Abdullah bin Jubair radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, komandan pasukan khusus pemanah pada perang Uhud, beliau dan pasukannya diperintahkan untuk menjaga serangan musuh dari belakang. Beliau mentaati perintah Rasulullah saw hingga beliau menjadi syahid.

Beliau termasuk sahabat Anshar yang ikut pada baiat Aqabah kedua. Beliau ikut pada perang Badr dan perang Uhud.

Abdullah bin Jubair saat Perang Badr

Saat perang Badr, Abul ‘Ash bin Rabi suami Zainab, putri Rasulullah saw, ikut di pihak Musyrik Makkah dan ditawan oleh Abdullah bin Jubair.

Zainab yang saat itu masih berada di Makkah mengirimkan tebusan bagi suaminya, diantaranya adalah sebuah kalung. Kalung tersebut merupakan hadiah perkawinan yang diberikan  Khadijah, istri Rasulullah saw kepada putrinya, Zainab.

Setelah melihat kalung tersebut, Rasulullah saw teringat akan almarhum Khadijah, beliau saw terharu dan bersabda kepada para sahabat, “Jika kalian mengizinkan, tolong kembalikan kalung ini kepada Zainab.”

Para sahabat segera mengembalikan kalung itu kepada Zainab. Sebagai pengganti dari tebusan tersebut Rasulullah saw menetapkan syarat kepada Abul ’Ash, menantu beliau saw itu untuk mengirim Zainab ke Madinah.

Beberapa masa kemudian Abul ‘Ash juga baiat masuk Islam lalu hijrah ke Madinah, akhirnya suami-istri itu dapat berkumpul bersama di Madinah.

Baca juga: Talhah bin Ubaidullah Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah di Perang Uhud

Komandan Pasukan Khusus di Uhud

Pada perang Uhud, Rasulullah saw menetapkan Abdullah bin Jubair sebagai komandan pasukan pemanah yang berjumlah 50 orang. Beliau diperintahkan untuk menjaga pos di atas bukit, yang berada di bagian belakang pasukan Muslim.

Rasulullah saw menegaskan kepada mereka, “Apapun yang terjadi, kalian jangan tinggalkan tempat ini, teruslah tembakan panah ke arah musuh.”

Sedemikian rupa beliau saw perhatian untuk menjaga bukit tersebut sehingga beliau berkali-kali menginstruksikan kepada Abdullah bin Jubair supaya jangan sampai tempat itu kosong dari penjagaan apa pun yang terjadi, “Sekalipun kalian menyaksikan kemenangan di pihak kita, dan musuh mulai melarikan diri, kalian tetap jangan meninggalkan pos tersebut. Sebaliknya, jika kalian melihat pasukan Muslim terdesak dan pasukan musuh unggul, kalian juga tetap jangan meninggalkan pos ini.”

Baca juga: Cara Rasulullah Menghadapi Wabah Penyakit

Tergiur oleh Harta Rampasan

Ketika pasukan Islam berhasil memukul mundur musuh. Pasukan pemanah yang dipimpin oleh Abdullah bin Jubari  tergiur untuk ikut ke medan pertempuran.

Mereka mengatakan kepada Abdullah bin Jubair, “Ayo kita ambil harta rampasan. Kawan-kawan kita telah duluan, tunggu apa lagi kalian?” Abdullah Bin Jubair mengingatkan, “Apakah kalian lupa akan perintah Rasulullah saw kepada kalian?”

Kawannya menjawab, “Demi Tuhan! Tentu kami akan bergabung dengan pasukan lain untuk mengambil harta rampasan, mereka telah lebih dulu mengambilnya, kami akan menyusul mereka.”

Abdullah melarang mereka dan mengingatkan mereka atas perintah keras dari Rasulullah saw, namun kawan-kawannya itu lalai disebabkan kebahagiaan atas kemenangan, lalu turun ke lembah dengan beralasan: “Maksud perintah Rasulullah saw adalah tidak meninggalkan pos sebelum benar-benar yakin menang. Karena saat ini kita sudah menang, sah saja jika kami pergi.”

Mereka beramaia-ramai meninggalkan pos mereka, tidak mengindahkan peringatakan yang disampaikan oleh komandan mereka, Abdullah bin Jubair untuk tidak meninggalkan pos mereka sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah saw.

Setelah mereka pergi, hanya tinggal Abdullah bin Jubair dan 5 atau 7 orang pasukan yang tersisa melakukan penjagaan di pos.

Baca juga: Abbad bin Bishr: Sahabat Nabi yang Sangat Istiqomah Tahajjud

Serangan Balik Musuh

Dalam lasykar Mekkah yang sedang melarikan diri termasuk Khalid bin Walid yang kemudian menjadi panglima Muslim besar. Matanya yang jeli jatuh pada celah sempit yang tak terjaga lagi itu. Yang masih menjaganya hanya tinggal sedikit, Khalid berseru memanggil panglima Mekkah lain, ialah Amr bin As, dan menyuruhnya melempar pandangan ke celah di belakangnya. Amr menengok ke belakang dan tahulah dia bahwa itulah kesempatan yang paling indah.

Kedua panglima itu menghentikan pasukan mereka dan mendaki bukit itu. Melihat tempat penjagaan itu kosong, Khalid Bin Walid menyerangnya dengan pasukan berkuda dan diikuti oleh Ikrimah bin Abu Jahal juga Amr bin As, saat itu mereka semuanya belum beriman.

Segelintir pasukan Muslim yang ada saat itu tidak mampu menghadapi pasukan musuh dibinasakan oleh oleh mereka. Dari tempat yang tinggi itu mereka mulai menyerbu pasukan Muslim.

Mendengar pekikan perang mereka, lasykar kufar Mekkah yang telah cerai-berai itu bergabungan lagi dan kembali ke medan pertempuran. Serbuan kepada kaum Muslim itu sangat mendadak.

Musuh pun memukul mundur pasukan Muslim. Serangan tersebut begitu tiba-tiba sehingga pasukan Muslim yang tengah berbahagia dengan kemenangan itu tidak dapat berkutik.

Disebabkan serangan musuh tersebut pasukan Muslim terdesak mundur, mereka terpencar-pencar ke berbagai arah dan sulit disatukan.

Hanya prajurit-prajurit Muslim secara perorangan masih nampak mengadakan perlawanan terhadap musuh. Banyak di antara mereka gugur. Lain-lainnya terdesak mundur.

Sekelompok kecil pasukan Islam membuat formasi lingkaran di sekeliling Rasulullah saw. Seluruhnya tak lebih dan dua puluh orang. Lasykar Mekkah menggempur lingkaran itu dengan ganasnya. Satu demi satu pasukan Islam dalam lingkaran itu rebah karena tebasan pedang-pedang musuh.

Regu kecil yang tinggal di sekitar Rasulullah saw itu tak mungkin dapat menahan lasykar yang mereka hadapi. Sehingga Rasulullah sw terluka dan tidak sadarkan diri, musuh menyangka beliau telah gugur. Sementara itu sebanyak 70 sahabat telah syahid pada perang Uhud.

Begitu besar kerugian yang diderita pasukan Islam, hal itu disebabkan ketidak taatan pasukan Islam yang ditugaskan oleh Rasulullah saw untuk menjaga pos di atas bukit.

Baca juga: Usamah bin Zaid: Sahabat yang Sangat Dicintai Nabi

Syahidnya Abdullah bin Jubair

Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal bersama pasukannya menyerang Abdullah bin Jubair dan segelintir kawan-kawannya yang masih setia menjaga pos mereka.

Tentu saja kekuatannya tidak sebanding, pasukan Islam yang sedikit itu mereka habisi. Mereka membunuh orang-orang Muslim yang tinggal sedikit, yang menjaga celah itu, termasuk Hamzah, paman Rasulullah saw.

Abdullah bin Jubair sendiri sekuat tenaga memberi perlawanan, beliau melontarkan anak panah sampai anak-anak panah beliau habis. Lalu beliau menghadapi musuh dengan tombak, sampai sampai tombak beliau patah. Lalu beliau menggunakan pedang, sampai beliau akhirnya syahid ditangan Ikrimah bin Abu Jahal.

Ketika beliau terjatuh, musuh menyeret jenazah beliau lalu memutilasinya dengan brutal. Begitu kejamnya tubuh beliau ditombaki, sehingga usus keluar dari tubuh beliau.

Khawwat bin Jubair seorang sahabat yang selamat dalam pertempuran itu menceritakan bahwa beliaulah yang mengangkat jenazah Abdullah bin Jubair,  agar isi perutnya tidak terurai beliau mengikat perut Abdullah bin Jubair dengan sorbannya.

Sebagaimana perintah Rasuluillah saw, Abdullah bin Jubair dimakamkan di Uhud bersama dengan para syuhada Uhud lainnya, jumlah mereka semuanya sekitar 70 orang.

Abdullah bin Jubair Sahabat Nabi yang sepenuhnya taat dan patuh kepada perintah Rasulullah saw, sekalipun haru mengorbankan dirinya sendiri.

Baca juga: Shuhaib bin Sinan: Sahabat Nabi yang Meninggalkan Harta demi Hijrah


0 Komentar

Tinggalkan Balasan