Biografi Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, Amirul Mu’minin Fil Hadist

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

ibnu-hajar-al-asqalani

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah salah seorang ulama ahli hadits dari Mazhab Syafi’i yang paling terkemuka. Beliau menulis sekitar 150 karya tentang hadits, sejarah, biografi, tafsir, puisi, dan fiqih Syafi’i. Salah satu karya besarnya adalah Fathul Bari, berisi tentang penjelasan Sahih Bukhari.

Kehidupan Awal

Nama lengkapnya adalah Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Nuruddin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar. Syihabuddin merupakan nama gelar dan Abu Fadhl adalah nama kunyahnya. Kemudian beliau dikenal sebagai Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dilahirkan di Kairo pada 22 Sya’ban 773 H/18 Februari 1372. Ayahanda beliau, Nuruddin Ali merupakan seorang cendekiawan Mazhab Syafi’i dan jua penyair berbakat.

Orang tua beliau telah pindah dari Alexandria ke Kairo. Awalnya mereka berasal dari Ashkelon, Palestina. Dari Ashkelon itulah nama Al-Asqalani diperoleh.

Kedua orangtuanya meninggal saat Ibnu Hajar Al-Asqalani masih bayi. Beliau dan saudara perempuannya, Sitt al-Rakb, kemudian diasuh oleh saudara laki-laki dari istri pertama ayahnya, Zakiuddin Al-Kharubi.

Baca juga: Biografi Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, Seorang Ulama, Wali dan Sufi

Masa Menimba Ilmu

Saat Ibnu Hajar Al-Asqalani berusia 5 tahun, Zakiuddin Al-Kharubi memasukan beliau ke Madrasah atau Maktab (sekolah dasar).

Di sini mulia terlihat bakat dan kecerdasannya, beliau berhasil menjadi hafiz (penghafal Qur’an) saat usia beliau baru 9 tahun. Beliau juga berhasil menghafal teks-teks seperti versi singkat dari karya Ibn al-Hajib tentang usul fiqh .

Gurunya di Maktab, diantaranya ialah Syamsuddin bin Al-Allaf – yang pernah menjabat wilayah hisbah Mesir, Syamsuddin al-Athrusy dan Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazzaq as-Safthi Al-Muqri’.

Pada tahun 784 H, Al-Kharubi mebawa serta Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam perjalanan untuk menunaikan ibadah haji dan kemudian tinggal beberapa lama di Makkah.

Satu tahun berikutnya, saat Ibnu Hajar Al-Asqalani berusia 12 tahun, beliau mendapat karunia untuk menjadi imam shalat tarawih di Masjidil Haram.

Beliau belajar Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh Al-Muhaddits ‘Afifuddin an-Naisaburi Al-Makki.

Kemudian pada tahun 786 H, Al-Kharubi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani kembali Kairo, Mesir. Di sana beliau melanjutkan pendidikannya.

Ketika Al-Kharubi wafat pada tahun 1386 M, pendidikan Ibnu Hajar Al-Asqalani dipercayakan kepada ulama hadits, Syamsuddin Ibnu Al-Qattan. Beliau juga belajar fiqih Mazhab Syafi’i kepada Sirajuddin Al-Bulqini dan Ibnu Al-Mulaqqin dan belajar hadits kepada Abdurrahim Ibnu Al-Husain Al-Iraqi.

Baca juga: Biografi Imam Al-Ghazali, Mujaddid Abad Ke-5

Perjalanan Menuntut Ilmu

Ibnu Hajar Al-Asqalani memiliki semangat dan kesungguhan yang luar biasa dalam menutut ilmu.

Semangat dalam menggali ilmu ditunjukkannya dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, beliau kemudian melakukan perjalanan ke banyak negeri.

Beliau meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke berbagai kota untuk menimba ilmu dari banyak guru dan ulama termasyhur pada masa itu.

Beliau pergi ke Damaskus, Shan’a dan kota-kota lainnya di Yaman, di sana beliau belajar di bawah bimbingan ulama-ulama terkenal di kota-kota itu.

Pada tahun 815 H, beliau juga pergi ke Palestina. Mengunjungi kota Yerusalem Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah.

Guru-guru beliau diantaranya, Syamsuddin Al-Qalqashandi, Badruddin Al-Balisi, Fatima binti Al-Manja Al-Tanukhiyyah, Ibnu Mulaqqin dan Al-Bulqini.

Ibnu Hajar Al-Asqalani juga mengunjungi ke Makkah dan Madinah, kemudian beliau kembali ke Mesir. Beliau berulang kali pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.

Ibadah hajir terakhir yang beliau laskanakan pada tahun 824 H, bersama saudara iparnya, Muhibbuddin bin Al-Asyqar, dan kerabatnya, az-Zain sya’ban.

Pada tahun 1397 M, pada usia dua puluh lima, Ibnu Hajar Al-Asqalani menikah dengan seorang pakar hadits terkenal, Uns Khatun, yang menahan ijazas dari Hafiz Al-Iraki dan memberikan kuliah umum kepada para ulama, termasuk muridnya utamanya, Al-Sakhawi .

Ibn Hajar Al-Asqalani kemudian diangkat sebagai ketua hakim Mesir (Qadi) hingga beberapa kali.

Baca juga: Biografi Imam Bukhari, Amirul Muminin Fil Hadits

Murid-murid Ibnu Hajar Al-Asqalani

Ibnu Hajar Al-Asqalani telah menjelma menjadi sosok ulama yang hebat, berilmu tinggi dan berpengaruh. Keilmuan dan kesalehannya sangat menonjol dibandingan ulama-ulama lain yang hidup sezaman dengan beliau.

Oleh karena itu, banya orang yang datang berguru kepada beliau, kemudian diantar mereka menjadi ulama-ulama hebat. Beberapa murid beliau diantaranya adalah:

  • Al-Hafidz As-Sakhawi
  • Burhanuddin Al-Biqa’i
  • Zakaria Al-Anshari
  • Ibnu al-Haidhari
  • At-Taqi bin Fahd Al-Makki
  • Al-Kamal bin Al-Hammam Al-Hanafi
  • Qasim bin Quthlubugha
  • Ibnu Taghri Bardi
  • Ibnu Qazni
  • Abu Al-Fahl bin Asy-Syihnah
  • Al-Muhibb Al-Bakri
  • Ibnu Ash-Shairafi

Karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut hingga wafatnya.

Beliau menulis sekitar 150 kitab tentang hadits, terminologi hadits, evaluasi biografi, sejarah, tafsir Al-Qur’an, puisi dan fiqih Mazhab Syafi’i. Sementara itu menurut murid utamanya, Imam As-Sakhawi, tulisannya mencapai lebih dari 270 kitab.

Para raja dan Amir biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Berikut ini beberapa karya tulis Ibnu Hajar Al-Asqalani:

  • Fathul Bari (Kemenangan Sang Pencipta), Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Fathul Bari, yang merupakan penjelasan atau komentar dari kitab Shahih Bukhari dan disepakati sebagai kitab penjelasan Shahih Bukhari yang paling detail yang pernah dibuat. Karyanya paling terkenal dan sangat dihormati pada penulis. Sejarawan Ibnu Iyaas sebagai ‘yang terbesar di zaman ini.’
  • al-Isaba fi tamyiz al-Sahaba – kamus paling lengkap dari para Sahabatal-Durar al-Kamina – kamus biografi tokoh-tokoh terkemuka abad kedelapan.
  • Tahdhib al-Tahdhib – singkatan dari Tahdhib al-Kamal , ensiklopedia perawi hadis oleh Yusuf ibn Abd al-Rahman al-Mizzi
  • Taqrib al-Tahdhib – ringkasan Tahthib al-Tahthib.
  • Ta’jil al-Manfa’ah – biografi para perawi Musnad dari empat imam, tidak ditemukan di al-Tahthib.
  • Bulugh al-Maram min adillat al-ahkam – pada hadits yang digunakan dalam fiqh Syafi’i.
  • Nata’ij al-Afkar fi Takhrij Ahadith al-Adhkar
  • Lisan al-Mizan
  • Talkhis al-Habir fi Takhrij al-Rafi`i al-Kabir
  • al-Diraya fi Takhrij Ahadith al-Hidaya
  • Taghliq al-Ta`liq` ala Sahih al-Bukhari
  • Risala Tadhkirat al-Athar
  • al-Matalib al-‘Aliya bi Zawa’id al-Masanid al-Thamaniya
  • Nukhbat al-Fikar
  • al-Nukat ala Kitab ibn al-Salah – komentar Muqaddimah dari Ibn al-Salah
  • al-Qawl al-Musaddad fi Musnad Ahmad diskusi tentang hadis keaslian yang disengketakan dalam Musnad Ahmad
  • Silsilat al-Dhahab
  • Ta’rif Ahl al-Taqdis bi Maratib al-Mawsufin bi al-Tadlis

Karya-karya beliau seperti Fathul Bari, Bulugh Al-Maram dan yang lainnya hingga saat ini masih banyak dipelajari dan menjadi rujukan di lembaga-lembaga pendidikan. Juga diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia.

Baca juga: Biografi Imam Ahmad Bin Hambal atau Imam Hambali

Pendapat Para Ulama Tentang Ibnu Hajar Al-Asqalani

Banyak para ulama yang berkomentar tentang Ibnu Hajar Al-Asqalani, beberapa diantaranya sebegaia berikut:

Al-Iraqi mengatakan, ”Ia memiliki keistimewaan dengan kesungguhannya yang tiada tara hingga menempuh jalan yang ditempuh ahli hadits, dan meraih ilmu yang melimpah dalam waktu yang singkat.”

Al-Allamah asy-Syaukani mengatakan, “Penghafal besar yang masyhur, imam yang tiada duanya dalam hal pengetahuan tentang hadits dam ilalnya dizaman-zaman belakangan. Hafalan dan kesempurnaannya diakui, baik oleh orang dekat maupun orang jauh, musuh maupun teman, hingga penyebutan secara muthlaq kata al-Hafidz telah menjadi kata kesepakatan. Para penuntut ilmu melakukan perjalanan kepadanya dari berbagai penjuru, dan karya-karyanya telah terseber dimasa hidupnya di berbagai penjuru. Para raja saling berkirim surat dari satu negeri ke negeri lainnya mengenai tulisannya, dan ini banyak sekali.”

Ibnu Taghri Bardi mengatakan, “Ia-semoga Allah mengampuninya-memiliki uban yang bercahaya, ketenangan, keelokan dan kewibawaan, beserta segala yang dimilikinya berupa akal, kesabaran, diam, memimpin dengan hukum, dan mengambil hati manusia. Jarang sekali ia berbicara kepada orang lain dengan sesuatu yang tidak disukainya. Bahkan ia berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadanya, dan memaafkan orang yang (sebenarnya) sanggup ia balas.”

Penampilan dan Pembawaan Ibnu Hajar Al-Asqalani

Dari segi fisik, Ibnu Hajar Al-Asqalani digambarkan memiliki postur tubuh sedang, cendrung pendek dan kurus, berkulit putih, rupanya menawan, berwajah ceria, berjenggot tebal putih, berkumis pendek, beruban bagus, pendengaran dan penglihatannya normal, giginya utuh lagi bersih dan bermulut kecil.

Kuat keinginannya, tinggi cita-citanya, dan senantiasa dalam semangat, berlisan fasih, merdu suaranya, bagus kecerdasannya, besar kecerdikannya.

Baca juga: Biografi Imam Syafii, Pendiri Mazhab Syafii

Perilaku dan Kepribadiyan Ibnu Hajar Al-Asqalani

Ibnu Hajar Al-Asqalani dikenal sebagai seorang yang alim, berhati suci dan jujur lagi ikhlas.

Beliau seorang yang tekun beribadah. Banyak orang yang menyaksikan beliau dawam (teratur) dalam mengerjakan shalat tahajjud.

Beliau tidak pernah meninggalkan shalat  berjama’ah kecuali dalam keadaan terpaksa. Juga beliau rajin berpuasa, dan berusaha sungguh-sungguh menggunakan waktu untuk beribadah.

Ibnu Hajar Al-Asqalani juga rutin membaca Al-Quran tiap malamnya. Beliau membaca dan merenungkan maknanya sehingga beliau meneteskan air mata karena tenggelam dalam penghayatannya terhadap Al-Qur’an.

Selain dari itu, ternyata beliau seorang yang dermawan dan murah hati. Beliau suka berbuat baik dan bersedekah.

Beliau tidak ragu untuk menolong murid atau jamaahnya yang mengalami kesusahan atau kepada siapa saja yang meminta bantuan. Demikan pula orang-orang fakir miskin biasa berkumpul di depan rumahnya pada hari tertentu meminta sedekah, dengan senang hati beliau membagi-bagikan hartanya kepada mereka.

Dia juga sering mencaritahu tentang orang-orang yang dipenjarakan, dan menebus mereka dari hartanya. Dia berbuat baik kepada para tetanga yang fakir. Saat bulan ramadhan, dia membeli madu dan gula guna dibagi-bagikan kepada orang banyak yang membutuhkan. 

Pada hari raya idul fithri dia membeli kismis dan selainnya. Pada hari raya idul Adha, dia memberikan binatang kurban kepada kaum fakir dan orang-orang yang membutuhkan, atau membagi-bagikan kepada mereka harta yang setara dengan seratus dinar. Dia sangat merahasiakan semua itu agar mendapat keutamaan sedekah secara sembunyi-sembunyi.

Baca juga: Biografi Umar Bin Abdul Aziz, Sang Mujaddid Abad Pertama

Akhir Kehidupan

Sekitar 25 Jumadil Akhir 852 H, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengundurkan diri dari jabatannta sebagai hakim atau qadhi. Kemudian beliau hanya tinggal di rumahnya saja untuk beristirahat.

Namun beliau gunakan waktu untuk istirahatnya itu untuk terus mengarang dan mengajar hingga menyebabkan beliau jatuh sakit.

Hingga akhirnya beberapa minggu kemudian Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani menghembuskan nafasnya yang terakhir, tepatnya setelah Isya pada tanggal 8 Dzul Hijjah 852 H (2 Februari 1449), dalam usia 79 tahun.

Musibah ini dirasakan amat berat oleh umat Islam, karena telah kehilangan seorang tokoh besar yang banyak memiliki jasa. Kesedihan tidak hanya dirasan oleh umat Islam tetapi masyarakat non muslim Mesir juga turut berduka.

Pasar-pasar dan took-toko ditutup. Sehingga seluruh penduduk kota datang melayat. Diperkirakan 50.000 orang menghadiri pemakamannya di Kairo, termasuk Sultan Sayf ad-Din Jaqmaq (1373-1453 M) dan Khalifah Al-Mustakfi II (memerintah 1441-1451 M).

Penutup

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah seorang ulama besar abad ke-8 hijriah. Beliau pantas diberi gelar “amirul mu’minin fil hadist”.  Karena otoritasnya yang tinggi dalam bidang hadist. Beliau juga salah satu ahli fiqih yang menjadi rujukan penting  bagi Mazhab Syafi’i. 

Karena ketokohan dan jasa-jasanya bagi perkembangan Islam,  sehingga beliau juga memang layak menjadi salah seorang mujaddid pada abad ke-8  hijriah.

Demikianlah uraian tentang seorang ualam yang agung, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani. Jazakumullah ahsanal jaza.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir


0 Komentar

Tinggalkan Balasan