4 Faktor Penyebab Terjadinya Perselisihan Dimasa Awal Islam

Dipublikasikan oleh Muhammad Akram pada

4-penyebab-terjadinya-perselisihan-dimasa-awal-islam

Dalam sejarah Islam, masa yang terpenting ialah dimasa Rasulullahsaw, dimana beliausaw atas perintah Allah Ta’ala memproklamirkan Islam ke seluruh dunia.

Dengan bekerja keras beliau telah berhasil melukiskan gambaran Islam itu ke dalam hati puluhan ribu umat manusia, dan berhasil pula telah mendirikan sebuah Jamaah yang terdiri dari ribuan umat manusia, yang pikirannya, perkataannya dan perbuatannya benar-benar mencerminkan Islam.

Adapun kekacauan-kekacauan yang terjadi dalam kalangan umat Islam dimasa awal, hal itu terjadi 15 tahun kemudian setelah Rasulullahsaw wafat.

Awal Munculnya Perselisihan

Timbulnya kekacauan-kekacauan secara terang-terangan ialah terjadi di masa Khalifah Usmanra. Sedangkan sebelumnya, yakni di masa Khalifah Abu Bakarra dan di masa Khalifah Umarra, tidak pernah terjadi kekacauan yang demikian hebatnya.

Persatuan dalam kalangan umat Islam yang dimulai dari sejak masa Rasulullahsaw hingga masa Khalifah Umarra, begitu kokoh dan kuat.

Baik kawan maupun lawan semuanya menganggap, bahwa dalam kalangan umat Islam tidak mungkin timbul kekacauan dan perselisihan-perselisihan.

Itulah sebabnya, banyak orang yang berpendapat, bahwa terjadinya perselisihan dan kekacawan dimasa awal Islam disebakan oleh kesalahan dan kelemahan Utsman bin Affanra, hal itu tidaklah sangat keliru dan tidak benar.

Baca juga: Duka Yang Sangat Dalam Dirasakan Kaum Muslimin Saat Wafatnya Rasulullah

Keistimewaan Utsman Bin Affan

Hadhrat Usman bin Affanra adalah menantu Rasulullahsaw. Dua orang putri Rasulullahsaw menjadi istri Usmanra. Tatkala putri kedua Rasulullahsaw meninggal, Rasulullahsaw bersabda : “Seandainya masih ada lagi putri saya yang lain, ia pun akan saya nikahkan dengan Usmanra.” Dari pernyataan beliau itu jelaslah, bahwa betapa tingginya martabat Usmanra dalam pandangan Rasulullahsaw.

Beliaura termasuk golongan As Saabiquunal Awwaluun (orang-orang yang mula-mula masuk Islam). Beliau yang terpilih sebagai delegasi Rasulullahsaw untuk bernegosiasi dengan kaum Makkah sebelum terciptanya Perjanjian Hudaibiyah.

Usmanra sangat dihormati oleh Rasulullahsaw. Pada suatu peristiwa, ketika Rasululahsaw sedang berbaring-baring, tiba-tiba datang Abu Bakar, tetapi Rasulullahsaw tetap berbaring. Kemudian datang pula Umarra, tetapi beliausaw tetap berbaring juga. Tidak lama kemudian, datang pula Usmanra. Begitu Usmanra datang, beliausaw lalu bangkit sambil membetulkan kain. Rasulullahsaw bersabda: ”Usman adalah orang yang sangat pemalu. Karena menenggang perasaannya itulah, maka saya berbuat demikian”

Mengenai pribadi Usmanra, Rasulullahsaw bersabda : ”Usman adalah orang yang paling banyak berkorban untuk Islam. Sekarang ia boleh berbuat sesuka hatinya. Tuhan tidak akan menuntutnya.“ Hal itu tidaklah berarti bahwa andaikata Usmanra menyeleweng dari Islam pun, Tuhan tidak akan menuntut beliau, melainkan maksudnya ialah, dalam hal beramal saleh, Usmanra begitu takwanya, sehingga tidak mungkin beliau akan melakukan suatu perbuatan yang melanggar syariat.

Jadi, orang seperti Usmanra tidak mungkin pernah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi syariat, dan tidak pula orang seperti Alira yang pernah secara sembunyi-sembunyi mengadakan permufakatan jahat untuk mendapatkan jabatan Khilafat.

selengkapnya mengenai Utsman bin Affan bisa dibaca di sini

4 Faktor Penyebab Perselisihan Dimasa Awal Islam

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad dalam bukunya “Awal Perselisihan Islam” menyebutkan 4 Faktor Penyebab Terjadinya Perselisihan Dimasa Awal Islam, empat faktor itu adalah sebagai berikut:

Faktor Pertama

Di antara orang-orang yang baru masuk Islam itu, karena keimanan mereka belum sempurna benar, ada dari antara mereka yang merasa sakit hati terhadap pemerintah, dan iri hati terhadap derajat dan kemajuan para Sahabat.

Sebagaimana sudah menjadi kebiasaan sejak dari zaman dahulu, demikian pula mereka berusaha untuk menyingkirkan para Sahabat dan menguasai pemerintahan, agar mereka mendapat kekuasaan yang mereka idam-idamkan. Mereka tidak senang melihat pemerintahan itu ada di tangan para Sahabat, dan merasa iri hati melihat para Sahabat mendapat bagian istimewa dalam pembagian harta. Inilah yang menyebabkan api hasad berkobar terus dalam dada mereka.

Mereka menunggu-nunggu saatnya tiba, untuk bisa mengadakan revolusi, agar segala peraturan berantakan, dan pada masa kacau balau itu mereka dapat menyingkirkan Sahabat-sahabat dari pemerintahan dan dengan demikian mereka memperoleh kesempatan untuk melakukan peranan yang mereka idam-idamkan selama ini, untuk memiliki kekayaan dan kejayaan dengan leluasa. Dalam pemerintahan duniawi, pikiran semacam itu lumrah dan dapat dimaafkan.

Baca juga: Ekspedisi Tabuk, Kegagalan Kaum Munafik Dan Keberhasilan Islam

Faktor Kedua

Dalam agama Islam ada jaminan persamaan hak, kemerdekaan berbuat dan melahirkan pendapat. Sedangkan di zaman sebelum Islam, bahkan kaum cendekiawan sekalipun, tidak pernah mengalami keleluasaan demikian.

Sebagaimana seorang yang sedang dalam keadaan sakit tidak dapat menikmati makanan yang bagaimanapun lezatnya, maka makanan itu tidak akan mendatangkan faedah kepadanya. Bahkan sebaliknya, dengan makanan itu kesehatanya semakin terganggu pula. Demikian pulalah keadaan orang-orang itu, yang telah dihinggapi penyakit ruhani. Kebebasan untuk berbuat dan melahirkan pendapat yang diberikan oleh Islam itu tidak dihargai oleh mereka, tidak pula mendatangkan faedah kepada mereka, bahkan sebaliknya justru hal itu merugikan diri mereka sendiri.

Mula-mula sekali penyakit itu sudah nampak sejak di zaman Rasulullah Saw., ketika beliau Saw. sedang membagi-bagikan harta benda. Seseorang yang hatinya kotor, tetapi menyebut dirinya orang Islam, berkata : ”Ya Rasulullah, bagikanlah dengan adil“. Menurut anggapan orang tersebut, Rasulullah Saw. tidak adil dalam membagi-bagikan harta. Mendengar itu Rasulullah Saw. bersabda:

yang maksudnya: “Suatu masa nanti akan datang, dimana akan lahir dari keturunan orang ini suatu bangsa, dimana Al-Quran dibacanya, tetapi hanya sampai di kerongkongannya saja. Mereka akan keluar dari agama Islam seperti anak panah meluncur dari busurnya” (Bukhari Kitabul Maghazi).

Tetapi peristiwa-peristiwa semacam itu belumlah begitu berbahaya kelihatannya, karena pada waktu itu untuk perkembangannya, tanah belum ada dan juga musimnya belum tiba. Baru kemudian di zaman Khalifah Usman r.a., gejala perpecahan itu kelihatan terang-terangan dan menjadi nyata.

Di masa Khalifah Alira kekalutan itu begitu memuncaknya, sehingga hampir-hampir ranting-rantingnya pun merambat ke seluruh alam. Khalifah Alira menyadari bahwa beliau berhasil membasmi bahaya perpecahan itu. Sekalipun tidak tumbang sama sekali, tetapi pengaruhnya yang berbahaya itu segera dapat beliau atasi dan batasi.

Faktor Ketiga

Berkat pengaruh dari cahaya Islam yang cemerlang, banyak orang di masa itu yang mengadakan suatu perubahan besar dalam hidupnya. Namun masih ada kekurangan sedemikian rupa yang tidak dapat terpenuhi, yaitu dalam segi pendidikan.

Masalah ini jugalah yang dikhawatirkan oleh Rasulullahsaw ketika orang-orang berduyun-duyun masuk ke dalam agama Islam. Tetapi Allahswt telah menjanjikan kepada Rasulullahsaw. bahwa di masa perkembangan Islam, orang-orang Islam akan terpelihara dari pengaruh-pengaruh buruk.

Hal itu terbukti kemudian sesudah Rasulullahsaw wafat, kemurtadan bergolak dengan hebatnya, tetapi tidak lama kemudian suasana kacau segera tenang kembali. Dan orang-orang kembali insaf dan menyadari akan keindahan Islam. Akan tetapi sesudah beliausaw wafat, Islam semakin berkembang dan maju dengan pesatnya, lebih-lebih setelah Iran, Syria dan Mesir berhasil ditaklukkan, Islam semakin meluas.

Manakala Islam mengalami kemajuan dan kemenangan yang mengagumkan itu, dengan sendirinya perhubungan dan pergaulan antara umat Islam dan bangsa-bangsa penganut agama lainnyapun ikut meluas pula. Karena tertarik kepada ajaran Islam, berjuta-juta umat manusia masuk ke dalam agama Islam, mereka rela berkorban walau mengorbankan jiwa sekalipun.

Tetapi di samping itu, tidak sedikit pula jumlah muallaf (orang yang baru masuk Islam) itu, -disebabkan orang-orang Islam dalam keadaan sibuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan perang yang sewaktu-waktu bisa datang dari pihak musuh, para muallaf itu tidak mendapat kesempatan untuk mendapatkan pelajaran dan pendidikan Islam secara mendalam.

Memang sudah biasanya dan pengalaman juga membuktikan, bahwa pada permulaannya timbul semangat yang berkobar-kobar dengan hebatnya. Akan tetapi lama kelamaan, semangat yang berapi-api itu padam dengan sendirinya. Demikian pulalah halnya orang-orang yang baru masuk Islam yang tidak mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara mendalam. Pada permulaannya semangat mereka berapi-api, namun akhirnya padam dengan sendirinya.

Oleh karena itu adat kebiasaan mereka yang lama timbul kembali, mendesak dan mempengaruhi kehidupan mereka. Itulah sebabnya kemudian mereka merasa berat dan enggan mematuhi peraturan-peraturan dan hukum syariat yang berlaku.

Baca juga: Haji Wada Dan Pesan Terakhir Rasulullah

Faktor Keempat

Di luar dugaan musuh, ternyata Islam mendapatkan kemajuan pesat dan kemenangan yang luar biasa. Selagi orang-orang Mekkah membangga-banggakan kekuatannya dan mencemooh kelemahan-kelemahan Rasulullahsaw, tanpa mereka sadari kota Mekkah dapat direbut kembali oleh orang-orang Islam.

Islam sudah berkembang ke seluruh negeri Arab, tetapi kaisar-kaisar Roma dan Iran masih saja mengejek dan mencemooh hasil kemenangan-kemenangan Islam, seperti seorang pahlawan yang gagah perkasa memandang seorang anak kecil yang untuk pertama kalinya berusaha mau tegak berdiri sendiri.

Sementara pasukan Islam yang jumlahnya sedikit dan tak mempunyai senjata yang lengkap, bisa melancarkan serangan-serangan terhadap pasukan yang jumlahnya besar dan yang persenjataannya cukup lengkap dan kerajaan-kerajaan yang sejak ribuan tahun menjajah dan memperbudak umat manusia, tetapi musuh-musuh Islam masih tetap mencemooh juga, bahwa kemajuan dan kemenangan Islam itu hanya untuk sementara waktu saja dan tak lama lagi arus kemenangannya itu akan menjurus ke arah lain, dan bangsa yang bangkit laksana angin puyuh itu akhirnya akan reda.

Namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Islam dengan sekali pukul berhasil menghancur-leburkan kerajaan-kerajaan Iran dan Yunani, dan menyaksikan bahwa dalam masa beberapa tahun saja, suasana menjadi terang dan panji Islam telah berkibar dengan megahnya ke segala pelosok negeri.

Kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh Islam itu sangat menusuk hati mereka dan membuat mereka menjadi bingung dan mereka juga baru tahu bahwa para Sahabat dan orang-orang yang beserta mereka adalah manusia-manusia agung. Maka putuslah harapan-harapan yang selama ini terkandung dalam hati mereka.

Setelah hari-hari kemenangan yang cemerlang itu berlalu, dan ketakjuban serta kegelisahan orang-orang yang menamakan dirinya Islam itu mulai berkurang, maka mulailah timbul cita-cita dalam hati mereka untuk menegakkan kembali agamanya yang batil. Melawan Islam dengan keterangan-keterangan, sudah jelas mereka tidak akan mampu.

Pemerintahan mereka di masa lampau yang senantiasa mempergunakan kekerasan untuk menindas kebenaran sudah musnah sama sekali, maka sekarang satu-satunya jalan yang tinggal tersisa bagi mereka ialah bekerjasama dengan musuh, dengan berpura-pura berkawan dan menggembar-gemborkan persatuan, tetapi maksudnya tiada lain melainkan untuk memecah-belah.

Demikianlah halnya orang-orang yang berhati jahat yang menamakan dirinya orang Islam, padahal Islamnya hanya di bibir saja, sedangkan hati dan pikirannya bercita-cita untuk memnghancurkan Islam.

Adapun kemajuan Islam itu berpusat dan bergantung kepada Khilafat, dan selama masih ada Khilafat, tidak akan ada yang berhasil mendobrak benteng Islam. Oleh sebab itu, terpikirlah oleh mereka untuk menghapuskan Khilafat dan menghancurkan rantai persatuan umat Islam, dan dengan demikian umat Islam akan terpecah-belah dan kehilangan nikmat dari rantai persatuan itu.

Kalau pengendali Islam tidak ada lagi, maka tidak akan ada lagi yang ditakuti oleh mereka dalam usaha menjalankan tipu daya untuk menegakkan kembali agama mereka yang batil itu.

Empat faktor inilah yang menyebabkan kekacauan-kekacauan yang terjadi di masa Khalifah Usmanra yang demikian dahsyatnya itu, sehingga menyebabkan beliau syaid dan umat Islam saling memerangi.

Namun kekacawana-kekacawan itu dapat diatasai oleh Khalifah Alira walaupun tidak sepenuhnya lenyap. Sehingga harapan dan rencana musuh-musuh Islam menjadi gagal, Islam tetap hidup dan terus mengalami kemajuan-kemajuan.   

Sumber: Islam Me Ikhtilaf Ka Agaz (Awal Perselisihan Dalam Islam) Karya Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad.

Baca juga: Rasulullah Tabligh Ke Taif Dengan Penuh Keberanian Dan Keagungan


4 Komentar

luaydpk · 13 September 2020 pada 8:35 am

perselisihan itu timul dari kaum yang kurang iman, kaum tulaqa, yang tidak mmemeluk Islam sejak awal Makah hingga hijrah, mereka masuk Islam kebanyakan setelah fathul makah….
salam

    Muhammad Akram · 13 September 2020 pada 9:52 am

    Betul Mas
    Terimakasih atas kunjungannya dan komennya

Warsono Daryo · 12 September 2020 pada 10:48 am

Karena perebutan kekuasaan, Kepatuhan pada Khalifah menghilang, kurangnya sikap saling menjaga persatuan dan persaudaraan juga adanya upaya2 adu domba dari para Pembenci Islam itulah diantaranya penyebab Perselisihan Umat Islam di masa2 awal.

    Muhammad Akram · 12 September 2020 pada 9:54 am

    Kesimpulan yg tepat, semoga kita terhindar dari kelemahan-kelemahan semacam itu.

Tinggalkan Balasan