Ahli Shuffah: Dicintai Rasulullah, Meraih Sukses dan Kemuliaan Ruhani

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

ahli shuffah

Ahli Shuffah atau Ashabus Shuffah adalah sekelompok sahabat Rasulullah saw yang tinggal di serambi Mesjid Nabawi. Dalam Bahasa Arab, Serambi disebut dengan Shuffah, untuk itu mereka dijuluki dengan sebutan Ashabus Shuffah.

Mereka tidak memiliki rumah, tidak punya pekerjaan tetap dan tentu saja mereka dalam keadaan serba kekurangan.

Berdasarkan beberapa riwayat, jumlah Ahli Shuffah berbeda-beda dalam berbagai masa yakni sekurang kurangnya 12 orang dan dikatakan juga sebanyak-banyaknya 300 orang pernah tinggal di Shuffah dalam satu waktu. Bahkan, dalam satu riwayat dikatakan jumlah totalnya 600 orang pada satu waktu.

Kehidupan Ahli Shuffah

Hadhrat Abu Hurairah ra merupakan salah satu dari Ahli Shuffah tersebut. Beliau menuturkan tentang keadaan mereka, katanya: “Saya melihat 70 orang dari antara Ashabus Shuffah yang pakaiannya tidak sampai paha. Jikapun pakaian menutupi tubuh, namun bagian bawahnya sulit untuk sampai diatas lutut.”

Cara yang mereka lakukan untuk mencari nafkah adalah satu kelompok kecil dari antara mereka pergi mencari kayu di hutan lalu menjualnya untuk dapat memenuhi kebutuhan makan saudara-saudara lainnya. Seringkali saudara-saudara Anshar membawa tandan-tandan buah-buah kurma lalu mengikatkannya di atap masjid.

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik ra, ia berkata: “70 orang dari kaum Anshar yang biasa dipanggil qurra, di antara mereka adalah pamanku yang namanya Haram. Mereka rutin membaca al-Qur`an dan tadarus (saling menyetorkan hafalan) di waktu malam, juga mempelajari ilmu-ilmunya. Di siang hari mereka mencari air dan membawanya ke masjid. Mereka juga mencari kayu bakar lalu mereka jual. Ada juga di antara mereka yang membeli makanan dari hasil penjualannya untuk diberikan kepada para penghuni shuffah dan kaum fuqara…”  (Shahih Muslim kitab al-imarah bab tsubutil-jannah lis-syahid no. 5026).

Disangka Gila

Diantara mereka tidak ada yang memiliki pakaian lengkap atas dan bawah. Untuk menyiasati kekurangan itu, mereka mengikatkan kain dari leher sampai menutupi bagian paha, karena tidak cukup panjangnya.

Fadholah bin Ubaid berkata: “Rasulullah bila mengimami shalat orang-orang di masjid, ada beberapa lelaki yang jatuh tersungkur dari berdiri mereka ketika shalat, disebabkan kemiskinan yang sangat (kelaparan). Mereka itulah ahlush shuffah, sehingga orang-orang Arab gunung (Badui) berkata, ‘Mereka itu adalah orang-orang gila.’ Selesai Rasulullah menunaikan shalat, beliau menghampiri mereka dan bersabda, ‘Kalau kalian mengetahui apa yang disediakan untuk kalian di sisi Allah, niscaya kalian senang kalau kalian semua bertambah kefakiran dan hajatnya dari sekarang ini..’” (HR. Tirmidzi)

Jika ada orang yang datang dari luar melihat para Ahli Shuffah, dianggapnya mereka orang-orang gila. Dan pemalas yang kerjanya hanya duduk-duduk saja tanpa ada kegiatan tertentu.

Berbeda dengan pandangan itu, Rasulullah saw sangat mencintai mereka dan memandang mereka sebagai para pecinta yang ikhlas karena tidak mau jauh dari pintu rumah Nabi saw.

Diperhatikan Rasulullah saw

Hadhrat Rasulullah saw sendiri yang memperhatikan keperluan mereka dan ketika beliau saw menerima suatu pemberian atau hadiah, atau di rumah beliau ada sesuatu maka pasti beliau saw sisihkan bagian untuk mereka.

Abu Hurairah berkata: “Ahlush shuffah itu adalah merupakan tamu-tamu Islam, karena tidak bertempat pada sesuatu keluarga, tidak pula berharta dan tidak berkerabat pada seorangpun. Jikalau ada sedekah -zakat- yang datang pada Nabi saw lalu sedekah -atau zakat- itu dikirimkan semuanya oleh beliau kepada mereka itu dan beliau sendiri tidak mengambil sedikitpun daripadanya, tetapi kalau beliau menerima hadiah, maka dikirimkanlah kepada orang-orang itu dan beliau sendiri mengambil sebagian daripadanya. Jadi beliau bersama-sama dengan para ahlush shuffah itu untuk menggunakannya.” (Riyadhush Shalihin, Bab 56)

Seringnya, Rasulullah saw-lah yang memberi mereka makan dan minum, bahkan terkadang beliausaw sendiri menahan rasa lapar dan apa yang ada di rumah beliau saw berikan kepada para Ashhaabush Shuffah. Para Sahabat Anshar pun sampai batas tertentu terlibat dalam menjamu mereka dan membawa tangkai-tangkai kurma yang digantungkan di masjid untuk mereka.

Ketika datang dari mana saja pemberian untuk Rasulullah saw maka beliau biasa mengirimkannya untuk mereka. Ketika datang kiriman makanan, maka Rasulullah saw biasa memanggil para Ashabus Shuffah dan makan bersama-sama dengan mereka.

Seringkali pada malam hari Rasulullah saw meminta para Anshar dan Muhajirin untuk mengajak mereka makan di rumah mereka masing-masing sesuai kemampuan, ada yang mengajak satu atau dua orang Ahli Shuffah. Terkadang mereka diserahkan kepada beberapa Muhajirin atau Anshar untuk mendapatkan makan malam.

Salah satunya adalah Hadhrat Sa’d Bin Ubadah ra, seorang sahabat yang kaya raya dan sangat dermawan, terkadang beliau mengundang makan mereka pada malam hari dalam jumlah sekaligus sampai 80 orang.

Akan tetapi meski demikian, keadaan mereka begitu sulit dan terkadang sangat kelaparan. Keadaan ini berlangsung selama beberapa tahun hingga suatu masa ketika penduduk Madinah semakin bertambah, dan sebagai konsekuesinya tercipta lapangan pekerjaan bagi sebagian dari mereka, maka mereka mulai mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, sebagian lagi telah ada bantuan dari Baitul Maal. Keadaan mereka menjadi lebih baik dan terbantu.

Menyertai dan Menyimak Sabda Rasulullah

Disaat para sahabat yang lain sibuk dalama urusan mereka masing-masing, sementara itu mereka tetap di mesjid, mereka ingin selalu dekat dengan Rasulullah saw.

Mereka tidak mau jauh dari Rasulullah saw, mereka selalu menyertai beliau saw dan menyimak sabda-sabda beliau saw.

Hadhrat Rasulullah saw sangat menyayangi mereka, beliau biasa duduk bersama dengan mereka, makan bersama dan menasihatkan orang-orang untuk menghormati mereka.

Beliau saw tidak duduk begitu saja tanpa menghormati mereka, melainkan Rasulullah saw selalu bersabda, “Mereka ialah orang-orang yang selalu menyimak ucapan ku. Maka dari itu, semua orang harus menghormati mereka dengan baik.”

Suatu hari sekelompok para ahli Shuffah datang menjumpai Rasulullah saw untuk menyampaikan keluhan dengan mengatakan, “Kurma-kurma ini telah membakar perut kami, karena hanya kurma saja makanan kami, tidak ada yang lainnya.” Kurma-kurma yang diberikan oleh para sahabat biasanya dari jenis kurma yang jelek.

Rasulullah saw mendengarkan keluhan mereka lalu menyampaikan ceramah untuk menghibur mereka, bersabda, ”Apa yang kalian katakan ini?” (Tidak tahukah kalian kurma adalah makanan penduduk Madinah. Dengan perantaraan kurma juga orang-orang menolong kita dan dengannya jugalah kami menolong kalian.)

Beliau saw bersabda, “Demi Allah! Sejak satu dua bulan lalu asap tidak keluar dari rumah Rasul Allah. Mereka hanya memakan kurma dan minum air.”

Sungguh mengagumkan kecintaan mereka, memang mereka pernah menyampaikan keluhan seperti itu, namun tidak pernah berpikiran untuk meninggalkan tempat itu. Mereka menetap di sana dengan penuh kesetiaan dan mencukupi kebutuhannya dengan kurma saja atau apapun yang mereka dapatkan.

Beribadah dan Tilawat Al-Qur’an

Diriwayatkan bahwa rutinitas kesibukan mereka adalah memperbanyak beribadah di malam hari dan menilawatkan Al-Qur’an.

Rasulullah saw menetapkan seorang Qari yang datang kepada mereka pada malam hari dengan tugas mengajarkan bagi mereka yang belum bagus bacaannya atau mengajarkan mereka yang belum tepat dalam membaca Al-Quran dengan baik atau mengajari mereka yang ingin menghapal Al-Qur’an. Para Muallim mengajar mereka pada malam hari sehingga kebanyakan dari mereka menjadi Qari lalu dikirim untuk menyampaikan tabligh Islam ke berbagai tempat.

Baca juga: Ingin Sukses? Belajarlah dari Lima Orang Ini

Menjadi Orang-orang Sukses

Ketika mereka menjadi Ahli Suffah, mereka tinggal di serambi mesjid dan hidup dalam serba kekurangan, akan tetapi siapa yang tahu akhir kehidupan mereka kemudian.

Ternyata di kemudian hari banyak sekali dari antara para Ashabus Shuffah itu yang menjadi orang-orang hebat dan sukses, memegang jabatan-jabat penting dan besar.

Diantara mereka, seperti, Abu Hurairah ra pernah menjabat sebagai Gubernur Bahrain pada masa kekhalifahan Hadhrat Umar ra dan menjadi Gubernur Madinah pada masa Muawiyah.

Sa’d Bin Abi Waqqash ra menjadi Gubernur Basrah dan beliau jugalah yang meletakkan pondasi berdirinya kota Kufah, Irak. Salman Al-Farisi pernah menjabat sebagai gubernur Madain (Ctesiphon di Iraq sekarang). Ammar Bin Yasir ra pernah menjabat sebagai gubernur Kufah.

Juga Abu Ubaidah Bin al-Jarrah  ra menjabat sebagai gubernur Palestina. Dan Anas bin Malik ra pernah menjabat sebagai gubernur Madinah pada masa pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz.

Diantara mereka juga pernah menjadi komandan pasukan yang berperan penting dalam penaklukan-penaklukan. Seperti Zaid Bin Tsabit ra tidak hanya sebagai komandan perang bahkan pernah ditugaskan sebagai Qadhiul Qudhaat (Hakimnya para Hakim).

Mereka semua sebelumnya adalah Ahli Shuffah. Orang-orang yang tidak memiliki apa-apa, yang mereka lakukan adalah mengorbankan hidupnya hanya untuk melayani agama.

Ternyata di dunia ini juga pengorbanan mereka diganjar dengan kemuliaan-kemuliaan dan  di alam ukhrawi mereka juga dijanjikan derajat-derajat keruhanian yang tinggi.

Baca juga: Fakhruddin Ar Razi: Ulama dan Cendikiawan Hebat di Masanya


0 Komentar

Tinggalkan Balasan