Abu Hudzaifah Sahabat Nabi dari Keluarga Besar Penentang Islam

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

abu hudzaifah

Abu Hudzaifah radhiyAllahu anhu termasuk Sahabat Nabi saw yang awalin dalam masuk Islam dari kaum terpandang Quraisy, meski pun keluarga besarnya penentang keras Islam.

Biografi Abu Hudzaifah

Abu Hudzaifah meruapakan nama julukan (laqab), nama asli beliau adalah Husyaim atau Hashim atau juga Mihsyam. Beliau berasal dari keluarga terpandang Banu Umayyah, kaum Quraisy Mekkah, lahir tahun 42 sebelum hijrah atau 578 M.

Ayah beliau Utbah bin Rabi’ah seorang pemuka Quraisy, saudara laki-laki Hindun bin Utbah, istri dari Abu Sufyan dan penetang keras Islam, ibunda beliau bernama Ummu Shafwan, nama aslinya Fatimah Binti Shafwan.

Dari segi fisik beliau digambarkan berpostur tubuh tinggi dan berparas tampan.

Abu Hudzaifah adalah tuan dari hamba sahaya yang bernama Salim, kemudian beliau memerdekakannya bahkan kemudian mengangkatnya menjadi anak, sehinga Salim kemudian dikenal sebagai Salim Maula Abu Hudzaifah.

Baca juga: Haritsah bin an-Nu’man Menyerahkan Rumahnya untuk Rasulullah dan Fatimah

Baiatnya Abu Hudzaifah

Abu Hudzaifah termasuk sahabat yang baiat menerima kebenaran Islam di masa awal, sebelum Rasulullah saw memasuki Darul Arqam.

Ketika dimasa awal Islam saat penentang dari kaum kufar Mekkah begitu hebatnya, beliau yang termasuk golongan terpandang pun tidak luput dari penganiayaan mereka.

Sehingga ketika Rasulullah saw menganjurkan agar umat Islam hijrah ke negeri Habsyah atau Abbesinia (Etiopia saat ini), Abu Hudzaifah dan istri beliau Sahlah Binti Suhail ikut serta.

Demikian pula, ketika hijrah ke Madinah, Abu Hudzaifah dan Salim Maula Abi Hudzaifah, juga ikut hijrah. Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara Abu Hudzaifah dengan Abbad Bin Bisyr. Beliau dan Salim tinggal dirumah Abbad Bin Bisyr.

Baca juga: Talhah bin Ubaidullah Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah di Perang Uhud

Penghidmatan dalam Islam

Beliau ikut serta dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan peperangan lainnya bersama Rasulullah saw.

Abu Hudzaifah juga ikut serta dalam Sariyyah (ekspedisi yang tidak diikuti Rasulullah saw yang dipimpin oleh Abdullah Bin Jahsy. Tujuan Rasulullah saw mengutus 8 orang Sahabat itu adalah untuk tujuan menyelidiki gerakan-gerakan dari kufar Mekkah yang membahayakan umat Islam di Madinah.

Sebelumnya seorang pemuka Makkah bernama Kurz bin Jabir bin Fahri dengan membawa pasukan kuffar Quraisy menyerang secara tiba-tiba ke area peternakan Madinah yang berjarak hanya 3 mil dari kota dengan penuh kelicikan. Mereka mencuri unta dan lain-lain milik umat Muslim. Ketika Rasulullah saw mendapatkan kabar kejadian ini, beliau saw segera mengutus sebuah pasukan Muhajirin dibawah pimpinan Zaid Bin Haritsah untuk membuntuti mereka. Mereka berhasil mengikuti penyerang sampai kawasan Shafwan di dekat bukit Badr namun mereka berhasil lolos. Perang tersebut pun disebut dengan perang Badar Ula (pertama).

Beliau juga ikut berjuang memerangi pemberontakan yang dilakukan oleh Musailamah al-Kazdab dalam Perang Yamamah pada masa Khalifah Abu Bakar Siddiq, dalam perang itu beliau pun syahid.

Baca juga: Perang Mu’tah: 3.000 Pasukan Islam Menghadapi 200.000 Pasukan Romawi

Abu Hudzaifah dari Keluarga Penetang Islam

Abu Hudzaifah berasal dari keluarga besar penetang keras Islam, diantaranya ayah beliau sendiri Utbah bin Rabi’ah, saudaranya Abu Hudzaifah yaitu al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah dan pamannya, Syaibah bin Rabi’ah. Dan yang lainnya, termasuk Abu Sufyan sebelum beriman.

Pada saat Perang Badar Abu Hudzaifah maju untuk duel satu lawan satu dengan ayahnya, namun Rasulullah saw melarangnya, beliau saw bersabda, “Tinggalkan ia, biarkan ada pasukan lain yang akan menghadapinya.”

Utbah bin Rabi’ah, al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah adalah tiga jagoan Quraisy yang menantang duel ke umat Muslim. Tantangan mereka dilayani oleh Hamzah, Ali, Ubaidah bin al-Harits. Akhirnya ayah, paman, saudara dan keponakan beliau tewas ditangan ketika sahabat itu.

Namun, Abu Hudzaifah memperlihatkan kesabaran. Beliau ridha diatas keridhaan Allah ta’ala dan bersyukur atas pertolongan Allah yang Dia berikan kepada Rasulullah saw yakni menganugerahkan kemenangan. Dan Beliau sama sekali tidak menyimpan dendam kepada Hamzah, Ali dan Ubaidah bin al-Harits.

Rasulullah saw kemudian memerintahkan untuk memasukkan mayat orang-orang Musyrik yang terbunuh dalam Perang Badar itu kedalam sebuah lubang seperti sumur.

Rasulullah saw sambil berdiri di dekat sumur bersabda, “Apakah kalian melihat pemenuhan janji yang disampaikan tuhan kalian terbukti benar? Saya telah menyaksikan dengan yakin akan tergenapinya janji yang disampaikan oleh Tuhan saya kepada saya.”

Kemudian salah seorang Sahabat Nabi saw bertanya, “Wahai Rasul Allah! Apakah tuan tengah berbicara kepada mayat-mayat itu?”

Beliau saw bersabda, “Tentunya mereka telah mengetahui janji yang telah disampaikan oleh Tuhan kalian pada kalian telah tergenapi.”

Baca juga: Kenangan Abadi, Cinta Suci Maimunah untuk Rasulullah

Sedih karena Melihat Nasib Ayahnya

Setelah Perang Badr berakhir dengan kemenangan di pihak Islam, Rasulullah saw memerintahkan mayat-mayat dari kaum kufar Mekkah yang terbunuh untuk di masukan kedalam sebuah lubang.

Ketika mayat-mayat itu dimasukkan kedalam lubang atas perintah Rasululla saw, tampak raut kekecewaan di wajah Abu Hudzaifah, karena mayat ayahnya pun termasuk yang dimasukkan ke dalam lubang itu.

Rasulullah saw bersabda kepada beliau, “Wahai Abu Hudzaifah! Demi Tuhan. Tampaknya anda kecewa melihat perlakuan yang diberikan pada jenazah ayah anda.”

Abu Hudzaifah menjawab, “Wahai Rasul! Demi Allah! Tidak ada keraguan dalam diri saya mengenai Allah dan Rasul-Nya, namun ayah saya adalah seorang yang pandai menguasai diri, jujur dan selalu menyampaikan gagasan yang cemerlang. Beliau menganggap apa yang diyakininya benar namun tidak ada niatan buruk. Tadinya saya berharap Allah akan memberinya petunjuk untuk baiat sebelum kewafatannya, namun ketika saya lihat hal itu sudah tidak mungkin lagi sehingga akhirnya berakhir seperti ini. Inilah yang membuat saya sedih.”

 Atas hal itu Rasulullah saw mendoakan untuk kebaikan bagi Abu Hudzaifah. (Shahih ibn Hibban)

Baca juga: Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul: Putra Pemimpin Orang-orang Munafik yang Mukhlis

Wafat

Abu Hudzaifah wafat pada tahun 12 H atau 633 M pada usia 53 atau 54 tahun dalam keadaan syahid, beliau gugur ketika umat Islam menghadapi Musailamah Kadzab dan komplotannya dalam Perang Yamamah pada masa Khalifah Abu Bakar Siddiq.

Bersamaan dengan itu, putra angkat beliau Salim Maula Abu Hudzaifah juga syahid pada peristiwa Perang Yamamah itu.

Baca juga: Salim Maula Abu Hudzaifah Ditunjuk Rasulullah untuk Mengajarkan Al-Qur’an

Abu HUdzaifah by INDONESIA PUNYA CERITA

0 Komentar

Tinggalkan Balasan