Abu Ubaidah Bin Jarrah Pemimpin Sariyyah Andalan Rasulullah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

abu-ubaidah-bin-jarrah

Melanjutkan pembahasan mengenai sahabat Abu Ubaidah bin Jarrahra, kali ini kita akan melihat peran beliaura sebagai pemimpin berbagai Sariyyah yang ditugaskan oleh Rasulullahsaw.

Sariyyah Dzul Qishshah

Rasulullahsaw mengirim Abu Ubaidah bin Jarrahra ke banyak Sariyyah (ekspedisi). Diantaranya, Sariyah Dzul Qishshah, Sariyah Dzatus Salasil dan Sariyyah Siful Bahri.

Sariyyah adalah ekspedisi pasukan Islam yang tidak disertai oleh Rasulullahsaw. sedangkan ekspedisi pasukan Islam yang disertai Rasulullahsaw disebut Gazwah. Misi sariyyah tidak semata-mata untuk tujuan berperang, terkadang Rasulullahsaw mengirimkan satu grup pasukan untuk memeriksa keadaan di perbatasan. 

Sariyyah Dzul Qishshah terjadi pada bulan Rabiul Akhir tahun ke-7 Hijriyah atau Oktober 629 M. Pada sariyyah ini Nabisaw mengirim sekitar 10 orang sahabata yang dikomandani oleh Muhammad bin Maslamah al-Ansarira. Jelas mereka dikirim bukan untuk berperang karena jumlah mereka sangat sedikit.

Dzul Qishshah jaraknya kira-kira dua puluh empat mil dari Madinah, tempat Banu Tsa’labah tinggal pada masa itu.

Ketika Muhammad bin Maslamah dan sepuluh temannya sampai di sana pada malam hari, mereka melihat seratus pemuda suku ini telah siap berperang. Kelompok ini sepuluh kali lebih banyak dari pada rombongan sahabat. Muhammad bin Maslamah segera berbaris di depan pasukan ini.

Terjadilah saling memanah diantara kedua belah pihak di kegelapan malam. Setelah itu, orang-orang kafir itu menyerang segelintir sahabat itu dan karena jumlah mereka sangat banyak sehingga sepuluh orang sahabat itu pun syahid dalam satu gerakan penyerangan.

Semua kawan Muhammad bin Maslamahra menjadi syahid tetapi beliaura sendiri selamat. Karena menganggap beliau sudah syahid seperti yang lainnya, pasukan kufar membiarkan beliau, mereka hanya mengambil pakaian beliau. Bisa saja Muhammad Bin Maslamah syahid tergeletak di situ namun kebetulan seorang Muslim lewat dan ia mengenali beliau lalu mengangkat beliau dan membawa beliau ke Madinah.

Ketika Rasulullahsaw mengetahui kejadian ini, beliausaw segera mengirim Abu Ubaidah bin Jarahra ke Dzul Qishshah untuk menuntut balas apa yang terjadi pada pasukannya Muhammad bin Maslamahra.

Dikarenakan saat itu Rasulullahsaw juga mendapatkan informasi bahwa orang-orang Banu Tsalabah ingin menyerang kampung-kampung di sekitar Madinah, maka dari itu Rasul mengirim pasukan 40 sahabat yang kuat yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrahra.

Beliausaw memerintahkan mereka berangkat malam itu juga supaya sampai di sana pagi harinya. Abu Ubaidah bin Jarahra melaksanakan perintah tersebut dan tepat pada waktu shalat subuh beliau menyerang mereka dengan tiba-tiba sehingga dengan serangan tiba-tiba seperti itu mereka ketakutan dan setelah sedikit perlawanan, mereka pun kabur dan menghilang dalam bukit-bukit dekat situ.

Abu Ubaidah menguasai harta ghanimah (rampasan perang) dan kembali ke Madinah. Serangan ini dilancarkan untuk membalas kezaliman dan memberi hukuman.

Baca juga: Saad Bin Abi Waqqash Sang Penakluk Irak

Sariyyah Dzatus Salasil

Menurut sebagian riwayat sariyyah ini terjadi pada tahun pada tahun ke- 8 Hijriyyah sedangkan menurut sebagian riwayat lain pada tahun ke-7 Hijriyyah. Rasulullahsaw mendapat kabar bahwa orang-orang Kabilah Banu Qudha’ah berencana menyerang Madinah.

Sariyyah ini disebut Dzatus Salasil karena musuh mengikat diri mereka satu sama lain dengan rantai supaya mereka perang bersama dan tidak ada yang kabur. Yakni supaya mereka bisa berperang dengan satu baris atau apapun bentuk barisannya yang penting mereka tetap bersama.

Salah satu sebab penamaan ini juga adalah di tempat ini dulunya ada sebuah mata air yang bernama al-salsal.

Rasulullahsaw mengirim Amru bin ‘As dengan 300 muhajirin dan anshar beserta 30 kuda untuk menghukum mereka. Daerah ini berjarak 10 hari perjalanan dari Madinah. Sesampainya di wilayah Banu Qudha’ah, Hadhrat Amru bin ‘Asra mengirim pesan pada Rasulullahsaw bahwa jumlah musuh sangat banyak, oleh karena itu mohon dikirim pasukan tambahan.

Begitu menerima pesan ini Rasulullahsaw mengirim 200 lasykar muhajirin dan anshar yang dipimpin oleh Abu Ubaidah untuk membantu. Rasulullahsaw memerintahkan beliau untuk menemui Amru dan jangan berselisih. Artinya, apapun keputusan yang diambil harus dilaksanakan bersama. Ketika pasukan Abu Ubaidah ini bertemu dengan pasukan Amru bin As, muncullah pertanyaan siapa yang akan menjadi pemimpin seluruh lasykar.

Meskipun dari sisi maqam dan kedudukan Abu Ubaidahra lebih berhak untuk menjadi pemimpin, namun ketika Amru bin ‘As bersikeras untuk menjadi pemimpin lasykar, maka Abu Ubaidah menerimanya dengan senang hati karena juga ada perintah dari Rasulullahsaw untuk tidak berselisih. Hal demikian karena beliau sudah menegakkan standar ketaatan. Di bawah kepemimpinan Amru bin ‘Asra, Hadhrat Abu Ubaidahra berperang dengan gagah berani sehingga musuh pun kalah.

Setelah kemenangan ini ketika kembali ke Madinah, Rasulullahsaw mendengar perihal ketaatan Abu Ubaidah. Beliausaw bersabda,

 يَرْحَمُ اللهُ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ

”Semoga Allah Taala merahmati Abu Ubaidah.” (Dalailun Nubuwwah karya al-Baihaqi)

Baca juga: Bilal Bin Rabah, Sahabat Nabi Yang Banyak Disiksa Karena Keimanannya

Sariyyah Siful Bahri atau Sariyyatul khabath.

Sariyyah Siful Bahri atau Ekspedisi perjalanan ke tepi laut. Sariyyah ini dikirim pada tahun ke-8 Hijriyyah ke daerah pantai yang dihuni oleh qabilah Banu Juhainah.

Sariyyah ini terjadi pada masa Hadnah yakni masa perjanjian Hudaibiyah. Menurut Ibnu Sa’ad satuan tugas ini terdiri dari 300 muhajirin dan anshar.

Sariyyah ini juga disebut dengan Jaisyul Khabath. Sebab penamaannya adalah kekurangan makanan para sahabat yang membuat mereka terpaksa makan daun pepohonan yang disebut dengan khabath. Makna lain dari khabath adalah merontokkan daun.

Tentang Sariyyah ini disebutkan dalam sahih Bukhari, Hadhrat Jabir bin Abdullahra meriwayatkan,

 بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثَمِائَةِ رَاكِبٍ أَمِيرُنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ نَرْصُدُ عِيرَ قُرَيْشٍ، فَأَقَمْنَا بِالسَّاحِلِ نِصْفَ شَهْرٍ فَأَصَابَنَا جُوعٌ شَدِيدٌ حَتَّى أَكَلْنَا الْخَبَطَ، فَسُمِّيَ ذَلِكَ الْجَيْشُ جَيْشَ الْخَبَطِ

“Rasulullahsaw mengirim kami yang terdiri dari 300 penunggang kuda. Pemimpin kami adalah Hadhrat Abu Ubaidah bin Jarah ra. Kami berjaga di situ untuk mengawasi kafilah dagang Quraisy. Di sini tidak ada maksud untuk memerangi kafilah Quraisy. Kami bermukim di tepi pantai selama setengah bulan dan kami sangat kelaparan sampai-sampai kami makan dedaunan.” (Shahih al-Bukhari, Kitab Maghazi)

Bagaimanapun juga diriwayatkan, “Kami juga maka dedaunan. Oleh sebab itu pasukan ini disebut jaisyul khabath. Pada saat itu laut melemparkan seekor binatang untuk kami yang disebut Anbar.

Artinya, seekor binatang yang sudah mati keluar dari laut atau dikeluarkan sampai ke darat oleh laut dan mati karena tidak bisa hidup tanpa air.

Begitupun diriwayatkan, “Seekor binatang terdampar di pinggir pantai dan binatang itu adalah ikan. Ikan yang sangat besar. Kami makan dagingnya sampai setengah bulan dan membalurkan lemaknya ke badan sehingga badan kami kembali segar seperti semula. Abu Ubaidahra mengambil salah satu tulang rusuknya lalu membuatnya berdiri dan beliau menarik seorang yang paling tinggi yang ada bersama beliau saat itu.”

Satu kali Sufyan bin Uyainah meriwayatkan, “Beliau mengambil salah satu tulang rusuknya lalu memberdirikannya kemudian beliau memilih seseorang sekaligus dengan untanya, karena begitu tingginya tulang tersebut sehingga penunggang itu pun bisa lewat di bawahnya.”

Hadhrat Jabir juga meriwayatkan, “Dari antara lasykar ada seseorang yang menyembelih 3 unta selama 3 hari untuk makan lasykar. Kemudian Abu Ubaidah melarangnya.”

Amru bin Dinar berkata, “Abu Shalih Dzakwaan mengatakan pada kami bahwa Qais bin Sa’ad meriwayatkan dari ayahnya, ‘Saya juga ada dalam pasukan itu dan kami kelaparan. Abu Ubaidah berkata, “Sembelihlah unta.” Saya pun menyembelih unta. Kemudian, kami lapar lagi. Abu Ubaidah berkata, “Sembelihlah unta.” Saya pun menyembelih unta. Kemudian, kami lapar lagi. Abu Ubaidah berkata, “Sembelihlah unta!”’”

Kondisi sudah sedemikian rupa sehingga mereka terpaksa makan daging unta tunggangan mereka sendiri.

Diriwayatkan, “Saya pun menyembelih unta. Kemudian, kami lapar lagi. Abu Ubaidah yang tadinya memerintahkan untuk menyembelih unta, sekarang beliau melarang untuk menyembelih unta.” (Shahih al-Bukhari, Kitab Al Maghazi)

Dalam riwayat lain diriwayatkan, Jabir bin Abdullah meriwayatkan, “Kami ikut berangkat dengan lasykar Jaisyul Khabath dan Amir kami adalah Abu Ubaidah. Kami sangat kelaparan dan laut melemparkan seekor ikan ke pantai. Ikan itu sudah mati. Kami belum pernah melihat ikan semacam itu. Ikan yang sangat besar. Mungkin ikan paus. Seperti itulah ciri-ciri yang diriwayatkan. Ikan itu disebut dengan ‘ambar. Kami makan dagingnya selama setengah bulan. Kemudian Abu Ubaidah mengambil salah satu tulang ikan dan saking tingginya sehingga penunggang kuda dapat lewat di bawahnya.”

Ibnu Juraij berkata, “Abu Zubair mengatakan pada saya bahwa beliau mendengar Jabir mengatakan bahwa Abu Ubaidah berkata, ‘Makanlah ikan ini.’” (Meskipun sudah mati, tidak apa-apa makanlah.) “Ketika kami sampai di Madinah kami memberitahu tentang ini pada Rasulullahsaw.” Yaitu ada seekor ikan yang sudah mati dan mereka memakannya karena darurat. Rasulullahsaw bersabda,

كُلُوا رِزْقًا أَخْرَجَهُ اللَّهُ، أَطْعِمُونَا إِنْ كَانَ مَعَكُمْ

“Semua rizki berasal dari Allah, jika masih ada sisanya berikan juga kepadaku. Jika ada kalian bawa.”

Salah seorang dari mereka memberikan sepotong daging ikan itu pada Rasulullahsaw dan beliau pun menyantapnya.” (Shahih Bukhari)

Jadi, ketika pulang ke Madinah mereka juga bawa sisa daging ikan itu yang kemudian juga disantap oleh Rasulullahsaw.

Abu Ubaidah bin Jarrahra telah menuntaskan misinya dengan baik sesuai dengan perintah Rasulullahsaw, sekalipun menghadapi berbagai rintangan berat, dan beliau berhasil membawa kembali pasukannya ke Madinah dengan selamat.

Adapapun tujuan dikirimnya lasykar ini adalah mendirikan sebuah posko yang bertujuan untuk menjaga keamanan. Pasukan yang ikut dalam misi itu dikirim untuk melindungi kafilah dagang.

Pada masa itu kafilah dagang dari Buhairah Qalzam biasa lewat dekat tempat itu, maka didirikanlah posko keamanan di jalur yang bisa dilewati kafilah dagang. Itulah sebabnya misi disebut dengan Sariyyah Siful Bahar.

Jadi pasukan ini dikirim bukan untuk tujuan perang, melainkan untuk melaksanakan misi perdamaian. Dimana sebelumnya telah ditanda tanganninya perjanjian Hudaibiyah antara pihak Islam dan pihak kaum kufar Makkah.

Rasulullahsaw melakukan antisipasi jangka panjang dan sebagai bentuk kewaspadaan beliausaw mengirim pasukan penjaga keamanan ke saiful bahar dan mendirikan posko keamanan di sana.

Pasukan keamanan ini bertugas supaya tidak ada yang menghalangi atau mengganggu kafilah Quraisy yang pergi dan datang dari Syam. Sehingga pihak Quraisy tidak bisa membuat-buat alasan tentang pelanggaran perjanjian.

Menurut Ibnu Sa’d lokasi itu terletak sejauh 5 hari perjalanan dari Madinah. Jadi ini bukan bertujuan untuk perang, melainkan lasykar ini dikirim untuk menjaga keamanan orang-orang kafir. Inilah upaya menjaga perdamaian.

Ketika sudah ada perjanjian maka musuh sekalipun, dijaga keamanannya supaya tidak ada alasan bagi kufar bahwa Islam melanggar perjanjian. Tapi, bagaimanapun juga takdir Allah Taala melakukan tugasnya, dimana kenyataannya pihak kaum kuffar Makkah melanggar perjanjian Hudaibiyah itu sehingga terjadilah peristiwa fatah Makkah. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Sumber:

  1. Sirah Khatam-un-Nabiyyin oleh Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Sahib MA
  2. Khotbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad pada 02 Oktober 2020 di Masjid Mubarak, Tilford, UK.

Baca juga: Abu Ubaidah Bin Jarrah Membunuh Ayahnya Sendiri Yang Kafir


0 Komentar

Tinggalkan Balasan