Abdurrahman Bin Auf, Banyak Berkorban Di Jalan Allah

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

abdurrahman bin auf

Abdurrahman bin Auf radhiyAllahu ta’ala ‘anhu adalah salah satu sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dikenal memiliki banyak kekayaan dan mengorbankannya di jalan Allah. Beliau banyak mendapatkan karunia dan kehormatan, diantaranya termasuk Asyrah Mubasyarah (sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga) dan salah satu di antara enam orang Ashaab-e-Syuraa (dewan pemilih khalifah) yang ditetapkan oleh Khalifah Umarra.

Latar Belakang

Abdurrahman bin Auf lahir 10 tahun setelah tahun gajah, yang dikenal sebagai tahun kelahiran Rasulullahsaw. Ayahanda beliau bernama Auf ibnu Abd Auf dan ibunya adalah al-Shifaa binti Auf.

Pada zaman jahiliah nama beliau adalah Abd Amru dan menurut riwayat lain Abdul Ka’bah. Setelah menerima Islam, Rasulullahsaw mengganti nama beliaura menjadi Abdurrahman. Beliaura berasal dari Kabilah Banu Zuhrah bin Kilab.

Sahlah binti Ashim meriwayatkan, bahwa Abdurrahman bin Auf berkulit putih, bermata indah, bulu matanya panjang, berhidung mancung. Di antara gigi seri beliau yang patah ada yang panjang. Panjang rambut beliau hingga ke bawah kedua telinga. Leher beliau panjang, telapak tangannya kuat dan jari-jarinya besar.

Ibrahim bin Sa’d meriwayatkan dari ayahnya bahwa Abdurrahman seorang yang berperawakan tinggi, berkulit putih kemerahan, seorang yang tampan, lembut, gesit, tidak memakai pewarna rambut.

Kemudian kaki beliau pincang, diakibatkan oleh luka yang beliau dapatkan dalam Perang Uhud.

Beliau termasuk di antara sedikit orang yang pada zaman jahiliah atau sebelum beripman pun mengharamkan minuman keras atas dirinya.

Abdurrahman bin Auf termasuk di antara 8 orang pertama yang menerima Islam. Sebelum Rasulullah memindahkan markaz ke Darul Arqam pun beliau telah menerima Islam melalui tabligh Abu Bakar. Abdurrahman bin Auf ikut serta dalam kedua hijrah ke Habsyah.

Baca juga: Saad Bin Muadz, Penentang Yang Menjadi Pembela Islam

Sahabat Yang Kaya Raya

Pada masa sebelum beriman pun Abdurrahman bin Auf sudah memiliki banyak kekayaan, beliau dikenal sebagai seorang saudagar yang cakap dan sukses.

Kemudian sebagaimana perintah Rasulullahsaw untuk hijrah ke Madinah maka, kekayaan yang beliau miliki di Makkah pun beliau tinggalkan demi menaati perintah Rasulullahsaw.

Terdapat riwayat dalam Sahih Bukhari, Abdur Rahman Bin Auf menceritakan, “Ketika kami tiba di Madinah, Rasulullahsaw mempersaudarakan saya dengan Sa’d Bin Rabi.”

Sa’d Bin Rabi mengatakan kepada Abdurrahman bin Auf, “Saya adalah seorag hartawan di kalangan Anshar. Saya akan bagikan setengah harta kekayaan saya kepada anda. Begitu pun saya memiliki dua istri, istri yang mana yang anda sukai, akan saya ceraikan istri saya tersebut untuk tuan, setelah masa iddah berlalu silahkan tuan nikahi.”

Setelah mendengar itu, Abdurrahman berkata, “Saya tidak memerlukannya. Tolong beritahukan saja kepada saya, apakah di sini ada pasar yang mana bisa berdagang di dalamnya.”

Sa’d mengatakan, “Di sini terdapat pasar Qainuqa.” (pasar milik kaum Yahudi Banu Qainuqa).

Setelah mencari tahu, Abdurrahman pergi ke pasar tersebut di pagi hari lalu membeli paneer dan ghee (mentega susu kering atau yogurt dan mentega). Seperti itulah beliau pergi ke pasar setiap pagi.

Karena keahilan dan kerja kerasnya dalam berniaga, dalam waktu yang cepat beliaura kembali meraih kekayaan yang berlimpah.

Abdur Rahman Bin Aufra mengatakan, “Saya menyaksikan diri saya sendiri dalam keadaan yakni jika saya mengangkat sebuah batu, saya berharap akan mendapatkan emas atau perak di bawah batu tersebut.”

Sa’d bin Ibrahim meriwayatkan bahwa Abdurrahman bin Aufra biasa memakai sebuah selendang atau suatu kali beliau memakai sebuah selendang seharga 400 atau 500 dirham.

Hal itu artinya keadaan beliau sedemikian rupa sehingga beliau juga memakai pakaian yang mahal.

Beta besar karunia Allah Ta’ala pada beliaura, ketika hijrah beliau tidak punya apa-apa. Tapi setelah itu beliau memakai pakaian yang paling mahal dan menghasilkan harta yang tak terhitung jumlahnya.

Mentaati Perintah Rasulullah

Abdurrahman bin Auf senantiasa menaati perintah Rasulullahsaw, putra beliaura bernama Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya bahwa Rasulullahsaw bersabda:

 يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّكَ مِنَ الْأَغْنِيَاءِ، وَلَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا زَحْفًا، فَأَقْرِضِ اللَّهَ يُطْلِقْ لَكَ قَدَمَيْكَ

“Wahai putra Auf! Kamu akan masuk surga dengan merangkak karena kamu kaya. Oleh karena itu belanjakanlah hartamu di jalan Allah supaya kamu bisa masuk surga sambil berjalan.”

Maka Abdurrahman bin Aufra bertanya: “Wahai Rasulullahsaw! Apa yang harus saya belanjakan di jalan Allah?”

Rasulullahsaw bersabda: “Belanjakanlah apapun yang kamu punya.” Beliaura bertanya: “Apakah semuanya?” Rasulullahsaw bersabda: “Ya.”

Abdurrahman bin Aufra keluar dengan tekad kuat akan mempersembahkan seluruh hartanya di jalan Allah. Beberapa saat kemudian Rasulullahsaw memanggil beliau dan bersabda, “Jibril berkata:

 مُرِ ابْنَ عَوْفٍ فَلْيُضِفِ الضَّيْفَ ، وَلْيُطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَلْيُعْطِ السَّائِلَ ، وَيَبْدَأْ بِمَنْ يَعُولُ ، فَإِنَّهُ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ تَزْكِيَةَ مَا هُوَ فِيهِ

‘Sampaikan pada putra Auf agar dia mengkhidmati tamu, memberi makan orang miskin, memberi orang yang minta-minta dan dahulukan membelanjakan harta pada keluarga dibanding orang lain. Kalau dia melakukan itu maka hartanya akan suci.’” (Mukhtashar Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir)

Baca juga: Zubair Bin Awwam, Seorang Pemberani Yang Dijamin Masuk

Doa Abdurrahman Bin Auf

Seorang meriwayatkan bahwa ia melihat Abdurrahman bin Aufra sedang tawaf di Ka’bah dan berdoa:

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ

Allahumma qinii syuhha nafsii…’

“Ya Allah!hilangkanlah dari jiwa hamba sifat bakhil...” (Al-Isti’aab fi Ma’rifatil Ashhaab oleh Ibn Abdul Barri)

Do’a ini diambil dari firman Allah Ta’ala dalam surat Ath Taghabun:

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah yang beruntung”

Abdurrahman bin Aufra selama hidupnya selalu berusaha menaati perintah Rasulullahsaw dalam pengorbanan harta di jalan Allah dan beliau pun berdoa dengan sungguh-sungguh agar beliau bisa melaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Berkorban Harta Di Jalan Allah

Pada saat persiapa Perang Tabuk, Rasulullahsaw memerintahkan para sahabat untuk mempersiapkan segala seuatunya. Beliausaw menghimbau para hartawan untuk mengorbankan harta di jalan Allah Ta’ala dan menyediakan hewan tunggangan, atas perintah tersebut para sahabat berlomba-loma memberikan pengorbanan sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Atas himbauan itu Abu Bakrra yang paling pertama menyereahkan pengorbanannya. Pada kesempatan itu beliaura membawa seluruh harta yang ada di rumahnya yang berjumlah 4000 dirham.

Rasulullahsaw bertanya kepada Abu Bakr, هل أبقيت لأهلك شيئا “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu di rumah?”

Abu Bakrra menjawab, أبقيت لهم الله ورسوله “Saya meninggalkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya untuk mereka.”

Kemudian Umar bin Khattabra datang dengan membawa setengah dari harta yang ada di rumahnya. Rasulullahsaw bertanya kepada Umar, هل أبقيت لأهلك شيئا “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu di rumah?” Umarra menjawab, النصف الثاني “Saya meninggalkan separuh.”

Tidak ketinggalan, Utsman bin Affanra, Adurrahman bin Aufra dan para sahabat lainnya juga menyerahkan pengorbanannya.

Abdurrahman bin Aufra pada kesempatan itu memberikan 100 uqiyah. 1 uqiyah setara dengan 40 dirham. Jadi, totalnya 4000 dirham. Maka Nabisaw bersabda:

كانا خزنتين من خزائن الله في الأرض ينفقان في طاعة الله تعالى

‘kaana khazanataini min khazaa-iniLlahi fil ardhi yunfiqaani fi thaa’atiLlaahi ta’ala.’

“Keduanya (Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf) adalah khazanah diantara khazanah-khazanah Allah Ta’ala di muka bumi ini yang membelanjakan harta demi ridha Allah Ta’ala.” (As-Sirah al-Halabiyyah)

Baca juga: Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid, Yang Paling Mulia Diantara Para Pendamping Nabi

Mengkhidmati Ummahatul Muminin Dan Keluarga Nabi

Ummu Bakr binti Miswar bin Makhramah dari ayahnya meriwayatkan, “Abdurrahman bin Aufra membeli sebidang tanah seharga 40.000 dinar dari Utsman bin Affanra. Kemudian beliaura membagi-baginya pada orang-orang miskin di kalangan Banu Zuhrah, orang-orang yang memerlukan di kalangan mana saja dan Ummahaatul mu-minin (para ibu kaum beriman yaitu istri-istri Nabi Muhammadsaw).”

Miswar bin Makhramah berkata, “Ketika saya memberikan kepada Aisyahrha bagian beliau dari harga tanah itu maka Aisyah bertanya, ‘Siapa yang mengirim ini?’

Saya menjawab, “Abdurrahman bin Aufra yang kirim.” Aisyahrha berkata, “Rasulullahsaw pernah bersabda:

 لَا يَحْنَأُ عَلَيْكُنَّ بَعْدِي إِلَّا الصَّابِرُونَ

“Sepeninggal saya, orang yang akan berbuat baik pada kalian (para istri Nabisaw) adalah orang yang memiliki kesabaran yang sangat tinggi.”’ (Fadhailush Shahaabah karya Ibnu Hanbal)

Kemudian Aisyahrha berdoa:

سَقَى اللَّهُ ابْنَ عَوْفٍ مِنْ سَلْسَبِيلِ الْجَنَّةِ

“Ya Allah! Berilah Abdurrahman bin Auf minuman dari mata air salsabil di surga.’” (Hilyatul Auliya)

Abdurrahman bin Aufra pernah membawa untuk berhaji ummahatul mukminin sekaligus dengan kendaraan untuk mereka masing-masing dan beliau memasangkan haudaj (tandu berpardah) di pelana unta-unta mereka masing-masing.

Untuk tempat peristirahatan beliau memilih lembah-lembah yang tidak biasa dilalui orang. Hal demikian supaya ada pardah dan mereka bisa istirahat dengan bebas.

Sementara itu, dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullahsaw bersabda:

 إن الَّذِي يحَافِظُ عَلَى أَزْوَاجِي مِنْ بَعْدِي هُوَ الصَّادِقُ البَّارُّ

“Orang yang memperhatikan keluarga saya sepeninggal saya adalah orang yang jujur dan saleh.” (Abul Hasan Nuruddin bin Abdul Hadi As-Sindi dalam karyanya Hasyiah as-Sindi ala Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal)

Membagi-bagikan Kekayaannya Kepada Orang-orang Miskin

Suatu kali terjadi paceklik di Madinah. Pada masa itu dari negeri Syams datang kafilah ke Madinah dengan 700 unta membawa gandum, tepung dan bahan-bahan makanan yang karenanya terjadi kebisingan di seluruh Madinah. Aisyah bertanya, “Kebisingan apa ini?” Disampaikan pada beliaura bahwa kafilah Abdurrahman bin Aufra datang dengan 700 unta yang membawa gandum, tepung dan bahan-bahan makanan.

Ummul Mukminin Aisyahra bersabda, “Saya mendengar Rasulullahsaw bersabda,

 قَدْ رَأَيْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَبْوًا

“Saya melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan sambil merangkak.”

Ketika Abdurrahmanra mengetahui hal ini, beliau datang menghadap Aisyahrha dan mengatakan,

“Wahai Ibu! Saya menjadikan engkau sebagai saksi bahwa semua gandum, bahan makanan, dan semua barang sampai pelana unta sekalipun saya persembahkan di jalan Allah supaya saya bisa masuk surga dengan berjalan.” (Usdul Ghabah fi Ma’rifatish Shaahabah)

Kemudian, Abdurrahman bin Aufra membagi-bagikan seluruh hasil perniagaannya itu kepada penduduk Madinah yang membutuhkan.

Baca juga: Ummul Mu’minin Ummu Salamah, Teladan Dalam Cinta Dan Kesetiaan

Kedermawanan Abdurrahman Bin Auf

Tidak terhitung jumlahnya kisah-kisah kedermawanan Abdurrahman bin Aufra yang dikumpulkan oleh para penyusun sejarah para sahabat.

Suatu kali pernah beliau memberikan separoh harta beliau – yakni saat itu berjumlah 4.000 dirham – di jalan Allah Taala. Kemudian pada kesempatan lain beliau mendermakan 40.000 dirham. Selanjutnya, beliau menyumbangkan 40.000 dinar di jalan Allah Taala. Suatu kali beliau mewakafkan 500 kuda di jalan Allah. Kemudian beliau beliau mempersembahkan 500 unta di jalan Allah. (Hilyatul Auliya dan Usdul Ghaabah)

Putra Abdurrahman bin Aufra yang bernama Abu Salamah meriwayatkan, “Ayah kami mewasiyatkan sebuah kebun untuk Ummahaatul Mukminin. Harga kebun itu 400.000 dirham.” (Jami’ at-Tirmidzi, Kitab tentang Manaqib)

Abdurrahman bin Aufra adalah orang yang biasa membelanjakan banyak hartanya di jalan Allah. Suatu kali beliau memerdekakan 30 budak dalam satu hari.

Takut Kepada Allah

Naufal bin Iyas al-Hudzali menceritakan: “Abdurrahman bin Aufra bisa duduk di majlis kami. Beliaura adalah teman terbaik. Suatu hari beliau mengajak kami ke rumahnya. Setelah mandi beliau keluar dan membawakan kami sebuah panci berisi roti dan daging. Kemudian entah kenapa beliau tiba-tiba menangis.

Kami bertanya, “Wahai Abu Muhammad! Apa yang membuat Anda menangis? Beliau berkata, “Rasulullahsaw meninggalkan dunia ini dalam keadaan beliau dan keluarga beliau tidak bisa makan roti dari biji jelai dengan kenyang.”

Kemudian beliau mengatakan: “Saya tidak berpikir bahwa apa yang kita dapatkan di akhir (kemudian) adalah lebih baik untuk kita.’” (Al-Isti’aab fi Ma’rifatil Ash-haab karya Ibnu Abdil Barr)

Kesempatan yang kita dapatkan untuk hidup sekian lama, apakah lebih baik untuk kita atau justru cobaan atau ujian bagi kita.

Abdurrahman bin Aufra merasa takut pada Allah serta perasaan mereka untuk Rasulullahsaw dan keluarga beliau. Gejolak kecintaan ini tidak hanya terbatas kepada Rasulullah dan Ahli bait beliausaw saja, bahkan hal itu terlihat juga diantara sesama para sahabat.

Suatu ketika Abdurrahman Bin Auf dibawakan makanan untuk buka puasa dan beragam makanan terhidang, ketika beliau mengangkat satu suapan dan akan memasukkannya ke dalam mulut, beliau menangis lalu menurunkan tangannya lagi dan berkata:

Mushab bin Umair telah syahid pada perang Uhud dan beliau lebih baik dari saya. Beliau dikafani dengan satu kain yang tidak mencukupi untuk menutup jenazahnya. Jika kepalanya ditutupi dengan kain itu maka kedua kakinya terlihat dan jika kedua kakinya ditutup maka kepalanya tampak terlihat.”

Beliau juga berkata: “Hamzah bin Abdul Muthalibra pun telah syahid. Beliau lebih baik dari saya, namun kepada kita telah dianugerahkan kelapangan harta dan kemudahan dan kita mendapatkan bagiannya. Saya khawatir jangan sampai ganjaran atas kebaikan kita telah sepenuhnya didapatkan segera di dunia ini.” Setelah itu Hadhrat Abdur Rahman menangis lalu meninggalkan hidangan.(Sahih Bukhari, hadits no. 4045)

Seperti itulah rasa takut dan kekhawatiran beliau kepada Allah Ta’ala. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa Abdurrahman Bin Auf termasuk Asyrah Mubasyarah yaitu golongan yang telah dikabarsukakan masuk surga oleh Rasulullahsaw.

Namun meskipun demikian, sedemikian besarnya rasa takut yang terdapat dalam hati beliau kepada Allah Ta’ala sehingga setiap saat selalu khawatir, oleh kareannya beliau banyak berkorban harta sebagaimana perintah Rasulullahsaw.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Anas Bin Malik Pelayan Setia Rasulullah

Wasiat Abdurrahman Bin Auf

Dimasa akhir kehidupannya beliaura menyampaikan wasiat mengenai harta kekayaanya yang berlimpah itu, tidak hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk orang lain.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, “Abdurrahman bin Aufra berwasiyat bahwa seluruh sahabat yang ikut perang Badr masing-masing akan diberikan 400 dinar dari harta warisan beliau. Dengan demikian wasiyat beliau ini diamalkan dan saat itu ada 100 orang sahabat Badr.” (Usdul Ghaabah)

Abdurrahman bin Aufrara meninggalkan 3 istri. Setiap istri mendapat warisan 1/8 bagian dari total harta beliau yang mana masing-masing mendapatkan 80 ribu dirham. Di riwayat lain tertulis bahwa beliau memiliki 4 istri dan setiap istri mendapatkan 80 ribu dirham.

Tambah lagi, Abdurrahman bin Aufra mewasiyatkan 50.000 dinar untuk diberikan di jalan Allah. Harta peninggalan beliau terdiri dari 1000 unta, 3.000 kambing dan 100 kuda.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, “Abdurrahman bin Aufra saat wafat meninggalkan warisan emas sedemikian rupa yang untuk membaginya harus dipotong-potong dengan kapak sampai-sampai tangan orang-orang kapalan karena memotongnya.” (Mausu’ah Imam Ali)

Akhir Kehidupan Abdurrahman Bin Auf

Hadhrat Abdurrahman bin Aufrara wafat di Madinah pada 31 Hijriyah, menurut sebagian orang pada 32 hijri. Beliau berumur 72 atau 78 tahun. Beliau dimakamkan di Jannatul Baqi.

Utsman bin Affanra mengimami shalat jenazah beliau, menurut salah satu riwayat lain, Zubair bin Awwamra yang mengimami shalat jenazah beliau.

Pada saat kewafatan Abdurrahman bin Aufra, Sa’d bin Malikra berdiri di dekat dipan tempat Abdurrahman bin Auf disemayamkan dan berkata, واجبلاه yang artinya “Sayang sekali kita kehilangan seorang yang memiliki kepribadian seperti gunung.”

Kemudian Ali bin Abi Thalibra berkata, “Putra Auf telah pergi dari dunia ini dalam keadaan telah meminum air yang bersih di dunia ini dan meninggalkan air yang kotor.” (Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’d) Maksudnya, beliau telah mendapati masa yang baik dan pergi sebelum datangnya masa buruk. 

Sementara itu, Rasulullahsaw pernah bersabda tentang Abdurrahman bin Aufra:

سيد من سادات المسلمين

“Dia adalah pemimpin bagi para pemimpin umat Islam.” (Al-Isti’aab fi Ma’rifatil Ash-haab karya Ibnu Abdil Barr)

Beliausaw juga bersabda:

 عَبْد الرحمن بن عوف أمين في السماء، أمين فِي الأرض

“Abdurrahman di langit amiin (orang yang dapat dipercaya) dan di bumi pun juga amiin.” (Maʿrifat al-ṣaḥāba karya Abū Nuʿaym al-Aṣbahānī)

Demikianlah biografi singkat tentang sahabat mulia dan dermawan Abdurrahman bin Aufra yang banyak mengorbankan hartanya di jalan Allah Ta’ala, semoga kita bisa meneladaninya, aamiin.

Sumber: Khotbah Jumat Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pada 12, 19 dan 26 Juni 2020, di Masjid Mubarak, Tilford, UK.

Baca juga: [Sahabat Nabi] Muadz Bin al-Harits Pemuda Yang Ikut Menewaskan Abu Jahal


0 Komentar

Tinggalkan Balasan