Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq-Khalifatu Rasyiddin I

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

abu-bakar

Abu Bakar Ash Shiddiq, yang pertama beriman, sahabat paling dekat, teman dalam perjalanan hijrah dan khalifah pertama setelah Rasulullah saw.

Abu Bakar Ash-Siddiq radiallahu ‘anhu (ra) – semoga Allah meridoinya, yang pertama bai’at menerima kebenaran Islam, salah seorang sahabat dekat Rasulullah sallahu alaihi wa sallam (saw) – pendamping Rasulullah ketika hijrah ke Madinah, sahabat yang paling banyak berkorban dan akhirnya beliau ra terpilih sebagai khalifah, penganti Rasulullah saw yang pertama.

Nama dan Silsilah

Abu Bakar, waktul lahir diberi nama Abdul Ka’bah (hamba ka’bah), kemudian diubah oleh Rasulullah saw menjadi Abdullah (hamba Allah). Beliau saw juga memberinya gelar Ash-Shiddiq (yang berkata benar).

Sehingga nama lengkapnya menjadi Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Quraisy. Bertemu nasabnya dengan Rasulullah saw pada kakeknya bernama Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay.

Sedangkan nama Abu Bakar diberikan oleh Rasulullah saw yang artinya “Bapak anak unta muda”. Nama itu diberikan karena beliau ra orang yang bersegera memeluk agama Islam, setelah sampai kepadanya risalah dakwah. Oleh karena itu beliau ra kemudian dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq.

Beliau ra lahir di kota Mekah sekitar tahun 573 M, dari keluarga kaya dalam Bani Taim. Ayahandanya bernama Utsman, biasa dipanggil Abu Quhafa dan ibudanya bernama Salma binti Sakhar dikenal sebagai Umm-ul-Khair.

Masa Kanak-kanak

Abu Bakar ra menghabiskan masa kecilnya seperti anak Arab pada umumnya dimasa itu. Senang bermain

Pada masa kecilnya, Abu Bakar sering sekali bermain dengan unta dan kambing, dan kecintaannya terhadap unta inilah yang memberinya nama “Abu Bakar” yang berarti, bapaknya unta.

Seperti anak-anak lain dari keluarga pedagang Mekah yang kaya, Abu Bakar adalah orang terpelajar (bisa menulis dan membaca) dan dia menyukai puisi.

Berniaga

Ketika berusia 10 tahun, Abu Bakar pergi ke Suriah bersama ayahnya dengan kafilah dagang. Rasulullah saw yang pada saat itu berusia 12 tahun juga bersama kafilah tersebut. Juga ketika berusia 18 tahun beliau ra pergi berdagang.

Setelah itu beliau ra sering sekali bepergian dengan kafilahnya. Beliau berniaga di Yaman, Suriah dan beberapa tempat lainnya. Karena ketekunan dan keahliannya beliau ra pun berhasil dalam perniagaannya.

Selain itu karena bakat dan kepribadiannya beliau ra juga menjadi kepala suku kaumnya, meskipun ayahnya masih hidup.

Beliau ra memiliki ingatan yang bagus dan pemahaman yang baik mengenai silsilah atau asal usul suku-suku Arab, sejarah dan juga politik mereka.

Dari segi penampilan fisik, belia ra berperawakan kurus, berkulit putih, bahunya kecil dan muka lancip dengan mata yang cekung disertai dahi yang agak menonjol dan urat-urat tangan yang tampak jelas — begitulah dilukiskan oleh putrinya, Aisyah rah.

Bai’at

Pada suatu hari, setelah kembali dari perjalanan niaga dari Yaman, Abu Bakar ra diberi tahu oleh teman-temannya bahwa ketika beliau ra tidak berada di Mekah, Rasulullah saw menyatakan dirinya sebagai seorang utusan Allah.

Mendengar hal itu beliau segera menjumpai Rasulullah saw, dan tanpa ragu dan bertanya macam-macam beliau ra pun segera bai’at, beriman kepada Rasulullah saw dan menerima kebenaran Islam.

Diriwayatkan dari Aisyah rah (radiallahu ‘anha) mengatakan:

Sejak zaman jahiliyah, Abu Bakar adalah kawan Rasulullah. Pada suatu hari, dia hendak menemui Rasulullah, ketika bertemu dengan Rasulullah, dia berkata, “Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi), ada apa denganmu sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain lain lagi?” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah dan aku mengajak kamu kepada Allah.” Setelah selesai Rasulullah berbicara, Abu Bakar langsung masuk Islam. Melihat keislamannya itu, dia gembira sekali, tidak ada seorang pun yang ada di antara kedua gunung di Mekkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan dia.

Rasulullah saw pun bersabda tentang segera bai’atnya Abu Bakar ra:

“Tak seorang pun yang pernah kuajak memeluk Islam yang tidak tersendat-sendat dengan begitu berhati-hati dan ragu, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. la tidak menunggu-nunggu dan tidak ragu ketika kusampaikan kepadanya.”

Setelah beriman beliau ra kemudian menyampaikan tabligh Islam kepada teman-temannya, seperti kepada Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqas. Sehingga mereka pun bai’at masuk Islam.

Sementara itu ayahanda beliau ra baru bai’at setelah penaklukkan Makkah. Dan ibunda beliau ra sebelum peristiwa hijrah.

Adapun Istri pertama beliau ra yang bernama Qutaylah bint Abd-al-Uzza diceraikannya dengan baik-baik karena tidak mau beriman. Sedangkan Istrinya yang lain yang bernama Ummi Ruman mau beriman.

Dan putra-putri beliau ra: Abdullah, Abdurrahman, Muhammad, Asma, Aisyah (ummul mu’minin sebagai istri ketiga Rasulullah saw), dan Ummu Kultsum, pada akhirnya semuanya beriman.

Pengorbanan dan Perjuangan

Setelah beriman, Abu Bakar ra membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan Islam. Usaha-usahanya, perhatiannya dan pikirannya beliau as persembahkan untuk perjuangan di jalan Allah.

Beliau ra  sahabat yang paling banyak mengorbankan harta kekayaanya di jalan Allah. Ketika Rasulullah saw meminta pengorbanan harta dari para sahabat maka Abu Bakar yang terdepan dan paling banyak dalam pengorbananya bahkan tak menyisakan apapun untuk keluarganya di rumah.

Sekalipun para sahabat lainnya berusaha untuk mengalahkannya dalam pengorbanan mereka, namun beliau ra selalu unggul dan terdepan.

Beliau ra banyak memerdekakan budak yang dianiaya karena mereka telah beriman, seperti Bilal bin Rabah.

Menjadi Khalifah

Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, adalah salah satu orang yang pertama beriman, menjadi sahabat dekat Rasulullah saw,  mendapat kehormatan untuk menemani Rasulullah saw ketika hijrah, dan orang yang diberi kepercayaan untuk menjadi imam salah ketika Rasulullah saw berhalangan.   

Beliau ra banyak berperan dalam perjuangan Islam. Beliau turut serta dalam berbagai peperangan  seperti Perang Badar dan Perang Uhud. Kedekatan dan kesetiaannya yang luar biasa Rasulullah saw.

Beliau ra juga dihormati dan dijadikan teladan oleh para sahabat lainnya. Memiliki wawasan dan penhetahuan keislaman yang luas.

Sehingga akhirnya ketika waktunya tiba, Rasulullah saw meninggalkan para sahabat yang yang baru beriman itu untuk selama-lamanya, disaat musibah yang dahsyat itu melanda umat Islam, yang nampak belum siap menerima kenyataa itu, akhirnya meraih ketentraman dengan terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah – penganti Rasulullah saw.

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun tahun 632 M. Abu Bakar dinyatakan sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah, menjadikannya sebagai khalifah pertama dalam Islam. Masa kepemipinannya sekitar 2,5 tahun berhasil membawa umat Islam dari mara bahaya besar, berupa pemberontakan-pemebrontakan yang ingin menghancurkan Islam.

Menumpas Pemberontakan

Segera setelah menjadi Amirul Mu’minin – pemimpin orang-orang beriman, muncul persoalan yang sangat besar. Beberapa suku di Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah. Beberapa di antaranya menolak membayar zakat. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala.

Mereka menganggap setelah Rasulullah saw wafat maka hubungannya dengan Islam tidak ada lagi. Khalifah pun menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Riddah atau perang Yamamah.

Pemipin utama oemberontakan itu, Ibnu Habi al-Hanafi yang lebih dikenal dengan nama Musailamah al-Kazzab (Musailamah si pendusta), yang mengaku nabi. Dan pasukan Musailamah pun akhirnya dapat  ditumpas.

Khalifah berhasil menguasai keadaan dan umat Islam menjadi tenteram dan selamat dari ancaman perpecahan dan kehancuran.

Pelestarian Teks-teks Al Qur’an

Setelah perang melawan pemberontakan itu berakhir, ternyata banyak para penghafal Al Qur’an yang syahid. Umar ra mengusulkan agar dilakukan pengumpulan teks-teks Al Qur’an.

Untuk itu sebuah tim yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit ra, diberi tugas untuk mengumpulkan Al-Qur’an dari para penghafal al-Qur’an dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, setelah lengkap penulisan ini kemudian diserahkan kepada Khalifah.

Hasil pengumpulan teks-teks Al-Qur’an itu kemudian menjadi dasar penulisan teks al-Qur’an yang dikenal hingga saat ini.

Wafat

Beliau ra sebagai Khalifatu Rasyidin telah menjalankan tugasnya dengan sempurna. Memipin dengan amanah, jujur, sederhana, lembut, dan bijak. Melayani dan mengayomi semua orang. Menjadi penolong dan penyelamat, juga teladan bagi umat.

Beliau ra wafat pada hari Senin malam 21 Jumadil-akhir 13 H atau atau 22/23 Agustus 634 di kota Madinah karena sakit yang dideritanya pada usia 63 tahun. Beliau ra dimakamkan di rumah putrinya Aisyah rah di dekat Masjid Nabawi, di samping makam Rasulullah saw.

Khalifah Abu Bakar ra by mtaOnline1


0 Komentar

Tinggalkan Balasan