin. Berasal dari Bani Kilab.

  1. Abbas
  2. Abdullah
  3. Ja’far
  4. Musa
  5. Ruqayyah.

Laila binti Mas’ud

  1. Ubaidullah
  2. Abu Bakar

Asma binti Umais. Asma menikah sebanyak tiga kali dan ‘Ali adalah suami terakhirnya. Suami pertama Asma adalah saudara ‘Ali sendiri, Ja’far bin Abi Thalib. Suami keduanya adalah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

  1. Yahya
  2. Muhammad Ashgar

Sahba binti Rabia

  1. Umar
  2. Rukiyah

Ummu Said binti Urwah

  1. Ummul Hasan
  2. Ramlah Kubra

Mahabba binti Imru’ul Qais

Keturunan Sayyidina Ali ra dan Sayyidah Fatimah rah dikenal dengan Syarif atau Sayyid, yang merupakan gelar kehormatan, Syarif berarti bangsawan dan Sayyid berarti tuan.

Menjadi Khalifah

Setelah Khalifah Utsman ra terbunuh, para sahabat Rasulullah saw dan kaum muslimin sepakat untuk memilih Hadhrat Ali Bin Abi Thalib ra sebagai Khalifah Rasyidin yang keempat. Atas hal ini, Hadhrat Ali ra mengatakan bahwa itu bukan keputusan ringan dan hanya para sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar yang harus membuat keputusan seperti itu.

Para sahabat yang ambil bagian dalam Perang Badr setuju dan memilih Sayyidina Ali ra sebagai Khalifah Keempat. Pada 23 Juni 656 M, enam hari setelah wafatnya Khalifah Utsman ra, Sayyidina Ali ra pun menerimanya.

Hadhrat Ali Bin Abi Thalib ra terpilih sebagai khalifah keempat dan umat Islam pun bersumpah setia di tangannya satu per satu. Periode kekhalifahannya yaitu dari tahun 656 M hingga 661 M.

Pada masa itu umat Islam dalam keadaan yang bergejolak dan tidak lagi bersatu. Mereka telah terpecah menjadi faksi yang berbeda, menempatkan kepentingan masing-masing di atas segalanya.

Kebijakan Khalifah Ali ra murni berdasarkan pada ajaran Al-Quran. Beliau tidak pernah mengkompromikan etika dan prinsip-prinsip Islam demi mempertahankan kekuasaan.

Beliau tidak membedakan antara si kaya dan si miskin. Beliau tidak berusaha menyenangkan orang kaya dengan mengorbankan yang miskin dan yang lemah.

Dengan kematian Khalifah Utsman ra, keadaan kekacauan total dan anarki berkuasa di kota Madinah. Setelah lima hari pertengkaran politik, Ibnu Saba, pemimpin kelompok pemberontak Mesir mendukung perjuangan Khalifah Ali ra dengan alasan bahwa ia adalah Khalifah yang sah yang atas kemauannya Nabi Muhammad saw.

Khalifah Ali ra mengumumkan bahwa prioritas utamanya adalah mengembalikan hukum dan ketertiban, dan hanya pada saat itulah beliau dapat membawa para pembunuh Hadhrat Utsman ra ke pengadilan.

Perang Jamal

Akan tetapi dua sahabat Nabi saw, Talha bin Ubaidillah ra dan Zubair bin Awwam ra tidak setuju dengan Khalifah Ali ra, mereka mulai membentuk pasukan. Ummul Muminin, Aisah rah yang tidak mengetahui situasi sebenarnya, bergabung dengan Talha ra dan Zubair ra, dalam upaya untuk menghukum para pembunuh. Ketiganya memimpin pasukan menuju Basra, Irak.

Khalifah Ali ra mencoba yang terbaik untuk menghindari pertengkaran dan pertumpahan darah, tetapi semua usahanya gagal. Pertempuran terjadi antara 20.000 pasukannya  dan 30.000 pasukan Aisyah rah.

Sementara itu Talha ra dan Zubair ra meninggalkan pasukan mereka bahkan sebelum pertempuran, dan dibunuh oleh beberapa lawan lainnya. Pasukan Aisyah ra dikalahkan, tetapi Khalifah Ali ra tetap menghormati dan menjaga keselamatannya. Beliau mengirimnya kembali ke Madinah dengan pengawalan kakaknya sendiri, Muhammad bin Abu Bakar ra.

Pertempuran itu disebut Pertempuran Jamal (Unta) karena Hadhrat Aisyah rah mengendarai unta selama pertempuran. Kemudian, Hadhrat Aisyah rah menyesal sepanjang hidupnya telah berperang melawan Khalifah Ali ra .

Mempertahankan Khilafah

Setelah Pertempuran Jamal, Khalifah Ali ra mendesak Amir Muawiah, yang belum mengambil bai’at untuk tunduk kepadanya demi kepentingan Islam. Tetapi Muawiah menolak untuk menyerah dengan alasan bahwa darah Khalifah Utsman ra, yang juga milik keluarga Umayyah, harus dibalaskan terlebih dahulu.

Amir Muawiah ra, dengan bantuan Amr Bin As ra, mulai mengumpulkan pasukan. Khalifah Ali ra tidak punya alternatif selain maju ke Suriah untuk melawan Muawiah ra.

Pada bulan Juli, 657 M, kedua pasukan bertemu dalam pertempuran di Saffain. Ada banyak korban di kedua pihak. Pertempuran berakhir dengan kesepakatan bahwa masalah tersebut diputuskan oleh komite arbitrase. Perundingan terjadi antara Abu Musa al-Ash’ari ra, mewakili Khalifah Ali ra dan Amr Bin As ra mewakili Amir Muawiah ra.

Sayangnya, arbitrase itu berakhir dengan kegagalan karena Amr Bin As ra menyimpang dari keputusan yang disepakati dengan Abu Musa al-Ash’ari ra.

Sekelompok orang menentang proposal perdamaian, memisahkan diri dari Khalifah Ali ra dan memilih Amir independen untuk diri mereka sendiri. Kelompok ini disebut Khawarij (Orang Luar).

Awalnya, Khalifah Ali ra mencoba membujuk mereka untuk tunduk kepadanya, tetapi gagal. Ini menyebabkan terjadinya pertempuran yang sengit di mana sebagian besar Khawarij terbunuh.

Setelah kekalahan telak ini, Khawarij berencana untuk membunuh Khalifah Ali ra, Amir Muawiah ra dan Amr bin As ra. Dua yang terakhir dapat menyelamatkan diri dari upaya pembunuhan mereka.

Sementara itu, pada tanggal 19 Ramadhan 40 H, saat Khalifah Ali ra pergi ke masjid untuk shalat Subuh, ia diserang oleh  Abdurrahman bin Muljam, seorang dari golongan Khawarij, sehingga ia terluka parah. Dua hari kemudian, Khalifah yang berani dan saleh ini wafat pada tanggal 20 Ramadhan, 40 H dalam usia 63 tahun. Hadhrat Ali ra kemudian dimakamkan di Najaf, Irak.

Tidak diragukan, Khalifah Ali ra adalah seorang pemberani dan ia telah mengorbankan hidupnya demi tetap tegaknya Khilafah. Dani ia salah satu dari sepuluh orang yang sahabat yang dijamin masuk surga.

Sumber:

  1. Alislam.org
  2. Alhakam.org
  3. Wikipedia.org (diakses tgl 14 jun 2020)

Baca juga:

  1. Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir
  2. Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq-Khalifatu Rasyiddin I
  3. Umar bin Khattab ra: Penakluk Persia dan Romawi
Ali Bin Abi Thalib by Inspira Studio

0 Komentar

Tinggalkan Balasan