Apakah Ahmadiyah Itu? Berikut Ini Penjelasannya

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

Jamaah Ahmadiyah adalah sebuah gerakan dalam Islam yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889 di Qadian, India. Ahmadiyah aktif menyampaikan dakwah Islam ke seluruh dunia.

Pendiri Ahmadiyah

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad lahir pada hari Jumat, 13 Februari 1835 M atau 14 Syawal 1250 H, di Qadian, India.

Ayahanda beliau, Mirza Ghulam Murtaza adalah seorang bangsawan dan kepala suku Qadian dan desa-desa di sekitarnya, sedangkan ibunda beliau bernama Ciraagh Bibi, seorang wanita terhormat yang dikenal suka menolong orang-orang miskin di kampungnya.

Qadian dimana Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan terletak di distrik Gurdaspur, India, kira-kira 57 km sebelah timur kota Lahore dan 24 km dari kota Amritsar di propinsi Punjab. Kampung terpencil itu kemudian menjadi sangat terkenal dan berubah menjadi kota hingga saat ini.

Untuk lengkapnya mengenai Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad silahkan baca di sini.

Membela Islam

Dimasa dewasanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan tulisan-tulisanya ke berbagai surat kabar dilanjutkan dengan menulis buku-buku yang bertujuan untuk membela Islam dari para penentang seperti kaum Yahudi, Kristen, Magi, Arya, Brahma dan orang-orang yang tidak beragama.

Karena karangan-karangan inilah nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad populer di masyarakat umum, meskipun beliau sendiri jarang keluar rumah. Malah para tamu sering beliau terima di dalam masjid.

Kemudian beliau menerbitkan buku pertamanya, Barahiyn Ahmadiyah. Ternyata buku ini mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Muslim India waktu itu. Karena buku itu beliau menjadi terkenal.

Buku yang terdiri dari lima jilid ini berisikan tentang semua kebenaran berdasarkan prinsip-prinsip pengetahuan agama, tiga ratus bukti kuat, sempurna, dan meyakinkan tentang kebenaran Islam; jawaban atas berbagai prasangka, tuduhan, penolakan,  dan pandangan miring dari para penentang Islam khususnya dari kalangan neo-Hindu (Arya Samaj dan Brahma Samaj), dan Kristen.

Setelah tersiarnya buku ini, lawan mau pun kawan memuji serta yakin akan kecakapan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Tidak seorang pun musuh-musuh Islam dapat menyanggah buku itu. Orang-orang Islam sangat bergembira hati dan mulai menganggap beliau sebagai mujaddid (pembaharu), padahal waktu itu beliau belum mendakwakan apa-apa. Para alim ulama pun mengaku kepandaian beliau.

Dengan terbitnya Barahiyn Ahmadiyah orang-orang dari berbagai tempat mulai simpati kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Qadian yang terpencil mulai sering dikunjungi para tamu dari tempat-tempat jauh.

Bukan hanya karya-karya tulisnya saja yang telah membuat beliau dikenal luas di seluruh anak benua India. Tetapi nilai-nilai keruhaniannya  juga memainkan peran vital dalam memberikan ketenaran dan kehormatan yang sangat luas bagi beliau.

Masyarakat India pada masa itu mengenal beliau sebagai seorang ulama besar yang membela kepentingan Islam, seorang ilmuan, tabib termashur, dan seorang yang sangat dermawan.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Baiat Pertama

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah menjadi seorang tokoh yang sangat termasyhur di India karena pembelaan-pembelaanya terhadap Islam, terlebih dengan tersiarnya Barahiyn Ahmadiyah, semakin bertambah banyak orang yang simpati kepada beliau.

Para cendekiawan sangat tertarik kepada Barahiyn Ahmadiyah dan makin lama semakin mengambil tempat di hati umat, bahkan banyak yang mengajukan permintaan supaya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengambil baiat. Tetapi permintaan itu senantiasa beliau  tolak, dengan menjawab bahwa segala urusan beliau berada di tangan Allah.

Akhirnya pada tanggal 12 Januari 1889, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menerbitkan sebuah selebaran yang berjudul Takmil Tabligh (Pelengkapan Amanat) yang berisikan sepuluh syarat baiat.

Sesuai dengan petunjuk Ilahi baiat itupun dilaksanakan. Baiat yang pertama diselenggarakan di kota Ludhiana pada tanggal 20 Rajab 1306 H atau 23 Maret 1889 M di rumah seorang mukhlis bernama Mia Ahmad Jaan.

Orang yang baiat pertama kali adalah Hadhrat Al-Haj Hakim Nuruddin. Pada hari itu kurang lebih 40 orang telah baiat. Setelah itu berangsur-angsur semakin banyak yang baiat.

Janji Baiat

Adapun janji baiat yang ditetapkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah sebagai berikut:

  1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
  2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
  3. Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah s.a.w dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
  4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
  5. Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah ataupun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
  6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Al-Qur’an Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
  7. Meninggalkan takabur, sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan-santun.
  8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, hatanya, anak-ananknya, dan dari segala yang dicintainya.
  9. Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
  10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.

Baca juga: Apa Yang Dimaksud Dengan Syiah? Berikut Penjelasannya

Pendakwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad

Dua tahun kemudia setelah baiat pertama diselenggarakan, yaitu tepatnya pada tahun 1891 terjadilah suatu perubahan yang amat besar.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengumumkan bahwa Nabi Isaas yang ditunggu-tunggu kedatangannya kedua kali itu telah wafat dan tidak akan datang lagi ke dunia ini. Kedatangan Nabi Isaas kedua, adalah orang lain yang akan datang dengan sifat dan cara seperti Nabi Isaas, yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sendirilah orangnya.

Pengumuman itu tersiar secepat kilat, dan di seluruh India timbul perlawanan serta kehebohan yang sangat hebat terhadap pendakwaannya tersebut. Para alim ulama yang dahulu simpatik dan memuji, kini serentak berdiri menentang beliau.

Kedatangan nabi Isa untuk yang kedua kalinya – suatu kepercayaan yang umum terdapat di kalangan umat Islam dan Kristen – telah diberitahukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad akan terjadi secara ruhani dan bukan secara harfiah. Dan Allah telah mengangkat beliau untuk memenuhi nubuatan atau ramalan tentang kedatangan nabi Isa akhir zaman.

Hadhrat Ahmad telah membuktikan melalui Al-Quran, Hadits, dan Bible,  bahwa Tuhan tidak meninggalkan Yesus dan telah menyelamatkan beliau dari kematian hina di tiang salib. Hal ini dapat dipelajari berdasarkan fakta-fakta yang berkaitan dengan masa-masa sebelum penyaliban, juga fakta-fakta pada penyaliban itu sendiri dan sesudahnya seperti yang dikatakan oleh Perjanjian Baru itu sendiri.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah sosok yang mendakwakan dirinya sebagai Mujaddid di abad ke-14 hijriyah, sebagai Imam Mahdi dan juga sebagai Al-Masih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman ini.

Gerhana Bulan Dan Matahari

Setelah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan dirinya sebagai Imam Mahdi di tahun 1891, tidak henti-hentinya berbagai macam kritikan dan penetangan yang dialamatkan kepada beliau. Salah satunya mengatakan, mengapa gerhana bulan dan matahari sebagai tanda kebenaran datangnya Imam Mahdi tidak juga muncul?

Kritikan itu didasarkan atas hadits Rasulullahsaw yang menyebutkan, Imam Mahdi akan “turun” dengan ditandai munculnya gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan. Nubuatan itu tercantum di dalam Sunan Daaru Qutni.

Muhammad bin Alira meriwayatkan bahwasanya ada dua tanda bagi Mahdi kami. Tanda ini semenjak langit dan bumi tercipta hingga sekarang belum pernah nampak. Pertama ialah, bulan purnama (qamar) akan gerhana di dalam bulan Ramadhan pada malam pertama, dan yang kedua ialah, matahari akan gerhana pada hari pertengahan bulan Ramadhan itu juga. Kedua tanda itu tidak pernah terjadi semenjak Allah menciptakan langit dan bumi.

Pada dasarnya gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan adalah hal yang biasa terjadi. Jika kalender Hijriah yang dipakai, maka gerhana bulan bisa terjadi pada salah satu tanggal dari tanggal-tanggal 13, 14, atau 15. Sedangkan gerhana matahari bisa terjadi pada salah satu dari tanggal-tanggal 27, 28, atau 29.

Yang menjadi istimewa adalah sebagai tanda telah datangnya Imam Mahdi, akan terjadi gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan dengan tanggal-tanggalnya yang telah ditetapkan dalam hadits tersebut.

Gerhana bulan akan terjadi di malam pertama, tanggal 13 bukan tanggal 1, terbukti dari hadits di atas yang digunakan adalah kata qamar  (bulan) bukan hilal (bulan sabit). Bulan pada tanggal pertama, kedua, dan ketiga dalam bahasa Arab dikatakan hilal. Dari tanggal keempat sampai akhir barulah disebut qamar. Sedangkan  gerhana matahari akan terjadi pada pertengahannya, tanggal 28.

Empat tahun setelah pendakwan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, tepatnya tahun 1311 H atau 1894 M terjadilah gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan pada tanggal-tanggal sebagaiman yang telah ditetapkan dalam nubuatan itu.

Tepatnya, gerhana bulan terjadi pada Kamis malam (7:00-9:30 waktu Calcutta), tanggal 13 Ramadhan 1311 H (21 Maret 1894), dan gerhana matahari terjadi pada Jumaat pagi (9:00-11:00, waktu Calcutta), tanggal 28 di bulan Ramadhan yang sama (6 April 1894).  Ini tercata dan dilaporkan dalam Civil and Military Gazette Lahore, Pioneer Allahabad, dan media-media lainnya di India.

Baca juga: Sunni (Ahlussunnah Wal Jamaah), Kelompok Islam Terbesar Di Dunia

Misi Ahmadiyah

Dikuti dari laman resmi Jemaat Ahmadiyah (alislam.org dan ahmadiyah.id) menjelaskan bahwa, Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah satu-satunya organisasi Islam yang meyakini bahwa Al-Masih yang sudah lama ditunggu kedatangannya telah hadir dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) dari Qadian.

Atas perintah Allahswt, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan diri secara metaforik sebagai perwujudan kedatangan kedua kali Nabi Isaas dari Nazareth, yang kedatangannya telah dinubuwatkan oleh Rasulullahsaw.

Jemaat Muslim Ahmadiyah percaya bahwa Allahswt mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, seperti halnya Nabi Isaas, untuk mengakhiri perang agama, menolak pertumpahan darah dan membangkitkan kembali moralitas, keadilan dan perdamaian.

Kedatangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad membawa era kebangkitan Islam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beliau melepaskan Islam dari keyakinan dan kebiasaan fanatik, beliau memperjuangkan dengan penuh semangat ajaran pokok Islam yang hakiki.

Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah organisasi Islam terdepan yang menolak terorisme dalam bentuk apapun. Lebih dari satu abad yang lalu, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  dengan tegas menyatakan bahwa “jihad dengan pedang” secara agresif sudah tidak memiliki tempat dalam Islam. Sebagai gantinya, beliau mengajarkan pengikutnya berjihad tanpa kekerasan, yakni jihad intelektual, “jihad dengan pena” dalam membela Islam.

Demikian pula, Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah satu-satunya organisasi Islam yang mendukung pemisahan agama dan negara.

Lebih dari satu abad yang lalu, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengajarkan pengikutnya untuk melindungi kesucian agama dan pemerintah, dengan cara menjadi jiwa-jiwa yang shaleh dan warga negara yang setia.

Beliau memperingatkan penafsiran yang tidak masuk akal terhadap ajaran Al-Qur’an dan penerapan hukum Islam yang tidak tepat. Beliau terus-menerus menyuarakan perhatiannya dalam melindungi hak-hak makhluk Tuhan.

Khilafah Ahmadiyah

Pada tanggal 26 Mei 1908 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tahun 1905, tiga tahun sebelum kewafatnya Hadhrat Ahmad menulis sebuah buku yang berjudul Al-Wasiat. Beliau menyampaikan:

“Dia (Allah) akan memberi kemajuan kepada Jemaat ini, sebagian di tangganku dan sebagian lagi kemudian sesudah aku.” Beliau menambahkan, “… Allah akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hadhrat Abu Bakarra mengurus umat Islam sesudah kewafatan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammadsaw.”

Sehari kemudian, tanggal 27 Mei 1908, Hadhrat Haji Hakim Nuruddin terpilih menjadi Khalifatul Masih I. Inilah awal dari tonggak sejarah Kekhalifahan setelah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, yang dikenal sebagai Khalifatul Masih (Khalifah setelah Al Masih).

Di bawah system khilafah ini, tak ada pajak-pajak, ia berjalan secara khusus dengan sumbangan dana suka rela dari para anggota jamaahnya.

Para anggota jamaah tidak dipaksa dengan suatu aturan untuk memberikan aturan untuk memberikan harta kekayaan mereka, tak seperti system pemerintahan di mana rakyat terpaksa untuk membayar dan orang-orang berusaha untuk menghindari pembayaran.

Dengan terpilihnya Hadhrat Haji Hakim Nuruddin sebagai Khalifatul Masih Pertama seorang sahabat setia dan utama dari Hadhrat Ahmad, maka dimulailah babak baru dari Jemaat Ahmadiyah yang kemudian estapet kepemimpinan itu terus berlanjut hingga saat ini.

Setelah mangkatnya Hadhrat Hakim Nuruddin pada tahun 1914, terpilih Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (1889-1965) sebagai Khalifatul Masih II.

Kemudian pada tahun 1965, Khalifatul Masih II wafat dan digantikan oleh Hadhrat Mirza Nasir Ahmad (1909-1982) sebagai Khalifatul Masih III.

Hadhrat Mirza Nasir Ahmad wafat pada tahun 1982 dan kemudian terpilih Hadhrat Mirza Tahir Ahmad (1928-2003) sebagai Khalifatul Masih IV.

Pada tahun 20003, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad wafat dan kepemimpinan Ahmadiyah dipegang oleh Khalifatul Masih V, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad yang menjadi Khalifah hingga saat ini.

Baca juga: 7 Masjid Indah dan Terkenal di London Inggris

Perkembangan Ahmadiyah

Sejak pertama didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Jemaat Ahmadiyah telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Dengan meyakinkan, dalam satu abad Jemaat Ahmadiyah telah menyebar ke sudut-sudut penjuru bumi.

Saat ini jumlah keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 200 juta orang, yang terdapat di 213 negara di dunia dan angkanya terus bertambah dari hari ke hari. Jemaah ini adalah golongan Islam yang paling dinamis di era modern ini.

Ratusan ribu orang bergabung kedalam Jamaat Ahmadiyah setiap tahunnya. Pada tahun ini saja dilaporkan sekitar 112.179 orang bergabung dengan Jemaat Muslim Ahmadiyah dari 98 negara di dunia.

Setiap tahun, Jemaat Ahmadiyah membangun ratusan masjid, misi Islam, rumah sakit dan sekolah-sekolah di berbagai negara di dunia. Tercata pada tahun 2019-2020 saja, telah dibangun sebanyak 217 Masjid Baru dan 97 rumah misi Jemaat Ahmadiyah di empat benua.

Berikut ini proyek-proyek unggulan yang sedang dijalankan Jamaah Ahmadiya diseluruh dunia:

Terjemah Al-Qur’an 100 Bahasa

Jemaat Ahmadiyah sedang melaksanakan program spektakuler, yaitu menerjemahkan Al-Quran kedalam 100 bahasa di dunia. Dengan program ini, diharapkan semua orang di dunia bisa memahami Al-Quran dan ajaran Islam. 

Di bawah petunjuk serta pengawasan secara langsung dari Khalifah,  hingga saat ini Jemaat Ahmadiyah telah menterjemahkan Al-Qur’an lebih dari 70 bahasa dunia.

Acara MTA mtaOnline1

Muslim Television Ahmadiyya (MTA)

Jemaat Ahmadiyah sejak tahun 1994 telah memiliki televisi global Islam yang dipancar-luaskan ke seluruh dunia selama 24 jam non stop. Televisi global ini bernama Muslim Television Ahmadiyya (MTA).

MTA adalah sebuah stasiun televisi yang sangat unik dalam segala seginya. MTA merupakan saluran televisi muslim pertama di dunia yang sepenuhnya dioperasikan oleh tenagatenaga sukarela.

MTA disiarkan secara simultan dalam berbagai macam bahasa agar dapat dinikmati oleh pemirsa di berbagai negara. Tujuan dan misi MTA adalah untuk penyebaran Tauhid Ilahi, ketinggian Al-Qur’an dan kebenaran Nabi Besar Muhammadsaw kepada semua umat manusia.

Baca juga: 7 Masjid Indah Yang Ada Di Jepang

Humanity First

Pada tahun 1992, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV, telah memprakarsai dibentuknya badan amal dan sosial  kemanusiaan, maka satu tahun berikutnya badan itu terbentuk yang dikenal sebagai Humanity First (HF).

Sumber dana HF diperoleh dari sumbangan yang berasal dari masyarakat luas yang sifatnya sukarela dan tidak mengikat. Dana yang diperoleh itu kemudian dikelola dan disalurkan dengan penuh tanggung jawab.

Salah satu proyek pertama yang telah dilaksanakan HF adalah memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban konflik peperangan di Bosnia. HF mengumpulkan lebih dari 300 ton makanan, pakaian, dan persediaan pengobatan dari masyarakat. Bantuan ini lalu diberikan langsung kepada para korban, tanpa memandang latar belakang etnis. Relawan muda HF terjun langsung di wilayah-wilayah penuh bahaya dan resiko, di saat konflik bersenjata masih berlangsung.

Sejak didirikan hingga saat ini HF telah melakukan berbagai macam proyek kemanusiaan di seluruh dunia termasuk juga di Indonesia.

Sebenarnya dalam dalam struktur keorganisasian Jemaat Ahmadiyah sendiri telah dilengkapi oleh sekertari atau departemen Khidmat Khalk (Bantuan Kemanusiaan) baik di tingkat pusat, tingkat keamiran masing-masing negara hingga cabang-cabang di setiap negara dimana struktur kepengurusan Jemaat Ahmadiyah telah mapan. Khidmat Khalk ini telah dan terus aktif bekerja sesuai dengan kemampuan negara masing-masing hingga saat ini. 

Program-program kerja HF terus berlangsung hingga saat ini dimasa Khalifatul Masih V, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, di seluruh dunia. Tanpa membedakan latar belakang agama atau suku bangsa dan tidak menggunakan misi kemanusiaan ini untuk tujuan-tujuan lain. Selengkapnya mengenai Humanity first bisa dibaca di sini.

Dan masih banyak lagi program-program kemanusiaan lainnya yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah, seperti donor darah, donor mata, Clean the City (bidang kebersihan dan pelestarian lingkungan) dan lain sebagaianya.

Demikian sepintas mengenai pergerakan Ahmadiyah dalam Islam di dunia.

Baca juga: Biografi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Al-Masih Yang Dijanjikan


0 Komentar

Tinggalkan Balasan