Bilal Bin Rabah, Sahabat Nabi Yang Banyak Disiksa Karena Keimanannya

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

bilal-bin-rabah

Bilal bin Rabah radhiyallahu taala anhu adalah sahabat Nabisaw yang termasuk As-saabiqunal awwwaluun (pemeluk Islam zaman awal). Karena keimanannya itu, beliau mengalami banyak penyiksaan yang mengerikan.

Asal Usul Bilal Bin Rabah

Nama panggilannya adalah Abu Abdillah atau Abu Abdir Rahman atau Abu Abdil Karim juga ada yang menyebut Abu Amr.

Ayahanda Bilalra bernama Rabah yang berasal dari Jazirah Arab dan nama ibunda beliaura, Hamamah yang berasal dari Abyssinia.

Para peneliti telah menulis bahwa Bilal bin Rabahra berasal dari ras Abyssinian Semitic. Pada zaman kuno, orang-orang bangsa Semit atau beberapa suku Arab bermigrasi dan menetap di Afrika, karena percampuran ras membuat mereka terlihat seperti bangsa Afrika lainnya tetapi tanda-tanda dan kebiasaan khusus di Afrika tidak diterapkan di kalangan mereka.

Kemudian, beberapa dari mereka dikembalikan ke Arab sebagai budak. Karena warna hitam mereka, orang Arab menganggap mereka sebagai orang Abyssinia (Ethiopia, Afrika).

Menurut sebuah riwayat, Bilal bin Rabah lahir di Makkah dan berasal dari kalangan Muwalladun, yaitu kalangan mereka yang biasa dianggap sebagai orang-orang yang bukan Arab murni.

Menurut riwayat lain, beliau lahir di Sarrah. Sarrah terletak dekat dengan Yaman dan Abyssinia, tempat ras campuran melimpah.

Warna kulit Bilal bin Rabahra seperti gelap gandum (hitam kecoklatan). Beliau memiliki tubuh yang ramping, rambut tebal dan sedikit daging di pipinya.

Bilalra beberapa kali menikah. Beberapa istrinya berasal dari keluarga yang paling mulia dan terhormat di Arab. Salah satu istrinya bernama Halah binti Auf yang merupakan saudara perempuan Abdul Rahman bin Auf.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengatur pernikahan Bilal dengan seorang wanita dari keluarga Banu Bukair yang bernama Hindun al-Khaulaniyah. Bilalra juga menjalin pernikahan dengan wanita dari keluarga Abu Dardara. Namun demikian, beliau tidak memiliki anak seorang pun dari mereka.

Bilal memiliki seorang saudara laki-laki bernama Khalid dan seorang saudara perempuan bernama Ghafirah.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Anas Bin Malik Pelayan Setia Rasulullah

Menerima Islam

Bila bin Rabahra merupakan orang Abyssinia pertama yang beriman  kepada Rasulullahsaw, sebagai Nabisaw bersabda:

بِلَال سَابق الْحَبَشَة

“Bilal adalah orang pertama dari kalangan Habasyah (Abyssinia) yang percaya menerima Islam.” (Isʿāf al-mubaṭṭaʾ fī-rijāl al-Muwaṭṭaʾ Imam As-Suyuti)

Kemudian Anasra meriwayatkan bahwa Rasulullahsaw bersabda:

 السُّبَّاقُ أَرْبَعَةٌ: أَنَا سَابِقُ العَرَبِ، وَسَلْمَانُ سَابِقُ الفُرْسِ، وَبِلاَلٌ سَابِقُ الحَبَشَةِ، وَصُهَيْبٌ سَابِقُ الرُّوْمِ

“Ada empat orang yang paling dahulu menerima Islam. Saya paling dahulu menerima Islam dari bangsa Arab. Salman paling dahulu menerima Islam dari antara orang-orang Parsi. Bilal paling dahulu menerima Islam dari antara orang Habsyah. Shuhaib paling dahulu menerima Islam dari antara orang Romawi.” (Siyaar A’lamin Nubala karya Adz-Dzahabi)

Bilal termasuk as-saabiqunal awwwaluun (pemeluk Islam zaman awal). Beliau memberitahukan keislamannya kepada orang-orang tatkala hanya tujuh orang saja yang mendapat taufik mengumumkan keislamannya.” (Pengantar Mempelajari Al Quran – Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad).

Diriwayatkan oleh Abdullah Bin Mas’udra,

 كَانَ أَوَّلَ مَنْ أَظْهَرَ إِسْلاَمَهُ سَبْعَةٌ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ وَأَبُو بَكْرٍ وَعَمَّارٌ وَأُمُّهُ سُمَيَّةُ وَصُهَيْبٌ وَبِلاَلٌ وَالْمِقْدَادُ “

“Orang-orang yang paling pertama menampakkan telah masuk Islam ada tujuh orang: Rasulullahsaw, Abu Bakr, Ammar, ibundanya Ammar yang bernama Sumayyah, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.”

Sahabat Nabi Yang Disiksa Karena Keimanannya

Budak-budak belian yang menerima Islam datang dari ber­bagai-bagai masyarakat. Bilal orang negro. Suhaib orang Rumawi. Mereka pengikut berbagai agama. Jubair dan Suhaib tadinya orang Kristen. Bilal dan Ammar tadinya penyembah berhala.

Bilal bin Ribah adalah seorang hamba sahaya milik seorang pemuka Makkah keturunan Habsyi yang sangat membenci dan memusuhi Islam, Umayyah bin Khalf.

Mengetahui Bilal telah beriman, maka Umayyah pun murka, ia kemudian bertubi-tubi menyiksa Bilal agar keluar dari Islam.

Kelak setelah hijrah ke Madinah, saat Perang Badr, Umayyah bin Khalf mendapatkan balasan yang setimpal dari kejahatan yang dilakuakannya terhadap Umat Islam khusunya terhadap Bilal bin Rabah. Pada perang Badr ia dapat dibunuh oleh Bilalra.

Pada siang hari, ketika panas tengah terik, Umayyah biasa membawa Bilal keluar dan menjemurnya dilapangan berbatu panas dengan menelantangkan beliau dengan badan terbuka.

Setelah meletakkan batu di atas dada beliau, Umayyah berkata, “Sembahlah berhala Lata dan Uzza, tinggalkanlah Muhammad Bin Abdullah, jika tidak aku akan membunuhmu dengan menyiksa terus seperti ini.”

Bilal tidak paham banyak Bahasa Arab. Beliau hanya berucap, ’Ahad, Ahad!’ – Allah Maha Tunggal, Allah Maha Tunggal.

Setelah mendengar jawaban seperti itu, Umayyah semakin naik pitam. Lalu mengikatkan tali di leher beliau dan menyerahkannya kepada para pemuda nakal untuk diseret di gang-gang Makkah yang berbatu sehingga membuat badan Bilal bin Rabahra berlumuran darah.

Namun selain ucapan ’Ahad! Ahad!’, tidak ada kata lain yang beliau ucapkan. Bilal bin Rabah tetap bertahan dalam keimanannya.

Bilal ibn Rabah adalah termasuk golongan Mustadh’afuun (dianggap lemah) dan salah satu dari mereka yang ketika masuk Islam dianiaya supaya berpaling dari agamanya. Namun, beliau tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun yang mereka inginkan di depan mereka yang menyiksanya yaitu menyangkal Allah. Umayyah bin Khalf biasa menyiksa beliau.

Allah Ta’ala melindungi Rasulullahsaw dengan perantaraan paman beliau, Abu Thalib, sedangkan Abu Bakr dengan perantaraan kaum beliau.”

Nabisaw juga tidak aman dari penganiayaan orang-orang yang memusuhinya. Begitu pula keluarga besar Abu Bakrra pun tidak mampu menyelamatkan Abu Bakrra dari penindasan. Keduanya dipaksa menanggung kekejaman yang ekstrim. Pada awalnya ada sedikit kelonggaran tetapi kemudian ada kesulitan besar di periode selanjutnya.

Selain beliau Rasulullahsaw dan Abu Bakrra, orang-orang Muslim lainnya yang lemah atau diperbudak ditangkap oleh kaum Musyrik lalu dipakaikan pakaian besi dan dijemur di bawah terik matahari.

Diantara mereka tidak ada yang tidak mengiyakan apa yang kaum kuffar inginkan kecuali Bilal karena Bilal memang sudah pasrahkan kehidupannya yang dianggapnya tidak berharga di jalan Allah. Beliau juga sudah tidak dianggap di kaumnya.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Ubadah Bin Shamit Dipercaya Mengajarkan Al-Quran

Bilal Dimerdekakan Abu Bakar

Mengetahui penderitaan yang dialami oleh Bilal bin Rabah, Abu Bakrra kemudian mendatangi pemilik Bilal, Umayah bin Khalaf, beliaura berkata, “Berapa lama kamu akan terus menyiksa orang ini?”

Abu Bakr membeli Bilal dengan harga tujuh Uqiyah dan membebaskannya. Satu Uqiyah adalah empat puluh dirham, berarti tujuh Uqiyah yaitu dua ratus delapan puluh dirham.

Kemudian Abu Bakr memberitahukan kejadian ini kepada Rasulullahsaw. Beliausaw bersabda, “Wahai Abu Bakr, ikut sertakanlah aku di dalam pembebasannya.” Abu Bakr mengatakan, “Ya Rasulullah, saya telah membebaskannya.” Abu Bakr telah membeli dan membebaskannya di jalan Allah.

Menurut beberapa Hadist, Abu Bakr membelinya dengan harga lima Uqiyah emas, yaitu dua ratus dirham. Beberapa riwayat menyebutkan tujuh Uqiyah emas, yaitu dua ratus delapan puluh dirham. Menurut beberapa riwayat lain ialah ialah sembilan Uqiyah, yaitu tiga ratus enam puluh dirham.

Ketika Abu Bakr membeli Bilal, Bilal saat itu tengah ditelentangkan di bebatuan. Orang-orang berkata kepada Abu Bakr, “Jika Anda setuju untuk membayar hanya satu Uqiyah (empat puluh dirham), kami akan menjualnya dengan harga satu Uqiyah.”

Atas hal ini, Abu Bakrra berkata, “Sekalipun kalian bersedia menjualnya seharga 100 Uqiyah (4.000 dirham), aku akan membelinya seharga seratus Uqiyah.”

Selain membebaskan Bilal bin Rabah, Abu Bakr juga banyak mengusahakan pembebasan sahabt-sahaba lainya yang ternaiaya dengan harta beliau pribadi.

Diriwayatkan dari Aisyahrha bahwa Abu Bakrra membebaskan tujuh budak yang disiksa. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabahra dan Amir bin Fuhairahra.

Bilal bin Rabah, Muazin Pertama Rasulullah

Beberapa waktu kemudian, ketika kaum Muslimin te­lah berhijrah ke Medinah dan dapat hidup dengan tenang dan da­pat beribadah dengan agak aman dan damai, Rasulullahsaw me­nunjuk Bilal sebagai muadzdzin (orang yang menyerukan adzan).

Rasulullahsaw memiliki tiga orang muadzin: Bilal bin Rabah, Abu Mahdzurah dan Amru Bin Ummi Maktum.

Saat menyerukan adzan, Bilal sebagai orang dari Afrika, seharusnya dalam adzan meng­ucapkan, اشھد ان لا الہ الا اللہ (asyhadu al laa ilaaha illallah – aku menyaksikan tiada yang patut disembah selain Allah) malahan melafalkan, اسھد ان لا الہ الا اللہ (ashadu al laa ilaaha illallah).

Beberapa orang di Madinah yang tidak mengenali Bilal, tertawa mendengar pelafalan yang tidak sempurna dari Bilal, namun Rasulullahsaw menyesalkan mereka dan menerangkan:

“Anda sekalian menertawakan adzan Bilal padahal Allah mendengar adzan Bilal sembari tersenyum. Anda hanya melihat dia tidak dapat mengucapkan lafal ‘syin’ sehingga dia melafalkannya ‘sin’, tetapi apa artinya pelafalan huruf ‘syin’ dan ‘sin’ tatkala Tuhan Maha Mengetahui bahwa ketika dia dibaringkan di pasir panas dengan punggungnya lalu orang-orang yang zalim itu biasa menginjak-injak dadanya dengan sepatu mereka lalu mereka biasa bertanya, “Apakah pelajaran ini telah kau pahami atau belum?”

Pengucapan yang cacat dari Bilal yang seperti itu tidak menghentikan beliau untuk tetap mengumumkan keesaan Tuhan, ’Ahad, Ahad!’ (Tuhan itu Tunggal).

Kesetiaan Bilal, keteguhan iman Bilal dan kekuatan hati Bilal telah memberikan pembuktiannya. Maka dari itu, pengucapan Bilal yang ashadu (اسھد) lebih berharga daripada pengucapan asyhadu (اشھد) banyak orang lainnya.

Demikianlah sepenggal kisah mulia dari seorang Sahabat mulia, Bilal bin Rabahra. Semoga kita semua bisa meneladaninya.

Sumber:

  • Sirat Khatamun Nabiyyin karya Hadhrat Mirza Bashir Ahmad
  • Khotbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pada 11 September 2020 di Masjid Mubarak, Tilford, UK.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Basyir bin Sa’ad Berhasil Menjalankan Perintah Rasulullah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan