Abu Ubaidah Bin Jarrah Membunuh Ayahnya Sendiri Yang Kafir

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

abu-ubaidah-bin-jarrah

Abu Ubaidah bin Al Jarrah adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin akan masuk surga, saat perang Badr beliau terpaksa membunuh ayahnya sendiri, karena ayahnya itu berada dipihak kaum kufar Makkah.

Awal Kehidupan

Nama asli Abu Ubaidah bin Jarrah adalah Amir bin Abdullah, namun beliau lebih dikenal sebagai Abu Ubaidah.Beliau seorang dari suku Quraisy yang mulia dan berbudi luhur.

Ayah beliau bernama Abdullah bin Jarrah dan nama ibunya adalah Umaimah binti Ghanam dan dia berasal dari keluarga Banu Harits bin Fihr dari suku Quraisy, Makkah.

Abu Ubaidah digambarkan sebagai orang yang tinggi dan tampan, tinggi, ramping, kurus dan memiliki sedikit daging di wajahnya. Kedua gigi depannya patah pada saat pertempuran Uhud karena beliau gunakan untuk mencabut rantai pada helm besi Nabisaw yang menusuk di pipi beliausaw. Janggutnya tidak terlalu tebal dan dia biasa menggunakan khazab atau celupan pewarna.

Abu Ubaidah bin Jarrah beberapa kali melangsungkan pernikahan, tetapi yang memiliki keturunan hanya dari dua istri. Beliau memiliki dua anak laki-laki, Yazid dan Umair.

Berimannya Abu Ubaidah

Abu Ubaidah bin Jarrahra masuk Islam melalui dakwah yang disampaikan Abu Bakrra. Saat itu umat Islam belum beraktifitas di Darul Arqam. Abu Ubaidah adalah orang kesembilan yang masuk Islam.

Ketika Abu Ubaidahra beriman, ayahnya sangat menentangnya, menyebabkan beliaura banyak menerima kesulitan bahkan dari ayahnya sendir. Sehingga beliaura pun ikut hijrah ke Abyssinia.

Kemudian, Abu Ubaidah bin Jarrah juga hijrah ke Madinah. Beliaura kemudian tinggal di rumah Kultsum bin Hidm.

Menurut beberapa riwayat, Nabisaw mempersaudarakan Abu Ubaidahra dengan Salim Maula Abu Hudzaifahra. Menurut beberapa orang lainnya, Nabisaw mempersaudarakan beliau dengan Muhammad ibn Maslamahra dan menurut beberapa riwayat lain, dengan Sa’d ibn Mu’adzra.

Sahabat Kepercayaan Rasulullah

Anas bin Malikra meriwayatkan bahwa Nabisaw bersabda:

 لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ، وَأَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

“Setiap umat memiliki orang terpercaya dan orang terpercaya umat saya adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, bab kisah penduduk Najran)

Kemudian, Abu Hurairahra meriwayatkan bahwa Rasulullahsaw bersabda:

 نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو بَكْرٍ ، نِعْمَ الرَّجُلُ عُمَرُ ، نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ ، نِعْمَ الرَّجُلُ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ ، نِعْمَ الرَّجُلُ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ ، نِعْمَ الرَّجُلُ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ ، نِعْمَ الرَّجُلُ مُعَاذُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْجَمُوحِ

“Betapa baiknya orang-orang seperti Abu Bakr, Umar, Abu Ubaidah bin Jarrah, Usaid bin Hudhair, Tsabit bin Qais bin Syamasy, Mu’adz bin Jabal dan Mu’adz bin ‘Amru bin Jamuh.” (Al-Mustadrak ‘alash Shahihain)

Penduduk Najran, atau menurut riwayat lainnya menyebutkan, penduduuk Yaman datang memohon kepada Rasulullahsaw, mereka meminta agar seseorang mengajari mereka. “Utuslah seseorang bersama kami untuk mengajari kami agama.” (Sahih Muslim, Kitab keutamaan para Sahabat Nabi). Nabisaw bersabda,

 لأَبْعَثَنَّ إِلَيْكُمْ رَجُلاً أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ حَقَّ أَمِينٍ

“Saya pasti akan mengirim bersama Anda sekalian orang yang dapat dipercaya yang akan menunaikan tanggung jawabnya.” Nabisaw memegang tangan Abu Ubaydah ibn al-Jarrah dan bersabda, “Ini adalah Amiin (orang terpercaya) bangsa ini. Dia adalah Amiin umat ini.” (Sahih Muslim, Kitab keutamaan para Sahabat Nabi)

Pada suatu kesempatan Sayyidah Aisyahrha pernah ditanya, “Jika Rasulullah harus menetapkan penerus setelah beliau, siapakah yang akan beliau pilih?”

Atas hal ini, Aisyahrha menjawab, “Abu Bakr.” Orang-orang bertanya, “Dan setelah Abu Bakr siapa?” Aisyahrha menjawab, “Umar.” Orang-orang bertanya, “Siapa setelah Umar?” Aisyahrha berkata, “Abu Ubaidah bin Jarrah.” (Shahih Muslim, Kitab keutamaan para Sahabat Nabi)

Dalam riwayat lain, Abdullah bin Shaqiq bertanya kepada Sayyidah Aisyahrha, “Siapa yang paling dicintai Nabisaw di antara para sahabatnya?” Aisyah menjawab, “Abu Bakr.” Dia bertanya, “Siapa lagi setelah Abu Bakr?” Aisyahrha menjawab, “Umar.” Dia bertanya, “Siapa lagi setelah Umar?” Aisyahrha menjawab, “Abu Ubaidah bin Jarrah.” Lalu dia bertanya, “Siapa selanjutnya?” Perawi berkata, “Ia (Aisyah) tetap diam.” (Tirmidzi; Kitab Budi pekerti yang terpuji)

Di mata Sayyidah Aisyahrha, Abu Ubaidahra memiliki status yang tinggi sehingga beliau sering mengatakan bahwa jika Abu Ubaidah masih hidup setelah kewafatan Khalifah Umarra, maka ia akan menjadi khalifah selanjutnya.

Menurut sebuah riwayat, Khalifah Umarra berkata pada saat menjelang kewafatannya, “Jika Abu Ubaidah masih hidup hari ini, aku akan mengangkatnya sebagai Khalifah selanjutnya dan jika Tuhan-ku bertanya kepadaku mengapa dia yang diangkat, aku akan menjawab, “Wahai Tuhan, saya telah mendengar dari Nabi Engkausaw bahwa Abu Ubaidah adalah orang terpercaya di kalangan umat ini sehingga saya telah menjadikannya sebagai pengganti saya.”’(Tarikhul Umam wal Muluuk)

Baca juga: Bilal Bin Rabah, Sahabat Nabi Yang Banyak Disiksa Karena Keimanannya

Membunuh Ayah Sediri Yang Kafir

Abu Ubaidah bin Jarrahra selama pengabdiannya dalam Islam tidak pernah ketinggalan dalam berjuang di jalan Allah. Beliau ikut serta dalam Perang Badr, Perang Uhud dan semua pertempuran lainnya bersama dengan Rasulullahsaw.

Pada saat Perang Badar, Abu Ubaidah bin Jarrahra saat itu berusia sekitar 41 tahun. Beliau bertempur dengan gagah berani, melawan musuh-musuh Islam, bahkan terpaksa menghadapi ayah beliau sendiri yang berada dipihak musuh.

Pada hari Pertempuran Badar itu, Abu Ubaidah berada dipihak Islam sedangkan ayah beliau, Abdullah datang ke medan perang di pihak orang-orang kafir.

Ayah dan anak saling berhadap-hadapan. Selama perang berkecamuk, ayahnya ingin mengincar Abu Ubaidahra, tetapi beliaura terus mengalah dan berusaha menghindar, tetapi ayahnya tidak menyerah, ia terus berusaha untuk membunuh Abu Ubaidahra, putranya sendiri.

Abu Ubaidahra sebenarnya punya kesempatan untuk membunuh ayahnya, tetapi beliaura terus berusaha menghindari ayahnya, beliaura tidak membunuhnya dan beliau sendiri terus menghindar.

Namun Abu Ubaidahra melihat bahwa ayah beliau tidak mau melepaskannya, maka gejolak semangat tauhid beliau lebih kuat, sehingga beliau sudah tidak memperdulikan lagi ikatan darah dengan ayah kandungnya sendiri.

Ketika Abu Ubaidahra melihat bahwa ayah beliau benar-benar berkeinginan kuat untuk membunuhnya. Sementara itu beliaura sendiri semata-mata didasari oleh keimanan dan kecintaan kepada Islam, maka akhirnya beliau menghadapi ayahnya dan beliau pun berhasil membinasakannya.

Baca juga: Saad Bin Abi Waqqash Sang Penakluk Irak

Pengabdian Abu Ubaidah Di Perang Uhud

Pada saat pertempuran Uhud, Abu Ubaidah bin Jarrahra adalah salah satu sahabat yang tetap teguh dengan Nabisaw ketika pasukan Islam terdesak pasukan musuh.

Pada pertempuran Uhud, Abdullah ibn Qami-ah dari pihak Quraisy melemparkan batu dengan keras ke arah Nabisaw yang melukai wajah beliausaw dan membuat dua gigi beliausaw patah. Abdullah ibn Qamiah berteriak, “Lihat aku, aku ibn Qamiah.”

Rasulullahsaw menyeka darah dari wajah beliau yang diberkahi dan bersabda, “Semoga Allah mempermalukanmu.” Diterangkan, “Kemudian terjadi bahwa Allah menguasakan kepadanya seekor kambing gunung yang memukulinya dengan tanduknya terus-menerus sampai membuatnya tercabik-cabik.” (Musnad asy-Syamiyin)

Menurut riwayat Aisyahrha, Abu Bakr mengatakan, “Pada hari pertempuran Uhud, ketika sebuah batu dilemparkan ke wajah Nabisaw, saya merasa lemparan itu begitu keras sehingga dua rantai helm beliausaw sendiri terputus. Segera aku berlari menuju Rasulullahsaw dan aku melihat seorang pria bergegas lari ke arahnya. Orang itu bergerak ke arah Rasulullahsaw seolah-olah sedang terbang. Karena itu, aku berdoa untuknya, ‘Ya Allah, jadikan orang ini sebagai sarana penyebab kebahagiaan’ Ketika kami mencapai Rasulullahsaw, aku melihat Abu Ubaydah bin Jarrah itulah yang mendahuluiku.”

Abu Ubaidahra berkata kepada Abu Bakrra, “Wahai Abu Bakr, aku memohon kepadamu, demi Allah, biarlah aku yang mengeluarkan rantai ini dari wajah Rasulullahsaw yang diberkahi.’ Abu Bakr menjawab, “Aku mengizinkannya untuk melakukannya.” Jadi, beliau menggigit rantai untuk dikeluarkan dari rahang Rasulullahsaw.”

Abu Ubaidah bin Jarrahra meraih salah satu dari dua rantai tersebut dengan giginya dan mencabutnya begitu keras sehingga beliau terjatuh di tanah dengan punggungnya. Beliau melakukannya sangat kuat sehingga salah satu gigi depan beliau patah. Kemudian beliau gigit rantai satu lagi dengan giginya dan mencabutnya dengan sangat keras sehingga gigi depan beliau yang lain juga patah.” (Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d)

Pemimpin Sariyah

Rasulullahsaw mengirim Abu Ubaidah bin Jarrahra ke banyak Sariyah (ekspedisi). Diantaranya, Sariyah Dzul Qishshah, Sariyah Dzatus Salasil dan Sariyyah Siful Bahri. Sariyah adalah misi pasukan Islam tanpa disertai oleh Rasulullahsaw. Kisah selengkapnya Insya Allah akan dibahas pada kesempatan berikutnya.

Sumber:

  1. Sirah Khatam-un-Nabiyyin oleh Sahibzada Mirza Bashir Ahmad Sahib MA
  2. Khotbah Jumat  Mirza Masroor Ahmad, pada 02 Oktober 2020 di Masjid Mubarak, Tilford, UK

Baca juga: Abdurrahman Bin Auf, Banyak Berkorban Di Jalan Allah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan