11 Fakta Penting Tentang Khalifah Ahmadiyah Yang Jarang Diketahui

Masyarakat muslim international saat ini dihebohkan dengan pernyataan Google yang menyatakan bahwa khalifah saat ini adalah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, sebagaimana diberitakan oleh Lancashiretelegraph.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad adalah Khalifah Ahmadiyahyang saat ini menjabat atau khalifah yang ke lima.

Seperti apa dan bagaimanakah Khalifah Ahmadiyah itu? Berikut ini 11 fakta penting tentang Khalifah Ahmadiyah yang jarang diketahui, yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Khalifah Ahmadiyah Dimulai Setelah Wafatnya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad

Pada tahun 1891 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai pendiri Ahmadiyahmengumumkan bahwa Nabi Isaas yang ditunggu-tunggu kedatangannya kedua kali itu telah wafat dan tidak akan datang lagi ke dunia ini.

Kedatangan Nabi Isa as kedua, adalah orang lain yang akan datang dengan sifat dan cara seperti Nabi Isa as, yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sendirilah orangnya.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Al Masih Mau’ud (Almasih Yang Dijanjikan kedatangannya diakhir jaman ini).

Meskipun menimbulkan pergolakan yang sangat hebat, tapi pengikut beliau terus bertambah, diseluruh penjuru dunia hingga saat ini diperkirakan berjumlah ratusan juta orang.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad lahir pada hari Jum’at tanggal, 13 Februari 1835 M atau 14 Syawal 1250 H, di Qadian, distrik Gurdaspur, India. Kemudian beliau wafat pada tanggal 26 Mei 1908.

Satu hari setelah Hadharat Mirza Ghulam Ahmad wafat maka, terpilihlah Hadhrat Maulana Hakim Nuruddin sebagai kahlifah Ahmadiyah yang pertama.

Khalifah Ahmadiyah biasa disebut dan dikenal sebagai Khalifatul Masih, yang maksudnya adalah kekhalifahan yang berdiri setelah Almasih.

Baca juga: Apakah Ahmadiyah Itu? Berikut Ini Penjelasannya

2. Khalifah Ahmadiyah Pertama, Hadhrat Maulana Hakim Nuruddin

Khalifah Ahmadiyah yang pertama adalahHadhrat Maulana Hakim Nuruddin. Beliau lahir pada tahun 1841 di Bhera, Punjab, Pakistan.

Dalam upaya mencari pengetahuan, beliau melakukan perjalanan kemana-mana dan pernah mendapatkan keistimewaan tinggal di kota suci Mekkah dan Madinah selama empat tahun.

Hadhrat Maulana Hakim Nuruddin

Hadhrat Maulana Hakim Nuruddin seorang penulis berbakat, ulama terkemuka, memiliki akhlak yang tinggi dan seorang ahli pengobatan yang terkenal.

Karena sangat berpengalaman dalam bidang pengobatan, beliau pernah menjadi dokter kerajaan dari Maharaja Jammu dan Kashmir selama bertahun-tahun.

Beliau menjalanan hidup yang rendah hati, kebaikan, kesabaran dan pengorbanan diri yang menjadikan beliau disayangi oleh semua orang di sekitar beliau.

Perhatian utama beliau adalah memperbaiki kondisi orang-orang miskin. kedermawanan menjadi bagian tingkah laku beliau.

3. Khalifah Ahmadiyah Kedua, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad

Khalifah Ahmadiyah yang kedua adalah Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad. Beliau lahir 12 Januari 1889 di Qadian, India. Beliau merupakan putra dari pendiri Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Jauh hari sebelum kelahirannya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah menubuwatkan bahwa beliau akan dianguerahi seorang putra yang cemerlang, yang akan membawa Jemaat Ahmadiyah kepada kemajuan.

Nubuwatan itu tergenapi pada diri Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, sehingga beliau kemudian dikenal sebagai Muslim Mau’ud (Reformer yang Dijanjikan).

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad

Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad dari sejak kecil telah memiliki keinginan kuat untuk beribadah dan memiliki ketertarikan yang besar kepada urusan agama.

Pada bulan September 1912 beliau mengunjungi Mesir dan Arab untuk melaksanakan ibadah haji.

Pada hari Jumat, 13 Maret  1914, Hadhrat Khalifatul Masih I wafat, maka esok harinya yaitu tanggal 14 Maret 1914, anggota Jemaat Ahmadiyah sepakat memilih Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad sebagai Khalifah Ahmadiyah kedua atau Khalifatul Masih II.

Dari tanggal 14 Maret 1914 sampai tanggal 7 November 1965, masa sekitar lima puluh dua tahun, masa kekhalifahannya, banyak kemajuan dan prestasi yang diraihnya.

Diantaranya, beliau berhasil mendirikan pusat-pusat dakwah Islam di 46 negeri dan mengirim para mubaligh ke seluruh dunia.

Beliau memiliki ilmu rohani yang mendalam dan menguasai pemahaman tentang Al-Qur’an,

Hadharat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menulis ratusan buku yang bermutu, karya besarnya berupa tafisr Al-Qur’an Tafsir Kabir sebanyak sepuluh volume dan Tafsir Sagir.

Beliau menjadi tokoh politik penting di India sebelum kemerdekaan dan memiliki hubungan dekat dengan kepemimpinan Liga Muslim India.

Tahun 1923, beliau berhasil menggagalkan kampanye kaum Arya Samaj yang berambisi meng-Hindukan warga muslim miskin India.

Tahun 1931 Komite Seluruh India Kashmir dibentuk untuk pembentukan hak-hak sipil Muslim Kashmir, beliau terpilih sebagai presiden pertamanya.

Baca juga: Biografi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Al-Masih Yang Dijanjikan

4. Khalifah Ahmadiyah Ketiga, Hadhrat Mirza Nasir Ahmad

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad dianugerahi seorang putra pada tanggal 16 November 1909. Anak itu kemudian diberi nama Nasir Ahmad.

Hadhrat Mirza Nasir Ahmad

Hadhrat Mirza Nasir Ahmad telah hafal Al-Qur’an dari sejak masa mudanya.

Setelah Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad wafat maka keesokan harinya, yaitu tanggal 8 November 1965, Hadhrat Mirza Nasir Ahmad terpilih sebagai khalifah ketiga atau Khalifatul Masih III.

Khalifatul Masih III melanjutkan dan memperluas kegiatan dakwah Islam diseluruh dunia.khususnya di Afrika dan Eropa.

Salah satu keberhasialn beliau adalah melalui Skema Nusrat Jahan, skema ini didedikasikan untuk melayani masyarakat Afrika dengan menjalankan berbagai klinik medis dan sekolah.

Pada tahun 1970, beliau melakukan tour ke Afrika Barat, kunjungan pertama ke benua ini yang dilakukan oleh seorang khalifah Ahmadiyah.

Pada 1980, beliau melakukan perjalanan ke Spanyol, beliau meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Basharat di Pedro Abad, merupakan masjid pertama yang dibangun di Spanyol sejak Reconquista atau pengusiran umat Islam dari Spanyol dan Kejatuhan Granada pada tahun 1492.

Di bawah petunjuk Hadhrat Mirza Nasir Ahmad, Jemaat Ahmadiyah terus maju dengan sangat pesat dalam hal penyebaran Islam ke seluruh dunia dengan jalan membangun dan mengelola sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, pusat dakwah, Masjid, penerjemahan dan penerbitan Al-Qur’an.

Hadhrat Mirza Nasir Ahmad menjabat sebagai khalifah selama 17 tahun, beliau wafat pada tanggal 9 Juni 1982.

5. Khalifah Ahmadiyah Keempat, Hadhra Mirza Tahir Ahmad

Pada tahun 1922, Hadhrat Khalifahtul Masih II menikah dengan Maryam Siddiqah, merupakan isteri yang ketiga.

Dari pernikahan ini lahir lah Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, di Qadian pada tanggal 18 Desember 1928.

Hadhrat Mirza Tahir Ahmad kemudian tumbuh menjadi seorang yang sangat cerdas, pengetahuannya meliputi berbagai hal baik spiritual maupun material. 

Beliau mempelajari Al Quran secara mendalam dan disiplin ini dipertahankannya sepanjang hayat. Setiap hari beliau mempelajari Al Quran juga mempelajari ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw yang terdapat dalam hadits.

Hadhrat Mirza Tahir Ahmad

Khalifatul Masih III, Hadhrat Mirza Hafiz Nasir Ahmad wafat pada 9 Juni 1982 dan pada hari berikutnya Hadhrat Mirza Tahir Ahmad terpilih sebagai Kahalifah Ahmadiyah yang keempat atau Khalifatul Masih IV.

Tindakan penganiayaan atas nama agama di Pakistan telah memaksa khalifah keempat untuk meninggalkan negeri itu dan menetap di Southfields, London di Masjid Al-Fadhal pada bulan April 1984. Tempat ini kemudian menjadi pusat kegiatan Jemaat Ahmadiyah.

Disamping menjalankan tugas-tugas kerohanian, beliau juga sebagai seorang ahli pengobatan Homeopathy yang masyhur diseluruh dunia dan seorang penulis yang melahirkan karya-karya bermutu.

Di masa Hadhrat Khalifatul Masih IV Jamaat Ahmadiyah telah tersebar di 174 negara di seluruh dunia. Jemaat Ahmadiya telah melewati suatu masa yang sangat dinamis dalam peningkatan jumlah anggota dari 10 juta menjadi lebih dari 200 juta.

Pada masa kepemimpinannya berhasil menerjemahkan Al-Qur’an dalam lima puluh satu bahasa di dunia dan telah diterbitkan.

Kemudian, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad mendirikan Humanity First (HF) lembaga kemanusiaan internasional yang menjalankan misi kemanusiaan di seluruh dunai.

Pada tahun 1994, beliau mendirikan Muslim Televisi Ahmadiyah (MTA), jaringan TV satelit global yang menyiarkan dakwah Islam ke seluruh dunia.

Baca juga: 4 Faktor Penyebab Terjadinya Perselisihan Dimasa Awal Islam

6. Khalifah Ahmadiyah Kelima, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifah Ahmadiyah yang kelima adalah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad. Beliau lahir pada tanggal 15 September 1950 di Rabwah, Pakistan. Terlahir dari pasangan Mirza Mansoor Ahmad dan Nasira Begum Ahmad.

Setelah menyelesaikan pendidikan master di bidang Ekonomi Pertanian pada tahun 1977 di Universitas Pertanian Faisalabad, Pakistan, Mirza Masroor Ahmad kemudian mengabdikan hidupnya untuk mengkhidmati Islam.

Dari tahun 1977 sampai 1985, beliau menjalankan proyek-proyek sosial, pendidikan dan pertanian di Ghana.

Karena keahlian dan dedikasinya luar biasa, beliau berhasil menanam gandum di tanah Ghana untuk pertama kalinya dalam sejarah negara di Afrika itu.

Setelah wafatnya khalifah keempat, , Hadhrat Mirza Masroor Ahmad terpilih sebagai khalifah Ahmadiyah yang kelima atau Khalifatul Masih IV pada tanggal 22 April 2003.

Beliau mengemban amanat sebagai pemimpin rohaniah dan administratif suatu organisasi keagamaan skala internasional yang memiliki pengikut ratusan juta yang tersebar di 210 negara.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad adalah sosok pemimpin Muslim dunia yang mendorong perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.

Sejak terpilih menjadi Khalifah, beliau  telah memimpin kampanye di seluruh dunia untuk menyampaikan pesan Islam yang damai.

Beliau telah mengadakan perjalanan ke seluruh dunia untuk menyiarkan dan memfasilitasi hal-hal yang berkaitan dengan gerakan kemanusiaan.

Beliau menaruh perhatian khusus untuk mengurangi penderitaan negara-negara berkembang, dengan membantu mereka meningkatkan sistem pertanian, fasilitas memperoleh makanan, air bersih dan listrik.

Di bawah kepemimpinan beliau, Jamaah Muslim Ahmadiyah telah mendirikan banyak sekolah dan rumah sakit dengan fasilitas kelas satu di daerah-daerah terpencil dunia.

Dan melalui berbagai skema Jamaah Muslim Ahmadiyah, beliau telah mendanai biaya sekolah dan pendidikan para pelajar kurang mampu di seluruh dunia, tanpa melihat latar belakang agama mereka.

7. Membela Kepentingan Islam

Dari sejak didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Ahmadiyah selalu berusaha membela kepentingan-kepentingan umat Islam.

Perjuangan itu kemudian dilanjutkan oleh para khalifahnya. Dari mulai khalifah yang pertama hingga khalifah kelima yang saat ini menjabat.

Diantaranya, pada tahun 1947 terjadi partisi atau pemisahan India dan Pakistan, khalifah Ahmadiyah saat itu adalah khalifah kedua mendukung dan membantu berdirinya negara Islam Pakistan.

Sebagaimana disebutkan di atas, pada tahun 1923, Khalifah Ahmadiyah yang kedua berhasil menggagalkan kampanye kaum Arya Samaj yang berambisi meng-Hindukan warga muslim miskin India.

Kemudian, pada tahun Pada tahun 1993, Hadhrat Khalifatul Masih IV, memerintahkan Majelis Khuddamul Ahmadiyah (Badan Pemuda Ahmadiyah) menjalankan misi kemanusiaan untuk para korban peperangan di Yugoslavia.

Dalam suasana perang yang masih berkecamuk, Majelis Khuddamul Ahmadiyah mengirim langsung bantuan kemanusiaan ke kamp-kamp pengungsi di Kroasia, Hongaria, Slovenia, dan di wilayah Bosnia.

Saat ini, khalifah Ahmadiyah yang kelima dari awal kepemimpinannya hingga saat ini dalam berbagai kesempatan selalu menyuarkan kepentingan umat Islam di seluruh dunia.

8. Menerjemahkan Al-Qur’an Kedalam 100 Bahasa Dunia

Dimulai dari sejak Khalifah yang pertama, Hadharat Maulana Hakim Nuruddin, Jemaat Ahmadiyah telah berupaya untuk menerjemahkan Al-Quran yaitu kedalam bahas Inggris.

Pada masa kepemimpin beliau The Holy Quran Arabic Text English Translation dibuat. Terjemahan Al-Qur’an bahasa Inggris ini hingga saat ini masih diterbitkan dan digunakan.

Para khalifah Ahmadiyah terus berupaya menjalankan usaha-usaha untuk menerjemahkan Al-Qur’an kedalam berbagai bahasa dunia hingga saat ini.

Sehingga mereka yang tidak mengetahui bahasa Arab dapat menikmati kemuliaan dan kebijaksanaan Kitab Ilahi ini berdasarkan bahasa mereka masing-masing.

Pada masa khalifah yang kedua, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Jemaat Ahamadiyah berhasil menerbitkan The English Commentary of the Holy Quran dalam 5 jilid sekitar 3.000 halaman.

Terjemah dan tafsir Al-Qur’an ini diterbitkan pada tahun 1963, yang dikerjakan oleh dewan penerjemah yang terdiri dari Maulvi Sher Ali , Hadhrat Mirza Bashir Ahmad dan Malik Ghulam Farid, dengan Pendahuluan oleh Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad sendiri.

Hingga saat ini proyek besar Jemaat Ahmadiyah ini telah berhasil menerjemahkan Al-Qur’an kedalam 70 bahasa di dunia termasuk bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda.

9. Memabangun Masjid Dan Pusat Dakwah Islam

Hadhrat Khalifaul Masih II untuk pertama kalinya memulai mendirikan misi dakwah di luar India.

Dimulai tahun pada tahun 1913, jauh sebelum masa Perang Dunia II, Jemaat Ahmadiyah telah mengirimkan muballighnya yang pertama ke Eropa, yaitu Choudry Fatah Muhmmad Sayyal.

Beliau samapai di kota London, dan memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat kota London.

masjid-baitul-futuh-ahmadiyah

Ketika Hadhrat Khalifatul Masih II mengadakan lawatan yang pertama di Inggris, berkat keberhasilan Choudry Fatah Muhammad Sayyal, Hadhrat Khalifatul Masih II berhasil meletakkan batu pertama pondasi Masjid Al-Fadhal  di daerah Southfild, London, tanggal 19 Oktober 1924. Masjid ini kemudian hingga saat ini dikenal sebagai Masjid London.

Kini Ahmadiyah telah memiliki ribuan masjid dan ousat-pusat dakwah Islam yang tersebar di seluruh dunia.

Setiap tahunnya Jemaat Ahmadiyah, melalui usaha-usaha yang dilakukan khalifahnya, terus membangun masjid dan pusat-pusat dakwah Islam dan mengirimkan mubaligh-mubaligh untuk menyampaikan dakwah Islam ke seluruh dunia.

10. Memiliki Siaran TV Dakwah Internasional

Khalifatul Masih IV, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, berhasil mendirikan Muslim Television AhmadiyyaInternational (MTA), yaitu jaringan televisi satelit yang didirikan pada tahun 1992.

MTA merupakan saluran TV Islam pertama di dunia yang disiarkan secara global, yang tayang selama 24 jam non stop tanpa iklan.

MTA hampir seluruhnya dijalankan oleh sukarelawan yang dijalankan dan didanai sepenuhnya dari donasi anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah.

Saat ini MTA telah memiliki 9 chanel, yang menjangkau lima benua dengan beragam bahasa.

Peresmian MTA Afrika oleh Khalifatul Masih V, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

MTA1 Dunia, MTA2 Eropa, MTA3 Al-Arabia, MTA4 Afrika, MTA5 Afrika, MTA Ghana, MTA6 Asia, MTA7 Asia dan MTA8 Amerika

Saat ini MTA juga telah memperkenalkan sejumlah aplikasi untuk kepentingan pemirsa mereka di berbagai platform di semua perangkat seperti TV, Telepon Seluler, Tablet dan Desktop.

Kini MTA juga menggunakan media sosial untuk menyiarkan secara langsung salurannya di Facebook dan Twitter serta YouTube.

Selain itu, karena MTA Internasional beroperasi secara global dan di banyak negara yang berbeda, masing-masing memiliki saluran YouTube MTA resmi sendiri untuk wilayah atau bahasa tertentu.

Ada juga aplikasi untuk perangkat seluler dan pribadi di berbagai platform seperti Roku TV, Apple TV, Android, dan iOS. Berbagai aplikasi MTA diluncurkan untuk merek Smart TV seperti Samsung, Android TV , Amazon Fire TV , Panasonic, LG, Sony dan Philips.

11. Menjalankan Misi Kemanusiaan

Salah satu program utama dari Ahmadiyah adalah apa yang disebut dengan Khidmat Halq atau misi kemanusiaan.  

Untuk memudahkan dan mensukseskan misi kemanusiaan ini pada tahun 1992, Hadhrat Khalifatul Masih IV mencanangkan berdirinya lembaga kemanusiaan Humanity First (HF).

HF pertama kali menjalankan misinya pada tahun 1993, di bawah perintah langsung Hadhrat Khalifatul Masih IV, Majelis Khuddamul Ahmadiyah (pemuda Ahmadiyah) menjalankan aksi kemanusiaan untuk para korban peperangan di Yugoslavia.

Dalam suasana perang yang masih berkecamuk, Majelis Khuddamul Ahmadiyah mengirim langsung bantuan kemanusiaan ke kamp-kamp pengungsi di Kroasia, Hongaria, Slovenia, dan di wilayah Bosnia.

Dari sejak saat itu hingga kini, HF mejalankan berbagai misi kemanusiaan di seluruh dunia termasuk juga di Indonesia.

Demikianlah 11 fakta penting tetang khalifah Ahmadiyah yang belum banyak diketahui orang, semoga bermanfaat.

(Visited 352 times, 1 visits today)

16 pemikiran pada “11 Fakta Penting Tentang Khalifah Ahmadiyah Yang Jarang Diketahui”

    • Ya cepat lah Pak Mubaligh ini sudah akhir jaman, bagus juga nama blog nya, jublek, yang saya tau artinya gelap gulita. Saran saya kalau mau cepat artikelnya jadi nama blognya diganti jadi Jeblug, artinya meledak, ok…

      Balas
  1. Khilafah ala minhajin nubuwah sudah lama tegak berdiri tapi sayang Umat Islam mainstrem masih banyak yang tidak mengenalinya. Dan tulisan ini memberi tambahan penjelasan yg lebih lengkap. Mubarak pak Mln.Akram.

    Balas

Tinggalkan Balasan