5 Syarat Shalat Beserta Penjelasannya

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

doa-doa-shalat

Sebagaimana  sebelum memulai suatu pekerjaan yang penting lagi agung dibutuhkan suatu persiapan yang matang, begitu pula shalat. Sebagai ibadah yang agung untuk melaksanakannya secara  benar dan sempurna perlu diawali dengan beberapa hal yang disebut dengan syarat-syarat shalat.

Berikut ini 5 syarat shalat: 1. Waktu, 2. Taharah (bersuci), 3. Menutup Aurat, 4. Menghadap Kiblat, 5. Niat Shalat

Penjelasan tentang 5 syarat shalat ini adalah sebagai berikut:

Syarat Shalat yang Pertama; Waktu

Syarat shalat yang pertama adalah waktu pelaksanaan masing-masing shalat fardu yang terbagi ke dalam lima waktu berikut ini: Fajar (Subuh), Zuhur, Subuh, Asar, Maghrib dan Isya. Berikut ini penjelasannya:

Waktu Shalat Subuh

Ketika malam berakhir dan fajar menyinsing, maka di timur mulai muncul cahaya. Pada saat itulah yang dinamakan fajar dan waktu Subuh. Waktu ini sampai sebelum matahari terbit.

Di daerah-daerah yang iklimnya berganti-ganti maka dari segi waktu di daerah tersebut waktu shalat selisihnya menjadi sedikit berkurang dari satu setengah jam waktu normal.   

Akan lebih afdhal dan lebih baik apabila shalat dimulai agak pagi, bacaan dipanjangkan dan selesai ketika cahaya benar-benar menyebar. Supaya banyak orang yang bisa ikut shalat berjama’ah.

Waktu Shalat Zuhur

Waktu shalat Zuhur dimulai dari matahari tergelincir sampai bayangan suatu benda sama dengan benda itu.

Apabila karena suatu kesibukan atau keterpaksaan tidak bisa mengerjakan shalat Zuhur dalam keadaan tepat waktu, maka shalat Zuhur masih bisa dikerjakan pada keadaan yang kedua yakni sampai bayangan setiap benda panjangnya dua kali lipat (benda tersebut).

Dari segi waktu, di daerah-daerah yang musimnya berganti-ganti seluruh waktu Zuhur selisihnya menjadi tiga jam. Adalah lebih baik  pada musim panas shalat Zuhur dikerjakan agak sedikit lama dan pada musim dingin dikerjakan agak cepat.

Waktu shalat jumat adalah sama dengan shalat Zuhur. Pada dasarnya shalat jumat merupakan pengganti shalat Zuhur.

Waktu Shalat Ashar

Waktu Shalat Ashar dimulai dari keadaan yang kedua, yakni ketika bayangan suatu benda 2 kali lipat benda tersebut sampai sebelum terbenamnya matahari disebut dengan waktu Ashar.

Berdasarkan hitungan jam di daerah-daerah yang iklimnya berganti-ganti, waktu shalat Ashar selisihnya menjadi dua setengah jam.

Kalau terburu-buru dan ada suatu urusan penting maka shalat Ashar bisa dikerjakan pada saat dimulainya keadaan yang kedua yakni ketika bayangan suatu benda panjangnya 2 kali lipat benda tersebut.

Tapi yang  paling afdhal dan lebih baik adalah mengerjakan shalat Ashar setelah selesai keadaan kedua (setelah bayangan suatu benda panjangnya 2 kali lipat benda tersebut, pent) dan dimulainya keadaan yang ketiga.

Begitu pula, hendaknya shalat dikerjakan sebelum cahaya matahari meredup. Karena tanpa suatu keterpaksaan melambat-lambatkan shalat dan mengerjakannya ketika cahaya matahari sudah menguning dan waktu terbenamnya matahari sudah dekat adalah suatu yang tidak disukai dan makruh (dibenci).

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa jika terlambat mengerjakan shalat karena suatu kesibukan  maka shalat Zuhur bisa dikerjakan pada keadaan yang kedua ( ketika bayangan suatu benda panjangnya 2 kali lipat benda tersebut, pent) dan jika terburu-buru maka shalat Ashar juga bisa dikerjakan pada keadaan itu.

Waktu Shalat Maghrib

Waktu shalat maghrib dimulai dari terbenamnya matahari hingga menjelang malam (syafq), yakni ketika hilangnya cahaya merah. Pada saat itulah yang disebut dengan waktu Maghrib.

Berdasarkan perhitungan jam maka untuk daerah-daerah yang iklimnya berganti-ganti, selisih waktunya menjadi kurang dari satu setengah jam.

Cahaya yang muncul di ufuk barat setelah hilangnya cahaya kemerahan, itu juga disebut syafq. Waktu ketika hilangnya cahaya itu termasuk ke dalam waktu Maghrib dan Isya. Yakni, jika terlambat karena suatu keterpaksaan maka pada waktu tersebut bisa mengerjakan shalat Maghrib dan jika terburu-buru karena ada urusan penting maka pada waktu ini juga bisa mengerjakan shalat Isya. Begitu pula, jika ada keterpaksaan atau uzur maka shalat Maghrib dan Isya boleh dijamak.

Waktu Shalat Isya

Waktu shalat Isya dimulai dari  menjelang malam (syafq), yakni setelah hilangnya cahaya sampai sebelum terbit fajar. Tapi yang lebih baik dan afdhal adalah sampai pertengahan malam.

Apabila seseorang tidak bisa mengerjakan shalat fardhu tepat pada waktunya karena lupa atau ketiduran maka  ketika dia ingat dan sadar, pada saat itulah dia siap mengerjakan shalat. Karena waktu inilah yang telah ditetapkan di sisi Allah Ta’ala untuk shalatnya yang ketinggalan itu.

Di tempat yang tidak biasa, di mana malam lebih dari 20 jam tau meskipun siang 20 jam tapi di dalamnya terdapat begitu banyak perbedaan, sehingga sangat sulit membedakan 5 waktu shalat  berdasarkan Al Quran dan sunah. Misalnya, di daerah kutub utara di mana tidak bisa dibedakan antara syafaq ketika senja dan ghusaq ketika Subuh.

Di sana waktu-waktu shalat ditetapkan dengan perkiraan berdasarkan jam dan untuk menentukan waktu-waktu tersebut tidak perlu mengikuti tanda-tanda berdasarkan terbit dan terbenamnya matahari.

Dan juga di daerah-daerah seperti ini, waktu-waktu shalat yang ditetapkan dalam 24 jam dibagi-bagi demikian, yaitu waktu istirahat ditengah-tengah waktu shalat tersebut,   menjadi serupa dengan waktu istrahat di tengah-tengah waktu shalat di daerah-daerah yang musimnya berubah-rubah.

Dari segi kebiasaan umum masyarakat setempat di daerah-daerah tersebut, waktu beraktifitas apakah itu ada matahari atau tidak terhitung sebagai siang  dan waktu beristirahat apakah itu matahari sedang bersinar di langit akan terhitung sebagai malam.

Syarat Shalat yang Kedua; Taharah

Syarat shalat yang kedua adalah Taharah atau bersuci. Apakah shalat itu? Shalat adalah hadir di singgasana Allah Ta’ala dan berusaha untuk meraih kedekatan dengan-Nya. Jadi, di manapun dibutuhkan keikhlasan hati dan ketulusan batin  maka di situ kebersihan badan dan pakaian juga merupakan suatu syarat yang harus ada.

Karena kalau kita sendiri tidak ingin datang kepada seorang yang terhormat dengan tubuh yang kotor dan tidak bersih, serta pakaian yang kotor dan compang-camping. Begitu pula kita sendiri tidak ingin bertemu dengan seorang yang tidak bersih seperti itu. Maka dalam kondisi yang seburuk ini bagaimana bisa kita hadir di hadapan Allah Ta’ala.

Berdasarkan tuntutan alami itulah Allah Ta’ala memberikan petunjuk bahwa untuk mengerjakan shalat hendaknya dengan badan dan pakaian yang bersih. Dan juga tempat di mana shalat dikerjakan kebersihan dan kesuciaannya juga harus terjamin.

Salah satu arti dari thaharah adalah, hendaknya tidak ada kotoran yang menempel pada anggota tubuh. Misalnya, kencing manusia, cairan yang keluar karena syahwat, kotoran binatang, kencing binatang, kotoran ayam, nanah luka, darah yang mengalir dari tubuh dan daging, darah binatang haram atau bangkai, air ludah dan sisa makanan anjing dan binatang-binatang haram lainnya, serta lumpur selokan yang tidak bersih, ini semua najis-najis hakiki.

Kalau saja ada dari antara najis-najis tersebut menempel pada anggota tubuh maka hendaknya dicuci dengan air untuk membersihkannya. Mencuci sekali secara benar sudah cukup. Tapi jika dicuci sebanyak tiga kali akan lebih baik.

Untuk mengerjakan shalat, selain  pembersihan secara biasa, ada juga cara-cara yang khusu, yaitu wudhu, tayamum dan mandi wajib.  

Baca juga:

Syarat Shalat yang Ketiga; Menutup Aurat

Syarat shalat yang ketiga adalah menutup aurat. Dari pakaian yang dikenakan manusia juga menunjukkan kehormatannya. Oleh karena itu hendaknya manusia hadir di singgasana Allah Ta’ala dengan memakai pakaian yang suci dan bersih. Lalu mengerjakan shalat di haribaan-Nya.

Tidak ada shalat dengan pakaian yang kotor. Bagi laki-laki sekurang-kurangnya harus menutupi tubuh dari pusar hingga lutut. Kalau tidak, shalat tidak akan sah.

Bagi perempuan ketika shalat yang boleh terbuka hanya muka – dengan syarat di situ tidak ada ghair muhrim -, tangan sampai pergelangan tangan dan kaki sampai mata kaki. Rambut, lengan, betis dan bagian tubuh yang lain harus tertutup dan tersembunyi. Pakaian yang tipis atau transparan yang karenanya tubuh menjadi kelihatan hendaknya jangan dipakai ketika shalat.

Pakaian hendaknya longgar. Pakaian yang mengganggu dan sempit yang karenanya menjadi tidak nyaman ketika sujud dan duduk adalah tidak disukai. Begitu juga, tidaklah baik shalat tanpa penutup kepala.

Laki-laki jangan memakai pakaian yang terbuat dari sutra dan jangan juga memakai pakaian yang mewah dan mencolok yang dapat menarik perhatian semua orang serta pakaian yang menunjukan kebodohan dirinya sendiri. Hendaknya senantiasa memakai pakaian yang beribawa dan sederhana untuk menyempurnakan tujuan dari menutup aurat.

Syarat Shalat yang Ke Empat; Menghadap Kiblat

Syarat shalat yang keempat adalah menghadap kiblat. Ketika shalat harus menghadap ke arah kiblat. Maksud dari kiblat adalah bangunan suci yang berada di Makkah Mukaramah yang disebut dengan Baitullah yakni Rumah Allah.

Bangunan yang terbuat dari batu ini selalu ditutupi dengan kain penutup berwarna hitam yang terbuat dari sutra. 

Kira-kira panjangnya sekitar 44 kaki (13,1 M), lebar 33 kaki (10 M) dan tinggi 45 kaki (13,4 M). Tinggi pintunya 7 kaki (2 M) dari tanah.

Mesjid-mesjid di seluruh dunia mengikuti mesjid ini dan merupakan bayangan dari mesjid ini. Baitullah tidak berarti bahwa, naudzubillah, Allah Ta’ala tinggal di tempat itu. Dia tidak bertempat tinggal serta bebas dan suci dari membutuhkan rumah.

Tapi  maksud dari mengatakan bangunan suci itu sebagai Baitullah adalah bahwa, semenjak munculnya agama di dunia, ini merupakan bangunan pertama yang dibangun murni hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala (Surah Ali Imran 3:96).

Diriwayatkan bahwa seluruh nabi-nabi berkiblat ke arah bangunan yang suci ini (Thibari Tarikhul Wadza jilid 2 hal 167).

Syarat Shalat yang Ke Lima; Niat

Syarat shalat yang ke lima adalah niat. Untuk sahnya shalat niat juga harus ada. Niat berarti keinginan atau iradah. Ketika seseorang memulai shalat hendaknya ada iradah bahwa dia hendak mengerjakan shalat pada waktu apa dan shalat yang mana.

Karena shalat apa yang diniatkan, itu yang akan menjadi shalatnya. Pada waktu Zuhur, apabila niatnya hendak mengerjakan empat raka’at fardhu, maka itu akan menjadi shalat fardhu.

Apabila  niatnya empat atau dua raka’at sunat maka itu akan menjadi shalat sunat. Apabila niatnya nafal maka itu akan menjadi nafal. Apabila niatnya fardhu Ashar dan menjamak maka shalat akan dilaksanakan sesuai dengan niat itu. Ringkasnya, dengan berubahnya niat jenis shalat juga akan berubah.

Niat berhubungan dengan hati, oleh karena itu hendaknya di dalam hati terlintas bahwa dia hendak mengerjakan shalat pada waktu apa dan berapa raka’at.

Niat tidak harus diucapkan dengan mulut. Bahkan dalam beberapa keadaan mengeluarkan kata-kata dari mulut untuk menzahirkan niat dianggap tidak baik.

Di dalam niat juga terdapat makna keikhlasan. Apabila sesorang mengerjakan shalat hanya demi Allah Ta’ala maka shalatnya akan diterima di sisi Allah Ta’ala. Apabila dia mengerjakan shalat untuk pamer atau karena takut pada orang lain atau untuk menyenangkan orang lain maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari sisi Allah Ta’ala.

Ringkasnya, secara lahir dan batin semua praktek-praktek keagamaan tergantung pada niat. Oleh karena itu, di sisi Allah Ta’ala amalan setiap orang akan ditimbang sesuai dengan timbangan niatnya dan setiap orang akan mendapat ganjaran sesuai dengan itu.

Demikianlah penjelasan tentang 5 syarat shalat. Semoga bermanfaat dan semoga kita bisa mengerjakan shalat sesuai dengan syarat-syarat tersebut.  

Baca juga:


0 Komentar

Tinggalkan Balasan