Apa Yang Dimaksud Dengan Syiah? Berikut Penjelasannya

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

syiah-bewaramulia

Syiah adalah salah satu mazhab dalam Islam yang meyakini bahwa Allahswt telah menentukan Ali bin Abhi Thalibra dan Ahlul Bait sebagai pewaris kepemimpinan (khilafah) setelah Rasulullahsaw.

Diperkirakan jumlah pengikut Syiah sebesar 10-13 persen atau 150 – 200 juta dari total populasi umat Islam di dunia. Kebanyakan mereka tinggal di Negara-negara seperti Iran, Pakistan, India dan Irak.

Latar Belakang

Pada masa Khalifah Utsmanra terdapat seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba, ia pura-pura masuk Islam, kemudian membuat fitnah dan kerusuhan-kerusuhan. Ia merupakan aktor utam dibalik pemberontakan terhadap Khalifah Utsman sehingga beliaura disyahidkan.

Mereka mempropagandakan bahwa yang berhak atas kekhalifahan setelah Rasulullahsaw adalah Imam Alira dan putra-putra beliau, Imam Hasanra dan Imam Husainra

Kelompok ini kemudian berkembang utamanya di bekas wilayah kekaisaran Persia (saat ini Iran) yang telah di taklukan oleh pasukan Islam. Selanjutnya mereka kemudian dikenal sebagai golongan Syiah.

Pengertian Syiah

Kata Syiah berasal dari bahasa Arab: Syaa, yasyiu, syian, syiatan, yang berarti pendukung atau pembela.

Pada masa Rasulullahsaw, kemudian Khalifah Abu Bakarra, Khalifa Umarra dan Khalifah Utsmanra bahkan pada masa Khalifah Alira, golongan Syiah ini belum ada. Umat Islam masih dalam satu kesatuan. 

Kemudian, ketika timbul pertikaian dan peperangan antara Khalifah Alira dan Mu’awiyahra, barulah kata Syiah muncul. Tetapi bukan hanya pendukun Alira yang disebut Syiah, namun pendukung Muawiyah pun disebut dengan Syiah.  

Pada waktu itu, baik syiah (pendukung) Ali maupun syiah (pendukung) Muawiyah dan umat Islam semuanya berakidah sama.

Kelompok pendukung Imam Alira terus menerus mempropagandakan dan mengeksploitasi keutamaan Imam Alirra dibandingkan dengan para Sahabat Rasulullahsaw lainnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya kata Syiah kemudian menjadi satu nama kelompok atau madzhab yang pertama lahir dalam Islam.

Sehingga secara terminologi Islam, Syiah adalah orang-orang yang meyakini bahwa setelah Rasulullahsaw seharusnya yang menjadi khalifah adalah Ali bin Abu Thalibra dan anak keturunannya saja.

Baca juga: Biografi Nabi Muhammad, Nabi Paling Mulia Dan Pembawa Syariat Terakhir

Asal Usul Munculnya Syiah

Setelah pembunuhan Khalifah Utsmanra yang dilakukan oleh para pemberontak yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba, selanjutnya Imam Alira dibaiat oleh kaum muslimin sebagai khalifah yang keempat setelah Rasulullahsaw.

Sementara itu, Muawiyah dari keluarga Bani Umayyah yang saat itu menjabat Gubernur Syam menuntut Khalifah Ali untuk mengusut secara tuntas dan menghukum orang yang membunuh Khalifah Utsmanra.

Atas ketidak puasan bani Umayyah ini, Muawiyah kemudian memberontak kepada Khalifah Alira.

Terjadilah pertempuran pasuk Khalifah Ali dengan pasukan Muawiyah di lembah Shiffin. Saat pasukan Khalifah Ali memenangkan pertempuran, Muawiyah menyuruh salah satu tentaranya untuk mengangkat mushaf di atas tombak, sebagai tanda permintaan perdamaian.

Khalifah Alira pun menyetujuinya, karena beliau sama seperti Khalifah Utsman tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah antara sesama kaum Muslimin.

Keputusan Imam Alira menerima usulan perdamaian itu kemudian dikena sebagai keputusan Tahkim (damai).

Beberapa orang dari pasukan Ali merasa tidak puas atas keputusan tersebut, mereka merasa pasukan Ali bisa mengalahkan pasukan pemberontak.

Peristiwa tahkim ini tidak malah menyebabkan perdamaian antara dua belah pihak, namum memunculkan faksi-faksi di tubuh umat Islam menjadi tiga (3) kelompok:

Pertama, kelompok Khawarij, yaitu golongan yang menentang Ali dan Muawiyah, mereka berpendapat bahwa  tahkim itu menyalahi prinsip Islam.

Kedua, kelompok Murjiah, yaitu golongan yang menggabungkan diri kepada salah satu pihak dan menyerahkan hukum pertengkaran itu kepada Allah semata.

Dan yang ketiga adalah kelompok Syiah, yaitu golongan yang memihak pada Ali dan kerabatnya dan berpendapat bahwa Ali dan keturunannyalah yang berhak menjadi khalifah.

Kelompok Syiah ini kemudian terus berkembang, mengalami perubahan dan penyesuaian-penyesuaian juga perpecahan kedalam berbagai bentuk sekte atau aliran.

Baca juga: Biografi Sayyid Ahmad Barelwi, Pembaharu Islam di India

Terpecahnya Syiah

Para pengikut mazhab Syiah telah terpecah kedalam bermacam aliran atau sekte, bahkan hingga berjumlah tiga ratus aliran.

Mereka telah terpecah belah menjadi beberapa kelompok; sebagian dari mereka bersikap ekstrim, sehingga bisa dikatakan doktrin mereka telah keluar dari ajaran Islam. Sedangkan, sebagian pengikut Syi’ah lain bersikap moderat, sehingga hampir-hampir menyerupai kaum ahlussunnah wa al-jama’ah.

Dalam sekte Syiah terdapat beberapa kelompok, ada yang ekstrim, moderat, dan ada juga yang liberal. Di antara kelompok yang ekstrim ada yang menempatkan Sayyidina Ali pada derajat kenabian, bahkan ada yang sampai mengangkat Ali pada derajat keTuhanan.

Kaum Syiah, sejak menjadi pengikut Ali sesudah peristiwa perang jamal dan shiffin, pasukan Ali terpecah menjadi empat golongan:

Kelompok pertama, Syiah yang mengikuti Sayyidina Ali, mereka tidak mengecam para sahabat. Dalam diri mereka terdapat rasa cinta dan memuliakan para sahabat Nabisaw. Mereka sadar betul bahwa yang mereka perangi adalah saudara sendiri.

Oleh sebab itu, mereka segera berhenti memerangi mereka, bahkan ketika terjadi tahkim mereka menerima keputusan-keputusan yang dibuat oleh kelompok lainnya.

Kelompok kedua, mereka yang mempercayai bahwa Sayyidina Ali memiliki derajat yang lebih tinggi daripada para sahabat lainnya. Kelompok ini disebut tafdhiliyah.

Imam Ali memperingatkan mereka dengan keyakinan ini dan akan menghukumi dera bagi para sahabat yang masih berkeyakinan tersebut. Kelompok Syi’ah sekarang, mereprentasikan kelompok ini.

Kelompok ketiga, yang berpendapat bahwa semua sahabat Nabi adalah kafir dan berdosa besar. Mereka disebut Saba’iyah, mereka adalah para pengikut Abdullah bin Saba’.

Kelompok keempat, kelompok gulat, yaitu kelompok yang paling ekstrim baik secara politik maupun teologi.

Baca juga: Biografi Syah Waliullah Dehlawi, Mujaddid Abad Ke-12 Hijriyah

Macam-macam Aliran Syiah

Dari sekian banyak aliran-aliran Syiah saat ini yang terbesar adalah Imamiyah, Ismailiyah dan Zaidiyah.

Syiah Imamiyah

Syiah Imamiyah kemudian dikenal sebagai Itsna’ashariyyah (12 Imam) disebut juga Syi’ah Ja’fariyah adalah cabang terbesar dalam Syiah, diperkirakan sebesar 85% populasi Syiah.

Kelompok ini bersepakat tentang keimaman Ali ra., dan diteruskan kepada kedua putranya (Hasan dan Husain), lalu kepada putra Husain Zainal Abidin, terus kepada, anaknya, Muhammad al-Baqir, di, dilanjutkan oleh anaknya, Ja’far ash-Shadiq.

Setelah imam Ja’far ini, mereka berselisih pendapat mengenai siapakah selanjutnya yang berhak menjadi imam setelah itu. Mereka membagi keimaman itu dari kalangan mereka sendiri.

Setelah Ja’far ash- Shadiq, imamah berpindah kepada putranya, Musa al-Kazhim, lalu kepada putranya Ali Ridha, kemudian kepada putranya Muhammad al-Jawwad, selanjutnya kepada putranya, Ali al- Hadis, berlanjut kepada putranya Hasan al-‘Askary, kemudia kepada putranya, Muhammad al-Mahdi al-Muntadzar (al-Mahdi yang ditunggu-tunggu) yang merupakan imam kedua belasa bagi mereka.

Aliran Syi’ah Itsna Asyriyah ini berkeyakinan bahwa imam yang ke dua belas (al-mahdi) tidak mati, tapi menghilang selama masa tertentu, dan kelak akan muncul kembali untuk memenuhi dunia dengan keadilan dan keamanan, setelah merajalelanya kedzaliman dan kegelapan.

Disebut juga Imamiyyah atau Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam) karena mereka percaya bahwa yang berhak memimpin kaum Muslim hanyalah para Imam dari Ahlul-Bait, dan mereka meyakini adanya dua belas Imam. Urutan Imamnya adalah:

  • Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  • Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  • Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  • Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  • Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  • Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  • Musa bin Ja’far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  • Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  • Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
  • Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  • Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Askari
  • Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

Baca juga: Biografi Syekh Ahmad Sirhindi, Sang Mujaddid Alfi Tsani

Syiah Zaidiyah

Pada umumnya, Syiah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah pertama. Madzhab Syiah Zaidiyyah termasuk Syiah yang tidak menolak kepemimpinan tiga Khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib. Mereka juga tidak mengkafirkan para sahabat, khususnya mereka yang telah dibaiat Imam Alira.

Zaidiyah adalah salah satu sekte Syiah yang dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Zaidiyah berpendapat bahwa Sayyidina Ali merupakan orang yang paling pantas menjadi Imam sepeninggal Rasulullah Saw., karena ialah orang yang paling dekat dan mirip dengan sifatsifat yang pernah disebutkan Rasulullah sebelumnya. Dan untuk Imam sesudah Ali haruslah dari keturunan Fatimah. Itulah sifat-sifat yang terbaik seorang Imam (al-Afdal).

Imam Zaid dalam pandangan hukum tidak jauh berbeda dengan imam Ahlussunnah lainnya, kalaupun ada perbedaan tidaklah banyak. Dalam metode istinbath juga tidak jauh beda dengan dari metode para ulama semasanya seperti Abu Hanifah, Ibnu Abu Laila, Utsman al-Bitti, az-Zuhri, dan lain baik ulama Madinah maupun Ulama’ Irak.

Menurut madzhab Zaidiyah peranan akal dalam masalah akidah sama dengan golongan Mu’tazilah yang menggunakan akal sebagai kekuatan besar untuk memahami wahyu dan syariat.

Disebut juga Syiah Lima Imam karena merupakan pengikut Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Mereka dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum Ali tidak sah. Urutan Imamnya adalah:

  • Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  • Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  • Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  • Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  • Zaid bin Ali (658–740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.

Syiah Ismailiyah

Syiah Ismailiyah meyakini setelah Jafar ash-Shadiq perpindah kepada puteranya Ismail, kemudian diwariskan kepada putranya Muhammad al-Maktum, yang merupakan imam pertama dari imam-imam lain yang hilang menurut keyakinan mereka.

Imam-imam setelah al-Maktum semuanya tersembunyi, sampai akhirnya mereka menganggap bahwa Abdullah, kepala kaum Fathimiyah, sebagai imam mereka.

Syiah Imamiyah Ismailiyah terkenal pula dengan bermacam-macam sebutan lain, di antaranya: Bathiniyah, Qaramithah, Haramiyah, Sabiyah dan lain-lainnya.

Disebut juga Syiah Tujuh Imam karena mereka meyakini tujuh Imam, urutan Imam-imamnya adalah sebagai berikut:

  • Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  • Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  • Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  • Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  • Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  • Ja’far bin Muhammad bin Ali (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  • Ismail bin Ja’far (721 – 755), adalah anak pertama Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.

Aqidah dan Keimanan Syiah

Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan, secara umum kelompok Syiah meyakini mereka beragama Islam, nabinya Nabi Muhammadsaw, kitab sucinya Al-Quran, melaksanakan ibadah haji ke Makkah dan lain sebagainya.

Selain Syiah Zaidiyah, para pengikut Syiah lainnya mempercayai bahwa keberadaan dan kehadiran Imam di setiap waktu dan zaman sangat perlu dan bumi tidak akan pernah kosong dari seorang Imam sebagai hujjah Allah di muka bumi.

Pengikut Syiah, selain mengambil dari Alquran dan riwayat-riwayat Nabisaw untuk menyimpulkan hukum-hukum, mereka juga menggunakan akal, ijma’ dan riwayat-riwayat Ahlul Bait.

Mereka tidak seperti pengikut Ahlusunah yang menjadikan perkara-perkara seperti Qiyas, Saddu Dzarai’, istihsan, Fatwa-fatwa, dari para Sahabat dan Mashaleh Mursalah sebagai sumber validitas untuk penyimpulan keputusan hukum-hukum fikih. Mereka menolak kevaliditasan perkara-perkara tersebut.

Sejatinya telah dikatakan bahwa kelompok Zaidiyah dalam masalah fikih, mereka dekat dengan kelompok Hanafi dan menggunakan analogi untuk menyimpulkan keputusan hukum fikih. Mereka juga seperti Ahlusunah tidak mengizinkan pernikahan bertempo dan mereka menolak konsep taqiyah.

Perkembangan Syiah

Syiah di sepanjang sejarahnya, mereka berhasil membentuk dan merumuskan berbagai pemerintahan di berbagai belahan dunia Islam di antaranya adalah pemerintahan Al Buyah, Safawiyah, Qajar, Idrisiyyah, Qaramitah dan Alawi.

Begitu juga dengan Republik Islam, yang terbentuk sejak tahun 1979 dengan pemimpin tertingginya Imam Khomeini, termasuk salah satu dari pemerintahan para Syiah Imammiyah.

Pemerintahan Idrisiyyah di Maroko dan Alawi di utara Iran adalah Zaidiyah, dan Ismailiyah juga membentuk pemerintahan Fatimiyah dan Qaramitah di Mesir dan Bahrain.

Diperkirakan jumlah penganut Syiah di dunia sebanyak 10% hingga 13% populasi Muslim dunia, antara 154 sampai 200 juta jiwa.

Mayoritas populasi Syiah tinggal di Iran, Pakistan, India dan Irak. Orang-orang Syiah tinggal di Turki, Yaman, Azerbaijan, Afghanistan, Suriah, Arab Saudi, Lebanon, Nigeria dan Tanzania. Terdapat di Amerika Utara, termasuk Kanada dan Amerika Serikat.

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan