Baiat Aqabah Kedua

Pada musim ibadah haji tahun ke 13 kenabian atau tahun 622 M, sekumpulan kaum muslimin dari dari Yatsrib atau Madinah datang lagi ke Mekkah, mereka menemui Nabi Muhammad saw di tempat mereka bertemu sebelumnya yaitu di Aqabah, sehingga peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Baiat Aqabah Kedua.

Keberhasilan Tabligh Islam di Madinah

Berawal dari 6 orang Madinah yang masuk Islam langsung melaui Rasulullah saw saat musim haji tahun 11 kenabian, disusul kemudian terjadinya baiat Aqabah pertama yang dilakukan oleh 12 orang musim Madinah pada musim haji tahun 12 kenabian.

Mereka sebagai orang-orang awalin, sebagai  perintis berekembangnya Islam di Madinah.

Sehingga kemudian Rasulullah mengirimkan seorang sahabatnya yaitu Mush’ab bin Umair sebagai mubaligh atau dai yang akhirnya sukses mengajak masyarakat Madinah kepada tauhid. Sejak saat itu masyarakat Madinah banyak yang beriman dan menerima Islam.

Artikel ini bisa disimak videonya di Jejak Mulia – Baiat Aqabah Kedua

Musim Haji

Tibalah musim haji tahun berikutnya yaitu tahun 13 kenabian atau tahun 622 M, seperti biasa orang-orang dari seluruh jazirah Arab berdatangan ke Mekkah, termasuk banyak orang-orang dari Madinah.

Diantara rombongan haji dari Madinah itu terdapat 73 orang laki-laki , enam puluh dua dari suku Khazraj dan sebelas dari suku Aus. Juga terdapat 2 orang wanita. Mereka semua telam masuk Islam.

Mereka merupakan hasil dari dakwah atau tabligh yang disampaikan oleh Mush’ab bin Umair ra dan para dai lainnya. Mereka kemudian menjadi pioner-pioner Islam yang tangguh.

Tujuan kedatangan mereka ke Mekkah bukan semata-mata ingin ziarah ke Ka’bah yang sudah dipenuhi oleh Latta, Uza dan berhala-berhala lainnya, melainkan ingin berjumpa dengan guru rohani mereka yaitu Rasulullah saw.

Mereka datang ke Mekkah bukan karena kekayaan, melainkan untuk agama; dan mereka mendapatkannya dengan berlimpah-limpah.

Akan tetapi dikarnakan masa itu merupakan masa yang berbahaya dan menakutkan bagi Umat Islam untuk menampakakan diri dan melakukan berbagai kegiatan sehingga terpaksa pertemuan dengan Rasulullah saw dilakukan secara rahasia, ditempat terpencil dan diwaktu tengah malam.

Bahkan dalam pertemuan itu Rasulullah saw ditemani oleh salah seorang paman beliau, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib.

Baca juga:

Baiat Aqabah Pertama

Baiat di Aqabah

Ditengah malam yang sunyi dan di tempat yang tersembunyi itu para mubayiin baru atau orang-orang yang belum lama beriman itu dengan khidmat mendengarkan sabda-sabda Rasulullah saw.

Lokasi pertemuan itu diperkirakan di Raddah sebuah daerah disebelah kanan Mina yang saat ini menjadi lokasi Masjid al-Bai’ah.

Meskipun tergolong baru beriman namun keimanan mereka begitu kokoh, mereka bertekad bulat untuk membela Islam dengan segenap jiwa raga mereka.

Mereka telah bersepakat, jika Mekkah tidak mau lagi menerima keberadaan Rasulullah saw dan umat Islam, maka Madinah siap untuk menjadi rumah yang aman bagi Rasulullah saw.

Sepertinya Rasulullah saw menyambut baik undangan orang-orang Madinah, yang memang perhatian beliau saw telah condong ke Madinah. Beliau menaruh harpan besar kepada Madinah sebagai masa depan Islam.

Baca juga:

Pertama Kali Islam Menyebar Di Madinah

Kesungguhan Kaum Madinah

Terharu atas tali persaudaraan dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap keselamatan Rasulullah saw, Abbas bin Abdul Muthalib berseru kepada rombongan itu, katanya:

“Wahai Khazraj, anggota keluargaku ini disini dihormati oleh kaumnya. Mereka tidak semua Muslim, tetapi mereka melindunginya juga. Tetapi sekarang ia telah memilih untuk meninggalkan kami dan menuju kepada saudara-saudara.

Wahai Khazraj, tahukah saudara-saudara, apa yang akan terjadi? Seluruh Arabia akan memusuhi saudara-saudara. Jika saudara-saudara tahu akan akibat-akibat sebagai ekor dari undangan saudara-saudara, maka bawalah dia; tetapi jika tidak demikian, maka tinggalkan dan batalkan maksud saudara-saudara dan biarkanlah ia tetap tinggal disini.”

Pemimpin rombongan itu, Al-Bara menjawab dengan tegas: “Kami telah mendengar ucapan saudara. Putusan kami telah bulat. Jiwa kami, kami serahkan kepada Rasulullah saw. Kami telah bertekad bulat dan hanya menunggu putusan beliau”. (Halbiyya, jilid 2, hlm. 18).

Rasulullah saw memberi uraian lebih lanjut mengenai Islam dan ajarannya. Sambil memberikan penerangan itu beliau saw menyatakan kepada rombongan bahwa beliau akan hijrah ke Medinah jika mereka memandang Islam sama tercintanya seperti cinta mereka terhadap anak istri mereka sendiri.

Belum lagi beliau saw selesai berbicara, rombongan tujuh puluh tiga orang mukhlis dari Madinah itu berseru dengan serentak:

Bahwa benar, mereka mencintai Rasulullah saw dan Islam sama seperti mereka mencintai anak istri mereka.

Baca juga:

Fakta Menarik! Ternyata Orang Afghanistan Keturunan Yahudi

Keberanian Kaum Madinah

Disaat semangat mereka begitu meluap-luap, mereka lupa bahwa pembicaraan mereka dapat didengar oleh orang luar.

Abbas memperingatkan supaya berbicara perlahan-lahan. Tetapi iman rombongan itu telah meluap-luap. Kematian adalah bukan apa-apa lagi pada pemandangan mereka. Ketika Abbas menasihatkan untuk berhati-hati, seorang dari antara mereka dengan lantang menjawab:

“Kami tidak takut, ya Rasulullah! izinkanlah dan kami akan membuat perhitungan sekarang juga dengan orang-orang Mekkah dan mengadakan pembalasan terhadap segala kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap engkau.”

Tetapi Rasulullah saw bersabda, bahwa beliau belum mendapat perintah untuk berperang.

Orang-orang Madinah itu pun kemudian berbaiat kepada Rasulullah saw, mereka bersumpah untuk tetap setia memenuhi janji-janji mereka dan pertemuan itu pun berakhir.

Karena itulah peristiwa itu kemudian dikenal sebagai baiat Aqabah kedua.

Baca juga:

Umat Islam Diboikot

Diketahui Orang Mekkah

Orang-orang Mekkah mengetahui juga adanya pertemuan itu. Mereka pergi ke perkemahan orang-orang Medinah untuk mengadukan ihwal para pendatang itu kepada para pemimpin mereka.

Abdullah bin Ubayyi bin Salul, pemimpin tertinggi mereka, tidak tahu-menahu tentang apa yang telah terjadi. Ia meyakinkan kepada orang-orang Mekkah bahwa kabar yang mereka dengar itu tentu kabar palsu. Kaum Medinah telah menerima dia sebagai pemimpin mereka dan tidak dapat berbuat sesuatu di luar pengetahuan dan izinnya.

Kembali Ke Madinah

Abdullah bin Ubayy bin Salul tidak mengetahui bahwa orang-orang Madinah itu telah mencampakkan peraturan syaitan dan menerima peraturan Tuhan sebagai gantinya.

Rombongan itupun kembali ke Madinah dengan membawa keimanan yang kokoh dan bersiap untuk menerima kedatangan Rasulullah saw ke Madinah.

Sementara itu Rasulullah saw serta para pengikut beliau di Mekkah mulai mengadakan persiapan untuk hijrah ke Madinah.

Baca juga:

Surah Al Haqqah: Tafsir Dan Isi Kandungannya

Sumber:

Riwayat Hidup Rasulullah saw – Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad

(Visited 21 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan